Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.
Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.
Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.
Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?
Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI BALIK TIRAI AIR
"Viona, sini. Ikut Ayah pulang. Tempat ini nggak aman buat kamu, Nak."
Suara itu bergetar di antara deru angin, begitu akrab hingga membuat jantung Viona serasa berhenti berdetak. Ia menoleh dengan cepat, matanya menyipit menembus tirai air yang mengguyur jalanan di depan halte. Di sana, sekitar tiga meter dari pijakan semen halte, berdiri sesosok pria. Sosok itu tidak jelas; wajahnya tertutup kabut tipis dan rintik hujan yang seolah-olah enggan menyentuh kulitnya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, pakaian favorit ayahnya sebelum kecelakaan maut sepuluh tahun silam merenggut nyawanya.
"Ayah? Tapi... Ayah sudah nggak ada," bisik Viona. Suaranya nyaris hilang ditelan suara guntur yang menggelegar di kejauhan.
"Kadang yang sudah pergi itu nggak bener-bener hilang, Vio. Ayah cuma pindah tempat. Ayah nggak tega lihat kamu menderita sendirian kayak gini. Ayo, pegang tangan Ayah. Kita tinggalin Pak Tua ini," sosok itu mengulurkan tangan kanan yang tampak pucat di bawah temaram lampu jalan.
Viona nyaris melangkah keluar dari naungan atap halte. Kerinduannya pada sang ayah selama satu dekade terakhir seperti magnet yang menarik jiwanya. Ia merindukan pelukan ayahnya, nasihat-nasihatnya yang tenang, dan rasa aman yang selalu ia rasakan saat pria itu ada. Namun, sebuah tangan dingin dan kuat mencengkeram lengan atasnya, menahannya tetap di tempat.
"Jangan gila, Nak. Kalau kamu keluar sekarang tanpa perlindungan, kamu bukan cuma bakal basah kuyup, tapi jiwamu bakal dipanen," suara Alfred terdengar tajam, tidak lagi selembut sebelumnya.
"Tapi itu Ayah saya, Kek! Lepasin!" Viona meronta, berusaha melepaskan cengkeraman pria tua itu.
"Lihat matanya, Viona. Lihat baik-baik. Apa itu mata manusia yang sayang sama anaknya?" Alfred mengarahkan telunjuknya ke arah sosok di tengah hujan.
Viona terpaku. Ia memaksakan matanya untuk fokus. Saat kilat menyambar, menerangi langit selama satu detik, ia melihatnya. Sosok itu tidak memiliki mata. Di tempat di mana seharusnya ada bola mata, hanya ada lubang hitam pekat yang mengeluarkan cairan gelap menyerupai tinta, mengalir turun ke pipinya dan menyatu dengan air hujan. Sosok itu tersenyum, tapi senyumnya terlalu lebar, hingga sudut bibirnya nyaris menyentuh telinga.
"Vio... kenapa ragu? Kamu nggak kangen sama Ayah? Ibu juga nungguin, lho. Kamu mau kan kita kumpul lagi kayak dulu?" Suara itu kini berubah, tidak lagi hangat, melainkan melengking dengan nada yang tidak wajar.
Ketakutan dingin merayap di punggung Viona. Ia mundur hingga punggungnya menabrak pilar kayu halte yang keropos. "Itu... itu bukan Ayah saya. Apa-apaan itu, Kek?"
Alfred mendengus pelan, tangannya kini beralih menggenggam gagang perak payung hitamnya. "Itu disebut Umbra Inanis, atau Si Peniru Sesal. Mereka makhluk yang tercipta dari sisa-sisa kesedihan manusia di kota ini. Mereka nggak punya wujud, jadi mereka minjam wajah orang yang paling kamu tangisi supaya bisa narik kamu ke dalam badai. Begitu kamu keluar dari perlindungan halte ini, mereka bakal nyedot semua harapan yang masih tersisa di hatimu sampai kamu cuma jadi cangkang kosong."
Pria tua itu melangkah maju satu langkah, berdiri di garis terdepan halte. Ia menghentakkan ujung payungnya ke lantai semen. Trak! Suara hantaman itu menciptakan gelombang kejut yang tak terlihat, membuat air hujan di sekitar mereka terlempar menjauh selama beberapa detik.
"Pergi, pengecut! Dia belum jadi milikmu!" bentak Alfred.
Sosok yang menyerupai ayah Viona itu mengeluarkan suara geraman rendah, seperti anjing liar yang terpojok. Wujudnya mulai memudar, meluruh menjadi asap hitam yang tertiup angin kencang, lalu menghilang di balik kegelapan gedung-gedung tinggi.
Viona merosot ke lantai, napasnya tersengal-sengal. "Dunia ini... sudah gila ya? Apa saya tadi mati pas lagi jalan dan sekarang saya ada di neraka?"
Alfred kembali duduk di samping Viona, ketenangannya kembali pulih seolah kejadian mengerikan tadi hanyalah gangguan lalat. "Kamu nggak mati, Nak. Kamu cuma baru saja 'melihat'. Kebanyakan orang di kota ini berjalan dengan mata tertutup. Mereka pikir hujan cuma air, mereka pikir kesedihan cuma perasaan. Padahal, di balik itu semua, ada ekosistem yang jauh lebih tua dari gedung-gedung beton ini."
Viona memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya masih gemetar, bukan hanya karena dingin, tapi karena kenyataan yang baru saja ia saksikan. "Kakek bilang saya punya pilihan. Payung atau Pena. Tapi... kalau saya ambil salah satu, apa itu bakal ngelindungin saya dari makhluk-makhluk tadi?"
