Setiap pernikahan mengharapkan kebahagiaan. Namun, tidak dengan pernikahanku.
Siapa sangka. Pernikahan yang kuanggap pemujaan ternyata semu belaka. Ucapan talak di depan rumah pojok dari bibir mas Akbar menyadarkanku arti diriku selama setahun ini.
Hujan belati menusuk hatiku, dengan penghianatan suami beserta sahabat baikku.
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih!"
Sesak, hingga gelap menyapa. Ketika kesadaran ku kembali, kertas putih menyambut dunia malang ku.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!"
Hitam di atas putih. Kini hidupku hanya untuk menjadi penebus hutang mantan suamiku.
Sanggupkah Ara menjalani hidup sebagai istri siri pria asing? Apakah hidup Ara akan selalu dibawah kekuasaan orang lain?
Ikuti kisah perjuangan Ara mencari kebahagiaan sederhana dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Sindrom Polikistik Ovarium
Aura ketegangan di tempat lain. Menyebabkan mata sendu bercampur lelehan air mata. Berita mengejutkan baru saja terkuak, membuat dua insan saling berpelukan memberikan kekuatan. Isakan tangis kesedihan terdengar menyayat hati.
"Tenanglah, Pak, Bu. Masalah yang kalian hadapi masih memiliki solusinya."
Dokter berusaha menenangkan pasiennya kali ini, karena terlihat begitu terkejut setelah melakukan pemeriksaan. Laporan yang menyatakan sang wanita mengidap salah satu penyakit penghambat kehamilan.
"Dok, jelaskan sekali lagi apa itu sindrom polikistik ovarium?'' tanya Bryant berusaha tenang agar bisa memahami situasi yang dialami Ara.
Dokter mengangguk setuju, "Sindrom polikistik ovarium atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. Kasus ini bisa dikenali dari menstruasi yang tidak teratur, tapi ibu Ara masih hamil. Akan tetapi bapak harus menjaga pola makan, menjaga emosi, serta jangan lupa olahraga."
"Dok, apakah dalam kondisi saat ini rentan mengalami keguguran?" tanya Bryant hati-hati.
"Benar, Pak. Usia kandungan sebelum duabelas minggu ke atas bisa mengalami keguguran. Jadi disarankan untuk bedrest, bukan terus berbaring ya. Buat istri Pak Bryant melakukan rangkaian program kehamilan. Seperti yoga, senam ibu hamil dan menjaga pola makan yang sehat. Apa bapak paham?'' jelas sang dokter dengan ramah.
Bryant termenung sejenak memikirkan baik dan buruknya dampak dari keputusannya nanti. Jika melanjutkan program kehamilan. Apakah Ara akan baik-baik saja? Namun, jika program kehamilan dibatalkan. Bagaimana mereka bisa mendapatkan seorang anak? Tidak mungkin juga mengadopsi anak untuk saat ini.
"Dok, lanjutkan program kehamilan kami. Aku siap melakukan semua nasehat dari dokter. Asalkan kami mendapatkan seorang anak." putus Ara membuat Bryant menatap dirinya dengan tatapan bersyukur.
Dokter menatap pasangan suami istri di depannya seperti tengah memastikan keputusan pasiennya tidak ada paksaan. "Baiklah. Suster, bawakan formulir pemeriksaan, dan minta tanda tangan bapak Bryant."
"Baik, Dok." jawab suster mengambil satu map dari atas meja, lalu menyerahkan ke Bryant agar dibubuhi tanda tangan.
Keraguan di mata pria itu, membuat Ara mengangkat kedua tangannya lalu memegang lengan Bryant. "Kita sudah datang sejauh ini, Tuan. Aku tidak akan mengingkari janjiku. Satu tanda tangan, impian Anda bisa menjadi kenyataan."
Deg!
Ucapan Ara seperti cambuk untuknya. Bagaimana bisa wanita itu sekali lagi menyentuh hati nuraninya. Ingatan dimana ancaman sebelum melakukan pernikahan tiba-tiba saja melintas, membuat pulpen di tangan terjatuh.
"Tuan? Apa yang terjadi?" tanya Ara bingung melihat reaksi Bryant yang gemetar tangannya.
Dokter masih mengamati situasi di depannya. Hingga suster mengulurkan pulpen ke Bryant sekali lagi. "Silahkan, Pak."
Bryant menatap pulpen itu seperti pisau tajam yang siap menikam. Tanpa kata, ia meletakkan map ke atas meja. Lalu berdiri, dan berjalan meninggalkan ruangan sang dokter. Bahkan Ara pun terlupakan. Ketiga wanita di dalam ruangan itu bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada Bryant.
Ceklek!
"Dok, maafkan Tuan Bryant. Saya permisi dulu." Ara bergegas menyusul Bryant sebelum ketinggalan semakin jauh.
Meskipun dokter menjawab iya. Percuma saja, toh sang pasien serta suami pasiennya sudah keluar dari ruangannya begitu saja. Suster yang terbiasa melihat adegan pasutri ragu, atau batal melakukan program kehamilan bersikap biasa tanpa memberikan satu komentar pun.
"Dok, mau ku panggilkan pasien selanjutnya?'' tanya si suster.
"Boleh, oh iya. Pasien yang baru saja keluar. Jika ingin melanjutkan program kehamilan, langsung saja ke ruangan dokter Samuel. Bukankah mereka datang atas rekomendasi tuan perfeksionis yang dinginnya kaya kulkas enam pintu." pesan dokter Kinara tanpa basa basi, membuat asistennya terkekeh pelan.
Lirikan mata dokter Kinara menghentikan kekehan sang asisten. "Sorry, Dok. Ngomong-ngomong, aku baru dapet gosip hangat soal dokter perfect....,"
"Mila, apa kamu digaji untuk bergosip?" Dokter Kinara menyela ucapan sang asisten agar tidak mengatakan yang bukan-bukan di saat jam kerja.
Mila menghentakkan kaki seperti anak kecil tengah merajuk. Memang dasarnya suster satu itu masih terlalu muda, tapi prestasi nya sudah patut diacungi jempol. Maka dari itu terpilih menjadi asisten dokter Kinara. Padahal dokter Kinara terkenal disiplin dan tidak menyukai kecerobohan, apalagi keterlambatan.
"Okay, katakan apa beritanya?" Dokter Kinara mengalah agar bibir sepuluh senti Mila kembali normal.
Bukannya menjawab. Sang asisten justru mengambil kertas daftar antrian pasien hari ini, lalu meninggalkan dokter Kinara tanpa memberikan jawaban apapun.
Astaga ngambek beneran nih anak. Huft. Nanti saja ku bujuk nya. Sekarang fokus kerja dulu, tapi apa berita terbaru si Sam dingin itu? Aiih kenapa jadi ikutan kepo gini, sih, aku!~ batin dokter Kinara seraya menepuk keningnya sendiri.
Meninggalkan ruangan dokter Kinara. Sebuah langkah menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya berusaha cepat untuk menyusul pria di depan sana yang berjalan sangat cepat. Akan tetapi tiba-tiba rasa pusing menyerangnya. Burung-burung beterbangan di atas kepala, membuat keadaan sekitar perlahan memudar.
"Kenapa semua buram?" gumamnya menahan kepalanya yang terasa berputar-putar seperti gasing.
Tubuhnya terhuyung ke belakang. Semakin lama mata terasa berat, meredup, tapi sayup-sayup terdengar suara panggilan yang menghilang bersamaan datangnya kegelapan.
"Astaga, pingsan."
Sukses bwt karyanya