Cerita ini kelanjutan dari novel "Mencari kasih sayang"
Pernikahan adalah ibadah terpanjang karena dilakukan seumur hidup. Pernikahan juga disebut sebagai penyempurnaan separuh agama.
Dua insan yang telah di satukan dalam ikatan pernikahan, tapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Hari memiliki rahasia yang dapat menghancurkan kepercayaan Resa. Apakah dia dapat bertahan?
Resa menemukan kebenaran tentang Hari yang telah menyembunyikan kebenaran tentang status nya. Resa merasa dikhianati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus memaafkan Hari atau meninggalkannya?
Apakah cinta Resa dan Hari dapat bertahan di tengah konflik dan kebohongan? Apakah Resa dapat memaafkan Hari dan melanjutkan pernikahan mereka?
Apakah mereka akan menemukan kebahagiaan atau akan terpisah oleh kebohongan dan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Canggung
Hari mengendarai motor menyusuri jalan, matanya melihat kanan kiri mencari penjual bubur kacang hijau yang sering ia temukan di pinggir jalan. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya dia menemukan penjual bubur kacang hijau yang ia cari. Dia berbelok memarkirkan motor dan ikut memesan dengan mengantri.
Sambil menunggu pesanannya, Hari mengeluarkan ponselnya dan memilih nomor Thia, kakaknya. Dia ingin memberitahu Thia tentang kabar kehamilan Resa. Hari menunggu beberapa detik hingga panggilannya tersambung. Saat panggilan tersambung, Hari mendengar suara Thia yang jutek namun perhatian. "Halo, Har! Ada apa?" kata Thia.
Hari tersenyum gembira saat berbicara dengan Thia, kakaknya, lewat telpon. "Thia, aku punya kabar bahagia! Resa sedang hamil, sudah 8 minggu!" kata Hari dengan suara yang bersemangat.
Thia terdengar terkejut di sebrang telpon, tapi kemudian dia berkata. "Kamu excited banget, Har! Kaya yang pertama ngalamin istri hamil. Perasaan pas waktu mantan istri kamu hamil si Umai gak heboh kaya sekarang," kata Thia dengan nada yang sedikit menyindir.
Tapi Hari tidak menanggapi keusilan kakaknya. Dia hanya tersenyum dan mengatakan, "Thia, aku mau minta tolong kamu buatkan makanan untuk Resa.Kamu kan tahu apa makanan yang baik untuk ibu hamil agar tidak merasa mual."
Thia terdengar mendengus di sebrang telpon. "Ya udah.Nanti Aku buatkan makanan yang sehat dan lezat untuk Resa. Tapi kamu harus sabar, aku tidak bisa membuatnya sekarang juga."
Hari mengucapkan terima kasih kepada Thia dan meminta izin untuk mengakhiri panggilan karena pesanannya sudah jadi. "Thia, aku harus pergi sekarang. Pesananku sudah jadi. Terima kasih, ya!" kata Hari sebelum mengakhiri panggilan.
****
Keesokan paginya, Hari bangun lebih awal dari biasanya. Dia langsung bergegas untuk melaksanakan sholat subuh dan mengambil wudhu. Setelah selesai, dia kembali ke dalam kamar dan melihat istrinya, Resa, sudah bangun dengan wajah yang terlihat lesu.
Hari langsung mendekati Resa dan memeluknya dengan hangat. "Apa yang kamu rasakan, Ai?" tanya Hari dengan lembut, sambil memperhatikan wajah Resa yang terlihat lesu.
Resa tersenyum lemah dan menjawab, "Aku baik-baik saja, A."
Hari kemudian membantu Resa untuk bangun dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil wudhu. Dia memperhatikan Resa dengan saksama, memastikan bahwa dia tidak merasa sakit atau tidak nyaman.
Setelah beberapa jam berlalu, Hari memutuskan untuk mengantar Resa ke rumah ibunya yang berada di seberang jalan dari tempat kerjanya. Ibu Tika, telah menyuruh Resa untuk ke rumah utama, sehingga Hari ingin memastikan bahwa Resa sampai di sana dengan selamat.
