NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diintrogasi Part 1

"Kenzo ke sininya kapan?"

Seketika aku langsung menghentikan kegiatanku yang tadinya sedang memotong wortel untuk bakwan jagung. Aku menelan ludahku dengan gugup. Duh. Gimana caranya ngomong sama Ibu ya, kalau aku dan Kenzo sudah putus.

"Loh, kenapa malah diem?" tanya Ibu heran.

Aku mengigit bibir bawahku takut. Takut kalau hubungan kami akan kembali memanas jika Ibu tahu hubunganku dan juga Kenzo sudah berakhir. Sekali pun Ibu pernah memintaku untuk memutuskan Kenzo dan mencari pria lain, tapi aku tahu saat itu Ibu tidak sedang bersungguh-sungguh.

"Lagi berantem ya?" tebak Ibu disela kekehannya. "Jadi pulang ke Semarang gara-gara lagi berantem sama Kenzo?" imbuh Ibu, pura-pura memasang wajah kagetnya.

"Enggak." Aku kembali melanjutkan kegiatanku memotong wortel yang tadi sempat tertunda.

"Terus opo?"

"Kami putus," lirihku sangat pelan. Bahkan saking pelannya, mungkin Ibu tidak dengar kalimatku barusan.

"Opo, nduk? Putus?"

Oh, sepertinya aku salah. Ibu masih bisa mendengarku karena jarak kami yang berdekatan. Mampuslah, aku! Apa yang harus ku katakan sekarang?

"Siapa yang putus?"

Waduh. Itu suara Bapak. Bukannya tadi Bapak bilang mau lihat sawah. Kok sekarang udah ada di rumah aja.

Aku meringis menatap Ibu dan Bapak secara bergantian. Bapak tampak bingung, mungkin melihat wajah cemasku dan wajah Ibu yang terlihat sedikit tak bersahabat.

"Ada apa, to? Kok kaya serius banget? Kamu salah masukin bumbu apa gimana, nduk?" tanya Bapak masih dengan ekspresi bingungnya.

"Bapakmu tanya itu, La. Kenapa ndak dijawab?"

Hoho, kode 191. Nada suara Ibu mulai ketus.

"Anu.... itu.... Pak." Aku masih bingung harus mulai dari mana.

"Jadi kamu beneran putus sama Kenzo?" tembak Ibu tak sabaran.

Raut wajahnya terlihat jelas kalau menyimpan amarah. Sementara wajah Bapak terlihat sangat kaget. Kedua bola matanya menatapku dan juga Ibu secara bergantian. Ekspresinya terlihat seperti sedang bertanya 'ini-apa-yang-sebenarnya-terjadi?'

Dengan pasrah, akhirnya aku mengangguk pelan, sangat pelan. Kepalaku pun kini tertunduk, wortel yang kini tinggal setengah pun masih ku pegang erat, tapi tidak ku lanjutkan memotongnya.

"Alasannya?" tanya Ibu.

Bapak terlihat diam saja. Tapi aku tahu kalau sebenarnya beliau sangat penasaran. Ekspresinya pun terlihat sangat menanti jawabanku.

"Kayaknya kami nggak cocok."

Sepertinya aku memberikan jawaban yang salah.

"Nggak cocok kamu bilang?" bentak Ibu murka. "Setelah 6 tahun kamu lagi bilang enggak cocok. Wingi-wingi kowe nang ndi, Nduk?"

Aku memilih diam. Daripada salah ngomong. Dapat ku rasakan tatapan tak percaya dari Bapak. Aku tahu, Bapak sama kecewanya dengan Ibu. Atau mungkin saja sama marahnya dengan Ibu.

"Ora meneng wae, nduk. Jawab Ibu!"

Bapak menghela nafas. "Uwes to, Bu. Biar Bapak yang bicara sama Qilla. Ibu lanjut masak saja." Bapak menatapku. "Ayo, nduk, Bapak pengen bicara," ajaknya kemudian.

"Ndak bisa, Ibu juga pengen bicara," tolak Ibu tidak setuju.

"Loh, kalau yang bicara Ibu, terus yang masak siapa? Bapak gitu?"

Ibu diam sebentar. "Kita beli di luar," jawabnya cepat.

