NovelToon NovelToon
Adek Gue BAD

Adek Gue BAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Contest / Keluarga / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Pihak Ketiga
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Biru

Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.

Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.

Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.

Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.

Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?

****

Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Adik?! What the Fuck??

Sepulang dari acara makan malam bersama kolega bisnisnya, Rio mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Bibi mengabarinya jika Zahra belum pulang hingga sekarang, siang tadi Thamrin memberitahunya jika Zahra dibius dan dibawa oleh pria bangs*t yang tak lain adalah adik laki-lakinya.

Rio menghentikan mobil di pos satpam sebelum menuju rumahnya, ia menanyakan apakah Zahra telah pulang apa belum. Setelah mendapat jawaban, ia mengabari bibi jika akan mencari Zahra terlebih dahulu.

Pria dengan kemeja biru laut itu menghentikan mobil di tepi jalan, mencoba menghubungi ponsel adiknya. Sudah 10 kali dihubungi tapi panggilan tersebut tak kunjung tersambung, ia semakin khawatir dengan keadaan Zahra sekarang.

Ia mencoba melacak keberadaan Zahra melalui GPS, namun nihil. Tidak ada pilihan lain, ia harus ke rumah itu. Mungkin adiknya masih ada di sana.

"Kirimkan alamatnya!" suruh Rio pada Thamrin ketika teleponnya tersambung.

"Baik, Tuan."

Setelah mendapatkan lokasi yang dituju, Rio memutar arah—melajukan mobil ke tempat yang ditujukan google maps.

...****...

Di depannya sebuah mansion besar menanti, ia memasukkan mobil begitu saja tanpa disuruh. Satpam yang berjaga tengah tertidur dengan kondisi gerbang terbuka. Setelah memarkirkan mobil, Rio segera masuk ke rumah gedong tersebut.

"Zahraa ...." Pria itu berteriak, berharap sang pemilik nama menyahuti teriakannya.

"Zahraa ...."

Rio mulai berkeliling, rumah itu sepi sekali. Dia memasuki seluruh kamar, siapa tahu Zahra berada di salah satu kamar.

"Zahh–"

"Anda siapa?" Seorang wanita paruh baya menginterupsinya, Rio berbalik dan menemukan wanita itu tengah mengangkat sapu.

Rio merapikan kemejanya. "Ternyata masih ada orang, saya kira ga ada. Tolong tunjukkan kamar Rizki kalau begitu."

"Saya tidak akan membiarkan Anda memasuki kamar tuan."

Dilihat dari penampilan dan gaya bahasanya Rio mengerti, perempuan itu pasti ART di rumah ini.

"Saya harus mencari adik saya, tuanmu membawa adik saya siang tadi."

"Dia sudah pergi setelah menusuk tuan."

Rio terbelalak, apa ia tidak salah dengar? Zahra memiliki keberanian untuk menusuk Rizki?

"Kalau begitu, tolong tunjukkan saya kamar tuanmu." Ia tidak bisa percaya begitu saja, ia harus mengeceknya sendiri.

"Saya tidak akan membiarkan orang asing seperti Anda masuk ke ruang pribadi tuan saya."

"Tolong lah, ini sangat penting. Bagaimana perasaan Anda jika putri Anda diculik oleh seorang lelaki dewasa? Anda tahu bukan kelanjutannya seperti apa?"

Wanita itu menghela napas, kemudian menunduk. "Mari saya antar, kamar tuan berada di lantai 2."

Rio berjalan mengikuti wanita itu. Dia menunjuk salah satu kamar yang berada di lantai dua. Hmm, kenapa ia tidak berpikir untuk naik tadi?

Rio segera membuka kamar yang tidak terkunci tersebut. Kosong, begitu ia membukanya. Kasurnya berantakan dan ada noda darah di spreinya. Ia yakin, itu pasti darah kegadisan adiknya.

Ia melihat ada beberapa tetes darah di samping kanan ranjang, kemudian ia temukan pisau yang berlumur darah.

