*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 - "Ombak" menerjang "Karang"
"Electrocraft Tiga: Busur Pendek!"
Dari ujung batonnya, melompat busur petir yang seharusnya kecil. Namun karena Daya-nya yang luar biasa besar, busur itu berubah menjadi seutas petir tebal dan berderak liar.
Petir itu menghantam tanah di antara kami, meninggalkan kawah kecil yang berasap dan berbau ozon. Padahal kami berdiri cukup jauh dari tempat serangannya, tapi sengatan statisnya masih terasa menjalari tungkaiku, membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menatapnya dengan waspada, otakku mencoba memproses apa yang baru saja terjadi.
Apa-apaan Electrocraft itu?! Tidak ada formula tingkat tiga dengan kekuatan segila ini.
Daya yang dilepaskannya betul – betul tak masuk akal. Orang ini adalah sebuah spesimen langka dari kekuatan yang besar dan tanpa kendali.
Melihatku terdesak, tiga orang kadet yang lebih berani mencoba membantuku dari samping. Urgon menggeram, mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Petrocraft Empat: Lontaran Kerikil!"
Di tangannya, formula tingkat rendah itu berubah menjadi tembakan batuan tajam, merobek zirah kulit tipis para kadet itu. Mereka jatuh sambil menjerit kesakitan.
Sementara Urgon sibuk membantai mereka, beberapa bandit lain mengeroyokku, memisahkanku dari pertarungan utama.
Aku terdesak mundur oleh tiga bandit sekaligus. Punggungku nyaris menabrak dinding kedai yang sudah lapuk. Mereka menyeringai, mengira sudah berhasil menyudutkan mangsanya.
Tapi mataku yang terbiasa memindai lingkungan menangkap sesuatu yang mereka lewatkan: sebuah balkon reyot di atas kepala mereka, dengan tiang penyangga yang sudah retak dan menghitam karena api.
Insting bertahan hidupku mengambil alih. Tanpa ragu, aku mengarahkan ujung batonku bukan pada mereka, tapi pada retakan di tiang itu.
"Aliran Abadi. Hancurkan Sekarang!"
Semburan air bertekanan tinggi melesat dan menghantam titik retak tiang itu.
KRAK!
Terdengar suara kayu pecah disusul derak memekakkan telinga. Sebelum para bandit itu sempat mengerti apa yang terjadi, seluruh struktur balkon itu runtuh menimpa mereka, menguburnya dalam longsoran kayu dan puing.
Aku langsung berlari ke depan, namun kembali dihadang dua bandit.
Aku menghindari satu tusukan lurus baton dari bandit di depanku, dan langsung membalasnya dengan pukulan siku ke pelipisnya. Ketika bandit kedua akan menebasku dari belakang, gelombang kejut kuat menghantam badannya dari samping kanan belakang, melemparnya jauh mengenai kawanan banditnya sendiri.
"Zane!"
Suara Percy memanggilku. Ia telah bergerak maju dari posisi ‘komando’ yang sedikit di belakang. Wajahnya fokus dan yakin.
"Aku akan mengalihkan perhatiannya! Kau cari celah untuk serangan fatal!" Katanya sambil menunjuk Urgon.
Tanpa menunggu jawaban, Percy mengangkat tangannya. Batonnya berpendar hijau pucat.
"Aerocraft Tiga: Tebasan Angin!"
Ia tidak menyerang Urgon langsung, melainkan mengarahkan angin itu ke tumpukan puing-puing di dekat kaki sang Gora.
WUSH!
Awan debu dan serpihan kayu tebal meledak ke udara, menutup pandangan Urgon seketika.
"Trik murahan!" raungnya terdengar dari dalam kabut kelabu itu.
"Cuma itu yang kalian punya, anak kota manja?! Kalian memburu kami, lalu sengaja membiarkan kami membusuk di pelarian! Sekarang hadapi kekuatan yang sesungguhnya!"
Ia mulai memukulkan batonnya dengan membabi buta ke dalam awan debu, tidak peduli apa yang akan mengenainya.
Percy terus bergerak, melepaskan Hembusan Pembelok dari berbagai arah untuk membuat udara di sekitar Urgon berputar tidak stabil.
Percy adalah sang pengontrol area; aku adalah penyerangnya. Kontras di antara kami begitu kentara. Percy, produk akademi militer, meneriakkan perintah yang jernih dan tegas.
"Aerocraft Tiga: Tebasan Angin!"
Sebuah formula standar dari buku teks Craftology, dieksekusi dengan sempurna.
Di sisi lain, aku bergerak rendah, menggumamkan formula pribadiku yang lebih ‘pribadi’.
"Aliran Tenang... Ujung Runcing... Sayat!"
Crafting-nya adalah sains yang terukur; Crafting-ku adalah seni yang ‘lebih naluri’.
