Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: NARESWARI BERGABUNG
#
Pagi itu aku keluar dari puskesmas.
Dokter bilang aku boleh pulang. Lukanya gak parah. Cuma lebam-lebam. Istirahat aja di rumah.
Vanya dan Adrian nemenin aku pulang. Pak Hadi juga ikut.
Kami jalan pelan. Badan aku masih sakit. Tiap langkah berasa berat.
"Sat, lu yakin gak mau istirahat dulu di rumah gue?" Adrian nanya. Mukanya khawatir.
Aku geleng. "Gak usah, Dri. Aku pengen pulang. Ayah sama ibu pasti khawatir."
Vanya jalan di sebelah kiri aku. Dia pegang lengan aku biar aku gak jatuh. "Sat... maafin aku. Ini semua gara-gara aku. Gara-gara aku kasih lu foto-foto itu..."
Aku liat Vanya. "Vanya, ini bukan salah lu. Ini salah mereka yang korupsi. Jangan salahkan diri lu sendiri."
Vanya ngangguk pelan. Tapi matanya masih sedih.
***
Sampai di rumah, ibu langsung nangis liat muka aku yang lebam.
"SATRIA! YA ALLAH! INI KENAPA?! SIAPA YANG PUKUL KAMU?!"
Ibu pegang muka aku. Tangannya gemetar.
"Aku gak papa, Bu. Cuma jatuh dari motor angkot tadi. Gak sengaja."
Bohong. Aku gak mau ibu tau aku dipukulin preman. Nanti ibu makin khawatir.
Tapi ibu kayaknya gak percaya. Dia liat mata aku. Lama. Terus dia nangis lagi.
"Satria... ibu tau kamu bohong. Ini... ini pasti ada hubungannya sama beasiswa itu kan? Kamu... kamu lagi nyelidikin mereka kan?"
Aku diem.
Ibu peluk aku. Erat. "Satria... kumohon jangan lanjutin. Ibu takut kehilangan kamu. Ibu takut kamu kenapa-kenapa. Kamu... kamu anak satu-satunya yang ibu punya..."
Aku peluk ibu balik. "Ibu... aku harus lanjutin. Kalau aku berhenti sekarang, mereka menang. Mereka terus curi hak anak-anak kayak aku. Aku... aku gak bisa diem."
Ibu nangis di pundak aku. "Tapi ibu takut, Nak... ibu takut..."
Ayah dari kasur juga nangis. Dia liat aku. Mukanya... mukanya penuh penyesalan. "Satria... ini semua gara-gara ayah. Kalau ayah gak lumpuh... kalau ayah masih bisa kerja... kamu gak perlu berjuang sekeras ini... kamu gak perlu sampai dipukuli..."
Aku lepas pelukan ibu. Aku jalan ke kasur ayah. Aku duduk di sebelahnya.
"Ayah... ini bukan salah ayah. Ini salah orang-orang yang korupsi. Orang-orang yang curi uang rakyat. Bukan ayah."
Ayah pegang tangan aku. "Tapi ayah merasa... ayah merasa gak berguna. Ayah gak bisa lindungin kamu. Ayah cuma bisa terbaring di sini... ngeliat anakku dipukuli... dan ayah gak bisa berbuat apa-apa..."
Aku pegang tangan ayah erat. "Ayah udah lindungin aku dengan cara ayah. Ayah ngajarin aku jadi orang kuat. Ayah ngajarin aku untuk gak pernah menyerah. Itu... itu yang bikin aku bisa bertahan sampe sekarang."
Ayah nangis. Air matanya jatuh ke bantal.
Kami sekeluarga nangis. Lagi.
Vanya, Adrian, sama Pak Hadi berdiri di pintu. Mereka juga nangis ngeliat kami.
***
Siang itu, aku istirahat di kasur.
Badan masih sakit. Tapi hati aku... hati aku udah bulat.
Aku gak akan berhenti.
Aku akan lanjutin sampai mereka ketangkep.
Sampai keadilan ditegakkan.
Vanya dan Adrian pulang. Mereka janji besok bakal balik lagi.
Aku tidur siang. Tidur yang gak nyenyak. Mimpi buruk terus. Mimpi dipukulin lagi. Mimpi bukti-bukti dibakar. Mimpi...
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu.
Aku bangun. Badan pegel semua.
Ibu buka pintu.
"Permisi... apa ini rumah Satria Bumi Aksara?"
Suara cewek. Pelan. Ragu-ragu.
Aku turun dari kasur. Aku jalan ke pintu sambil pincang dikit.
Di depan pintu ada seorang cewek.
Cewek kurus. Tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter. Rambutnya pendek sebahu. Berkacamata tebal. Kulitnya sawo matang. Ada jerawat di pipi kanan kirinya. Bajunya seragam sekolah yang sama kayak aku. Tapi udah kusut. Lusuh.
Aku kenal dia.
Nareswari Kirana.
Cewek kelas dua belas IPA tiga. Anak yang selalu diem. Selalu sendirian. Selalu di-bully sama anak-anak lain karena mukanya jerawatan dan dia pake kacamata tebal.
