Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24
Alexandria —06.00 AM
Bradley terbangun dengan napas yang lebih tenang namun tatapan yang jauh lebih gelap. Obat penenang semalam masih menyisakan rasa pahit di lidahnya, namun rasa pahit di hatinya jauh lebih mendominasi. Ia menatap ke samping mencari sosok satu-satunya alasan ia masih memiliki sisa kemanusiaan, namun Megan tak ada di sana
Bradley mengusap wajahnya kasar, lalu perlahan Ia berdiri, menatap sekeliling kamar dengan pandangan muak. "Aku tidur di sini?” Senyum sinis terbit di bibirnya, “kamar seorang pahlawan yang Megan harapkan akan datang menolongnya.” Tak tahan Bradley akhirnya keluar.
Megan meletakkan sendoknya dengan dentuman keras di atas meja, memecah keheningan sarapan. Ia menoleh ke arah Bradley yang baru saja turun, matanya menatap tajam penuh tuntutan.
"Brown, kau tidak lupa dengan janjimu, kan?"
Bradley berjalan mendekat lalu duduk, menatap Megan dengan tatapan yang sudah kembali ke setelan awal yang dingin. Luka di punggungnya mungkin masih berdenyut, tapi bagi pria yang hidupnya selalu menantang maut, itu hanyalah kerikil kecil.
"Bersiaplah. Kita berangkat segera. Aku tidak punya banyak waktu lagi di Virginia. London sudah menungguku," jawab Bradley datar.
"Peter, siapkan mobil. Kita ke makam Bibi Sarah sekarang," perintah Bradley pada Peter yang sejak tadi bersiaga.
Megan memperhatikan Bradley dari sudut matanya. Pria ini seperti memiliki kepribadian ganda; semalam ia nampak begitu rapuh dan hancur, lalu lembut penuh posesif saat memeluknya, namun pagi ini ia kembali menjadi 'Hantu London' yang tak tersentuh.
***
Arlington National Cemetery— 07.00AM
Tiga puluh menit kemudian, mobil tiba di Arlington National Cemetery. Sebuah pemakaman elite dimana Sarah di makamkan.
Bradley membukakan pintu mobil untuk Megan, gerakannya posesif saat menuntun Megan turun. "Hati-hati, Meg. Jika tubuhmu merasa tidak nyaman, katakan padaku. Aku tidak ingin mengambil risiko apa pun terhadap bayiku."
"Jangan selalu mengingatkanku pada kebencianku, Brad," desis Megan tajam.
Bradley hanya diam, tak ingin menyulut api di pagi yang dingin ini.
Megan melangkah perlahan menuju dua pusara yang berdampingan di Section 60. Ia meninggalkan Bradley yang kini bersandar pada mobilnya.
Megan berlutut di depan nisan bertuliskan Sarah. Ia meletakkan mawar putih, jemarinya mengusap batu nisan itu dengan penuh kerinduan.
"Bi... aku datang," bisik Megan, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dibendung. "Maafkan aku jika terlalu lama tidak menjengukmu. Dunianya terasa begitu asing sekarang, Bi."
Megan terisak, suaranya tercekat oleh sesak di dada. "Bibi tahu? Pahlawan yang selalu kubanggakan... Papa... dia bukan lagi sosok yang kukenal. Dia sedang berbahagia dengan wanita lain saat aku berteriak meminta pertolongan. Aku merasa sendirian, Bi. Aku terjebak di tangan seorang pria yang mengklaim aku adalah miliknya, pria yang menghancurkan hidupku namun anehnya... dia juga yang melindungiku saat semua orang berpaling."
Megan menoleh sekilas ke nisan di sebelah Sarah. "Maafkan aku, Bi. Sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku untuk menunggu Alex. Aku akan menikah dengan pria lain. Pria yang kusebut bajingan. Aku harus merelakan masa depanku demi menjaga martabat ayahku dari amukan badai yang akan menghancurkan kariernya karena skandalnya."
Bradley berjalan masuk ke area pemakaman, ia berdiri terpaku beberapa meter di belakang Megan. Matanya menatap tajam pada sosok wanita yang sedang mendekap nisan marmer dingin itu dengan baju yang bergetar.
