NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VION MAUNYA MAKAN MIE AYAM

Detik kemudian, pintu kamar besar itu terbuka dari luar. meiden melangkah masuk dengan kepala menunduk, membawa nampan perak yang mengeluarkan aroma rempah menyengat.

​"Yang Mulia, ini menu makan malam Anda," ucapnya lembut setelah meletakkan nampan tersebut di atas meja kayu yang berada tepat di depan vion.

​Kedua alis vion bertaut rapat. Ia duduk di kursi kecil itu, menatap nanar isi mangkuk keramik berwarna cokelat yang dihiasi lukisan kijang di sisinya.

Cairan di dalamnya berwarna keruh, dengan potongan-potongan aneh yang mengapung di sana. Dengan ragu, tangannya terulur mengambil sumpit kayu yang tersedia.

​"Ini makanan apa? Kok baunya kayak jamu begini?" tanyanya dengan nada heran yang sangat kentara.

​"Itu sup ginseng pilihan, Yang Mulia. Baginda Kaisar sendiri yang memerintahkan dapur istana untuk menyajikannya agar tenaga Anda segera pulih," jawab meiden dengan patuh.

​Vion menggunakan sumpitnya untuk mengangkat sebuah akar panjang dan keriput dari dalam mangkuk. Ia membolak-balikkan benda itu, memastikan apakah itu benar-benar akar tanaman atau kaki serangga raksasa.

​"Cckk! Makanan apa ini?!" keluh vion sambil menjatuhkan kembali akar itu ke dalam mangkuk hingga airnya menciprat.

"Gue lagi laper, butuh nasi padang,mie ayam atau ayam geprek, malah dikasih rebusan kayu. Lo mau gue jadi pohon setelah makan ini?"

​meiden terdiam, wajahnya pucat karena tidak mengerti satu kata pun dari keluhan "ayam geprek" "nasi padang" "mie ayam" yang diucapkan pangerannya.

vion menghempaskan bokongnya di tepi ranjang yang empuk namun terasa dingin itu. Matanya menatap tajam, menyelidiki sosok wanita mungil yang sejak tadi sibuk melayaninya. Wanita yang seharusnya menjadi orang terdekat bagi putra mahkota yang raganya kini ia tempati.

​"Nama lo siapa?" tanyanya dengan nada sangat santai, khas anak tongkrongan.

​meiden perlahan mengangkat kepalanya, wajah manisnya memucat seketika, menyiratkan ketakutan yang mendalam.

 "A-ada... ada yang bisa hamba bantu, Yang Mulia?" sahutnya terbata. Tentu saja, telinganya sama sekali tidak mengenali struktur bahasa "gaul" yang baru saja keluar dari mulut vion.

​vion mendesis pelan sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia baru sadar kalau dirinya sedang terjebak di dunia yang benar-benar kolot.

"Maksud gue... uumm, kau. Ya, kau. Namamu siapa?" ia mengulangi pertanyaannya, mencoba menggunakan intonasi yang sedikit lebih formal.

​Deg!

​Kedua mata meiden membulat sempurna. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menatap wajah pangerannya dengan tatapan tak percaya sekaligus hancur.

​Pangeran alaric adalah lelaki yang menjadi poros hidupnya. Dialah orang yang selama ini ia prioritaskan di atas segalanya. Bahkan, meiden telah menyerahkan seluruh kehormatan dan kesuciannya kepada sang pangeran. Selama setahun terakhir, dialah yang hampir setiap malam menjadi penghangat ranjang sang putra mahkota di balik tirai sutra ini.

​Bagaimana mungkin pria yang pernah membisikkan kata-kata manis di telinganya itu kini bertanya dengan wajah polos, 'siapa namamu?'

​"Yang Mulia... apakah... apakah hamba melakukan kesalahan besar?" suara meiden mulai bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Hamba meiden, Yang Mulia. rose meiden... wanita yang selalu Anda panggil 'Rembulan Kecil' milik Anda. Mengapa Anda bertanya seolah hamba adalah orang asing?"

​vion langsung terdiam. Mampus gue, batinnya. Ternyata ini cewek bukan sekadar pembantu biasa.

Selama beberapa menit, keheningan yang menyesakkan menyelimuti kamar itu. Keduanya hanya diam dengan mata yang saling beradu—vion yang penasaran dan meiden yang penuh luka.

Secara perlahan, seolah digerakkan oleh insting, satu tangan vion terulur menyentuh pipi meiden yang putih bersih. Kulitnya terasa sangat halus, sehalus sutra.

​Vion mengamati wajah itu dari dekat. Benar-benar cantik. Mata yang lentik dengan bulu mata lebat, hidung bangir yang proporsional, serta bibir tipis berwarna merah muda alami. Dagunya lancip, membingkai wajah itu dengan sempurna.

​Namun, saat matanya turun lebih rendah, vion tersentak. Bentuk tubuh pelayan ini benar-benar seksi di balik jubah tipisnya, dengan ukuran dada yang jauh lebih berisi daripada milik putri—mantan pacarnya di Jakarta yang selalu ia bangga-banggakan.