Saat mereka berdua tiba di rumah ibu Tika, Hari mengelus singkat pipi Resa dan berpamitan. "Aku kerja dulu,Ai. Kamu baik-baik saja di sini, ya?" kata Hari dengan senyum.
Resa mengangguk dan tersenyum lemah. " Iya,Aku baik-baik saja,A. Terima kasih sudah mengantar aku." Hari memandang Resa dengan penuh kasih sayang dan berpamitan sebelum kembali ke tempat kerjanya.
Resa menontonnya pergi dengan perasaan sedikit canggung dan tidak nyaman, tapi dia tahu bahwa dia harus kuat dan menghadapi situasi ini dengan sabar.
Di tempat kerjanya, Hari berhadapan dengan semua karyawan yang menyapa dan memberikan selamat atas kehamilan istrinya. Hari hanya menanggapi dengan senyum tipis, berpikir bahwa pasti kakak sepupunya, bos pemilik konveksi itu, yang menyebarkan kabar gembira itu sehingga semua karyawan pada tahu dan mengucapkan selamat padanya.
Hanya ada satu orang yang terlihat tidak suka dengan kabar itu.Dia menatap Hari dengan pandangan tak terbaca.
"Selamat ya,kamu akan jadi ayah lagi," kata Bu Kayla dengan nada yang gembira. "Bagaimana kabar Resa sekarang?"
Hari menjawab dengan senyum, "Kabar Resa baik, Bu. Dia sedang berada di rumah mamah. Nanti aku akan suruh dia kesini kalau sudah waktu istirahat,itu juga kalau Ibu mau ketemu."
Bu Kayla tersenyum dan mengangguk, "Baik, Hari. Aku senang bisa bertemu dengan Resa lagi." Karyawan lainnya yang sempat dekat dengan Resa dulu saat bekerja juga menyambut antusias kabar tersebut.
____
Dalam suasana makan siang yang ramai, Hari menyempatkan memberi kabar kepada Resa melalui telepon. "Ai,kamu menyusul ku ke tempat kerja ya. Bu Kayla ingin bertemu denganmu," kata Hari dengan suara yang jelas.
Resa merasa sedikit canggung saat mendengar kabar tersebut. Dia telah beberapa bulan tidak bertemu dengan karyawan di tempat kerja Hari, dan dia khawatir akan merasa tidak nyaman berada di sana. Terutama karena ada beberapa orang yang dia hindari, seperti Ika dan Doni, yang sempat terjadi masalah di antara mereka.
Tapi Resa juga merasa bahwa dia tidak bisa terus-menerus berdiam diri di rumah mertuanya. Dia ingin keluar dan melakukan sesuatu yang berguna. Dan dengan Hari yang ada di sampingnya, dia merasa lebih percaya diri.
"Boleh A, sekarang Resa kesana," kata Resa dengan suara yang lebih stabil. "Tapi aku sedikit khawatir tentang BI Ika dan Doni. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka."
Hari memahami kekhawatiran Resa dan berusaha untuk menenangkannya. "Jangan khawatir,Ai. kan ada Aa. mereka gak akan membuatmu tidak nyaman"
Resa merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar kata-kata Hari. Dia memutuskan untuk menemui Bu Kayla dan menghadapi karyawan lainnya di tempat kerja Hari.
Saat Resa tiba di tempat kerja Hari, dia merasa sedikit canggung. Beberapa karyawan memandangnya dengan rasa ingin tahu, Dia langsung menuju ke ruangan Bu Kayla, di mana Hari sudah menunggunya.
Bu Kayla menyambut Resa dengan senyum hangat. "Hai,Resa.Ibu senang bisa bertemu sama kamu lagi." Resa tersenyum dan membalas sapaan Bu Kayla.
Saat mereka berbincang, Resa merasa sedikit lebih nyaman. Bu Kayla hanya bertanya tentang kabar tentang kehamilan Resa dan bagaimana perasaannya saat ini.