"Nares? Kamu... kamu kenapa ke sini?"
Nareswari liat aku. Matanya di balik kacamata tebal itu... matanya serius. Penuh tekad.
"Aku... aku mau bantuin kalian."
"Bantuin? Bantuin apa?"
Nareswari keluarin flashdisk dari saku roknya.
"Ini. Ini semua bukti yang kalian butuhkan. Aku sudah kumpulkan sejak setahun lalu."
Aku liat flashdisk itu. Kecil. Warna merah.
"Bukti apa?"
"Bukti korupsi beasiswa. Bukti transaksi uang suap. Bukti dokumen keuangan sekolah yang dipalsuin. Bukti... bukti semuanya."
Jantungku berdetar cepat.
"Kamu... kamu serius?"
Nareswari ngangguk. "Aku serius. Aku... aku tau kalian lagi nyelidikin Pak Bambang sama Pak Julian. Aku tau kalian dipukulin kemarin. Aku... aku lihat di puskesmas."
Oh. Jadi dia yang berdiri di belakang pintu kaca waktu itu.
"Nares... kenapa kamu bantuin kami? Kamu... kamu kan bisa diem aja. Gak perlu ambil resiko."
Nareswari liat aku. Matanya berkaca-kaca.
"Karena ayahku meninggal gara-gara mereka."
Hening.
Aku, ibu, ayah, semua diem.
Nareswari masuk ke dalam rumah. Dia duduk di lantai. Kami ikut duduk di sekeliling dia.
Dia mulai cerita.
"Ayahku... ayahku dulu buruh pabrik. Gajinya kecil. Tapi cukup buat hidup. Aku, ayah, sama ibu. Kami bahagia. Meskipun miskin."
Suaranya bergetar. Dia pegang kacamatanya yang mulai berembun.
"Tiga tahun lalu... ayahku sakit. Paru-parunya bermasalah. Dokter bilang ayah harus operasi. Tapi biayanya mahal. Dua puluh juta. Kami gak punya uang segitu."
Dia lap matanya pake ujung bajunya.
"Ibu bilang, di sekolahku ada dana bantuan buat siswa miskin yang orang tuanya sakit. Dananya dari pemerintah. Buat biaya rumah sakit. Ibu suruh aku urus surat. Aku urus. Aku kumpulin semua berkas. Aku kasih ke TU."
Dia nunduk. Tangannya gemetar.
"Tapi... tapi dana itu gak turun-turun. Aku tanya ke TU. Mereka bilang masih diproses. Aku tunggu sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Gak turun juga. Ayahku makin parah. Napasnya sesak. Batuk darah. Ibu nangis tiap hari. Aku... aku gak tau harus gimana."
Air matanya jatuh. Tetes di lantai semen.
"Bulan keempat... ayahku meninggal. Di rumah. Gak sempet dibawa ke rumah sakit. Napasnya berhenti. Ibu teriak-teriak. Aku... aku cuma bisa nangis sambil peluk jenazah ayah."
Aku nangis denger cerita itu. Ibu juga nangis. Ayah nangis sambil tutup muka.
Nareswari angkat kepala. Matanya merah. Tapi ada api di sana. Api kebencian.
"Sebulan setelah ayah meninggal... dana bantuan itu baru turun. Tapi... tapi cuma dua juta. Dari yang seharusnya dua puluh juta. Sisanya... sisanya entah kemana."
Dia kepal tangan. Kuat.
"Aku tau sisanya dikorupsi. Aku tau mereka curi uang itu. Uang yang seharusnya buat nyeimatin ayahku. Tapi mereka ambil. Mereka pake buat mobil mereka. Buat rumah mereka. Buat anak-anak mereka."
Dia liat aku. Matanya penuh dendam.
"Sejak itu aku mulai nyelidikin. Diam-diam. Aku bobol email Pak Julian. Aku fotokopi dokumen keuangan waktu dia lupa kunci lemari. Aku rekam percakapan mereka waktu mereka ngobrol di ruang yayasan. Aku kumpulin semuanya. Buat suatu hari... suatu hari aku bisa bongkar mereka."
Dia sodorkan flashdisk itu ke aku lagi.
"Dan hari itu... hari itu sekarang. Aku mau bantuin kalian. Kita bongkar mereka bareng-bareng."
Aku terima flashdisk itu dengan tangan gemetar.
"Nares... kamu... kamu hebat. Kamu berani. Terima kasih."
Nareswari senyum tipis. "Aku gak hebat. Aku cuma... cuma pengen ayahku tenang di sana. Pengen dia tau... tau kalau anaknya berjuang buat keadilan."
***
Sore itu, Vanya dan Adrian datang lagi.
Aku kumpulin mereka di rumah. Aku kenalin Nareswari.
"Ini Nareswari. Temen sekelas kalian. Dia mau bantuin kita."
Vanya liat Nareswari. "Nares... aku kenal kamu. Kamu yang selalu diem di kelas kan?"
Nareswari ngangguk.
Adrian ulurin tangan. "Gue Adrian. Seneng bisa kenal lu."