Ternyata memang benar Zahra yang melakukannya. Ia mengambil ponsel kemudian menelepon Thamrin, memberitahu anak buahnya itu untuk mencari Zahra.

Rio berbalik, mendapati wanita itu yang masih menunduk.

"Maafkan tuan saya, sepertinya adik Anda balas dendam karena tuan saya telah memperkosanya. Tuan saya membawa adik anda dalam keadaan tidak sadar."

"Rizkii ... di mana dia sekarang?"

Wanita itu terjatuh, bersujud di kaki Rio yang sudah berdiri. "Tolong jangan apa-apakan tuan saya, maafkan dia. Jika Anda marah, Anda bisa memukul saya."

Rio tidak akan tega memukul wanita ini, ia membantunya berdiri. "Kamu tidak perlu melakukan ini, saya hanya mau tau di mana tuanmu itu sekarang. Percayalah, saya tidak akan menyakitinya."

Setelah bujuk rayu yang dibilang susah, Rio segera pergi ke rumah sakit tempat Rizki di rawat.

Pria itu berjalan ke bagian resepsionis. "Permisi, Sus. Pasien atas nama Rizki Alvaro?"

"Sebentar, Pak " Suster itu menunduk, menekan beberapa huruf di komputernya.

"Lantai 3, Ruang VIP nomor 4."

"Terimakasih, Sus."

Rio segera ke lantai 3 dengan menggunakan lift, keduanya sama-sama mengkhawatirkan. Akan sulit mencari Zahra dalam keadaan seperti ini, lebih baik ia membiarkan Thamrin yang mencari adiknya. Dia bilang mengawasi Zahra, tapi adiknya keluar dari rumah Rizki pun ia tidak tahu.

Rio membuka ruang inap Rizki, dilihatnya pria berusia 22 tahun tersebut sedang menanti seseorang untuk datang. Pria itu menatapnya, menatap Rio dengan pandangan bersalah.

Rio segera menutup pintu, menghampiri Rizki yang terbaring. Manik elangnya menatap pria dengan pakaian khas rumah sakit itu tajam. Yang ditatap, hanya sanggup menghela napas.

"Are you, okay?"

Rizki melongo mendengar pertanyaan Rio, apa pria yang kini duduk di sampingnya itu sedang menyiapkan pembalasan untuknya. Untuk sesaat, ia menundukkan kepala, lagi dan lagi. Hanya menghela napas yang kini ia lakukan di depan Darel Ario Kusuma.

"Maaf," cicitnya saat Rio mencengkeram lengan kanannya dengan kuat. Perlahan, cengkeraman itu mulai mengendur diiringi napas Rio yang memburu.

"Bang ...." Rizki terkejut melihat Rio yang menggelengkan kepala setelah mencengkeram lengannya, seperti orang yang melakukannya secara tidak sengaja. Rio terlihat menyesal.

"Apa masih sama?"

Rizki mengangguk. "Terkadang, rasanya masih seperti dulu."

Rizki juga memiliki trauma masa kecil. Saat itu entah hari sial atau memang sudah direncanakan, sekumpulan orang tiba-tiba menyerang saat mereka piknik bersama. Rio hanya terluka ringan, sedangkan peluru yang ditujukan pada Deron malah melesat ke arah Rizki. Bocah 1 tahun itu tertembak, 2 peluru bersarang di lengan kanannya. Akibat kejadian itu, jika ada orang yang memukul lengannya sengaja maupun tidak disengaja—ngilu yang dirasakan kala itu akan muncul kembali.

Rio menghela napas. "Sorry. Gue ga tau harus ngomong gimana sama lo."

Lama mereka terdiam, hingga seorang suster masuk saat mengantarkan jatah makan malam.

"Gue ... nyesel, Bang."