Resa merasa lega dan berterima kasih kepada Bu Kayla karena telah memahami keadaannya. Beberapa karyawan juga datang menyapa dan memberi selamat pada Resa. Sesekali keluar guyonan dari salah satu karyawan yang suka bercanda, namun Resa dan Hari hanya menanggapi dengan senyum.
Doni, sepupu Hari, hanya diam dan tidak ikut menanggapi. Namun, keadaan menjadi tegang saat Ika datang. Resa berusaha bersikap biasa, namun kecanggungan tak bisa ia hindari dan sangat nampak jelas dari raut wajahnya.
Ika tersenyum sini sembari memamerkan rujak yang ia tenteng di tangannya. "Don, sini kamu! Mau rujak gak? Seger loh, tengah hari gini makan rujak, beuh mantap!" ujarnya sambil menyuapkan sepotong buah muda dan mengunyah dengan perlahan.
Raut wajah Ika terlihat merem melek, seolah sangat menikmati rujaknya. Mungkin dia ingin memanas-manasi Resa yang sedang hamil, biasanya orang ngidam kan suka ngiler, apa lagi kalau melihat mangga muda. Namun, iming-iming nya itu tak membuat Resa tergiur.
"Ika, lu sengaja ya mau bikin orang ngiler?" tuduh Kayla yang tak suka melihat kelakuan temannya. Ika hanya mendengus seolah tak mendengarkan perkataan Kayla.
"nggak loh Bu Kay,kalau mau ya sini aja atuh,lagian aku sengaja beli banyak buat kita makan bersama ko."kilahnya
"Resa kamu mau rujak gak, biar ibu ambilkan,nanti kamu ngiler lagi"
Resa menolak tawaran Ika dengan cepat. "Gak usah Bu, aku gak pengen rujak ko."
Bu Kayla mengelus pundak Resa dan bertanya lagi, "Yakin kamu tidak mau, Resa?"
Resa mengangguk yakin. Bu Kayla mengulas senyum dan membiarkan Resa sendiri.
Hari menghampiri Resa dan bertanya hal yang sama. "Kalau kamu mau sesuatu, bilang Ai, biar AA belikan buat kamu."
Resa menolak dengan raut wajah meyakinkan. "Gak usah A, aku lagi gak kepengen apa-apa."
"Bilang aja, Res, jangan ragu-ragu kalau mau apa pun," kata Bu Kayla dengan senyum hangat. "Tenang aja, suami mu sore ini gajihan loh, jangan sungkan-sungkan. Hari itu bayaran nya paling gede di antara karyawan yang lain. Kamu sendiri sudah tahu, dan lihatkan selip gajinya berapa?"
Resa mendengarkan kata-kata Bu Kayla dengan raut wajah penasaran. Ibu itu mengungkap apa yang belum Resa ketahui. Hari menatap Bu Kayla dan Resa bergantian dengan raut wajah tak terbaca.
Resa melayangkan tatapan penuh tanya akan kebenaran yang baru dia ketahui saat ini. Jika benar, kemana perginya uang itu? Karena selama menikah, Hari belum pernah menyerahkan semua uang gajiannya, apa lagi memberikan beserta selip gaji seperti yang Bu Kayla katakan.
Namun, Resa tak mempermasalahkan. Yang penting kebutuhan nya saat ini masih terpenuhi, pikirnya. Meski tak ayal, sebenarnya dia juga penasaran mengapa selalu ada yang suaminya menyembunyikan dari dirinya.
Hari tersenyum dan bertanya lagi, untuk mengalihkan pembicaraan mereka."Ai, kamu mau nunggu disini sampai AA pulang, apa mau kembali ke rumah Mamah?"
Resa menimang-nimang tak ada pilihan yang membuatnya nyaman. Dia kembali teringat dengan perkataan beberapa orang yang sempat menggosipkan tentang dia, yang sedikit besarnya mengusik perasaan Resa dan membuat dia banyak berpikir negatif.
Namun, Hari tidak mengetahuinya karena saat itu dia sedang turun ke lantai bawah karena mendapat panggilan dari pemilik konveksi.
tapi di dunia nyata ada sih org sprti ini