NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBENARAN

"Makasih ya, Putra. Udah antar Ibu pulang." Seru Salma yang duduk di jok belakang motor Putra. Suaranya terselip angin di antara kesejukan pagi dan hangatnya mentari yang perlahan jatuh ke permukaan. "Makasih juga lho, sayurnya. Salam buat Ibu kamu nanti."

"Iya, Bu." Angguk Putra.

Salma tersenyum, matanya menempel pada punggung Putra yang bidang—punggung yang hadir dalam mimpinya kemarin malam. Sementara, Putra yang mengemudikan motornya dengan kecepatan stabil, melesat di antara deretan mobil dan motor yang berseliweran di jalan kota.

Aku juga sayang Ibu.

Pernyataan itu kembali terlintas di benak Salma. Ia jadi ingat, setelah Putra mengucapkannya, laki-laki itu kembali menyengir, mengekspresikan wajah yang semula sungguh-sungguh perlahan membuat Salma tak yakin. Meski ia tahu, saat itu, Putra tengah menyembunyikan perasaan sesungguhnya.

Kini, mata Salma memandang punggung kokoh Putra, punggung yang hadir dalam mimpinya kemarin. Memeluknya, merengkuhnya, membalutinya dalam kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Sementara, hati Putra berkecamuk. Matanya fokus memandang situasi jalanan di depannya, namun pikirannya berisik—dipenuhi oleh bayangan suami Salma bersama seorang wanita, yang tak lain adalah selingkuhannya. Sejak berapa lama mereka tinggal bersama? Sudah berapa lama pria itu membohongi Salma? Atau... apakah Salma sudah tahu dan berpura-pura tak tahu?

Pertanyaan itu berseliweran silih berganti, hingga akhirnya motor yang mereka kendarai telah tiba di kawasan tempat tinggal Salma. Hanya melewati beberapa persimpangan, kini motor Putra telah benar-benar tiba di depan rumah Salma.

Mesin mati. Salma beringsut turun dari motornya.

"Bu." Kata Putra kemudian, sambil melepaskan helmnya. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama Ibu."

Deg!

Kalimat Putra seolah membawa ia kepada mimpi semalam. Pernyataan yang diucapkan Putra sebelum akhirnya laki-laki itu menyentuhnya, membaluti tubuhnya, menikmati setiap apa yang ia punya.

"Lu-Lupakan." Tergagap Salma dengan gelengan di kepala.

"Tapi Bu, ini—"

"Putra, lupakan soal di kantin kemarin. Ibu mengerti." Potong Salma cepat. "Gak perlu lagi kamu jelaskan. Pulanglah! Ibumu menunggu kamu di pasar."

Putra mengernyit, dahinya berkerut dalam kebingungan yang tak sempat ia sembunyikan. "Ma-maksud Ibu?"

Salma menggeleng ikut kebingungan, "Kamu mau bicara tentang kit..."

Kalimat Salma menggantung di udara saat melihat wajah Putra yang semakin dibuatnya bingung. "E-Emangnya kamu mau bicara soal apa?"

"Ini soal suami Ibu." Tandas Putra akhirnya. Nyaris, membuat wanita itu seketika membeku.

"Su-suami Ibu?" Salma tersentak, matanya membesar sejenak.

Putra mengangguk mantap. "Boleh kita bicara sebentar, Bu?"

"Uhm..." Salma mengulum bibirnya berpikir. Detik berikutnya, ia mengangguk pelan, lalu melangkah memberi ruang, mempersilakan Putra masuk menuju beranda rumahnya.

Di sana, mereka duduk di depan rumah, tak benar-benar masuk ke dalam. Salma tak berani mempersilakan Putra melangkah lebih jauh—seakan mimpi malam kemarin menjadi pertanda bahwa ada batas yang harus ia jaga, batas yang tak boleh ia langgar, meski hatinya bergetar oleh kegelisahan yang tak ia akui.

"Kamu mau minum apa?" Kata Salma kemudian.

Putra menggeleng cepat, seolah menolak segala kemungkinan gangguan pada maksud pembicaraannYa kali ini. "Enggak usah, Bu." Ucapnya lembut, tapi kali ini terdengar tegas. Ia takut, jika memberi celah sedikit saja, keberaniannya akan runtuh—dan niat yang susah payah ia kumpulkan akan kembali terkunci rapat di dadanya. "Aku kemari hanya ingin bicara mengenai suami Ibu."

Salma mengangguk. "Baiklah. Ada apa dengan suami Ibu?"

Putra menahan napasnya. "Kali pertama saya melihat foto suami Ibu di ruang tamu adalah hal berkesan bagi saya. Tapi mungkin saya sadar... itu adalah cara saya untuk menginformasikan kepada Ibu tentang suami Ibu yang sebenarnya."

Salma mencondongkan tubuh ke arah Putra. Tatapannya tertuju pada wajah anak itu yang tampak jauh lebih serius dari biasanya—lebih dari sekadar wajah yang kemarin mengucapkan kata sayang kepadanya. "Ma-maksud kamu?"

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!