"Lo baru nyesel setelah make dia? Di mana nurani, lo? Bahkan, seseorang yang secara ga sengaja ngelakuin itu, dia bisa aja nyesel untuk mengakrabkan diri. Setelah itu, dia mencoba kembali memenuhi kebutuhan biologisnya karena dia udah tau rasanya. Kasarannya, ketagihan. Lo itu abangnya, yang tugasnya jagain dia, bukan ngerusak dia." Rio memijat pelipisnya pusing, ia menyandarkan diri pada sofa yang baru saja didudukinya. Deru napas yang memburu begitu melekat pada Rio saat ini, jangan sampai ia meledak sekarang.

"Gue nyesel, Bang. Gue baru sadar setelah ngeliat dia nangis. Waktu itu gue juga kayak dengar suara mama yang bilang kalau dia kecewa sama gue."

"Gue pengen banget hajar lo, kalau ga lihat keadaan lo sekarang."

Rio menggelengkan kepala ketika Rizki meminta dirinya untuk menghajar sekarang, pria itu siap. Ponsel di sakunya bergetar, menandakan ada seseorang yang menghubunginya. Rio mengangkat panggilan itu dengan malas.

"Halo."

"Lo main tangan lagi ya, sama Zahra?"

Rio mengerutkan dahinya, pria itu membetulkan posisi duduknya yang kurang nyaman. Sebentar, main tangan? Bahkan ia belum bertemu Zahra sejak insiden kesiangan tadi pagi.

"Maksud lo gimana? Gue sekarang lagi nyari Zahra, dari kuliah dia belum balik sampe sekarang."

"Tunggu, jika bukan lo yang nampar Zahra terus siapa? Gue ngiranya kalau lo marah sama dia karena kissing sama cowoknya."

"Kapan dia ke tempat lo?

"Jam 7. Lalu setengah delapan dia pergi, emosinya kelihatan ga stabil."

Rio menggeram tertahan saat mendengar emosi Zahra tidak stabil, ia khawatir, adiknya bisa melakukan apa pun saat ini dan bahkan melukai dirinya sendiri.

"Kenapa lo ga nahan dia, sih?"

"Dia kabur."

"Cepetan lo cari dia."

Rio kembali memasukkan ponselnya dan menatap Rizki. "Lo nampar Zahra?"

Rizki menggeleng. "Gue ga mukul dia sama sekali."

"Bukannya, lo harusnya melakukan pembelaan waktu dia nusuk lo? Dan setahu gue, Zahra ga bisa nyakitin orang yang masih sedarah sama dia."

Rizki menatap pria yang lebih tua darinya itu aneh, jujur, ia terkejut mendengarnya. "Apa?"

Rio menggeleng. "Terus gue harus cari dia ke mana?"

Rizki menoleh menghadap Rio. "Tadi siang dia buat kesepakatan sama rivalnya setelah ribut, dia mau balapan di Cibubur."

"Bangs*t, ga ngomong dari tadi!" Rio segera menyambar kunci mobil yang tadi dilemparnya ke Rizki. Pria itu menoleh sebentar pada Rizki. "Lo kok tau kalau dia ribut?"

Rizki ragu mengatakannya, tapi ... ini sudah resiko yang harus ditanggungnya. "Iya, gue bawa dia selesai ribut. Eum, dia mendapatkan luka kira-kira sepanjang 5 cm, kalau dalamnya gue ga tau. Terus dia juga dapat 3 pukulan baseball di punggungnya."

Rio melayangkan dua bogem mentahnya pada Rizki tanpa pikir panjang. "Hhhh ... bajing*n lo, Anj*ng!" Pria itu mencengkeram baju biru laut Rizki, mata besarnya menatap Rizki dengan kilat marah. "Lo masih tega ngelakuin kayak gitu meski udah tau kondisi Zahra dalam keadaan yang ga baik?" Dada Rio naik turun, pria itu berusaha menetralkan emosinya, lalu melepaskan cengkeramannya kasar. Ia sebenarnya ingin menonjok perut Rizki, sayang sekali perut itu terkena tusukan Zahra yang cukup dalam.

