Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Pindah rumah.
Pindah rumah seharusnya menjadi momen haru.
Bagi Lian, itu terasa seperti… pindah ke planet lain.
Motor berhenti di depan sebuah rumah sederhana satu lantai. Catnya krem, pagarnya rapi, halaman kecil dengan satu pohon mangga yang kelihatan rajin disiram.
Lian turun dari motor.
Menatap rumah itu.
Lalu menatap Haikal.
Lalu menatap rumah itu lagi.
“…ini?” tanyanya.
“Iya,” jawab Haikal singkat.
Hening.
“Oh,” Lian mengangguk. “Aku kira markas.”
Haikal menoleh.
“…Kenapa markas?”
“Kan tentara.”
Haikal membuka pagar tanpa komentar.
Lian nyengir kecil.
Di dalam rumah, suasananya rapi berlebihan. Tidak ada barang berserakan. Tidak ada sepatu nyasar. Bahkan sandal tertata sejajar seperti sedang inspeksi.
Lian melepas sepatunya… lalu diam.
Ia melihat sandalnya miring satu sentimeter.
Lian membetulkan.
“Tekanan batin dimulai,” gumamnya.
Haikal berhenti.
“Kamu ngomong apa?”
“Nggak,” jawab Lian cepat. “Ngomong sama setan.”
Haikal menatap sekeliling.
“…Di mana?”
Lian menutup mulut, menahan tawa.
Haikal membuka pintu kamar utama.
“Ini kamar kita.”
Lian berhenti total.
“…Kita?”
“Iya.”
Lian masuk pelan. Kamarnya luas, rapi, dengan satu ranjang besar yang terlihat terlalu siap untuk dua orang yang bahkan belum tahu harus duduk di sisi mana.
“…Oke,” kata Lian pelan. “Aku duduk di mana?”
“Terserah.”
Lian duduk di ujung ranjang.
Ujung sekali.
Kasurnya keras.
“Keras,” komentarnya.
“Itu kasur ortopedi.”
“Oh.” Lian mengangguk. “Berarti kalau aku mimpi buruk, tulang punggungku tetap sehat.”
Haikal tidak menjawab.
Tapi sudut bibirnya bergerak. Sedikit.
Malam pertama.
Mereka makan malam berhadapan, jarak aman meski sudah sah.
“Ini ayam?” tanya Lian.
“Iya.”
“Kering.”
“Itu dipanggang.”
“Berhasil memanggang semua emosi di dalamnya.”
“Enak.”
“Kalau kamu bahagia, aku ikut bahagia.”
Sendok jatuh.
Mereka menunduk bersamaan.
Tok.
“Aduh,” desis Lian.
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Refleks.”
Sekarang giliran Lian menahan tawa.
Saat malam semakin larut…
Lian berdiri di sisi ranjang, menatap bantal.
“Haikal.”
“Iya?”
“Aku… tidur di sisi mana?”
Haikal menunjuk satu sisi.
“Sebelah sana.”
Lian mengangguk.
“Oke.”
Ia naik ke ranjang. Menarik selimut. Sangat rapi. Sangat sopan. Sangat tidak wajar untuk pasangan sah.
Lampu dimatikan.
Gelap.
Hening.
Lian membuka mata.
“…Haikal?”
“Iya.”
“Kamu nggak dengkur, kan?”
“Tidak.”
“Oh. Kecewa dikit.”
Haikal menghela napas pelan.
Beberapa menit kemudian, Lian bergerak.
Kasurnya bunyi sedikit.
“Maaf,” bisiknya refleks.
“Kamu mau ke mana?” tanya Haikal.
“Nggak ke mana-mana.”
“Terus?”
“Aku lupa… kita tidur sekamar.”
Hening.
“…Oh,” jawab Haikal.
Tengah malam.
Lian bangun panik.
“Haikal.”
“Iya?” Haikal langsung terjaga.
“Aku mimpi buruk.”
Haikal menoleh.
“Kamu mau lampu dinyalain?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Cuma mau bilang.”
“…Oke.”
Beberapa detik hening.
“Haikal?”
“Iya?”
“Makasih ya… nggak nanya kenapa aku aneh"
Haikal diam sejenak.
“Semua orang aneh,” katanya datar. “Cuma beda versi”
Lian tersenyum kecil di gelap.
Dua orang dewasa.
Satu ranjang.
Banyak keheningan canggung.
Belum cinta.
Belum nyaman sepenuhnya.
Tapi malam itu—
untuk pertama kalinya—
Lian tidak merasa sendirian saat memejamkan mata.
Dan Haikal…
menyadari bahwa berbagi ruang
ternyata tidak sesulit yang ia kira.
___
Pukul 02.00 pagi.
Rumah itu sunyi.
Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada angin. Bahkan jam dinding seperti berdetak dengan sopan.
Haikal terbangun.
Bukan karena mimpi.
Bukan karena suara aneh.
Melainkan karena…
sesuatu berat menekan kakinya.
Ia membuka mata perlahan.
Gelap.
Namun indra militernya langsung aktif.
Ada objek tak dikenal.
