Kiandra tumbuh sebagai anak yang tak pernah diakui ayahnya. Ibunya diusir, hidupnya penuh luka, dan amarah menjadi satu-satunya cara bertahan.
Di sekolah, ia bertemu Tara—perempuan yang selalu berada di sisi yang dipilih dunia. Mereka musuh, saling menjatuhkan, hingga seorang cowok bernama Daffa membuat kebencian itu semakin panas.
Semua berubah ketika Kia tahu: **Tara adalah saudara tirinya.**
Salah paham menghancurkan segalanya. Tuduhan kejam membuat hidup Tara runtuh, dan takdir mempertemukan mereka di bawah satu atap sebagai dua orang yang saling membenci. Hingga waktu memisahkan mereka.
Enam tahun kemudian, mereka bertemu kembali sebagai orang dewasa. Luka lama belum sembuh, cinta lama belum mati, dan kebenaran menunggu untuk diakui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 – Kia yang Kasar tapi Peduli
Jika ada satu hal yang Kia pelajari setelah Tara tinggal di rumah itu, maka itu adalah:
berbagi atap tidak berarti berbagi ketenangan.
Rumah kecil itu tidak pernah benar-benar sunyi lagi.
Bukan karena tawa. Bukan pula karena kehangatan keluarga yang bertambah. Tapi karena gesekan kecil yang tak pernah selesai—seperti api yang tak pernah padam, hanya mengecil lalu menyala lagi.
Tara tinggal sendiri di sana.
Bukan bersama ibunya.
Hari pertama, Mama Tara datang hanya untuk menitipkan satu koper dan beberapa tas pakaian. Tidak banyak kata. Tidak banyak penjelasan.
“Auntie titip Tara dulu,” ucapnya singkat pada ibu Kia. “Sampai semuanya… lebih tenang.”
Tidak ada kata berapa lama.
Tidak ada janji akan segera menjemput.
Hanya sebuah permintaan yang terdengar seperti keputusan sepihak.
Setelah itu, Mama Tara pergi.
Dan sejak saat itu, rumah itu terasa berbeda.
Pagi pertama setelah malam canggung itu, Kia bangun lebih awal. Seperti biasa, ia menyeduh kopi, menyapu halaman, dan menyiapkan sarapan sederhana untuk ibunya.
Saat ia masuk dapur, panci di atas kompor sudah menyala.
Tara berdiri di sana.
Memakai kaus longgar dan rambut diikat seadanya. Wajahnya polos tanpa riasan. Jauh dari citra Tara di sekolah—anak rapi, percaya diri, selalu tampak aman.
Kia berhenti melangkah.
“Oh,” kata Tara kaku. “Aku pikir belum ada yang bangun.”
Kia menatap kompor. “Kompor gue.”
Nada suaranya datar, tapi cukup tajam.
Tara buru-buru mematikan api. “Maaf. Aku cuma mau bikin teh.”
“Lain kali bilang.”
Tara menunduk. “Aku nggak tahu harus izin ke siapa.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi menyimpan kenyataan pahit.
Kia meletakkan tas sekolahnya agak keras di meja. “Ini rumah ibu gue.”
Tara mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku cuma… dititipkan.”
Kata itu menggantung di udara.
Ibunya Kia muncul dari belakang. “Ada apa?”
“Nggak apa-apa, Bu,” jawab Kia cepat.
Tara mundur selangkah. “Aku ke kamar aja.”
Ia pergi, menutup pintu pelan.
Ibunya Kia menatap Kia. “Dia sendirian di sini.”
Kia menghela napas panjang. “Itu bukan salah gue.”
Ibunya tidak membantah. Tapi juga tidak setuju.
Hari-hari berikutnya berjalan kaku.
Masalah kecil terasa besar.
Handuk Tara yang digantung sembarangan.
Sepatu yang diletakkan di depan pintu.
Lampu kamar yang lupa dimatikan.
“Lo bisa nggak sih lebih rapi?” suara Kia terdengar dari ruang tengah.
“Aku lagi belajar,” jawab Tara dari kamar. “Aku belum terbiasa.”
“Ini bukan hotel.”
Tara keluar kamar. “Aku juga nggak minta dititipin di sini.”
Kalimat itu meluncur cepat, penuh frustrasi.
Kia membalas tanpa ragu, “Dan gue juga nggak minta lo ada di hidup gue.”
Sunyi.
Tara menatap Kia lama. Lalu masuk kembali ke kamar tanpa membanting pintu.
Justru itu yang membuat dada Kia terasa sesak.
Di sekolah, jarak mereka makin jelas.
Mereka tidak berjalan berdampingan. Tidak berbicara kecuali terpaksa. Semua orang tahu mereka serumah—dan semua orang menunggu ledakan berikutnya.
“Kalian ribut terus?” tanya Daffa.
Kia mengangkat bahu. “Dia cuma titipan.”
Daffa menatapnya lama. “Titipan juga manusia.”
Kia mendengus kecil. “Lo nggak tinggal bareng dia.”
Malam hari selalu menjadi waktu paling sulit.
Saat rumah sepi. Saat pikiran tidak bisa lari.
Suatu malam, Kia mendengar suara dari kamar mandi—tangis tertahan.
Ia berhenti di depan pintu.
Diam.
Lalu melangkah pergi.
Bukan karena tidak peduli. Tapi karena tidak tahu harus berbuat apa.
Beberapa hari kemudian, Kia pulang lebih sore dari biasanya.
Di gang kecil dekat rumah, ia melihat Tara dikerubungi beberapa anak sekolah lain. Suara mereka tajam. Nada mengejek.
“Katanya anak orang kaya?”
“Kok sekarang numpang di rumah orang?”
Tara berdiri kaku. Wajahnya pucat.
Tanpa berpikir panjang, Kia melangkah maju.
“Hei.”
Semua menoleh.
“Urusan lo apa?” suara Kia dingin.
Mereka mundur satu per satu. Tidak mau cari masalah.
Setelah gang itu sepi, Tara menunduk. “Gue nggak minta dibelain.”
Kia menoleh. “Gue juga nggak suka orang berisik.”
Mereka berjalan pulang tanpa bicara.
Tapi malam itu, Kia meletakkan segelas teh hangat di depan kamar Tara.
Tanpa kata.
Tanpa penjelasan.
Untuk pertama kalinya, Tara mengerti—
Kia memang kasar.
Kia memang dingin.
Tapi Kia tidak pernah benar-benar membiarkannya sendirian.
Dan mungkin…
di balik semua pertengkaran,
dua anak yang terluka ini
sedang belajar berbagi ruang
tanpa tahu bagaimana caranya berdamai.
...****************...
yg salah adalah org tua
terutama arman dan keluarga ny.
mash jdi teka teki,knp dgn ank perempuan ?
ank dri istri pertama perempuan,ank dri istri ke 2 perempuan, tpi knp ank dri istri ke 2 tetap di pilih dan di sayang ?
bgtu pun dgn Arman ? dri ke 2 ank ny,knp dia kaku dgn ank² ny ? sprti ad tembok yg kokoh .
cucu intan payung oma kek ny..
cihhhhh dsar laki² gak guna, ga bisa tegas,model manut ae..
tunggu aj karma mu
blm bisa komen bnyk..
ok salam kenal thor,izin membaca karya nya