"Maaf," cicit Rizki sambil menunduk, ia takut melihat kilatan yang terpancar di mata Rio.

Rio terdiam sambil berdiri, pria itu menunduk menatap ubin—menatap Rizki sekilas lalu menatap pintu keluar. "Gue maafin lo kali ini, tapi kalau lo sampe kelewatan lagi sama Zahra, gue sendiri yang akan ngambil nyawa lo."

"Lo bisa pegang omongan gue, kalau gue ngelakuin hal fatal lagi, lo bisa langsung bunuh gue."

"Gue pegang janji lo!"

Rizki menahan lengan Rio saat pria itu melangkah menjauh. Rio berusaha melepaskan cekalan di tangannya, tapi Rizki tetap tidak mau melepasnya.

"Kemana?"

"Cari Zahra."

"Gue ikut!"

"Ga, luka lo belum sembuh."

"Please, Bang. Gue mau ketemu Zahra, mau minta maaf sama dia."

Rio menghela napas kemudian mengangguk. "Sekarang lepasin, gue mau tebus obat lo. Setelah cari Zahra, kita pulang ke mansion Ario, tapi sebelum itu mampir dulu ke mansion lo sebentar."

Rizki melepaskan cekalannya, ia tersenyum kecil. "Thanks, Bang Rel."

Ah, panggilan itu, lama Rio tidak mendengarnya. Pria itu menoleh sekilas, setelah membalas senyum Rizki ia menganggukkan kepala.

...****...

Rizki mengarahkan Rio ke tempat yang biasanya digunakan balapan di Cibubur. Biasanya balapan dimulai pukul 12 malam hingga pukul 3 dini hari. Tapi, jika lawannya ialah Zahra, maka pembalap dan penonton akan rela kucing-kucingan dengan satpol PP.

Berdasarkan pengakuan Zahra saat itu, dia akan mengantuk jika balapan di rentan waktu tersebut. Padahal yang sebenarnya, ia tengah melakukan penyelidikan data-data terkait musuhnya dan terkadang melarikan diri ke markas BD. Saat-saat seperti itu juga biasa ia gunakan untuk menjalankan bisnisnya di black market dan penyerangan umumnya juga terjadi di waktu dini hari. Meskipun anak buahnya yang banyak melakukan transaksi ilegal, Zahra hanya menunggu laporannya saja. Lagi pula, Revan juga melarangnya ikut penyerangan itu jika yang dihadapi hanya hama pengacau.

Sebelumnya, Rio telah mengabari Revan dan Thamrin untuk langsung menuju Cibubur. Ia takut adiknya akan kabur seperti yang sudah-sudah. Di pelarian yang kedua ini belum pernah ada yang menemukan Zahra, entah gadis itu kabur kemana. Besoknya, Rio mendapat laporan jika Zahra telah berada di kampus. Aneh bukan?

"Lo tau banget lokasi mana aja yang biasanya buat balapan?" tanya Rio heran. Pria itu memutar setirnya, mobil mulai memasuki daerah yang agak sepi dari jalan utama.

"Yahh, sedikit tahu. Gue kadang kalau lagi suntuk juga jadi penonton. Tapi biasanya yang gue lihat itu waktu jam satuan."

Rio mengangguk. Mobil yang ia kemudikan berhenti di depan rumah sederhana, minimalis dengan model formal. Rio menoleh ke kanan kirinya sebelum mematikan mesin mobil. "Lo yakin ini tempatnya? Bukannya ini lokasi yang rawan banget kena sergap satpol PP? Apalagi masih jam segini."

Rizki mengidikkan bahunya. "Tanya tuh adik lo, seingat gue dia yang ngajarin anak lain milih daerah ini." Telunjuk Rizki menunjuk ke tengah jalan yang di sisi kanan dan kirinya terdapat pohon cemara. "Itu start sama finish-nya, mereka bakal melaju mengikuti arah jalan yang berakhir di jalan besar seberang, terus belok ke kiri nuju jalan yang kita lewati tadi."

