NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu Kekuasaan

​Agil mendekap Laila erat-erat, melindunginya dari serpihan kayu yang beterbangan. Di seberang mereka, terpisah oleh dinding api yang menjalar cepat, Baskoro tampak seperti orang kesurupan. Ia tidak lagi peduli pada polisi yang mulai mengepung gedung, atau pada anak buahnya yang melarikan diri. Matanya hanya tertuju pada tablet digital yang masih menghitung mundur di atas peti kayu yang mulai terbakar.

​"Kembalikan kodenya, Agil! Semuanya ada di sana! Sepuluh turunan keluarga kita tidak akan kekurangan jika kau memberikan kodenya!" raung Baskoro. Suaranya parau, tenggelam oleh deru api.

​Agil menatap ayahnya dengan tatapan iba yang mendalam. "Tidak ada lagi sepuluh turunan, Pa. Semuanya berakhir malam ini. Harta itu bukan warisan, itu adalah kutukan. Dan aku baru saja mematahkan kutukannya."

​Detik-Detik Kehancuran

​Hitungan mundur di tablet mencapai angka nol. Dalam sekejap, layar itu berubah menjadi putih statis, menandakan bahwa virus penghapus data yang dikirim Agil telah mengeksekusi perintahnya ke seluruh server bayangan di Swiss. Jutaan dollar, bukti kepemilikan saham, dan dokumen pencucian uang itu kini hanyalah deretan angka nol yang tak bermakna.

​Baskoro jatuh berlutut. Ia mencoba meraih tablet yang kini sudah mulai meleleh itu, namun tangannya justru melepuh terkena panas. Ia kehilangan segalanya—bukan hanya uangnya, tapi alasan bagi orang-orang kuat untuk terus melindunginya.

​"Pak Agil! Keluar sekarang! Atapnya akan runtuh!" teriak Gito dari arah pintu darurat. Gito, dengan baju yang gosong dan wajah penuh jelaga, terus menembakkan sisa pelurunya ke arah sisa-sisa pengawal Baskoro yang masih mencoba melawan.

​Agil menarik tangan Laila. "Ayo, Laila! Kita harus pergi!"

​Laila sempat menoleh ke arah mertuanya. Di tengah kobaran api, ia melihat Baskoro yang dulu tampak seperti raksasa yang tak terkalahkan, kini hanyalah seorang pria tua yang rapuh dan malang, teronggok di atas abu kekuasaannya sendiri. Ada rasa pedih yang aneh di hati Laila, namun rasa takut dan jijik jauh lebih besar. Ia berbalik dan berlari mengikuti suaminya.

​Jebakan Terakhir Sang Ibu

​Begitu mereka berhasil keluar dari gudang yang runtuh, mereka disambut oleh barisan lampu biru dan merah dari pasukan militer yang dipimpin oleh Rina. Rina berdiri di depan sebuah kendaraan taktis, wajahnya keras dan tidak menunjukkan kelegaan sedikit pun.

​"Agil, berikan buku catatan Surya Wijaya sekarang," tuntut Rina. "Gudang itu sudah habis, tapi buku itu harus tetap aman di tangan pemerintah."

​Agil berhenti tepat di depan ibunya. Ia melepaskan jaketnya dan menyodorkan buku catatan yang sudah hangus sebagian itu. "Ambillah, Ma. Tapi jangan harap Mama bisa menggunakannya untuk mengancam siapa pun. Halaman-halaman terpentingnya sudah aku makan dan aku bakar di dalam sana."

​Rina merampas buku itu, membukanya dengan terburu-buru, dan wajahnya berubah pucat saat melihat sebagian besar isinya sudah tidak terbaca. "Kau... kau menghancurkan satu-satunya cara untuk menstabilkan faksi kita, Agil!"

​"Aku tidak peduli pada faksi Mama. Aku hanya ingin membawa Laila pergi dari kegilaan keluarga ini," ucap Agil dingin.

​Perpisahan yang Menyakitkan

​Namun, drama belum berakhir. Baskoro tiba-tiba muncul dari balik reruntuhan gudang yang berasap. Ia berjalan sempoyongan, wajahnya menghitam karena luka bakar, dan ia memegang sebilah pisau lipat yang ia ambil dari saku Hendra yang sudah tewas.

​"Jika aku tidak bisa memilikinya... tidak ada yang boleh!" Baskoro menerjang ke arah Laila dengan sisa-sisa kekuatannya yang terakhir.

