Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.
Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.
Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.
Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana busuk
Aroma rumah yang menenangkan menyambut kepulangan Carmen. Setelah hari-hari yang melelahkan di rumah sakit, akhirnya ia bisa menghirup udara bebas. Samudera tak sedetik pun melepaskan genggamannya, seolah Carmen adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Dalam hati, Samudera mengukir janji suci. Ia akan menjaga wanita ini dengan seluruh jiwanya. Siapa pun yang berani menyentuh seujung kuku Carmen, harus berhadapan dengan murkanya.
Namun, ketenangan itu terusik saat Carmen mulai menyuarakan kegelisahannya soal pendidikan.
"Mas, besok aku mulai kuliah lagi ya? Banyak materi yang ketinggalan karena aku jarang masuk," ucap Carmen pelan, mencoba mencari celah di tengah sikap protektif suaminya.
Samudera menghentikan aktivitasnya, menatap Carmen dengan tatapan tegas yang sulit dibantah. "Sebaiknya kau cuti kuliah dulu sampai kau melahirkan, Carmen. Ini demi kesehatan kamu dan juga bayi kita."
Carmen menghela napas panjang. Ada gurat keberatan di wajahnya. "Tapi Mas, aku masih sanggup kok kuliah. Lagipula, mumpung perutku belum kelihatan membuncit, aku ingin menyelesaikan semester ini."
Kini giliran Samudera yang menghela napas, mencoba berkompromi dengan keras kepalanya sang istri. "Baiklah. Aku berikan waktu satu bulan. Setelah itu, aku sendiri yang akan mengajukan cuti untukmu."
Kalimat itu terdengar seperti titah raja yang tak bisa diganggu gugat. Carmen hanya bisa mengangguk pasrah, tahu bahwa berdebat lebih jauh hanya akan sia-sia.
Saat Carmen mencoba beranjak dari tempat tidur dengan gerakan pelan, Samudera langsung sigap mendekat. Matanya menyipit penuh selidik.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya protektif.
"A.. aku mau mandi, Mas. Sudah dua hari aku tidak mandi. Semenjak dirawat di rumah sakit, aku tidak berani mandi sendiri," jawab Carmen jujur.
Tanpa aba-aba dan tanpa berpikir panjang, Samudera langsung menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Carmen, membopong tubuh istrinya dalam sekali angkat.
"Mas! Lepasin! Aku belum jompo, masih bisa jalan sendiri!" protes Carmen sembari meronta kecil.
Samudera tak bergeming, langkahnya mantap menuju kamar mandi. "Biar aku yang memandikan mu," ujarnya dengan kilatan mata yang tajam namun penuh godaan.
Wajah Carmen langsung memanas. "Apa? Aku gak mau dimandikan! Aku sudah besar, Mas!"
"Dulu, waktu kecil kau tidak pernah menolak untuk dimandikan. Kenapa sekarang tidak mau?" goda Samudera, sengaja mengungkit masa lalu mereka.
Buk!
Carmen mendaratkan pukulan kecil di dada bidang suaminya. "Dulu dan sekarang beda, Mas! Tidak usah aku jelaskan pun pasti Mas Sam sudah mengerti, kan!" jawabnya dengan wajah merah padam menyerupai kepiting rebus.
Samudera mengulum senyum, merasa menang. "Apa bedanya? Perasaan sama saja."
"Mas Sam nyebelin, ih!" geram Carmen, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Samudera karena malu.
"Nyebelin apa nyenengin? Lagian aku sudah lihat semuanya. Yang beda cuma bentuk payu...."
"Stop! Hentikan, Mas Sam!" Carmen dengan sigap membekap mulut suaminya sebelum kalimat nakal itu selesai terucap.
Tawa Samudera pecah, bergema di ruangan itu. Ia tetap melangkah masuk ke dalam kamar mandi tanpa niat menurunkan istrinya. "Kita mandi sama-sama. Kebetulan aku juga belum mandi," ucapnya dengan nada enteng yang tak berdosa.
"Apa?! Dasar Om mesum!" seru Carmen, meski dalam hati ada desiran hangat yang tak bisa ia pungkiri.
Tawa Samudera menggema lagi di dalam kamar mandi yang luas itu, mengabaikan protes keras dari istrinya. Di balik sifatnya yang otoriter, momen-momen seperti inilah yang membuat Samudera merasa benar-benar hidup. Ia meletakkan Carmen dengan hati-hati di tepi bathtub yang sudah mulai terisi air hangat.
"Mas! Keluar tidak?" Carmen mencoba menutupi wajahnya yang panas dengan kedua tangan.
Samudera justru berlutut di depan Carmen, tangannya terulur untuk membuka kancing piyama yang dikenakan istrinya. Gerakannya sangat lembut, seolah-olah sedang menyentuh porselen yang sangat rapuh.
"Diamlah, Sayang. Aku tidak akan macam-macam," bisik Samudera, suaranya kini merendah, penuh dengan ketulusan yang menenangkan. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak terpeleset. Kau masih lemas."
Carmen akhirnya menyerah. Ia membiarkan suaminya membantu melepaskan pakaiannya. Meski sudah sah menjadi suami istri, tatapan Samudera yang intens selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak karuan. Saat air hangat menyentuh kulitnya, Carmen memejamkan mata, menikmati sensasi rileks yang merambati tubuhnya.
