kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBAKARAN
Namun, bayangan akan celoteh kedua adiknya yang nakal serta senyum tulus sang ibu yang selalu menantinya di meja makan rumah mereka, tiba-tiba terlintas begitu nyata.
Kenangan itu seolah menjadi bahan bakar yang membakar habis keraguannya. Genggaman tangan Vion pada busur kayu itu mengencang, hingga urat-urat tangannya menonjol.
Vion memejamkan mata sejenak, memantapkan hatinya. Ia bukan lagi sekadar pemuda yang tersesat; ia adalah harapan terakhir bagi ayahnya dan jalan pulang bagi dirinya sendiri.
Ia menarik napas dalam, mengambil satu anak panah dengan gerakan mantap, dan mulai membidik deretan guci tanah liat di depan sana dengan sorot mata yang sedingin es.
Sruuuut!
PYAARR!
Suara tembikar yang hancur berkeping-keping bergema di keheningan hutan. Kedua mata Vion berbinar saat melihat anak panah itu tertancap tepat di tengah guci hingga hancur berantakan.
Senyum kecil yang penuh kemenangan terbit di bibirnya. Rasa semangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menjalar ke seluruh tubuh. Tanpa menunggu perintah, ia kembali meraih anak panah berikutnya dari tabung di punggungnya.
Vion menghabiskan waktu kurang lebih sebulan untuk benar-benar menguasai taktik memanah. Kini, ia telah menguasai ilmu keseimbangan di atas tiang kayu, ketepatan memanah, dan kecakapan menunggang kuda tempur.
Master Hephaestus memberinya waktu tiga bulan untuk melancarkan semua kemampuan dasar itu. Setelahnya, barulah ia diizinkan menyentuh bagian yang paling berat: berlatih menggunakan pedang hitam Stormbringer.
Pagi ini, Vion berkeliling hutan bersama Von Gardo dengan menunggangi kuda mereka. Keduanya bermaksud berburu hewan liar untuk persediaan makanan di pondok.
Von Gardo memberi isyarat agar Vion turun dari pelana, lalu mereka melangkah cepat namun penuh kehati-hatian di atas tumpukan daun kering agar tidak menimbulkan suara. Mereka mengintai sekelompok kelinci hutan yang sedang berkumpul di balik semak-semak fern.
"Vion, ini adalah tugasmu. Pilih salah satu di antara mereka, lalu lepaskan panahmu," bisik Von Gardo dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai desis angin.
Vion menyunggingkan senyum miring, lalu dengan santai ia mendorong dahi Von Gardo dengan telunjuknya—sebuah tindakan lancang yang takkan pernah terpikirkan untuk dilakukan oleh Pangeran Alaric yang asli seumur hidupnya.
"Gampang. Lo tunggu di sini, lihat cara mainnya," bisik Vion penuh percaya diri.
Von Gardo hanya bisa mengerutkan kening. Meskipun sudah hampir setahun hidup berdampingan dengan pemuda ini, ia masih sering dibuat bingung oleh istilah-istilah aneh yang keluar dari mulut Vion.
Namun, ksatria itu hanya tersenyum tipis, membiarkan Vion melangkah perlahan menjauh darinya untuk mengambil posisi tembak yang lebih baik.
Vion menetapkan bidikannya pada seekor kelinci hutan yang sejak tadi ia incar. Ia mulai menarik tali busurnya dengan mantap, otot lengannya mengencang, namun—
Sruuuut!
Sebuah anak panah lain melesat mendahuluinya!
JLEB!
Kelinci malang itu seketika tergeletak di atas tanah setelah sebuah mata panah perak menembus tepat di bagian perutnya. Kedua mata Vion membelalak sempurna karena terkejut.
Dari balik pepohonan di seberang sana, muncul seorang gadis asing yang tersenyum lebar. Dengan langkah angkuh, orang itu mendekat dan memungut kelinci yang sudah tak berdaya itu seolah-olah itu adalah hasil buruannya sendiri.
"Wooi! Berhenti di sana!" teriak Vion lantang, melupakan semua pelajaran tentang "senyap" yang diajarkan Von Gardo.