"Lalu semua ini mau Ibu apakan?"

"Ya dimasak to, Pak. Tapi nanti, setelah--"

"Uwes, uwes, Ibu mending masak aja dulu. Kalau sudah selesai masaknya baru bicara sama Qilla," potong Bapak tak sabaran. "Ayo, nduk!"

Aku mengangguk lalu meletakkan wortel yang tadi ku pegang.  Kemudian mengekor di belakang Bapak.

Kita bicara di ruang santai yang ada di lantai atas. Bapak duduk di sofa single, sementara aku duduk di sofa panjang.

"Bener udah putus?" tanya Bapak.

Aku hanya mengangguk sebagai tanda jawaban.

"Sudah dibicarain baik-baik?"

"Sudah, Pak."

"Kapan?"

"Dua minggu yang lalu."

Bapak menghela nafas sembari mengusap wajahnya, kemudian menatapku lagi. Tatapannya lembut, tidak ada raut mengintimidasi sama sekali, meski begitu aku tetap deg-degan luar biasa.

"Boleh Bapak tahu apa masalahnya?"

"Maaf, Pak. Aku sama Kenzo sepakat buat nge-keep masalah yang kemarin kami hadapi, untuk berdua saja. Tapi yang jelas kami pisah baik-baik kok. Mungkin memang belum jodohnya."

Aku kembali menundukkan kepalaku setelah menyelesaikan kalimatku. Dapat ku dengar dengan jelas suara Bapak yang menghela nafas sebelum bersuara.

"Ya sudah. Kalau memang begitu kesepakatannya, Bapak coba untuk menghargai keputusan kalian. Yang penting kalian bahagia meski sudah tidak bersama lagi," kata Bapak bijak.

Aku tersenyum sambil mengangguk.

"Maafin Qilla ya, Pak. Belum bisa ngasih mantu cepet," sesalku merasa bersalah.

Bapak mengangguk maklum. "Ndak papa. Bapak sama Ibu masih sehat, kamu nggak usah buru-buru. Nikmati dulu hidupmu yang sekarang."

Aku kembali mengangguk, berpikir sejenak lalu menatap Bapak ragu.

"Tapi, Pak, gimana Qilla jelasin ke Ibu?" tanyaku khawatir.

"Nggak usah kamu pikirin, masalah Ibu biar jadi urusan Bapak. Nanti Bapak ngomong sama Ibu."

Aku mengangguk pasrah sambil tersenyum kecut. Sedikit kecewa dengan diriku sendiri, karena setiap ada masalah pasti Bapak yang membereskan. Bukankah aku terlihat seperti anak yang buruk? Bahkan modalku untuk mendirikan butik yang jadi kebanggaanku pun hasil bantuan Bapak, meski aku sudah mengganti setengah dana yang Bapak berikan, itu pun dengan paksaan karena Bapak sempat menolak pas aku ingin mengganti uangnya.

"Nduk," panggil Bapak membuatku tersadar dari lamunanku.

Eh, aku barusan melamun ya?

"Kok malah ngalamun? Udah nggak usah terlalu dipikirin. Sekarang kamu mandi sana!"

Aku meringis sungkan lalu menggeleng. "Aku turun saja, Pak, bantuin Ibu."

"Jangan!" larang Bapak. "Emosi Ibu-mu masih belum stabil, nanti malah nggak jadi masak. Nggak jadi makan Bapak. Uwes sana mandi wae."

"Iya, Pak."

Aku mengangguk patuh, kemudian langsung bergegas menuju kamar meski dengan sedikit tidak enak sama Ibu. Sepertinya aku mulai menyesal karena terlalu jujur. Padahal harusnya aku cari waktu yang tepat dulu.

*****

"Ibu mau ngomong."

Aku nyaris saja menjatuhkan ponselku karena suara Ibu yang tiba-tiba. Aku baru selesai mandi dan hendak mengeringkan rambutku, namun ponselku berbunyi, jadi aku memilih untuk membuka pesan yang masuk dan ternyata dari Sandra yang menanyakan kapan aku pulang.