"Panjang juga ya rutenya. Tapi kayaknya mereka udah selesai deh, tempatnya udah sepi," kata Rio sambil menatap jalanan yang dipenuhi serpihan kertas dan benang merah yang telah terkulai.

"Kita coba turun dulu, siapa tahu Zahra masih di sekitar sini," sahut Rizki. Rio mengangguk, ia turun duluan kemudian memutari mobil untuk membantu Rizki turun.

Pria yang sudah berganti pakaian dengan kemeja cadangan Rio itu, jalan dengan agak terbungkuk—masih sangat nyeri. Harusnya ia meminum obat pereda nyerinya, tapi tertunda karena ia bersikeras ikut mencari Zahra. Lagi pula, jika ia meminum pereda nyeri itu sekarang, rasanya akan lebih sakit saat ia terjaga seperti ini.

Revan mengirim pesan pada Rio jika mereka telah menemukan Zahra, pria itu juga pamit pulang dan menitipkan pengawasan Zahra pada Thamrin dan anak buahnya.

Rio kembali memasukkan ponselnya ke saku. Ia menoleh pada Rizki, "Gue udah dapet nih anaknya di mana. Lo tau ga warung yang dekat sini? Zahra ada di situ katanya."

Rizki berpikir sebentar kemudian melihat kanan kiri. Pria itu menunjukkan sebuah gang yang ada di sebelah mobil. "Kita jalan ke gang itu, habis itu belok kiri. Ada warung rumahan yang lumayan rame."

Rio menurut, ia memang tidak tahu keberadaan warung itu. Mereka berjalan melewati gang yang hanya muat untuk satu sepeda motor tersebut, Rizki terus menunjukkan jalan hingga mereka sampai di warung. Warungnya memang ramai, dari kejauhan Rio menemukan tiga orang laki-laki yang dikenalinya. Rio mengajak Rizki menuju 3 orang tersebut.

"Diki, Rey, Rezal."

Ketiganya berbalik, terkejut melihat kehadiran pria itu sekaligus seseorang yang datang bersamanya. Ini mereka tidak salah lihat, kan?

"Rio? Ngapain lo di sini?" tanya Diki, sedangkan dua lainnya tengah menatap Rizki.

"Gue nyari Zahra, kata Revan dia ada di warung. Kalian lihat dia ga?"

Tangan Diki memberi isyarat, menunjuk seorang gadis yang tengah berbincang dengan pemuda. Diki memberi tahu jika mereka berbicara sedari tadi, entah apa yang mereka bicarakan. Selain itu, Diki juga menceritakan bahwa Zahra juga memenangkan balapan dengan siswa dari Universitas Ganesha.

Rio mengangguk-angguk, ia bernapas lega jika Zahra tidak melakukan hal yang diluar batas.

"Lo kok bisa sama dia, Yo?" tanya Rey dengan alis terangkat sebelah, sedangkan dagunya menunjuk Rizki.

Rio hanya terkekeh saat melihat ketiga temannya terheran-heran. "Gue udah baikan sama Rizki," ungkap Rio, yang membuat ketiga temannya melongo.

Duo R terkekeh bersama, meskipun perut Rizki agak nyeri sedikit. Rio mengisyaratkan untuk memasuki warung. Ya, mereka tadi berbincang di luar, memang rencananya Diki, Rey dan Rezal akan pulang setelah ngopi, tapi siapa sangka jika akan bertemu Rio dan Rizki.

Sesampainya di dalam, Rio memesan dua teh hangat. Sedangkan teman-temannya mulai menjamah beberapa gorengan dan camilan yang tersedia. Lumayan kan, Rio yang membayarnya.

"Kok kalian bisa baikan gitu sih? Padahal dulu kek kucing sama anjing?"