Ia keluar dari balik semak-semak sembari menuding ke arah gadis itu dengan anak panahnya.
Von Gardo di belakangnya hanya bisa menepuk kening dengan telapak tangan. "Astaga, Tuan... kita seharusnya bersembunyi," gumamnya pasrah.
Gadis di depan mereka, yang mengenakan jubah kulit praktis dengan rambut pirang pucat yang tergerai menutupi sebagian wajahnya, langsung memasang posisi waspada.
Matanya yang tajam menatap Vion dengan penuh selidik. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pemuda yang terlihat agak berantakan di depannya ini adalah Pangeran Alaric, sang pewaris takhta yang fotonya terpampang di banyak pengumuman kerajaan.
Sring!
Dengan gerakan kilat, gadis itu menghunus pedang pendek dari pinggangnya, mengarahkan ujung bilah yang berkilat itu tepat ke tenggorokan Vion.
"Serahkan kelinci itu!" tuntut Vion, sama sekali tidak merasa takut meski ujung pedang hanya berjarak beberapa senti dari lehernya.
"Apa?!" Gadis itu melotot, lalu dengan cepat memasukkan kelinci yang berlumuran darah itu ke dalam kantong kulit di pelananya.
"Ini hasil buruanku. Kau tidak bisa merampokku begitu saja, pemuda asing."
Vion berkacak pinggang, menatap gadis itu dengan d**a membusung. "Aku yang lebih dulu mengincarnya sejak tadi! Aku sudah membidiknya selama sepuluh menit, tapi kau dengan sangat tidak sopan menyerobot dan memanahnya lebih dulu!"
"Itu artinya, kau kalah cepat, Tuan Muda. Kelinci ini milikku!" tegasnya dengan wajah galak dan bibir mengerucut, menunjukkan ketidaksenangan yang nyata.
"Hey! Tunggu dulu!" teriak Vion.
Namun, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan teriakan Vion. Dengan gerakan lincah, ia melompat ke atas pelana kudanya, memacu hewan itu menembus rimbunnya pepohonan, dan membawa pergi kelinci hasil buruan Vion begitu saja.
Vion hanya bisa melongo menatap debu yang tersisa. Ia menoleh ke arah Von Gardo yang kini sudah berdiri tegak di sampingnya dengan tangan bersedekap.
"Von Gardo... gadis tadi itu, siapa dia sebenarnya?"
"Namanya Lady Lyra dari Kerajaan Valois," tutur Von Gardo dengan nada serius sembari menatap ke arah perginya kuda tadi.
"Raja Valois dikenal memiliki banyak selir di istananya, dan gadis itu adalah salah satu putri dari garis keturunan yang tidak terlalu dianggap. Kabarnya, dia lebih suka berburu di hutan daripada berdansa di lantai dansa istana."
Vion menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.
"Putri seorang Raja, tapi dandanannya sama sekali tidak seperti Lady Eleanor yang selalu memakai gaun berlapis-lapis dan perhiasan yang berat," gumamnya sembari berbalik menuju kudanya sendiri.
Von Gardo menautkan kedua tangannya di belakang punggung, mengikuti langkah Vion menuju kuda mereka dengan senyuman tipis yang penuh arti. Lady Lyra memang seorang putri kerajaan yang memiliki sifat paling eksentrik.
Di saat saudara-saudaranya yang lain saling sikut demi memperebutkan takhta atau sekadar mencari perhatian dari sang Raja, Lyra justru memilih menjauh dari gemerlap istana. Dia sama sekali tidak tertarik pada intrik kekuasaan; sebuah jiwa yang liar dan bebas.
Keduanya kembali memacu kuda, memutar mengelilingi sudut-sudut hutan yang lebih dalam untuk mencari buruan lain. Namun, sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak berpihak pada mereka siang ini. Setelah cukup lama berkeliling, mereka tetap tidak mendapatkan apa-apa.
"Sepertinya kelinci tadi memang satu-satunya rezeki kita hari ini, Tuan," keluh Von Gardo.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke pondok tua milik Master Hephaestus.
Namun, sebelum mereka benar-benar sampai di gerbang pondok, Von Gardo mendadak menarik tali kekang kudanya hingga meringkik. Ia menyipitkan mata, menatap tajam ke arah depan sana.
Vion ikut berhenti, jantungnya mulai berdegup kencang. Di depan pondok Master Hephaestus, terlihat beberapa kuda tertambat.
Ada sekelompok prajurit dengan zirah perak yang berkilau dan jubah dengan lambang singa emas—pakaian khas dari penjaga istana pusat, tempat di mana Raja Richard bertahta.
"Von Gardo, siapa mereka?" tanya Vion dengan bisikan yang tertahan.
"Dilihat dari lencana di zirah mereka, mereka berasal dari wilayah Fangrong. Sepertinya Archduke Valerius sedang melacak keberadaan Pangeran Alaric. Vion, lebih baik kita tinggalkan tempat ini sekarang juga," ajak Von Gardo tegas, jemarinya mencekal lengan Vion untuk menariknya menjauh.
Namun, Vion menepisnya. Matanya membelalak saat melihat beberapa prajurit mulai menyalakan obor dan melemparnya ke atap jerami pondok tua milik Hephaestus. Api mulai menjilat dinding kayu dengan rakus. Vion melangkah maju, ingin menghampiri mereka.
"Vion, jangan gegabah!" Von Gardo kembali menghalangi, kali ini mencengkeram lengan pemuda itu dengan tenaga penuh.
"Von Gardo, bagaimana nasib Pak Tua itu?! Walaupun dia sangat menyebalkan, dia orang yang telah melatihku dan memberiku tempat berteduh!" seru Vion dengan suara bergetar.
"Vion, dengar! Mereka sengaja membakar pondok itu untuk memancing kita keluar dari persembunyian. Kita tidak bisa melawan mereka dalam jumlah sebanyak itu sekarang. Cepat, kita harus pergi!"
"Tapi, Von Gardo—"
"Percayalah padaku," potong Von Gardo dengan tatapan tajam.
"Master Hephaestus jauh lebih cerdik dari mereka. Dia pasti sudah mencium bahaya dan menyelamatkan diri lewat jalur rahasia lebih dulu."
Cukup lama mereka saling bertatapan. Wajah Vion memerah padam karena amarah yang memuncak. Ini adalah kali pertama ia melihat kekejaman dunia ini secara langsung di depan matanya—sebuah pondok yang penuh memori selama berbulan-bulan kini musnah hanya dalam hitungan menit.
Vion menoleh sekali lagi, menatap kobaran api yang kian membesar, melahap tempat tinggalnya. Tangannya terkepal sangat erat hingga kuku-kukunya memutih.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, berusaha meredam gejolak di d**anya meski urat di lehernya masih menegang hebat.
"Vion!" Von Gardo kembali menyentak bahunya, menahan pemuda itu tepat saat ia hampir melangkah keluar dari bayang-bayang pepohonan.
"Von Gardo, lepaskan!"
"Vion, dengar! Mereka memang sengaja memancingmu. Ini jebakan maut, percayalah padaku kali ini saja," mohon Von Gardo dengan ekspresi yang sangat serius, matanya memancarkan kekhawatiran seorang ksatria pelindung.
Vion terdiam sejenak, menatap kobaran api yang kian meninggi, lalu mengembuskan napas panjang untuk menekan egonya.
"Ok."
Awalnya, Von Gardo sama sekali tidak paham dengan kata "Ok" yang sering diucapkan Vion. Namun, karena sudah hampir setahun mendengar kata-kata asing itu keluar dari mulut sang pangeran, ia mulai memahami maknanya sedikit demi sedikit.
Von Gardo segera memberi isyarat agar Vion melangkah lebih dulu, menjauhi reruntuhan pondok yang masih membara.
Ia sendiri menyusul tepat di belakangnya, menuntun kuda mereka dengan sangat hati-hati agar suara tapal kuda tidak terdengar oleh telinga tajam para prajurit Fangrong.