Astaga, aku bahkan baru sampai kemarin siang dan sekarang masih pagi, bisa diomeli Ibu kalau aku sudah akan kembali ke Semarang lagi. Jadi karena pesan yang tidak penting itu, aku memutuskan langsung menutup aplikasi WhatsApp-ku, lalu meletakkan ponselku di tepi ranjang.

"Sekarang, Bu?"

Ibu mengangguk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ekspresinya sulit ku tebak, meski sedikit bisa kutebak kalau Ibu akan marah.

"Siapa yang mutusin?" tanya Ibu to the point.

Aku sedikit kaget. Bukan karena pertanyaan Ibu yang to the point, tapi lebih ke nada bicaranya yang terdengar tenang.

"Keputusan bersama, Bu. Nggak ada yang diputusin atau pun mutusin."

"Alasannya?"

Aku memilih diam sejenak, tidak berani kalau langsung menjawab.

"Mungkin memang belum jodohnya, Bu," jawabku pelan.

"Kowe ki kelingan umur-mu saiki piro ora to, nduk?"

Aku memilih diam dan tak mejawab.

"Lali?"

"Mboten, Bu."

"Terus kenapa malah putus? Harusnya umur kalian itu udah saatnya dibawa ke pelaminan bukannya malah bubaran. Kenapa? Karena kamu nggak mau diajak nikah? Iya?"

"IYA. Ibu puas?"

Oke, aku tahu kalau harusnya aku tidak perlu ikut tersulut emosinya. Tapi entah kenapa egoku tersentil dan membuatku harus menaikkan nada bicaraku sedikit.

"Jadi Kenzo yang mutusian karena nggak tahan sama kamu?"

Aku mendesah frustasi. Bagaimana aku akan menjelaskan kepada Ibu kalau pikiran Ibu selalu begitu.

"Terserah Ibu lah, mau mikir yang gimana. Yang jelas aku sama Kenzo udah nggak bisa bareng dan itu keputusan bersama. Titik."

"Terus kamu nggak mau nikah gitu?"

Astaga. Kenapa Ibu mikirnya kejauhan sekali sih. Dalam sebuah hubungankan nggak selalu berakhir bersama, banyak yang gagal juga kan meski mereka sudah bersama bertahun-tahun.

"Astaghfirullah, Bu. Qilla akan menikah, Bu, pasti menikah. Meski Qilla nggak tahu kapan itu, tapi yang jelas Qilla akan menikah kelak. Kasih Qilla--"

"Opo? Kowe njalok opo karo Ibumu?"

Aku memijit pelipisku yang terasa berdenyut kencang. Serius emosiku nyaris meledak saat ini juga. Aku menghela nafas panjang.

"Waktu, Bu. Qilla butuh waktu."

"Masih kurang waktu yang Ibu kasih kemarin?"

Astaga. Aku kehilangan kata untuk membalas pertanyaan Ibu.

"Ibu!"

Baik aku dan juga Ibu sama-sama kaget mendengar suara lantang Bapak. Bagaimana pun Bapak tipekal orang yang jarang menaikkan nada bicaranya meski sedang emosi. Didengar dari suara lantangnya tadi sepertinya Bapak cukup emosi.

"Astaghfirullah, Bu, uwes to. Percuma kowe marah-marah ngono kuwi. Ora ono gunane." Suara Bapak terdengar sangat putus asa.

"Pak, aku--"

"Uwes. Anakmu iki dudu bocah neh. Wes isoh mikir, Bu, wes ngerti salah karo bener."

Ibu menghela nafas, menatapku sekilas lalu pergi begitu saja. Aku bernafas lega, perginya Ibu itu bukan pertanda buruk. Kemungkinan besar Ibu sudah memahami kondisiku, hanya saja Ibu memang orangnya agak gengsian. Jadi aku yang harus meminta maaf, tidak peduli siapa yang salah lebih dahulu.

"Maafin Ibumu ya, nduk."

Aku tersenyum sambil menggeleng. "Enggak, Pak, Ibu nggak salah."

Bapak mengangguk. "Ya sudah, Bapak tak keluar. Kamu lanjutin lagi apa yang mau kamu lakuin tadi."

Aku mengangguk mempersilahkan. Huh, diintrogasi bergilir lumayan menguras tenaga ya, ternyata.

Tbc,

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!