Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawar Menawar
Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang.
Mungkin karena aku sudah terlalu banyak kehilangan. Mungkin karena aku sudah lelah jadi boneka. Mungkin karena melihat Arman babak belur seperti itu membuat sesuatu di dalam diriku patah.
Atau mungkin... mungkin aku sudah tidak peduli lagi dengan nyawaku sendiri.
Leonardo masih duduk di ujung sofa. Menatapku dengan tatapan yang aneh. Antara kasihan dan kepuasan.
Dan tiba-tiba, kata-kata keluar dari mulutku tanpa sempat kupikirkan.
"Kalau kau bunuh dia," ucapku dengan suara serak tapi tegas. "Aku akan bunuh diriku sendiri."
Hening.
Leonardo terdiam. Tatapannya berubah. Dari santai jadi... waspada.
"Apa?" tanyanya pelan. Seperti tidak yakin dia dengar dengan benar.
Aku bangkit dari posisi meringkuk. Duduk dengan punggung tegak. Menatap matanya langsung walau mataku masih basah.
"Aku bilang," aku ulangi dengan lebih keras. "Kalau kau bunuh Arman, aku akan bunuh diriku sendiri. Aku akan cari cara. Entah loncat dari jendela, entah potong nadiku dengan pecahan kaca, entah apapun. Tapi aku akan lakukan."
Leonardo menatapku lama. Lalu dia tertawa. Tapi tawa yang terdengar tidak yakin.
"Kau tidak akan lakukan itu," ucapnya. "Kau tidak sekuat itu."
"Coba saja," balasku. Kali ini tidak ada keraguan di suaraku. "Kau pikir aku masih punya apa yang tersisa untuk dilindungi? Ayah dan ibu sudah aman. Arman mau kau bunuh. Aku sudah kehilangan segalanya. Jadi kalau kau bunuh satu-satunya orang yang masih peduli padaku, aku tidak punya alasan lagi untuk hidup."
Aku melihat sesuatu di wajah Leonardo yang jarang kulihat.
Ketakutan.
Ketakutan yang nyata.
Dia berdiri. Berjalan bolak-balik di depan sofa. Tangannya mengepal dan membuka berkali-kali.
"Kau... kau menggertak," ucapnya. Tapi suaranya tidak yakin.
"Aku tidak menggertak," balasku sambil berdiri juga. "Kau bisa tes. Bunuh Arman sekarang. Lalu lihat apa yang akan kulakukan. Aku jamin dalam dua puluh empat jam, kau akan temukan tubuhku tidak bernyawa."
Leonardo berbalik menatapku. Matanya menyala marah. Tapi di balik amarah itu, ada kepanikan.
"Jangan main-main denganku, Nadira," ancamnya. "Kau tahu aku tidak suka diancam."
"Dan kau tahu aku sudah tidak peduli lagi," balasku. Aku melangkah mendekat. "Kau ambil segalanya dariku. Kebebasanku. Hidupku. Harapanku. Tapi satu hal yang tidak bisa kau ambil adalah keputusanku untuk hidup atau mati. Dan aku putuskan, kalau Arman mati, aku ikut mati."
Aku bisa lihat rahang Leonardo mengeras. Tangannya mengepal sangat erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa?" tanyanya dengan suara rendah. "Kenapa kau rela mati untuk dia? Dia bukan siapa-siapa mu!"
"Dia teman yang peduli padaku!" teriakku. "Dia orang yang mau mempertaruhkan nyawanya untukku! Sementara kau? Kau cuma mau memiliki ku seperti benda! Kau tidak peduli aku bahagia atau tidak! Yang kau peduli cuma kepemilikan!"
"AKU MENCINTAIMU!" teriak Leonardo. Suaranya menggema di ruangan. "Aku mencintaimu dengan caraku sendiri!"
"Itu bukan cinta!" aku berteriak balik. Air mataku mengalir lagi. "Cinta tidak mengurung! Cinta tidak mengancam! Cinta tidak membunuh orang-orang yang peduli pada orang yang dicintai! Yang kau lakukan ini obsesi! Kegilaan! Bukan cinta!"
Leonardo diam. Napasnya berat. Dadanya naik turun cepat.
Lalu tiba-tiba dia berjalan cepat ke arahku. Aku pikir dia mau pukul aku. Tapi yang dia lakukan adalah menarikku dalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat. Mencekik.
"Jangan tinggalkan aku," bisiknya dengan suara yang terdengar... putus asa? "Kumohon jangan bunuh dirimu. Jangan tinggalkan aku."
Aku terdiam. Ini pertama kalinya aku dengar Leonardo terdengar lemah.
"Aku... aku sudah pernah kehilangan seseorang yang penting," lanjutnya dengan suara bergetar. "Dan aku bersumpah tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Makanya aku jaga kau ketat. Makanya aku tidak biarkan siapapun dekati kau. Karena aku takut kehilangan kau."
Dia melepaskan pelukannya. Menatapku dengan mata yang... basah?
Leonardo menangis?
"Tapi kalau kau mati," bisiknya. "Kalau kau bunuh dirimu... aku tidak akan bisa hidup. Aku akan... aku akan gila. Sepenuhnya gila."
Aku menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat Leonardo bukan sebagai monster. Tapi sebagai manusia yang rusak. Manusia yang terluka sangat dalam sampai dia tidak tahu lagi bagaimana cara mencintai dengan benar.
Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia sudah menghancurkan hidupku.
"Kalau kau tidak mau aku mati," ucapku dengan suara lelah. "Jangan bunuh Arman."
Leonardo menatapku lama. Konflik jelas terlihat di wajahnya.
"Tapi dia tahu terlalu banyak," ucapnya. "Dia ancaman."
"Deportasi dia," balasku. "Kirim dia kembali ke Indonesia dengan peringatan. Ancam keluarganya kalau dia coba hubungi aku lagi. Tapi jangan bunuh dia. Kumohon."
Leonardo diam. Otaknya jelas bekerja keras. Menghitung untung rugi.
Lalu dia menghela napas panjang.
"Baik," ucapnya pelan. "Aku tidak bunuh dia. Tapi ada syaratnya."
Tentu saja ada syarat.
"Apa?" tanyaku sambil menyeka air mataku.
Leonardo menatapku dengan tatapan yang sangat serius.
"Kau harus sepenuhnya tunduk padaku," ucapnya pelan. "Tidak ada perlawanan lagi. Tidak ada rencana kabur. Tidak ada kontak dengan siapapun tanpa seizinku. Dan..."
Dia diam sejenak.
"Dan mulai malam ini," lanjutnya. "Kau tidur di kamarku. Satu ranjang denganku. Setiap malam."
Jantungku berhenti sedetik.
Tidur satu ranjang dengan Leonardo. Setiap malam.
Itu artinya... itu artinya aku benar-benar jadi istrinya. Secara penuh.
"Aku..." aku tidak bisa menyelesaikan kalimat.
"Itu syaratnya," ucap Leonardo dengan tegas. "Arman hidup. Tapi kau jadi milikku sepenuhnya. Tidak ada lagi batasan. Tidak ada lagi jarak. Kau benar-benar Nyonya Valerio dalam setiap aspek."
Aku menatap lantai. Pikiranku kacau.
Ini bukan pilihan yang adil. Ini ultimatum lagi. Pilih antara nyawa Arman atau tubuhku sendiri.
Tapi setidaknya... setidaknya Arman akan hidup.
"Baik," bisikku akhirnya. "Aku... aku setuju."
Leonardo tersenyum. Senyum kemenangan.
"Bagus," ucapnya sambil mengusap pipiku. "Tapi sebelum itu, aku mau kau lihat dia. Terakhir kalinya. Supaya kau paham betapa besar pengorbanan yang kubuat dengan membiarkan dia hidup."
Dia meraih ponselnya. Menelepon seseorang.
"Siapkan jet," perintahnya. "Kami ke Milan sekarang."
Milan.
Tempat Arman ditahan.
Satu jam kemudian, kami sudah di jet pribadi Leonardo. Terbang ke Milan.
Perjalanan terasa sangat lama walau sebenarnya cuma dua jam.
Leonardo duduk di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku sepanjang perjalanan. Seperti takut aku akan lompat dari pesawat.
Andrey juga ikut. Duduk di belakang dengan tablet nya seperti biasa.
Kami mendarat di bandara pribadi di luar Milan. Lalu naik mobil ke sebuah bangunan tua yang terlihat seperti pabrik yang sudah ditinggalkan.
Tapi di dalam, itu adalah markas RED ASHES.
Kami masuk melalui pintu besi berat. Turun tangga ke basement yang dalam. Semakin dalam, semakin pengap udaranya.
Sampai di sebuah koridor panjang dengan pintu-pintu besi di kiri kanan.
Leonardo membawaku ke salah satu pintu. Membukanya dengan kunci digital.
Dan di dalam...
Arman.
Dia masih terikat di kursi yang sama. Tapi kondisinya jauh lebih buruk dari video tadi.
Wajahnya bengkak di mana-mana. Mata kanan tertutup sempurna karena bengkak. Bibir pecah dengan darah kering. Baju robek dan berlumuran darah. Beberapa jari tangannya bengkok dengan arah yang salah.
Marco berdiri di samping dengan tangan berlumuran darah.
"Don," sapa Marco sambil membungkuk sedikit.
