kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARCHDUKE VALERIUS
Von Gardo semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah kaku yang kini dipenuhi emosi, sementara pelupuk matanya mulai terasa panas.
"Yang Mulia, saya memohon... izinkan saya menemani Anda berjuang hingga napas terakhir. Jangan usir saya. Izinkan saya tetap berada di sisi Anda."
"Von Gardo, tapi aku ini—" Vion mencoba menyela, merasa sesak oleh kesetiaan yang tak seharusnya ia terima.
"Saya tahu," kini Von Gardo mengangkat wajahnya, menatap Vion dengan sorot mata yang jujur dan tak tergoyahkan.
"Saya tahu Anda bukan Pangeran Alaric. Namun, saya peduli pada Anda, Tuan. Siapa pun Anda, di mata saya, Anda adalah jiwa yang harus saya lindungi. Saya tetap menghormati Anda sebagai pemimpin saya."
Vion terdiam, hatinya luluh. Ia bangkit dari kursinya dan melangkah maju hingga berdiri tepat di hadapan ksatria besar itu.
"Von Gardo," bisiknya,
"bisakah... bisakah kau menganggapku sebagai teman? Hanya seorang kawan, bukan tuanmu?"
Mata lebar Von Gardo membelalak, ia tampak terperangah seolah baru saja mendengar sebuah penistaan terhadap hukum ksatria yang ia pegang teguh.
"Saya... saya tidak berani, Yang Mulia," jawabnya dengan suara bergetar sembari kembali menunduk dalam.
"Seorang ksatria pengawal tak mungkin melampaui batasannya. Anda adalah garis darah kerajaan, dan saya hanyalah pedang di tangan Anda."
Vion menghela napas panjang, menatap bahu ksatria itu yang tegap namun kaku oleh beban sumpah. Di dunianya yang dulu, pertemanan itu sederhana, semudah nongkrong di pinggir jalan. Di sini, pertemanan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan melebihi nyawa.
"Aku butuh seorang teman, Von Gardo. Ajari aku tentang segala hal di dunia ini yang tidak kupahami," ucap Vion dengan nada memohon.
"Yang Mulia..." Von Gardo mencoba menyela dengan protokolnya.
"Von Gardo, kita adalah teman. Lain kali, panggil saja aku Vion. Namaku adalah Vion, bukan Alaric," tegasnya, menatap lurus ke dalam mata sang ksatria.
Cukup lama Von Gardo menatap wajah serius Vion, mencari sisa-sisa otoritas pangeran di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketulusan seorang pemuda yang kesepian. Akhirnya, perlahan ia mengangguk.
"Baik... Yang Mulia. Ah, maksud saya... Vion."
"Silakan, Yang Mulia. Eh, maksudku... Vion."
Von Gardo menyingkir dari meja kayu kecil setelah menyiapkan selembar perkamen kasar, sebotol tinta hitam, dan sebuah pena bulu angsa yang ujungnya telah diruncingkan.
Vion melongo menatap benda-benda yang kini ada di depannya. Ia mendudukkan p****tnya di kursi kayu pendek yang terasa keras. Tangannya mulai memegang pena bulu itu, memutar-mutarnya di depan mata dengan raut wajah heran, seolah sedang meneliti benda prasejarah.
"Von Gardo, setahuku ini adalah alat untuk melukis potret. Yang benar saja, kau menyuruhku menulis surat untuk Kaisar dengan bulu angsa seperti ini? Carikan aku pena saja," keluh Vion frustrasi.
Kedua alis Von Gardo berkerut dalam, wajahnya tampak sangat bingung.
"Pe-na?" tanyanya dengan lidah yang kaku.
"Benda apa itu? Apakah itu sejenis tanaman obat atau... makanan penutup dari negeri seberang?"
Vion menepuk keningnya keras-keras. Ada satu hal penting yang ia lupakan: walau Von Gardo sudah ia anggap seperti sahabat, tetap saja pria ini adalah ksatria abad pertengahan yang tidak tahu apa itu alat tulis modern. Vion segera beranjak dari kursi kayu itu, menyingkir dari hadapan perkamen putih yang masih kosong.
Ia mengembalikan pena bulu itu ke tempat asalnya dengan gemas.
"Lupakan soal pena. Biar aku yang bicara, kau yang menuliskan kata-katanya ke dalam bahasa resmi istana."
Von Gardo mengangguk patuh, terlihat lega karena tidak perlu menjelaskan sejarah bulu angsa lebih jauh. Ia mendudukkan tubuh kekarnya di kursi kecil—yang tampak terlalu mungil untuk ukuran tubuhnya—lalu jemarinya yang terbiasa menggenggam pedang kini memegang pena bulu itu dengan sangat hati-hati, membasahi ujungnya dengan tinta hitam pekat.
Setelah surat itu selesai disegel dengan lilin merah, Von Gardo memerintahkan seluruh regu ksatria pengawalnya untuk segera memacu kuda kembali ke Istana Valerius dan menyerahkan pesan tertulis itu langsung ke tangan Raja Valerius.
Sementara itu, ia sendiri memutuskan untuk tetap tinggal, menemani Vion berlatih ilmu pedang di kedalaman Hutan Blackwood bersama Master Hephaestus.
Di tempat yang jauh berbeda, di dalam kastil batu yang dingin dan angker di wilayah Northumbria, Archduke Valerius—sang penguasa tiran—membanting gelas piala peraknya ke lantai batu hingga menimbulkan suara berdenting yang memekakkan telinga.
Ia menegakkan duduknya di atas kursi kebesaran yang dilapisi kulit serigala, membiarkan para pelayannya memakaikan jubah beludru hitam ke bahunya yang lebar.
Wajahnya yang tampan namun memiliki garis rahang yang sangat tegas dengan tatapan mata biru yang sedingin es, membuatnya terlihat semakin mengerikan di bawah cahaya obor yang temaram.
"Bagaimana mungkin Pangeran Alaric masih bisa bertahan hidup setelah meminum racun itu?" gumamnya rendah, suaranya parau seperti geraman binatang buas.
Archduke Valerius kembali meraih selembar perkamen berwarna putih gading (broken white) dengan guratan tulisan tangan yang sangat rapi di atasnya.
Surat itu telah ia baca berulang kali; sebuah pesan rahasia dari teman masa kecilnya, Lady Elara dari kerajaan tetangga. Hingga saat ini, mereka tetap menjalin korespondensi gelap karena terikat oleh satu ambisi dan tujuan yang sama: meruntuhkan takhta Valerius.
“Elara, suratmu baru saja tiba di tanganku. Jika kau tidak mengabariku tentang kemunculan kembali Alaric, aku pasti akan terus menganggapnya sudah membusuk. Aku akan mengirimkan beberapa ksatria bayaran untuk membantumu. Mereka mengenakan lencana serigala perak pada jirah mereka. Tunggulah di benteng perbatasan, aku belum bisa meninggalkan istana saat ini.
Ayahandaku, sang Duke, sedang jatuh sakit keras, dan aku harus memegang kendali takhta untuk sementara waktu. Salam hangat, Valerius.”
Usai menggoreskan kalimat terakhir, sang Archduke melipat perkamen itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tabung perak kecil yang kedap air.
Ia segera beranjak menuju balkon kamar yang tinggi, tempat sebuah sarang burung merpati pengirim pesan berada. Dengan gerakan yang terlatih, ia mengambil seekor merpati putih salju dari sarangnya.
Setelah tabung perak itu terikat kuat di kaki sang burung, Archduke Valerius melepaskannya ke udara bebas.
Ia berdiri diam di balkon, jubah hitamnya berkibar ditiup angin kencang, menatap merpati itu terbang membelah awan menuju kediaman Lady Elara.
Senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya; bidak catur telah digerakkan, dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Tuanku Archduke, bukankah Pangeran Alaric sama sekali tidak bisa memegang pedang? Untuk apa Anda begitu mencemaskan hal ini?" tanya seorang wanita cantik yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar luas itu.
Gaun sutranya menyapu lantai batu saat ia menuangkan anggur merah ke dalam cangkir perak yang baru.
"Bukankah akan sangat mudah bagi kita untuk kembali menghancurkannya, sama seperti saat kita meracuninya waktu itu?" lanjutnya dengan nada bicara yang menggoda sekaligus mematikan.
Archduke Valerius melangkah perlahan, lalu mendudukkan p****tnya di tepi tempat tidur megah yang beralaskan kulit binatang.
Ia menerima cangkir perak itu dari tangan cantik sang gadis. Matanya menatap lekat wajah wanita di depannya—seorang pelayan sekaligus selir rahasia yang memiliki kecantikan luar biasa dan pesona yang mampu menyihir siapa pun.