Nareswari jabat tangan Adrian. "Aku juga."
Aku tunjukin flashdisk merah itu. "Nares bawa bukti. Bukti lengkap tentang korupsi beasiswa."
Vanya dan Adrian melotot.
"Serius?!"
Aku ngangguk. "Kita harus liat isinya. Tapi kita butuh laptop. Ada yang punya?"
Mereka semua geleng. Kami anak-anak miskin. Gak ada yang punya laptop.
"Kita bisa ke warnet," kata Adrian. "Lima ribu rupiah sejam. Gue ada uang."
Kami berempat langsung berangkat ke warnet terdekat.
Warnet kecil di ujung gang. Bau rokok sama kopi. Gelap. Ada lima komputer tua yang layarnya udah kuning.
Adrian bayar sepuluh ribu. Dua jam.
Kami duduk di komputer paling pojok. Berempat berdesakan di depan layar.
Aku masukin flashdisk. Aku buka.
Di dalamnya ada banyak folder.
Foto Transaksi.
Rekaman Audio.
Dokumen Keuangan.
Email.
Video.
Aku buka folder Foto Transaksi.
Ratusan foto. Foto Pak Bambang nerima amplop dari berbagai orang. Foto Pak Julian. Foto transaksi di bank. Foto rekening koran yang nunjukin transfer miliaran rupiah.
Aku buka folder Rekaman Audio.
Puluhan file audio. Aku play salah satu.
Suara Pak Bambang terdengar jelas.
"Jadi totalnya lima kursi ya, Pak? Lima ratus juta per kursi. Total dua setengah miliar. Transfer ke rekening ini. Nanti kami atur supaya anak-anak Bapak lolos semua."
Suara laki-laki lain.
"Baik, Pak Bambang. Saya transfer besok. Terima kasih sudah membantu."
Mereka ketawa bareng.
Aku matiin audio itu. Tangan aku gemetar.
"Ini... ini bukti nyata. Ini... ini bisa bikin mereka masuk penjara."
Vanya tutup mulut. Matanya berkaca-kaca. "Nares... kamu... kamu kumpulin semua ini sendirian?"
Nareswari ngangguk. "Aku gak punya temen. Jadi aku punya banyak waktu buat nyelidikin."
Adrian tepuk pundak Nareswari. "Lu pahlawan, Nares. Lu pahlawan beneran."
Nareswari senyum sedih. "Aku bukan pahlawan. Aku cuma... cuma anak yang kehilangan ayahnya."
Kami berlima diem. Ngeliat layar komputer yang penuh bukti kejahatan.
"Jadi sekarang kita ngapain?" tanya Vanya.
Aku mikir. "Kita butuh orang dalam. Orang yang punya akses ke ruang yayasan. Orang yang dipercaya Pak Bambang. Biar kita bisa masuk dan ambil dokumen fisik asli. Flashdisk ini bukti kuat. Tapi dokumen asli lebih kuat."
Adrian garuk kepala. "Tapi siapa? Kita anak-anak biasa. Gak ada yang punya akses ke ruang yayasan."
Nareswari angkat tangan. "Aku tau siapa."
Kami semua liat dia.
"Arjuna Dewantara. Ketua OSIS. Dia punya akses ke ruang yayasan. Dia sering diminta tolong sama Pak Bambang buat ambil dokumen atau antar surat. Dia... dia orang yang tepat."
Vanya geleng. "Tapi Arjuna itu... dia anak orang kaya juga. Dia pasti gak mau bantuin kita."
Nareswari geleng. "Aku rasa dia beda. Aku pernah liat dia... liat dia nangis sendirian di perpustakaan. Aku gak tau kenapa. Tapi... tapi kayaknya dia juga punya masalah."
Aku inget Arjuna. Cowok tampan. Karismatik. Selalu senyum. Ketua OSIS yang disegani semua orang.
Tapi... apa dia mau bantuin kami?
"Kita coba aja," kata aku. "Besok kita dekatin dia. Kita jelasin semuanya. Kalau dia mau bantuin, bagus. Kalau enggak... ya kita cari cara lain."
Mereka semua ngangguk.
Kami berempat tempelkan tangan di tengah.
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
"Buat keadilan."
***
Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk.
Di satu sisi aku seneng. Kami punya bukti kuat sekarang. Bukti yang bisa bongkar semua kejahatan mereka.
Tapi di sisi lain... aku takut.
Takut kalau mereka tau. Takut kalau mereka ancam lagi. Takut kalau... kalau mereka sakitin orang-orang yang aku sayang.
Tapi aku gak boleh takut.
Aku udah terlalu jauh buat mundur sekarang.
Aku berbaring di kasur. Natap langit-langit yang bocor.
Tetesan air jatuh ke ember.
Tok. Tok. Tok.
Suara yang menenangkan.
Aku tutup mata.
"Ya Allah... beri kami kekuatan. Beri kami keberanian. Dan lindungi kami dari orang-orang jahat. Aamiin."
Doaku pelan. Tapi penuh harap.
***
*