NovelToon NovelToon
Dibalik Tumpukan Digit

Dibalik Tumpukan Digit

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:407
Nilai: 5
Nama Author: Syintia Nur Andriani

Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pecahan Kaca di Atas Ranjang Pengantin

Bab 5: Pecahan Kaca di Atas Ranjang Pengantin

Suara deru mobil Reihan yang menjauh meninggalkan halaman rumah terasa seperti suara gergaji yang membelah jantung Arini. Di dalam ruang kerja yang kini berantakan itu, Arini meringkuk memeluk ponsel lama yang berhasil ia curi dari brankas. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin AC yang menusuk, tapi karena pengkhianatan yang terasa begitu berlapis.

Ia menatap tangannya yang tadi menampar Bianca. Masih ada rasa panas di sana, namun rasa perih di hatinya jauh lebih membakar. Ia teringat bagaimana Bianca menyentuh dasi Reihan—sebuah gestur kepemilikan yang biasa Arini lakukan setiap pagi sebelum ambisi merampas suaminya.

Dengan tangan gemetar, Arini menekan tombol power pada ponsel lama itu. Setelah beberapa saat, layar yang retak itu menyala redup, menampilkan sebuah foto wallpaper yang membuat napas Arini terhenti. Itu bukan foto Reihan remaja, melainkan foto ayahnya, Hendra Wijaya, sedang menggendong seorang anak kecil di depan sebuah rumah sederhana yang asri. Di bawah foto itu ada teks pendek: “Jangan lupakan mereka yang tertawa di atas tangis kita.”

Arini mulai membuka folder pesan. Pesan-pesan singkat dari tahun 1998 muncul satu per satu. Isinya bukan sekadar soal bisnis, melainkan percakapan rahasia antara Hendra dengan seseorang yang diberi nama "D".

“Tolong aku, D. Anak istriku terancam. Kau bilang investasi ini aman.”

“D, kenapa kau memutus semua jalur komunikasi? Aku akan hancur jika kau tidak menarik laporan itu.”

Balasan terakhir dari "D" hanya berbunyi: “Dunia memang kejam, Hendra. Terima kasih atas sahamnya. Anakmu akan baik-baik saja jika kau menghilang.”

Air mata Arini menetes membasahi layar ponsel. Ia mulai menyadari sebuah fakta yang lebih mengerikan. "D" bukan hanya Dirgantara tua, melainkan orang kepercayaan yang menjual informasi kepada mereka. Dan saat Arini membuka folder kontak, nomor "D" terhubung ke sebuah nama yang sangat ia kenal. Nama ayah kandung Arini sendiri.

"Tidak... tidak mungkin..." Arini menjerit pelan, menutup mulutnya dengan tangan.

Jadi, inilah alasan sebenarnya Reihan menikahinya? Bukan karena cinta, bukan karena kebetulan mereka bertemu di universitas, tapi karena Arini adalah putri dari pria yang mengkhianati ayahnya? Apakah selama ini ia hanyalah instrumen balas dendam? Apakah setiap pelukan panas dan bisikan cinta di awal pernikahan mereka hanyalah akting seorang aktor yang sangat lihai?

Malam harinya, Reihan pulang dalam keadaan mabuk berat. Ini pertama kalinya Arini melihat Reihan kehilangan kendali. Pria itu menendang pintu kamar, aromanya pekat dengan alkohol dan parfum wanita yang bukan milik Arini.

"Kenapa kau belum tidur?!" Reihan membentak, suaranya parau. Ia jatuh tersungkur di atas ranjang, tepat di samping Arini yang sedang duduk mematung memegang ponsel lama itu.

Arini menoleh perlahan, matanya merah dan kosong. "Kenapa kau menikahiku, Reihan? Jawab dengan jujur. Sekali saja dalam hidupmu, jangan jadi pengecut yang bersembunyi di balik tumpukan uang."

Reihan tertawa, tawa yang terdengar sangat menderita sekaligus jahat. Ia merangkak mendekati Arini, menarik kerah piyama Arini hingga wajah mereka sangat dekat. "Kenapa? Karena ayahmu adalah bajingan! Dia yang menyerahkan dokumen ayahku ke keluarga Dirgantara hanya untuk menyelamatkan bisnis tekstilnya yang sekarat!"

Reihan mencengkeram bahu Arini begitu kuat hingga Arini merintih. "Kau tahu rasanya melihat ayahmu tergantung di langit-langit kamar mandi saat kau baru pulang sekolah?! Kau tahu rasanya menjadi miskin dalam semalam karena ayahmu sendiri yang mengkhianati sahabatnya?!"

"Jadi aku... aku hanya tebusan?" bisik Arini lirih, air mata mengalir deras. "Semua malam yang kita lalui, semua pelukan itu... hanya cara untuk menyakiti ayahku?"

Reihan terdiam sejenak. Tatapannya yang tajam mendadak melunak, namun segera ia tutupi dengan kekerasan. Ia mencium leher Arini dengan kasar, sebuah tindakan yang terasa lebih seperti serangan daripada kasih sayang.

"Awalnya begitu," gumam Reihan di kulit Arini. "Tapi kau... kau terlalu manis untuk menjadi korban. Aku benci fakta bahwa aku mulai merindukanmu setiap kali aku berada di kantor. Aku benci diriku sendiri karena tidak bisa membencimu sepenuhnya!"

Reihan mendorong Arini ke kasur, menindihnya dengan seluruh beban tubuh dan emosinya yang hancur. "Kau minta perhatian, kan? Kau minta aku memelukmu seperti dulu? Ini yang kau inginkan!"

Reihan mencium Arini dengan penuh keputusasaan, sebuah ciuman yang terasa asin karena air mata mereka berdua bercampur menjadi satu. Tidak ada kelembutan, yang ada hanya rasa sakit yang saling beradu. Arini mencoba memberontak, namun di saat yang sama, ia merindukan sentuhan pria ini. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena masih menginginkan pria yang mungkin sangat membenci darah yang mengalir di nadinya.

"Lepaskan aku, Reihan... ini sakit," isak Arini di sela-sela cumbuan paksa itu.

"Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakitku selama dua puluh tahun, Arini!" Reihan berteriak tepat di depan wajahnya, sebelum akhirnya ia tumbang, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arini dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Di bawah lampu kamar yang temaram, Arini memeluk kepala suaminya yang sedang hancur. Ia merasa seperti sedang memeluk sebuah bom waktu. Ia tahu, setelah malam ini, mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi. Cinta mereka telah ternoda oleh darah dan pengkhianatan masa lalu.

Reihan telah menjadikannya ratu di istana megah ini, namun istana itu ternyata adalah penjara yang dibangun dari tulang-belulang masa lalu mereka berdua.

"Sudah cukup, Reihan... sudah cukup," bisik Arini sambil mengelus rambut suaminya, meski hatinya sendiri telah hancur berkeping-keping seperti kaca yang diinjak di atas ranjang pengantin mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!