"Ha-ha, kayaknya masa pertengkaran kita udah habis."

Rizki terdiam, sebenarnya otaknya masih mencerna ini semua. Dengan ragu, Rizki bertanya, "Kok kalian bisa kenal gue?"

"Lo mantan Zahra pas SMP, kan?" tanya Diki setelah menatap Rizki lama.

"Iya. Tau dari mana?"

"Ya taulah, orang Zahra aja biasanya cerita ke gue soal lo, Rio juga tuh."

Rizki menoleh ke Rio dan mengangkat kedua alisnya seolah bertanya 'cerita apa?'

"Lah iya, lupa gue. Rio dulu tuh pas jamannya Zahra pacaran sama lo curhatnya pasti tentang lo, yang lo apalah yang itulah," kata Rey sambil terkekeh.

Taulah ya, Rio memang protective. Zahra kan adik cewek satu satunya. Ia juga protective pada Tria, tapi tidak se-protective pada Zahra.

"By the way, sekarang kalian berdua akur ya? Cieee ...."

"Ga usah ciee-cieee, kayak orang alay."

"Ba—"

"Rizki ... adik gue." Ketiganya kaget begitupun Rizki yang ada di sebelahnya. Rey yang mau menjawab omongan Rezal pun tiba-tiba mengatupkan mulutnya kembali. Secepat itukah Rio mengakui Rizki sebagai adiknya?

"Gg–ii–mana bisa?" tanya Diki tergagap.

"Udah, ga udah kaget gitu. Lain kali gue ceritain, di sini terlalu rawan. Lo semua di sini sebentar, gue mau nyamperin Zahra dulu." Rio berjalan pada meja sudut.

"Dek ...."

Zahra terkejut mendengar suara itu?

Botol berbentuk kacang yang ada dijemarinya ia letakkan kembali. Ia mencecap bibirnya yang masih basah karena Vodka yang baru diminumnya.

Seseorang di depannya memberikan kode dengan lirikan mata. "Fin, 10 orang 7,5 juta." Orang itu tersenyum kemudian menghabiskan cairan bening yang tersisa di gelasnya. "Gue duluan, good luck, Ra." Ia berdiri, meninggalkan Zahra yang tak berkutik dari tempat duduknya.

TBC!!!

Akhirnya aku bisa update lagi, jngn lupa like dan komennya ❤️

1
Zalma Fauzia
karya ini sangat sangat sangat bagus ☺️☺️
💞 Lily Biru 💞: terimakasih kak zalma uda baca Uda mampir... untuk up masih aku usahakan ya kaka... makasih bnyak sehat selalu ❤️😭
total 1 replies
Zalma Fauzia
lanjut terus KK ke BAB selanjutnya KK😉
Ir Syanda
Mereka seakan berkata, "Abang2 juga harus ikut!"
Ir Syanda
Simple sih, mereka hanya terlalu sayang sama kamu, Zahra ...
Ir Syanda
Hati2 over dosis weh ...
Ir Syanda
Zahra kenapa?
Ir Syanda
Kembali ke rutinitas, ye kean ...
Ir Syanda
Biasalah ...😌
Ir Syanda
Janinmu tak salah apa2 loh, janganlah sampe diaborsi ...
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
sip lah
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
good 👍😎
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wow
Radiah Ayarin
Zahra perduli dan tak ingin terulang kesalahan yang kedua
Zaenab Usman 💓
luar biasa 🌹
..
gk baik buruk sangka hrs ttp baek sangka
..
lah adeke nangis lais kowe 🚶🚶
..
wkwkwkwk kutukan cinta
ᖴαуѕнα
kan si Putra malah usaha deketin Una padahal dia masih jadi pacar Zahra, emang gk bener si Putra ini🙄
ᖴαуѕнα
astaga Ra, napa gk sama Devan aja sih daripada sama Putra yg badboy itu
ᖴαуѕнα
Zahra sama Putra kayaknya sering bolos ya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!