NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:15
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung yang Hilang

Mas Indra mencengkeram Ranti dengan erat, matanya membara dengan kemarahan. Ranti meronta-ronta, tetapi cengkeraman Mas Indra terlalu kuat.

"Apa yang kamu lakukan, Mas Indra? Lepaskan aku!" teriak Ranti, suaranya bergetar karena takut dan malu.

Mas Indra tidak menjawab. Ia menyeret Ranti keluar dari ruangan dan meninggalkan Sekar Arum sendirian di dalam. Suara gaduh dari luar ruangan samar-samar terdengar, namun Sekar Arum tidak memperhatikannya.

Sekar Arum terduduk di lantai, tubuhnya gemetar tak terkendali. Air mata menggenang di matanya, namun tidak jatuh. Ia merasakan perasaan yang bercampur aduk: takut, malu, bingung, dan tidak enak hati.

Impiannya untuk tampil di hajatan desa terasa jauh sekali. Bukan karena trauma atau ketakutan, tapi karena perasaan tidak enak terhadap Ranti. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Pintu terbuka dan Mas Indra masuk kembali ke dalam ruangan. Ia berlutut di depan Sekar Arum dan menatapnya dengan tatapan lembut.

"Kamu tidak apa-apa, Kar?" tanya Mas Indra, suaranya penuh dengan kelembutan dan perhatian.

Sekar Arum menghindari tatapan Mas Indra. Ia merasa malu dan bersalah.

Setelah beberapa saat hening, Sekar Arum berkata dengan suara parau: "Mas... aku tidak bisa bernyanyi."

Mas Indra mengernyitkan dahinya. Ia mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran Sekar Arum.

"Kenapa, Kar? Apa kamu masih takut?" tanya Mas Indra dengan hati-hati.

Sekar Arum menggelengkan kepalanya. "Bukan... bukan itu, Mas. Aku... aku tidak enak sama Mbak Ranti," kata Sekar Arum, suaranya hampir tidak terdengar.

Mas Indra terkejut. Ia tidak menyangka alasan Sekar Arum tidak mau tampil adalah karena merasa tidak enak dengan orang yang telah menyakitinya.

"Tidak enak bagaimana, Kar? Dia sudah berbuat jahat padamu," kata Mas Indra dengan nada yang bingung.

Sekar Arum menghela napas panjang. "Aku tahu, Mas. Tapi... dia kan tamu di desa ku. Aku merasa tidak pantas tampil di depannya, apalagi setelah kejadian tadi," kata Sekar Arum.

Mas Indra terdiam sejenak. Ia mencoba memahami jalan pikiran Sekar Arum. Ia tahu bahwa Sekar Arum adalah orang yang sangat perhatian dan selalu berusaha untuk menjaga perasaan orang lain.

"Aku mengerti, Kar," kata Mas Indra akhirnya. "Kamu tidak ingin membuat suasana semakin canggung dan tidak nyaman. Kamu ingin menghormati Mbak Ranti sebagai tamu dan seniman senior."

Sekar Arum mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk semua orang," kata Sekar Arum.

Mas Indra tersenyum lembut. Ia sangat terkesan dengan kehati-hatian dan kebaikan hati Sekar Arum.

"Kamu memang orang yang sangat baik, Kar," kata Mas Indra. "Tapi, kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri. Kamu tidak perlu mengorbankan kebahagiaanmu demi orang lain, apalagi orang yang sudah menyakitimu."

Sekar Arum terdiam sejenak. Ia memikirkan kata-kata Mas Indra. Ia mulai menyadari bahwa ia terlalu sering mengutamakan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

"Tapi... aku sudah berjanji pada Bapak, Ibu, dan Lintang," kata Sekar Arum, merasa bingung.

"Aku yang akan bicara dengan mereka, Kar. Aku akan menjelaskan semuanya. Mereka akan mengerti," kata Mas Indra.

Sekar Arum menatap Mas Indra dengan penuh terima kasih. Ia merasa lega karena tidak harus menghadapi keluarganya sendirian.

"Terima kasih, Mas," kata Sekar Arum, tersenyum tipis.

Mas Indra membalas senyuman Sekar Arum. Ia mengulurkan tangannya dan membantu Sekar Arum berdiri.

"Ayo, kita pergi dari sini. Kita bicara dengan keluargamu," kata Mas Indra.

Sekar Arum mengangguk dan mengikuti Mas Indra keluar dari ruangan. Mereka bergandengan tangan dan berjalan meninggalkan panggung yang seharusnya menjadi tempat kebahagiaan bagi Sekar Arum, namun kini terasa seperti tempat yang menyakitkan.

Di luar, keramaian hajatan masih berlangsung dengan meriah. Lampu-lampu berwarna-warni berkelap-kelip, musik campursari berdentum keras, dan orang-orang tertawa dan bersenda gurau. Namun, bagi Sekar Arum, semua itu terasa hambar dan tidak bermakna.

Ia merasa tidak pantas berada di sana. Ia telah mengecewakan banyak orang, dan ia tidak tahu apakah ia bisa menebus kesalahannya.

Panggung itu kini terasa seperti jurang yang memisahkan dirinya dari dunia yang ia cintai.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!