Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Aku meletakkan sumpit sejenak, menatap mereka berdua dengan rasa penasaran yang sudah kupendam sejak di bus tadi. Pertanyaan ini terasa agak konyol, tapi aku benar-benar ingin tahu bagaimana cara mereka "terlahir kembali" di dunia yang penuh dengan dokumen kependudukan ini.
"Oh iya kalian... Ren dan Kael terlahir kembali," aku berdeham sedikit, mencoba mencari kata-kata yang pas. "Apa kalian punya orang tua baru? Eh, maksudnya... entahlah, bagaimana kalian bisa punya identitas di sini?"
Ren tersedak tehnya, lalu tertawa sambil menepuk-nepuk dadanya. "Orang tua baru? Wah, bayangkan Kaelen harus dipukuli pantatnya karena tidak mau mandi pagi oleh seorang ibu manusia. Itu pemandangan yang epik!"
Kaelen memberikan tatapan tajam pada Ren yang langsung membuat sahabatnya itu diam seketika, meski bahunya masih berguncang menahan tawa. Kaelen kemudian beralih menatapku, suaranya melunak.
"Secara teknis, tidak, Kazumi," jawab Kaelen tenang. "Kami tidak lahir dari rahim manusia di dunia ini. Ketika aku menggunakan sisa kekuatanku untuk menyeberang, kami 'diselipkan' ke dalam realitas ini. Dunia ini seolah-olah menciptakan sejarah untuk kami agar kami bisa membaur."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kedai. "Dalam catatan resmi pemerintah, aku adalah seorang yatim piatu yang mendapat beasiswa dan sekarang bekerja paruh waktu. Ren adalah sepupuku yang datang dari luar kota untuk kuliah seni. Kami punya kartu identitas, punya catatan medis, bahkan punya memori palsu tentang masa kecil yang biasa saja."
"Jadi kalian tidak punya orang tua?" tanyaku, ada sedikit rasa simpati di suaraku.
"Kami hanya punya satu sama lain," sahut Ren, kali ini nadanya sedikit lebih serius. "Tapi itu lebih dari cukup. Di dunia ini, tidak ada raja yang menuntut kami, tidak ada perang elemen. Kami bebas membangun 'keluarga' kami sendiri."
Kaelen menggenggam tanganku di bawah meja, seolah ingin meyakinkanku bahwa mereka tidak kesepian. "Orang tuaku di dunia sana sudah musnah bersama ambisinya. Di sini, aku hanya ingin menjadi Kaelen yang bisa menjagamu tanpa perlu gelar pangeran."
"Lagipula," Ren menambahkan dengan nada ceria untuk mencairkan suasana, "Ibumu di Lembah Biru itu sudah seperti ibu bagi kami juga, kan? Dia yang membantu gerbang itu tertutup sehingga kami bisa mendarat di sini dengan selamat."
Ramen pesanan kami akhirnya datang. Uap panasnya mengepul, menutupi wajah Kaelen sesaat. Di balik uap itu, aku melihat seorang pria yang benar-benar ingin memulai hidup baru.
"Makanlah, Kazumi," ucap Kaelen lembut. "Besok adalah hari pertamamu sebagai mahasiswa. Dan besok, kau akan melihatku lagi di kampus."
Aku hampir tersedak mie yang baru saja masuk ke mulutku. "Apa? Kau juga kuliah di sana?"
Kaelen hanya tersenyum misterius.
"Tentu saja," jawab Kaelen dengan nada yang begitu santai namun penuh arti. Ia menyesap tehnya perlahan, menikmati ekspresi terkejut di wajah mungilku.
"Kaelen bekerja sebagai asisten peneliti di laboratorium botani kampusmu, Kazumi," sela Ren sambil menyeruput kuah ramennya dengan berisik.
"Bayangkan saja, si mantan pangeran yang biasanya memerintah pasukan bayangan, sekarang harus sibuk mengurusi mikroskop dan menyiram tanaman percobaan. Lucu, kan?"
Aku membelalakkan mata. "Asisten peneliti? Di jurusanku?"
Kaelen mengangguk pelan. "Aku tahu banyak tentang tanaman, meski itu tanaman dari dunia lain. Dasar-dasarnya hampir sama. Dan dengan posisi itu, aku bisa memastikan tidak ada satu pun 'tanaman aneh' atau masalah yang mendekatimu selama kau belajar di sana."
"Dia itu posesif, Kazumi. Bilang saja begitu," goda Ren lagi, yang langsung dibalas dengan tendangan kecil Kaelen di bawah meja.
Setelah menghabiskan ramen yang sangat nikmat itu, kami beranjak keluar dari kedai. Udara malam kota ternyata jauh lebih menusuk daripada udara di lembah. Aku refleks mengeratkan pelukan pada ranselku, sedikit menggigil karena hanya memakai kaos tipis dan jaket denim pendek.
Tanpa berkata apa-apa, Kaelen melepaskan jaket bomber hitamnya yang hangat dan beraroma maskulin—campuran aroma kayu dan sisa parfum yang lembut. Ia menyampirkannya di bahuku. Jaket itu terasa sangat besar di tubuhku yang hanya 154 cm, hampir menutupi separuh pahaku.
"Pakai ini. Kau bisa sakit sebelum kuliah dimulai," ucapnya sambil merapikan kerah jaket itu di leherku. Tangannya sempat menyentuh pipiku sejenak, terasa dingin namun mengirimkan gelombang kehangatan ke seluruh tubuhku.
Kami akhirnya sampai di depan gerbang asrama putri yang megah. Lampu-lampu jalanan menerangi wajah kami bertiga.
"Nah, Penjaga Bunga, di sinilah batas wilayah kami," Ren membungkuk sopan seperti seorang ksatria gadungan. "Aku akan pulang duluan ke apartemen untuk menyelesaikan lukisan. Kael, jangan terlalu lama berpamitan, satpam itu sudah menatap kita dengan curiga."
Ren melambaikan tangan dan berjalan pergi, meninggalkan aku dan Kaelen dalam keheningan yang nyaman.
Kaelen menyerahkan pegangan koperku. "Masuklah. Istirahat yang cukup. Aku akan menunggumu di depan gedung fakultas jam delapan pagi besok."
Aku menatapnya, masih merasa seperti sedang dalam mimpi yang indah. "Kael... terima kasih untuk hari ini. Aku senang kalian ada di sini."
Kaelen mendekat, mengecup keningku dengan lembut—sebuah ciuman yang terasa seperti janji bahwa ia tidak akan pernah menghilang lagi. "Mimpilah yang indah, Kazumi. Kali ini, mimpimu tidak akan diganggu oleh siapa pun."
Aku melangkah masuk ke dalam gerbang asrama dengan hati yang berbunga-bunga, menyeret koperku sambil sesekali menoleh ke belakang. Kaelen masih berdiri di sana, di bawah lampu jalan, memperhatikanku sampai aku benar-benar masuk ke dalam gedung.