Aku melepaskan bilah air terkompresi dari ujung batonku, mengincar punggung Urgon yang terbuka.
CTAR!
Bilah air itu merobek bagian belakang pakaian kulitnya yang tebal. Terdengar bunyi 'KRAK!' yang kering.
Itu bukan suara tulang patah, melainkan suara bilah airku sendiri yang pecah berkeping-keping saat menghantam kulitnya. Seperti memukulkan kaca ke dinding granit. Hanya bekas memar kemerahan yang muncul di kulit pucatnya.
Gila. Daya milik Gora itu luar biasa kuat.
Meski begitu, kekuatan kinetik dari serangan itu jelas menyakitkan, karena Urgon meraung kesakitan, berbalik ke arahku dengan kecepatan tak wajar. Ia mengayunkan batonnya secara horizontal dengan kekuatan penuh.
Aku mencoba menahannya dengan batonku.
TRANG!
Tenaganya terlalu besar. Aku terlempar seperti daun kering ditiup angin, mendarat dengan keras di dekat posisi Percy.
"Kau tak apa?!" teriak Percy singkat di tengah deru angin buatannya.
"Masih bernapas!" balasku sambil memaksakan diri bangkit.
"Cukup main-mainnya!" raung Urgon, menerjang menembus awan debu seperti sapi mengamuk.
"Sekarang, Percy!"
"Peluru Udara!"
Tiga bola udara padat seukuran kepalan tangan—Aerocraft tingkat lima—melayang berurutan dengan cepat. Bam! Bam! Bam! Ketiganya menghantam lutut dan bahu kanan Urgon. Sang Gora terhuyung, keseimbangannya goyah.
Itu celahnya.
"Pusaran Dalam... Tenaga Terpusat... TEMBUS SEKARANG!"
Aku meraung, menuangkan sisa Daya-ku. Sebuah Bor Air yang padat dan berputar kencang melesat dari ujung batonku, menghantam dada Urgon dengan kekuatan penuh.
BUAGH!!
Begitu serangan itu lepas, dunia di sekelilingku terasa miring. Seluruh Daya-ku seolah tersedot keluar dalam sekejap. Suara pertempuran meredup menjadi dengungan. Untuk sesaat, aku merasa seperti mengambang di dalam sebuah danau yang tenang dan sunyi. Namun aku tersentak, dan kembali mengencangkan otot betis dan pahaku, mengerahkan sisa tenagaku hanya untuk tetap berdiri tegak.
Aku mengira itu sudah cukup. Serangan itu harusnya bisa melubangi tembok batu.
Aku salah.
Urgon terlempar ke belakang, namun ia tidak jatuh. Ia menggeram, dadanya tampak memar ungu, namun matanya menyala dengan amarah... yang jauh lebih mengerikan.
Dengan raungan yang memekakkan telinga, ia mengabaikan rasa sakitnya dan menerjang maju sebelum aku sempat memulihkan diri.
Aku sudah sangat kelelahan.
Setelah berhasil menangkis seranganku yang lemah, tangannya yang besar dan kekar bergerak lebih cepat dari yang kuduga. Menghantam ulu hatiku.
Udara dari paru-paruku seolah terhisap keluar. Pandanganku kabur. Sebelum aku sempat pulih, sebuah pukulan memutar yang keras menghantam mukaku.
Kekuatan hantaman itu bukan hanya membuatku terhempas di tanah. Batonku terlepas, berputar di udara, lalu jatuh dengan dentang logam yang memilukan di atas jalanan batu. Beberapa meter jauhnya, namun terasa mustahil untuk kujangkau.
Suara dentang itu, terdengar seperti titik akhir perlawananku.
Saat aku berusaha untuk bangkit, rasa sakit yang membakar langsung datang menyerbu di dadaku. Tenagaku hilang. Kepalaku tersandar di atas tanah. Mataku masih terbuka, namun sangat berat terasa untuk sekedar menggerakkan tangan.
Urgon menatapku hina, meludah ke tanah.
“Diam disana Tikus.”
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sisa-sisa pertahanan Paleside di depan balai desa. Wajahnya dihiasi kekecewaan buas.
"INI CARA KALIAN MENYAMBUT TAMU?! TAK ADA MAKANAN?! ATAU HARTA?! BERBAGILAH SEDIKIT DENGAN KAMI!" raungnya, suaranya menggema di antara reruntuhan.
Tak ada jawaban.
Mata Urgon menyipit, mengikuti arah pandangan para kadet Sentinel yang ketakutan. Mereka tidak melindungi jalanan. Mereka mati-matian melindungi bangunan terbuka di belakang mereka.
Sebuah pemahaman kejam terbit di wajah sang Gora. Ia menyeringai.
"Aha... jadi di sana ya."
Tanpa menoleh lagi padaku, ia mulai berjalan dengan langkah berat menuju balai desa. Disana ada Fiora, Ibunya dan seluruh warga...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu