Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Baru (Interpol)
Dua bulan berlalu sejak aku berhenti menulis di jurnal.
Dua bulan dimana aku benar benar menerima hidupku sebagai Nyonya Valerio.
Tidak ada lagi mimpi buruk. Atau mungkin ada tapi aku sudah terbiasa sampai tidak mengganggu lagi.
Tidak ada lagi air mata saat Leonardo peluk aku.
Tidak ada lagi perasaan terkurung saat bangun di kamarnya.
Semuanya terasa... normal. Atau setidaknya, versi normal yang sudah terdistorsi.
Pagi itu aku bangun dengan cahaya matahari yang menyinari wajahku lewat celah tirai.
Leonardo tidak ada di tempat tidur. Tapi aku bisa dengar suara air dari kamar mandi. Dia lagi mandi.
Aku berbaring sambil menatap langit langit. Menghitung retakan yang sudah hapal di luar kepala.
Tujuh belas. Sama seperti biasa.
Tapi pagi ini ada yang berbeda.
Ada perasaan aneh di dada. Seperti... seperti ada badai yang akan datang.
Pintu kamar mandi terbuka. Leonardo keluar dengan handuk melilit di pinggang. Rambut basah. Tetesan air masih mengalir di dada berotot nya yang penuh bekas luka.
"Kau sudah bangun," ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang sekarang terasa familiar. Hangat bahkan.
"Baru," balasku sambil duduk. "Jam berapa sekarang?"
"Tujuh lewat," jawabnya sambil berjalan ke lemari. Mengambil kemeja hitam. "Aku harus ke markas pagi ini. Ada rapat penting."
"Rapat apa?" tanyaku sambil turun dari tempat tidur. Menghampirinya.
Leonardo melirikku sebentar. Ada keraguan di matanya.
"Hanya urusan bisnis biasa," jawabnya sambil mengenakan kemeja. Mengancingkan satu per satu.
Tapi aku tahu dia bohong. Aku sudah cukup lama hidup dengannya untuk tahu kapan dia bohong.
"Leonardo," panggilku sambil memegang tangannya. Menghentikan gerakan mengancingkan kemeja. "Jangan bohong. Ada apa?"
Dia menatapku lama. Rahangnya mengeras.
Lalu dia menghela napas panjang.
"Ada masalah," ucapnya pelan. "Masalah besar."
Jantungku langsung berdegup cepat. "Masalah apa?"
Leonardo melepaskan tanganku. Berjalan ke jendela. Menatap keluar sambil tangan terlipat di dada.
"Kau ingat Arman?" tanyanya tanpa menoleh.
Namanya seperti pukulan ke dada. Arman. Teman yang dulu coba selamatkan ku. Yang sekarang entah dimana.
"Ya," jawabku pelan. "Kenapa dengan dia?"
"Dia tidak berhenti," ucap Leonardo dengan nada gelap. "Bahkan setelah kau putuskan kontak. Bahkan setelah aku deportasi dia. Dia tetap kumpulkan bukti."
Dia berbalik menatapku. Mata nya tajam.
"Dan sekarang bukti itu... bukti itu sudah sampai ke Interpol."
Dunia terasa berhenti.
"Apa?" bisikku. "Tapi... tapi kau bilang kau sudah hapus semua data nya..."
"Aku hapus yang ada di tangannya," potong Leonardo. "Tapi ternyata dia sudah kirim copy ke beberapa jurnalis. Dan salah satu jurnalis itu... salah satu nya punya koneksi dengan agen Interpol."
Dia berjalan mendekatiku. Tangan memegang bahuku.
"Sekarang Interpol mulai selidiki RED ASHES," lanjutnya dengan suara rendah. "Mereka lacak transaksi keuangan. Mereka awasi pergerakan anak buahku. Mereka coba cari bukti untuk tangkap aku."
Air mataku hampir jatuh. "Lalu... lalu apa yang akan terjadi? Apa mereka akan tangkap kau? Apa aku akan..."
"Tidak," potongnya dengan tegas. "Mereka tidak akan tangkap aku. Aku tidak akan biarkan itu terjadi."
Genggamannya di bahuku mengerat.
"Tapi ini artinya kita harus lebih berhati hati," lanjutnya. "Kita harus kurangi aktivitas. Hapus jejak digital. Dan..."
Dia terdiam sebentar.
"Dan kau tidak boleh keluar vila tanpa penjagaan ekstra," ucapnya. "Karena kalau Interpol tahu tentang kau, mereka mungkin akan coba gunakan kau untuk jerat aku."
Aku menatapnya dengan mata lebar. "Gunakan aku? Bagaimana?"
"Mereka akan coba dekati kau," jelasnya. "Bujuk kau untuk kasih kesaksian. Tawarkan perlindungan saksi. Bilang mereka akan bebaskan kau dari aku."
Matanya menatap tajam ke mataku.
"Tapi kau tidak akan percaya mereka kan?" tanyanya dengan nada yang terdengar... takut?
Untuk pertama kalinya, aku lihat Leonardo terlihat takut.
Bukan takut pada Interpol.
Tapi takut aku akan pergi.
"Aku..." aku tidak tahu harus jawab apa.
Sebulan yang lalu mungkin aku akan lompat pada kesempatan itu. Akan terima tawaran Interpol dengan senang hati.
Tapi sekarang...
"Aku tidak akan kemana mana," ucapku akhirnya. Kata kata yang keluar tanpa sempat kupikirkan. "Aku... aku di sini. Bersamamu."
Leonardo menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Lega? Senang? Atau... menang?
Lalu dia menarikku dalam pelukan erat.
"Terima kasih," bisiknya di rambutku. "Terima kasih sudah memilih aku."
Aku tidak memilih. Atau mungkin aku memilih. Aku sudah tidak tahu lagi.
Siang itu, Leonardo pergi ke markas dengan Marco dan Andrew.
Aku ditinggal di vila dengan sepuluh pengawal ekstra yang berjaga di setiap sudut.
Aku duduk di perpustakaan sambil mencoba membaca tapi tidak bisa fokus.
Pikiranku terus melayang ke Arman.
Dia masih berusaha. Masih berjuang untuk selamatkan ku walau aku sudah bilang untuk berhenti.
Kenapa dia tidak dengarkan?
Kenapa dia masih peduli?
Kenapa dia harus membahayakan dirinya sendiri untuk orang yang bahkan tidak bisa diselamatkan lagi?
Aku menutup buku dengan keras. Bunyi nya menggema di ruangan sepi.
Lalu aku dengar suara.
Suara yang tidak seharusnya ada.
Suara mesin helikopter.
Aku berdiri. Berjalan ke jendela.
Dan aku melihat helikopter hitam melayang rendah di atas vila. Ada tulisan putih di sisinya.
INTERPOL.
Jantungku berhenti.
Mereka di sini.
Mereka datang.
Tiba tiba pintu perpustakaan terbuka dengan kasar.
Salah satu pengawal masuk dengan tergesa. "Nyonya, kita harus pindahkan anda ke ruang aman sekarang!"
"Apa? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanyaku dengan panik.
"Interpol mengepung vila," jawabnya sambil menarik lenganku. "Ada dua puluh agen di luar. Mereka punya surat perintah penggeledahan."
Dia menyeretku keluar dari perpustakaan. Membawaku ke basement.
Di sana ada ruangan tersembunyi di balik rak wine. Dia membuka nya dengan menekan panel tersembunyi.
Ruangan kecil dengan sofa dan layar monitor yang menunjukkan CCTV seluruh vila.
"Tunggu di sini," perintahnya. "Jangan keluar apapun yang terjadi. Don sudah dalam perjalanan pulang."
Lalu dia keluar dan menutup pintu.
Aku terkunci di ruangan gelap dengan hanya cahaya dari monitor.
Aku menatap layar.
Di layar depan, aku lihat beberapa orang berseragam biru dengan rompi bertuliskan INTERPOL berbicara dengan pengawal di gerbang.
Mereka menunjukkan dokumen. Pengawal menelepon seseorang.
Beberapa menit kemudian, gerbang terbuka.
Agen Interpol masuk. Sekitar dua puluh orang. Semua bersenjata.
Mereka mulai menggeledah. Membuka lemari. Memeriksa kotak kotak. Mengambil foto.
Aku hanya bisa duduk di sana. Gemetar. Menonton semuanya lewat layar.
Lalu salah satu agen masuk ke perpustakaan. Tempat aku tadi.
Dia melihat buku yang aku tinggalkan terbuka di sofa.
Mengambil nya. Memeriksa.
Lalu dia bicara dengan agen lain.
Mereka mulai cari di perpustakaan dengan lebih teliti.
Salah satunya mendekati rak yang jadi pintu ruangan ini.
Dia menyentuh rak. Mencoba tarik.
Jantungku berhenti.
Apa dia akan temukan pintu rahasia ini?
Tapi rak tidak bergerak. Terkunci dari dalam.
Agen itu mencoba beberapa kali lalu menyerah.
Aku menghela napas lega.
Penggeledahan berlangsung hampir dua jam.
Mereka mengambil beberapa dokumen. Beberapa laptop. Beberapa hard drive.
Tapi mereka tidak menemukan apapun yang terlalu penting. Andrew terlalu cerdik untuk simpan bukti kriminal di rumah.
Akhirnya mereka keluar.
Helikopter terbang pergi.
Tapi ketegangan tidak hilang.
Karena aku tahu ini baru permulaan.
Lima menit setelah Interpol pergi, konvoi mobil Leonardo sampai.
Dia masuk dengan wajah yang... mengerikan.
Bukan marah. Lebih parah dari itu.
Dingin. Kosong.
Tatapan pembunuh.
Pengawal langsung membuka ruang aman. Aku keluar dengan kaki gemetar.
Leonardo langsung memelukku. Erat sekali sampai aku hampir tidak bisa napas.
"Kau tidak apa apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku... aku baik baik saja," jawabku. "Mereka tidak temukan aku."
Leonardo melepaskan pelukan. Menatapku dengan mata yang menyala amarah.
"Mereka berani datang ke rumahku," ucapnya dengan suara rendah yang sangat berbahaya. "Mereka berani menggeledah tempatku. Tempat dimana istriku tinggal."
Dia berbalik ke Andrew yang berdiri di belakang dengan laptop.
"Apa mereka ambil?" tanyanya.
"Beberapa dokumen dummy," jawab Andrew lewat suara robot dari tablet. "Laptop lama yang sudah dikosongkan. Dan hard drive yang berisi file kosong."
"Bagus," ucap Leonardo. "Lalu lacak siapa agen yang memimpin operasi ini. Aku mau tahu nama nya. Alamat nya. Keluarga nya. Semua."
Andrew mengangguk dan langsung mengetik.
Leonardo menatapku lagi. Tangannya menyentuh wajahku dengan lembut tapi aku bisa rasakan kemarahan yang ditahan di balik sentuhan itu.
"Dunia luar mulai mengincar kita," ucapnya pelan. "Mereka pikir mereka bisa pisahkan kita. Mereka pikir mereka bisa ambil kau dariku dengan janji kebebasan dan keadilan."
Ibu jarinya mengusap pipiku.
"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi," lanjutnya dengan nada yang membuat bulu kudukku berdiri. "Aku tidak akan biarkan siapapun memisahkan kita. Bahkan kalau aku harus perang dengan seluruh Interpol. Bahkan kalau aku harus bakar dunia ini."
Matanya menatap dalam ke mataku.
"Kau percaya padaku kan?" tanyanya.
Dan entah kenapa, walau seharusnya aku takut dengan kata kata nya, walau seharusnya aku lari dari tatapan gila di matanya...
Aku mengangguk.
"Aku percaya," bisikku.
Dan aku hampir percaya pada kata kataku sendiri.
Leonardo tersenyum. Lalu menciumku dengan intens. Ciuman yang penuh kepemilikan. Penuh obsesi.
Saat melepaskan ciuman, dia berbisik di telingaku.
"Bersiaplah, sayang," bisiknya. "Ini akan jadi perang. Dan aku akan pastikan kita yang menang. Apapun yang terjadi."
Malam itu, saat aku berbaring di tempat tidur tidak bisa tidur, aku mendengar Leonardo bicara di telepon di balkon.
Suaranya rendah tapi aku masih bisa dengar beberapa kata.
"...habisi siapapun yang jadi saksi... bakar semua dokumen fisik... pindahkan dana ke akun offshore... dan kalau perlu..."
Dia terdiam.
"...kalau perlu kita hilangkan beberapa agen Interpol yang terlalu keras kepala."
Aku menutup mata. Mencoba tidak dengar.
Tapi aku tahu apa artinya.
Leonardo akan bunuh lagi.
Akan bunuh siapapun yang mengancam organisasi nya.
Dan mungkin... mungkin akan bunuh siapapun yang coba dekati aku.
Termasuk Arman yang sudah mulai semua ini dengan membocorkan bukti.
"Arman..." bisikku dalam gelap. "Kenapa kau tidak dengarkan aku? Kenapa kau harus tetap mencoba?"
Air mataku jatuh.
Karena sekarang aku tahu.
Kalau Leonardo berhasil lacak Arman...
Arman akan mati.
Dan itu akan jadi salahku.
Lagi.
Seperti semua kematian yang terjadi karena aku.
Aku hanya bisa berbaring di sana sambil menangis dalam diam.
Menangis untuk Arman yang tidak tahu dia sudah tanda tangani hukuman mati nya sendiri.
Menangis untuk diriku yang sudah terlalu rusak untuk peduli menghentikan Leonardo.
Menangis untuk dunia yang semakin sempit di sekitarku.
Dunia yang sekarang cuma terdiri dari vila ini. Leonardo. Dan bayang bayang kematian yang selalu mengikuti.
Dan saat Leonardo kembali ke tempat tidur, memelukku dari belakang, berbisik "aku mencintaimu" dengan suara lembut...
Aku hanya bisa diam.
Karena aku tidak tahu lagi apa itu cinta.
Yang kutahu cuma satu hal.
Aku terjebak.
Terjebak di antara monster yang mencintaiku dan dunia yang mencoba selamatkan ku.
Dan entah mana yang lebih berbahaya.