​Vion spontan menelan ludah dengan susah payah ketika tanpa sengaja tatapannya menangkap lekukan belahan dada meiden yang sedikit terekspos saat wanita itu membungkuk di hadapannya. Hawa panas mendadak naik ke wajahnya.

​Sadar bahwa ia mulai berpikiran yang tidak-tidak, vion segera memalingkan wajah dengan kasar. Ia menarik kembali tangannya yang tadi sempat mengusap bibir tipis meiden seolah baru saja tersengat listrik.

​"Ke... keluarlah," perintah vion dengan suara yang sedikit parau, mencoba mengusir kecanggungan yang membakar dirinya.

​"Tapi, Yang Mulia... supnya belum Anda habiskan," bisik meiden dengan suara serak, masih tak percaya pangerannya berubah menjadi sedingin ini setelah biasanya mereka begitu hangat.

​"Gue bilang keluar ya keluar!" sentak vion, lebih karena ia takut tidak bisa menahan dirinya jika wanita itu tetap di sana.

"Aku butuh waktu sendiri. Cepat!"

​meiden tersentak, ia segera bersujud sekali lagi sebelum berdiri dengan langkah lunglai. Dengan sisa air mata di pipi, ia memungut nampan dan melangkah keluar, meninggalkan vion yang kini memegangi dadanya yang berdegup kencang.

​"Sial," umpat vion sambil menjatuhkan diri ke bantal.

"Ternyata jadi pangeran itu ujiannya berat banget, mana ceweknya spek bidadari begini lagi."

Untungnya, luka tusuk dari kejadian sebulan lalu sudah benar-benar mengering. vion meringis sedikit saat air menyentuh kulitnya, namun rasa perihnya sudah jauh berkurang. Jangan harap ada sabun cair beraroma strawberry atau sabun batang yang menghasilkan busa melimpah. Di sini, vion harus puas mandi dengan air hangat yang dicampur s**u putih kental dan berbagai macam rempah aromatik racikan tabib yang aromanya mirip rebusan jamu.

​"Handuk!" teriaknya, suaranya bergema di ruangan yang dipenuhi uap air panas tersebut.

​Pintu kayu bergeser pelan. meiden melangkah masuk ke area pemandian dengan langkah yang sangat halus. Ia membungkukkan badan sejenak, wajahnya masih tampak muram dengan sisa-sisa kesedihan di matanya. Ia mengulurkan sebuah kain panjang berbahan linen kasar namun berkualitas tinggi berwarna biru tua.

​vion menghela napas panjang, ada rasa bosan sekaligus kikuk yang menyergapnya. Ia merasa malas melihat wajah meiden yang seolah selalu membayanginya hampir setiap jam sejak ia terbangun di tubuh ini.

​"Keluar. Tinggalkan aku sendiri," ucap vion dengan nada datar, berusaha tidak menatap ke arah pelayan yang pernah memiliki hubungan spesial dengan pemilik asli raga ini.

Sekali lagi, mata Meiden—pelayan setia itu—terbelalak lebar. Ia tampak sangat terkejut, seolah pengusiran ini adalah penghinaan paling menyakitkan yang pernah ia terima.

"Tapi, Your Highness—"

​"Aku bisa memakai pakaianku sendiri. Pergilah," potong vion tegas tanpa sudi menoleh ke arahnya. Ia terus menatap pantulan air di dalam bak kayu, menghindari tatapan Meiden yang menuntut penjelasan.

​Meiden menarik napas panjang, lalu membungkuk hormat dengan gerakan kaku yang memperlihatkan kekecewaannya.

"Baik, Your Highness." Ia melangkah mundur perlahan, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kayu ek yang berat.

​Setelah yakin suara langkah kaki Meiden menjauh dan ia benar-benar sendirian di dalam ruangan yang lembap oleh uap itu, vion segera beranjak dari air. Ia melangkah keluar dengan tubuh yang masih basah, lalu membungkus raga telanjangnya dengan kain biru tua tadi.

​vion mengembuskan napas panjang, menatap lesu ke arah jubah yang telah disiapkan di atas meja rias marmer. Jubah itu adalah mahakarya abad pertengahan; kain beludru hitam yang berat dengan jahitan yang sangat rapi dan presisi.

​Di bagian kerah dan pergelangan tangannya, terdapat bordiran benang emas berbentuk naga dan lambang kerajaan yang sangat mewah—khas pakaian anggota keluarga penguasa benua ini.

Meskipun terlihat sangat gagah, bagi vion, mengenakan baju seberat dan serumit itu sendirian adalah sebuah tantangan besar.

​"Gila, baju begini kancingnya di mana semua coba?" gerutunya frustrasi sambil membolak-balik kain mahal tersebut.

"Mewah sih mewah, tapi kalau mau ke toilet pasti ribetnya setengah mati."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!