"Bukan cuma ngelindungin, Viona. Benda-benda itu bakal bikin kamu jadi penguasa atas nasibmu sendiri," Alfred menatap Payung Kenangan dan Pena Takdir yang masih tergeletak di bangku. "Tapi ingat harganya. Sekali kamu pilih, nggak ada jalan balik. Kamu bakal dapet keajaiban, tapi kamu bakal kehilangan kemanusiaanmu. Itu perdagangan yang adil bagi mereka yang sudah putus asa."
Viona terdiam cukup lama. Ia melihat ke tangannya sendiri yang kotor dan lecet. Ia teringat ibunya yang duduk di kursi roda, menatap jendela dengan pandangan kosong setiap kali hujan turun. Ia ingat hinaan Baskara di kantor. Semua rasa sakit itu berkumpul, memicu keinginan kuat untuk mengambil Pena Takdir dan menuliskan masa depan di mana ia adalah ratu yang tak terkalahkan.
Namun, ia kembali teringat ucapan ibunya. Hidup itu seperti hujan. Kamu tidak bisa meminta pelangi tanpa melewati mendung.
Jika ia mengambil pena itu, ia mungkin akan sukses, tapi ia takkan bisa lagi merasakan haru saat melihat ibunya tersenyum kecil. Jika ia mengambil payung itu, ibunya akan berjalan, tapi kasih sayang yang selama ini menjadi kekuatannya akan hilang.
"Enggak," bisik Viona tegas.
Alfred mengangkat sebelah alisnya. "Enggak? Kamu beneran mau nolak kesempatan yang dicari jutaan orang ini? Kamu tahu nggak, banyak orang sukses di atas sana, para pejabat, artis, pengusaha... mereka pernah duduk di bangku ini dan mereka memilih tanpa ragu."
"Ya pantesan dunia ini rasanya makin dingin," sahut Viona dengan sisa-sisa keberaniannya. "Mereka sukses tapi nggak punya hati. Saya nggak mau jadi kayak mereka. Saya emang hancur sekarang, Kek. Saya emang payah, gagal, dan penuh dosa sama Ibu. Tapi semua rasa sakit ini... ini punya saya. Ini bukti kalau saya masih punya jiwa. Saya nggak mau ngejual jiwa saya cuma buat cara instan."
Viona berdiri tegak, meski kakinya masih sedikit lemas. Ia menatap Alfred dengan pandangan menantang. "Saya nggak mau dua-duanya. Saya mau pulang. Saya bakal hadapi Baskara, saya bakal minta maaf sama Ibu, dan saya bakal cari jalan keluar pake cara saya sendiri. Meski itu lama, meski itu sakit."
Untuk pertama kalinya, Alfred tersenyum. Bukan senyum tipis yang misterius, melainkan senyum lebar yang memperlihatkan kerutan di matanya. Ia tampak puas, seolah Viona baru saja lulus dari ujian yang sangat sulit.
"Menarik. Sangat menarik," gumam Alfred. Ia merogoh sesuatu dari bawah bangku kayu yang gelap. Ia tidak mengambil Payung Hitam atau Pena Perak. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah payung lipat biasa berwarna biru tua yang sudah kusam. Salah satu rangkanya tampak sedikit bengkok.
"Kalau gitu, bawa ini," Alfred menyodorkannya pada Viona.
Viona mengerutkan kening. "Ini... apa harganya?"
"Nggak ada harganya. Ini cuma payung biasa. Nggak bisa bikin kamu balik ke masa lalu, nggak bisa bikin kamu kaya. Tapi payung ini bakal nemenin kamu biar nggak terlalu kedinginan sampai kamu ketemu jalan pulang," kata Alfred tulus.
Viona menerima payung biru itu. Beratnya terasa nyata, baunya seperti kain tua yang lama disimpan di gudang. "Makasih, Kek."
"Oh, satu lagi, Viona," Alfred berkata saat Viona mulai membuka payungnya di tepi halte. "Kamu mungkin nolak sihir, tapi sihir nggak selalu mau ngelepasin kamu gitu aja. Kamu sudah melihat 'mereka'. Dan setelah kamu melihat, mereka juga bakal mulai melihat kamu."
Viona menelan ludah. "Maksud Kakek?"
"Berjalanlah terus. Jangan menoleh ke belakang, apapun yang kamu dengar. Dan ingat, payung itu bukan cuma buat nahan air hujan."
Viona melangkah keluar dari halte. Begitu ia berjalan sekitar sepuluh langkah, ia merasakan dorongan aneh untuk menoleh. Saat ia menoleh, halte kayu tua itu sudah tidak ada. Hanya ada tembok bata kusam yang tertutup lumut. Alfred dan benda-benda ajaibnya lenyap ditelan kegelapan malam.
Viona mempercepat langkahnya. Jalanan mulai sepi. Namun, saat ia melewati sebuah gang gelap, ia mendengar suara bisikan dari balik tempat sampah besar.
"Viona... kamu pikir kamu bisa lari dari hutang Ayahmu?"
Viona berhenti mendadak. Bulu kuduknya berdiri. Suara itu bukan lagi suara ayahnya, tapi suara ibunya yang terdengar penuh penderitaan.
"Vio... tolong Ibu... mereka datang lagi ke rumah..."
Viona menggenggam erat gagang payung birunya yang bengkok. Ia ingin berlari, tapi kakinya terasa berat, seolah aspal di bawahnya berubah menjadi lumpur hidup yang menghisapnya ke bawah.