Samudera mengambil spons, menuangkan sabun aroma terapi, dan mulai menggosok punggung Carmen dengan gerakan memutar yang memanjakan.
"Nyaman?" tanya Samudera lembut.
"Hmm," gumam Carmen singkat. "Tapi tetap saja, Mas Sam itu mesum."
"Mesum pada istri sendiri itu ibadah, Carmen," jawab Samudera santai sambil mengecup bahu istrinya yang basah.
Sementara suasana hangat menyelimuti pasangan itu, di sebuah kafe remang-remang tak jauh dari pusat kota, Farrel duduk berhadapan dengan Helena. Di meja mereka, dua gelas kopi yang sudah mendingin menjadi saksi bisu kesepakatan gelap yang sedang dibangun.
"Jadi, bagaimana?" Helena menopang dagunya, menatap Farrel dengan senyum penuh kemenangan. "Kau sudah memikirkannya?"
Farrel mengepalkan tinjunya di atas meja. Bayangan Carmen yang pingsan karena tekanan Samudera terus menghantuinya. "Samudera tidak pantas untuknya. Dia hanya membuat Carmen tertekan dengan segala aturannya."
"Tepat sekali," sahut Helena cepat. "Samudera adalah pria yang terobsesi dengan kontrol. Dia akan mengurung burung merpati seindah Carmen dalam sangkar emas sampai burung itu lupa cara terbang. Jika kau mencintainya, kau harus membebaskannya."
Farrel menatap Helena tajam. "Lalu apa rencanamu? Aku tidak mau Carmen terluka."
Helena tertawa kecil, suara tawanya terdengar licik. "Oh, tenang saja. Kita tidak akan menyentuh seujung rambutnya pun. Kita hanya perlu menciptakan keraguan. Jika Carmen mulai tidak percaya pada Samudera, dan Samudera mulai meragukan kesetiaan Carmen karena kehadiranmu... pernikahan mereka akan hancur dengan sendirinya dari dalam."
"Aku akan memberimu akses ke ruangan pribadi di kampus, tempatnya Sam dan Carmen, kau tahu bahwa selama di kampus, mereka berdua memiliki ruangan rahasia, hanya satu orang saja yang tahu tempat itu." lanjut Helena sambil menyodorkan sebuah kunci berbentuk kartu. "Mulailah menjadi penyusup, Farrel. Dan jadilah pahlawan saat suaminya menjadi monster."
Farrel mengambil kartu itu. Matanya memancarkan tekad yang salah arah. "Aku akan membawanya kembali."
keesokan harinya
Sinar matahari masuk melalui celah gorden kamar mereka. Carmen sudah rapi dengan pakaian kuliahnya yang longgar namun tetap modis. Ia sedang mematut diri di depan cermin, saat Samudera masuk dengan setelan jas kerjanya yang sempurna.
"Sudah siap?" tanya Samudera sambil merapikan jam tangannya.
"Sudah, Mas. Tapi Mas benar-benar akan mengantarku?"
"Tentu saja. Dan ingat janji kita," Samudera berjalan mendekat, memeluk pinggang Carmen dari belakang dan menatap pantulan mereka di cermin. "Hanya satu bulan. Setelah itu, kau harus istirahat di rumah sampai persalinan. Aku akan memanggil dosen privat jika kau memang sangat ingin belajar."
Carmen mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku tahu."
Samudera mengecup kening istrinya lama. "Aku melakukan ini karena aku mencintaimu, Carmen. Aku tidak sanggup melihatmu terbaring lemah di rumah sakit lagi."
Carmen tersenyum, merasa sedikit bersalah karena sempat menganggap suaminya terlalu mengekang. Namun, di balik senyum itu, ada perasaan tak enak yang menggelayut di hatinya, seolah-olah ketenangan ini hanyalah awal dari badai yang lebih besar.
Bersambung...
thankyou thor /Pray//Pray//Pray//Heart//Heart//Heart/
ternyata diam diam mencintai Samudra
makasih kaka cerita nya, smoga sehat selalu dn tetap berkaya 🤗🥰😍❤️❤️❤️❤️
makasih ka El cerita nyaa, walaupun sempet esmosih tp om Sam berhasil bwt aq happy 🤭...meskipun bab nya pendek tp tidak mengurangi keindahan cerita nya kaa, aq suka buanngeeet 👍👍😍❤️❤️
novel ini membuktikan pikiran picik wanita pemuja pebinor
author dan reader sama saja
lihat pelakor dilaknat habis habisan sedangkan pebinor diperlakukan lembut
para pelakor dibinasakan dan pebinor bebas begitu saja (pikiran picik author tidak tega menghukum pebinor)
koment reader2 membuktikan wanita2 munafik
*ketika ada pelakor mereka akan koment laknat habis habisan giliran pebinor Farrel mereka tidak berani koment pedas, bahkan mereka membela kelakuan Farrel
lelaki pemuja pelakor itu lelaki munafik
wanita pemuka pebinor itu wanita munafik
dan novel karya author ini sangat membuktikan author nya pemuja pebinor
*pelakor dilaknat dan dibinasakan
*sedangkan Farrel jelas ikut andil dalam kejahatan itu bebas begitu saja
Thor selama kau melaknat pelakor tapi kau begitu lembut pada pebinor itu saja kau menunjukan sifat aslimu pemuja pebinor
dan pemuja pebinor dan pemuja pelamor itu adalah wanita atau lelaki jablay yang kesetiaan diragukan