Leonardo mengangguk. Lalu menarikku masuk.
"Arman," panggil Leonardo. "Kau punya tamu."
Arman mengangkat kepalanya dengan susah payah. Mata yang masih bisa terbuka menatap ke arahku.
"Na... Nadira..." suaranya sangat lemah.
Aku ingin berlari memeluknya. Tapi tangan Leonardo mencengkeram lenganku dengan kuat. Menahanku.
"Kau boleh bicara," bisik Leonardo di telingaku. "Tapi jangan sentuh dia."
Aku melangkah lebih dekat dengan kaki gemetar.
"Arman..." suaraku pecah. "Maafkan aku... maafkan aku ini semua terjadi karena aku..."
"Bukan... salahmu..." bisik Arman. Setiap kata terdengar menyakitkan untuknya. "Aku... yang bodoh... pikir bisa... lawan dia..."
"Kau tidak bodoh," aku menangis. "Kau orang paling berani yang pernah kukenal. Terima kasih... terima kasih sudah mau berjuang untukku walau sia-sia..."
"Tidak... sia-sia..." Arman tersenyum tipis. Senyum yang menyakitkan untuk dilihat. "Setidaknya... aku coba..."
Leonardo menarikku mundur.
"Cukup," ucapnya. "Waktunya habis."
Dia menatap Arman dengan tatapan dingin.
"Kau akan hidup," ucap Leonardo. "Tapi bukan karena aku murah hati. Karena Nadira memohon dengan taruhannya sendiri. Jadi berterima kasihlah padanya."
Arman menatap Leonardo. Lalu menatapku. Air matanya jatuh.
"Jangan... jangan korbankan dirimu... untukku..." bisiknya.
"Sudah terlambat," balasku sambil menangis. "Aku sudah putuskan."
Leonardo memberi isyarat pada Marco.
"Rawat lukanya," perintah Leonardo. "Beri makan dan minum. Besok pagi deportasi dia ke Jakarta. Kasih dia peringatan. Kalau dia coba hubungi Nadira lagi, atau coba selidiki aku lagi, atau coba apapun yang berhubungan dengan kami... keluarganya akan mati. Semua. Dari yang tertua sampai yang termuda."
Marco mengangguk. "Siap, Don."
Leonardo menarikku keluar dari ruangan. Tapi sebelum pintu tertutup, aku menoleh terakhir kali.
Arman menatapku dengan mata yang penuh penyesalan.
"Maaf..." bisiknya lagi.
Lalu pintu tertutup.
Dan aku tidak akan pernah melihatnya lagi.
Leonardo membawaku kembali ke mobil. Ke jet. Terbang kembali ke Lugano.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam. Menatap kosong ke jendela.
Arman akan hidup. Tapi dia akan hidup dengan luka fisik dan mental yang mungkin tidak akan pernah sembuh.
Dan aku...
Aku baru saja menjual diriku sepenuhnya.
Tidak ada jalan kembali.
Tidak ada harapan.
Hanya kepatuhan total pada monster yang mengaku mencintaiku.
Saat kami sampai kembali di vila, sudah tengah malam.
Leonardo membawaku langsung ke kamarnya.
Kamar yang lebih besar dari kamarku. Dengan tempat tidur besar di tengah. Jendela besar yang menghadap danau. Dekorasi mewah tapi terasa dingin.
"Mulai malam ini," ucap Leonardo sambil menutup pintu. "Ini kamar kita. Bukan kamarku. Kamar kita."
Dia berjalan ke lemari. Membuka pintu. Di dalamnya sudah ada pakaianku. Semua sudah dipindahkan.
"Aku sudah minta orang pindahkan barang-barangmu saat kita ke Milan," jelasnya. "Sekarang kau tidak perlu kamar sendiri lagi."
Aku hanya berdiri di sana. Tidak tahu harus bilang apa atau lakukan apa.
Leonardo mendekat. Tangannya menyentuh wajahku dengan lembut.
"Aku tahu ini berat untukmu," bisiknya. "Aku tahu kau masih takut. Masih benci. Tapi aku akan buat kau terbiasa. Aku akan tunjukkan bahwa aku bukan monster seperti yang kau pikir."
Tangannya bergerak ke belakang kepalaku. Menarikku dalam pelukan.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih sudah memilih untuk hidup. Terima kasih sudah memilih aku."
Aku tidak membalas pelukannya. Hanya diam seperti patung.
Karena ini bukan pilihan.
Ini penyerahan.
Penyerahan total pada takdir yang tidak bisa kulawan lagi.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku akan tidur di ranjang yang sama dengan monster yang menghancurkan hidupku.
Tidak sebagai istri yang rela.
Tapi sebagai tawanan yang sudah kehabisan cara untuk melawan.