​Semuanya terjadi begitu cepat. Agil mencoba menghalang, namun Rina justru memerintahkan pasukannya untuk melepaskan tembakan. Bukan ke arah Baskoro, tapi ke arah langit sebagai peringatan.

​BANG!

​Satu tembakan meletus, tapi bukan dari pasukan Rina. Gito, yang sejak tadi mengawasi dari bayangan, melepaskan satu peluru tepat ke kaki Baskoro. Pria tua itu tersungkur, pisaunya terlepas dan jatuh ke dalam parit air yang kotor.

​Polisi militer segera merangsek maju dan membekuk Baskoro. Kali ini tidak ada perlawanan. Tidak ada Hartono pengacara yang datang menyelamatkan. Tidak ada menteri yang menelepon untuk memberikan penangguhan. Baskoro digiring seperti pesakitan biasa, tangannya diborgol ke belakang, kepalanya tertunduk ke tanah.

​Sisa-Sisa Jiwa di Tepian Pantai

​Subuh mulai menyingsing di Pelabuhan Marunda. Agil dan Laila berdiri di tepi dermaga, menatap matahari yang perlahan muncul dari cakrawala. Rina dan pasukannya sudah pergi setelah menyita sisa dokumen, meninggalkan Agil dan Laila dalam kesunyian yang asing.

​Laila menyandarkan kepalanya di bahu Agil. Tubuhnya masih bergetar, namun bukan lagi karena takut, melainkan karena kelelahan yang luar biasa. "Apakah ini benar-benar berakhir, Mas?"

​Agil memeluk pinggang istrinya. "Untuk Papa, ya. Dia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara dengan pengawasan ketat. Tapi untuk kita... perjuangan yang sebenarnya baru dimulai."

​"Maksudmu?"

​"Kita tidak punya apa-apa lagi, Laila. Rumah di Menteng akan disita, aset-asetku sudah kuhancurkan sendiri. Kita hanya punya satu sama lain, dan sebuah rumah kecil di desa yang sudah kubeli atas nama Gito bulan lalu. Kita akan mulai dari nol. Benar-benar dari nol."

​Laila menatap wajah suaminya. Ia melihat luka-luka di sana, namun ia juga melihat kejujuran yang tidak pernah ia lihat sebelumnya selama mereka tinggal di mansion mewah itu.

​"Aku lebih suka menjadi miskin bersamamu daripada menjadi ratu di istana ayahmu," bisik Laila.

​Bayang-Bayang yang Tersisa

​Namun, di tengah kedamaian sesaat itu, Agil merasakan sebuah beban di sakunya. Ia merogohnya dan mengeluarkan sebuah microchip kecil yang ia selamatkan dari tablet sebelum terbakar. Itu adalah data cadangan terakhir—bukan harta, melainkan rekaman video pengakuan Baskoro tentang semua orang yang membantunya menghancurkan hidup Laila selama tiga bulan.

​Agil tahu, jika ia mempublikasikannya, badai besar akan kembali datang. Tapi jika ia menyimpannya, ia akan selalu hidup dalam bayang-bayang.

​Ia menatap Laila, lalu menatap chip itu. Tanpa berkata apa-apa, ia menjatuhkan chip kecil itu ke dalam air laut yang dalam dan gelap di bawah dermaga.

​"Kenapa, Mas?" tanya Laila terkejut.

​"Karena aku tidak ingin masa depan kita dibangun di atas puing-puing masa lalu yang busuk itu. Biarlah laut yang menyimpan rahasia mereka. Kita akan menulis cerita kita sendiri sekarang."

​Mereka berbalik, berjalan menjauhi dermaga menuju mobil Gito yang sudah menunggu. Di kejauhan, mansion Menteng mungkin sedang digeledah, dan nama Baskoro mungkin sedang dihujat di seluruh negeri, tapi bagi Agil dan Laila, yang tersisa hanyalah harapan sederhana untuk bisa tidur nyenyak malam ini tanpa rasa takut.

​Tapi, jauh di dalam sel tahanan isolasi, Baskoro duduk diam di kegelapan. Ia menyentuh luka bakar di tangannya dan tersenyum tipis. "Kau pikir kau sudah menghapus semuanya, Agil? Kau lupa... aku masih punya satu rahasia tentang ibumu yang belum sempat kau baca di buku itu."

​Permainan keluarga Baskoro belum sepenuhnya usai. Karena dalam perang kekuasaan, kebenaran adalah korban pertama, dan rahasia adalah senjata terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!