Haikal menegangkan tubuhnya sedikit, lalu menoleh ke bawah.
Dan berhenti bernapas.
Lian.
Istrinya.
Dalam posisi yang sama sekali tidak masuk akal secara anatomi maupun logika rumah tangga.
Kepala Lian… berada di kaki Haikal.
Rambutnya menutupi betisnya.
Satu tangannya memeluk betis Haikal erat-erat seperti guling hidup.
Kaki Lian sendiri…
satu di atas bantal,
satu lagi hampir jatuh dari ranjang.
Dan yang paling fatal—
Lian mendengkur.
Keras.
“Khrrrr… khrrr….”
Haikal menatap langit-langit.
Diam.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Ini mimpi, pikirnya.
Ini pasti simulasi kelelahan.
Namun lalu—
“Hmm… ayam goreng…” gumam Lian sambil ngigau.
Tangannya mengencang.
Haikal tersentak kecil.
Negatif. Ini nyata.
Ia menoleh lagi.
Wajah Lian terlihat damai. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya mengerucut seperti sedang mempertimbangkan pilihan hidup antara paha atas atau dada ayam.
“Jangan diambil… punyaku…” gumamnya lagi.
Haikal menutup mata.
Menghela napas panjang.
Ia mencoba menarik kakinya pelan.
Pelan sekali.
Sangat pelan.
Namun baru bergeser satu sentimeter—
Lian bergumam kesal.
“Eh… jangan…”
Tangannya justru makin erat memeluk betis Haikal.
Kakinya naik sedikit.
Kepalanya bergeser.
Sekarang…
kepala Lian tepat di paha Haikal.
Haikal membeku.
Kaku.
Tidak berani bergerak.
Tenang, batinnya.
Ini bukan situasi berbahaya.
Ini hanya… istrinya tidur sambil kerasukan ayam goreng.
Ia menatap jam di meja samping.
02.07.
“Khrrr… sambalnya banyakin…” lanjut Lian.
Haikal memijat pelipisnya pelan.
Ia menoleh ke samping ranjang—berpikir untuk bangun—
tapi satu kaki Haikal terkunci oleh pelukan Lian,
sementara kaki lainnya terjepit selimut.
Terjebak.
Haikal mencoba strategi kedua: menggeser bantal.
Tangannya meraba-raba pelan.
Begitu bantal ditarik sedikit—
Lian menggeram kecil.
“Hmm… jangan…”
Ia berguling.
Dan kini—
kepala Lian sepenuhnya di perut Haikal.
Satu kaki Lian menindih paha Haikal.
Tangannya masih memeluk betis.
Dengkurnya berubah jadi lebih pelan, tapi ritmis.
Haikal menatap kosong ke langit-langit.
Ya Allah, doanya datar.
Ini ujian jenis apa lagi ini.
Ia tidak berani mendorong.
Tidak tega membangunkan.
Dan jujur saja—
ia tidak tahu harus berbuat apa.
Haikal akhirnya hanya… diam.
Menjadi patung.
Beberapa menit berlalu.
Dengkuran Lian tiba-tiba berhenti.
Haikal menegang.
Lian mengerjap.
Mata setengah terbuka.
“…Haikal?” gumamnya dengan suara super ngantuk.
“Iya,” jawab Haikal refleks.
Lian menatap sekeliling.
Menatap wajah Haikal yang terlalu dekat.
Menatap posisi tubuhnya sendiri.
Menatap tangan yang memeluk kaki Haikal.
Lalu—
“…eh.”
Hening.
Tiga detik.
Empat detik.
“AKU MINTA MAAF—” Lian langsung bergerak panik.
Ia terguling ke sisi ranjang, selimut terseret, rambut berantakan.
“Aku lupa!” katanya setengah berbisik panik. “Aku lupa aku udah nikah! Aku biasanya tidur muter-muter!”
Haikal masih diam.
“…Kamu ngorok,” katanya akhirnya.
Lian menutup wajah dengan bantal.
“Keras, ya?”
“Cukup.”
“Cukup apa?”
“…Cukup menggetarkan iman.”
Lian terdiam.
Lalu tertawa pelan.
“Maaf,” katanya jujur. “Aku nggak sengaja.”
Haikal mengangguk.
“Aku tahu.”
Hening lagi.
“Haikal?”
“Iya.”
“Makasih nggak bangunin aku.”
“Kamu kelihatan capek.”
Lian diam.
“Oh,” katanya pelan. “Iya.”
Ia membalik badan, membelakangi Haikal.
Beberapa detik kemudian—
Dengkuran kecil terdengar lagi.
Lebih pelan.
Haikal menatap langit-langit.
Kakinya masih sedikit mati rasa.
Tapi entah kenapa…
sudut bibirnya terangkat tipis.
Sangat tipis.
Jam menunjukkan 02.34 pagi.
Dan malam itu,
ranjang itu tidak lagi terasa seperti wilayah asing.
Masih canggung.
Masih absurd.
Namun perlahan—
rumah itu mulai terasa… hidup.
Kalau mau lanjut: