Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan Belas
Tak terasa pagi telah menjelang. Cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai, jatuh tepat di wajah Alana. Ia terbangun perlahan, masih setengah sadar, sampai satu hal terasa ada yang salah.
Tubuhnya terasa hangat. Ada lengan yang melingkar di pinggangnya. Napas yang teratur tepat di belakang tengkuknya.
Alana membeku. Ingatan malam tadi menghantamnya sekaligus, permintaan Arka yang singkat, ranjang yang terasa terlalu luas, lalu kegelapan. Dia menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Pelukan itu nyata. Bukan mimpi. Dengan gerakan nyaris tak terlihat, Alana mencoba menggeser tubuhnya. Sangat pelan. Seolah takut membangunkan pria di belakangnya.
Belum sempat ia benar-benar menjauh, lengan Arka mengencang sepersekian detik. Alana menahan napas. Arka lalu membuka mata. Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Pagi itu sunyi, tapi ketegangannya terasa sangat. Arka menatap punggung Alana, menyadari posisi mereka. Ekspresinya tidak berubah banyak, tetap tenang, tetap terkendali, tapi ada sesuatu yang bergerak di balik sorot matanya.
Alana memberanikan diri berbalik setengah badan. Pandangan mereka bertemu. Terlalu dekat dan nyata.
“Selamat pagi,” ucap Alana akhirnya, suaranya pelan dan sedikit serak.
Arka berkedip sekali. “Pagi.”
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat suasana semakin canggung.
Alana segera menjauh, duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan. “Maaf,” ucap Alana cepat. “Saya … tidak bermaksud mengganggu tidur, Tuan."
Arka ikut duduk, menjaga jarak kali ini. “Aku yang bergerak.”
Kalimat itu membuat Alana terdiam. Dia menoleh, sedikit terkejut. Arka jarang mengakui hal-hal kecil seperti itu. Biasanya, ia memilih diam atau mengalihkan topik.
“Oh, sekali lagi maaf.” Alana hanya bisa menjawab itu. Hening kembali terasa di dalam kamar.
Dari luar kamar, terdengar suara langkah kaki pelayan, suara samar Bi Marni yang memanggil Revan untuk bangun. Kehidupan berjalan seperti biasa, seolah tidak ada sesuatu yang berubah semalam.
Padahal bagi Alana, segalanya terasa bergeser setengah langkah.
“Demammu bagaimana?” tanya Alana akhirnya, memilih topik aman.
“Lebih baik,” jawab Arka. Ia berdiri, lalu berhenti sejenak. “Terima kasih.”
Sekali lagi Alana mengangguk kecil. “Saya buatkan sarapan.”
Baru Alana akan bergerak, Arka lalu berkata. "Mulai hari ini jangan panggil aku Tuan!"
"Lalu, saya panggil apa?"
"Terserah kamu mau panggil apa!"
Alana mengangguk, walau dalam hatinya tak tahu harus berkata apa atau memanggil dengan apa.
Ia keluar kamar dengan langkah cepat, seperti melarikan diri dari sesuatu yang belum siap ia hadapi.
Di dapur, Alana mencoba kembali menjadi dirinya yang biasa. Menyalakan kompor. Menggoreng telur. Memotong buah. Tapi pikirannya terus melayang ke atas.
Ke pelukan itu. Napas Arka yang tenang masih terasa di kulit tubuhnya.Kenyamanan yang seharusnya tidak ia rasakan.
"Mbak Alana!” panggil Revan.
Suara Revan memecah lamunannya. Bocah itu berlari kecil ke dapur, rambutnya masih sedikit acak-acakan. “Om Arka sudah sembuh?”
Alana tersenyum, kali ini lebih alami. “Sudah lebih baik.”
“Om Arka tidur sama Mbak?” tanya Revan polos, tanpa beban.
Alana tersedak kecil mendengar pertanyaan bocah itu. “Eh ... itu .…”
Sebelum ia sempat menjawab, langkah berat terdengar dari arah lorong. Arka muncul.
Masih mengenakan kaus gelap, tapi kini sudah rapi. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding pagi sebelumnya. Kehadirannya langsung mengubah udara di dapur.
Revan menoleh, matanya berbinar. “Om Arka!”
Arka berlutut sedikit, menepuk kepala bocah itu. “Pagi.”
“Om sakit, ya?” tanya Revan serius.
“Sedikit.”
“Sekarang sudah sembuh?” Revan kembali bertanya.
Arka melirik Alana sekilas, lalu kembali ke Revan. “Karena ada yang jaga.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Alana merasakannya seperti sesuatu yang disengaja. Dia menunduk, pura-pura sibuk dengan piring.
Sarapan berlangsung dengan suasana yang sedikit berbeda. Arka duduk di kursi utamanya seperti biasa. Revan mengoceh tentang rencana bermain di taman. Alana mondar-mandir di dapur dan meja makan.
Semua tampak normal. Tapi setiap kali mata Alana dan Arka bertemu, walau hanya sekilas ada jeda kecil. Seolah ada percakapan diam yang belum selesai.
“Kamu tidak makan?” tanya Arka.
Alana tersadar. “Oh ... iya, Tuan. Eh Kak.”
Alana memilih duduk, lalu mencoba fokus pada makanannya. Tapi Arka memperhatikannya dengan cara yang tidak biasa. Tidak tajam. Tidak mengintimidasi. Lebih ke arah tenang.
Setelah sarapan, Arka berdiri. “Aku ke ruang kerja.”
Biasanya, kalimat itu menutup segalanya. Tapi kali ini, sebelum melangkah pergi, Arka berhenti dan menoleh pada Alana. “Nanti siang temani aku minum teh.”
Bukan perintah tapi lebih terdengar seperti permintaan. Arka bicara lebih pelan dari biasanya.
Alana mengangguk. “Baik.”
Bi Marni yang mendengar ucapan Arka menjadi tersenyum. Seperti menyadari ada sesuatu yang berbeda pada tuannya.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