Pemandangan itu seolah menarik paksa jiwanya ke sepuluh tahun silam; seorang gadis belia yang menangis tergugu di pusara ibunya. Ingatan itu menyerang tanpa ampun, membuat rahang Bradley mengeras. Memaksanya harus berjuang mati-matian meredam iblis di dalam dirinya agar tidak meledak di tempat suci itu.
Perlahan, Bradley mendekat. Ia berjongkok di samping Megan, jemarinya mengusap mawar putih yang Megan taburkan.
"Kau sudah cukup lama menangis, Meg. Aku yakin Bibi Sarah lebih butuh doamu daripada air mata ini," ucap Bradley pelan.
Ia lalu menatap nisan itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bu, sebagai orang yang sangat dihormati Megan, aku juga meminta restumu. Aku akan menikahi Megan. Jika putramu tak akan pernah datang, maka aku yang akan berdiri di sampingnya selamanya."
Megan memalingkan wajah, hatinya mencelos mendengar sumpah Bradley di depan gundukan tanah itu. "Maafkan aku, Bi... aku tak punya pilihan selain menerima monster ini. Hidupku sudah kugadaikan demi kehormatan Papa. Dan entah mengapa... aku tak sanggup membunuhnya," batin Megan perih.
Satu jam berlalu. Matahari Virginia mulai naik, menyengat pelipis Megan kini mulai dibanjiri keringat dingin. Namun, Megan seolah kehilangan jiwanya, ia tetap bergeming di samping pusara.
"Buang keras kepalamu, Meg! Kau tidak hidup sendiri sekarang. Ada nyawa lain yang kau bawa!" Bradley berdiri, auranya berubah drastis. Mode predatornya kembali aktif, menghapus jejak pria rapuh semalam. "Berdiri, atau aku terpaksa menyeretmu dari sini."
"Jangan berteriak padaku di depan makam paman dan bibiku, Brown! Atau aku bisa melakukan hal yang lebih gila!" tantang Megan, mencoba berdiri namun tubuhnya goyah.
"Kau memaksaku melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak kemarin," desis Bradley. Tanpa peringatan, ia menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Megan, mengangkat wanita itu dalam satu gerakan, seolah luka menganga di punggungnya tak pernah ada.
"Lepaskan aku, sialan!" ronta Megan, memukul dada bidang Bradley.
Bradley tak bergeming. Ia menggendong Megan melewati barisan nisan putih dengan langkah lebar dan angkuh, lalu mengempaskannya ke kursi mewah Rolls-Royce nya.
"DIAM, MEG!" bentak Bradley saat Megan hendak protes kembali.
Suara bentakan itu menggelegar di dalam kabin yang kedap suara. Megan tertegun, bibirnya terkatup rapat. Ada rasa nyeri yang aneh menjalar di ulu hatinya. Bukan rasa takut, tapi sebuah luka yang tak bisa ia jelaskan.
Kenapa bentakan pria ini terasa lebih menyakitkan, bukankah seharusnya ia bersikap biasa saja?
Mobil meluncur meninggalkan Arlington, memasuki kemacetan parah di I-495 Capital Beltway. Keduanya kini saling membisu membiarkan keheningan kabin mewah itu, hanyut dalam pikiran masing-masing.
Di tengah deretan mobil yang merayap, Megan menatap kosong ke jendela. Tiba-tiba, jantungnya berhenti berdetak sesaat. Hanya terpaut dua jalur dari mobil mereka, sebuah Chevrolet Suburban hitam dengan plat nomor dinas yang sangat ia kenal sedang melintas.
"Papa..." bisik Megan parau, matanya melekat pada sosok pria di dalam mobil itu.
Bradley menyadari arah pandang Megan. Sebuah senyum sinis yang meremehkan terukir di bibirnya saat menatap Chevrolet Suburban hitam di jalur sebelah.
"Singa tua itu sudah kembali dari New York bersama daun mudanya, Meg?" tanya Bradley, suaranya mengandung racun yang mematikan.
"Kau tidak berhak menilainya, Brown! Aku tahu siapa ayahku. Tidak mungkin dia melakukan hal serendah itu jika bukan Alice yang merayunya!" balas Megan sengit.
"Tapi kenyataannya tetap sama, Meg. Ayahmu hanyalah pria tua yang haus akan belaian di tengah kekosongan kekuasaannya."
PLAKKK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bradley untuk kesekian kalinya. Napas Megan memburu karena amarah yang memuncak. "Kau tak perlu menghina ayahku! Jika kau punya masalah denganku, lampiaskan saja padaku, jangan bawa-bawa dia!"
Bradley tidak meringis. Ia justru menyambar dagu Megan dengan cengkeraman kuat, memaksa wanita itu menatap matanya yang berkilat gelap. Tanpa peringatan, Bradley membungkam bibir Megan dengan ciuman yang kasar dan menuntut, sebuah hak kekuasaan yang membuat Megan tercekik.
Setelah beberapa detik yang menyesakkan, Bradley menghempaskan Megan kembali ke kursi. Megan mendorongnya menjauh, mengusap bibirnya dengan kasar sementara matanya menatap nanar ke arah mobil ayahnya yang perlahan menjauh ditelan kemacetan.
"Aku lebih tahu dari apa yang kau tahu, Meg. Jangan pernah mencoba mengajariku soal pengkhianatan," desis Bradley dingin.
***
Setelah berperang melawan kemacetan parah di I-495, Rolls-Royce hitam itu akhirnya memasuki halaman rumah di Alexandria.
Megan langsung keluar dan meninggalkan Bradley begitu saja tanpa sepatah kata pun. Bradley hanya menatap punggung Megan, lalu berjalan menuju teras asri bersama Peter.
"Semalam Anda melakukan sesuatu yang luar biasa, Tuan," ucap Peter sambil berdiri di samping Bradley yang sedang duduk menatap taman. "Mungkin Nona Megan adalah satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan luka masa lalu Anda."
"Menahan rasa sakit tanpa pelampiasan itu jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik itu sendiri, Pet," jawab Bradley parau, rahangnya mengeras mengingat serpihan memori semalam.
"Tapi Anda berhasil mengontrolnya. Dan... apa Anda tahu bahwa Nona Megan-lah yang merawat Anda semalam? Dia mengabaikan kondisinya yang masih lemah hanya untuk memastikan Anda tetap bernapas."
"Dia hanya keras kepala, Pet," gumam Bradley, meski ada getaran asing di suaranya.
Tiba-tiba, tablet di tangan Peter bergetar. Sebuah laporan terenkripsi dari Jasper masuk dari jantung Langley.
Peter membacanya dengan dahi berkerut, lalu menyerahkannya pada Bradley.
[INCOMING ENCRYPTED MESSAGE - AGENT JASPER]
Sir, Langley dalam kondisi Siaga Satu. Direktur Ford akan melakukan briefing dadakan dengan emosi yang tidak stabil, karena laporan terkait sistem biometrik Dulles.
Bradley mematikan layar tablet itu dengan gerakan yang sangat tenang, namun binar di matanya mengisyaratkan badai yang sanggup meratakan Virginia dalam semalam.
Ia menatap mawar putih yang masih tersisa di jasnya, lalu beralih menatap lantai atas tempat Megan sedang mengurung diri dalam kebencian.
"Arthur tidak sedang mencari penyusup di Dulles, Pet. Dia sedang mencari cermin untuk melihat dosa-dosanya sendiri," gumam Bradley dengan nada yang lebih mirip sebuah kutukan daripada analisis intelijen.
Bradley melangkah masuk berniat menemui Megan, "Katakan pada Jasper, biarkan Singa itu membuka file 'Nora'. Aku ingin dia sendiri yang menarik pelatuk kehancuran martabatnya, tepat saat Megan mengucap janji suci di London nanti.”
Hai, jika suka dengan cerita Megan vs Bradley, jangan lupa tinggalkan jejak dan komentar yang membangun serta masukan agar aku bisa lebih baik. Makasih.🙏