NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: BELAJAR DARI YANG TERBAIK

Pagi itu Aira datang sebelum matahari benar-benar naik.

Pukul enam tiga puluh.

Lantai eksekutif masih lengang. Lampu otomatis menyala satu per satu saat ia melangkah masuk. Suara sepatu haknya terdengar jelas di lorong yang biasanya dipenuhi langkah terburu-buru dan percakapan penuh kepentingan.

Hari ini sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, sunyi itu tidak terasa menakutkan.

Ia duduk di mejanya, membuka laptop, lalu langsung menuju log akses sistem internal. Laporan IT kemarin belum ia hapus dari pikirannya.

Login tambahan melalui jaringan internal.

Bukan peretasan dari luar.

Bukan sabotase kasar.

Ini dilakukan oleh seseorang yang tahu batas pengawasan.

Aira membuka arsip email yang dikirim atas namanya. Ia membaca ulang satu per satu, perlahan. Struktur kalimatnya formal. Rapi. Profesional.

Terlalu rapi.

Ia membandingkannya dengan email yang benar-benar ia tulis. Cara ia menutup pesan. Pilihan kata yang biasa ia gunakan.

Perbedaannya kecil.

Sangat kecil.

Tapi cukup untuknya.

Ini bukan soal menjatuhkan reputasinya saja.

Ini ujian.

Ujian apakah ia akan panik… atau berpikir.

Aira tidak membuka mulut pada siapa pun.

Ia membuat folder pribadi. Menyimpan data akses, waktu login, titik jaringan.

Satu akses tercatat dari ruang konsultan eksternal.

Ruangan yang jarang dipakai karyawan biasa.

Tapi sering digunakan tamu penting.

Seperti Clarissa.

Aira tidak tersenyum.

Ia juga tidak marah.

Ia hanya menutup laptop perlahan.

Belajar dari yang terbaik.

Jika Arlan mengajarinya satu hal, itu adalah:

emosi adalah kelemahan yang paling mudah dimanfaatkan.

Pukul delapan kurang lima belas, pintu ruang CEO terbuka.

Arlan keluar dengan setelan abu gelap, ekspresinya seperti biasa—tenang, tak terbaca.

Namun langkahnya sedikit melambat saat melihat Aira sudah duduk tegak dengan laporan lengkap di mejanya.

“Kau datang lebih awal.”

“Bapak menyuruh saya.”

Nada Aira stabil. Tidak ada getar.

Ia berdiri dan menyerahkan berkas.

“Saya sudah revisi ulang. Tidak ada celah.”

Arlan menerima laporan itu tanpa langsung membuka.

“Tidak ada celah?” ulangnya pelan.

“Tidak ada yang bisa digunakan untuk menyerang lagi.”

Jawaban itu terdengar profesional.

Tapi Arlan menangkap makna tersembunyi.

Ia menatap Aira beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Ada sesuatu yang berubah.

Biasanya, di balik ketegaran Aira, ada luka yang bisa ia sentuh kapan saja.

Hari ini… tidak.

“Kau tidak ingin tahu siapa pelakunya?” tanyanya.

“Saya ingin,” jawab Aira jujur. “Tapi saya tidak menuduh tanpa bukti.”

Itu bukan jawaban defensif.

Itu posisi.

Dan posisi itu berdiri tegak.

Arlan menyipitkan mata sedikit.

“Kau berubah.”

Aira tersenyum tipis.

“Lingkungan memaksa saya belajar, Pak.”

Lift terbuka di ujung koridor.

Clarissa muncul dengan gaun putih bersih dan senyum terlatih. Tatapannya langsung tertuju pada mereka.

Aira tidak mundur.

Ia kembali duduk, membuka tablet, dan mulai menyusun jadwal dengan tenang.

Seolah tidak ada yang perlu dibuktikan.

Clarissa berhenti di depan meja.

“Kau terlihat lebih… percaya diri hari ini.”

“Terima kasih, Nona.”

“Orang yang terlalu percaya diri sering jatuh lebih keras.”

Aira menatapnya sopan.

“Orang yang terlalu meremehkan juga bisa salah hitung.”

Sunyi sesaat.

Itu bukan tantangan.

Itu pengingat.

Clarissa tersenyum lagi—tapi kali ini matanya mengeras.

Di dalam ruangannya, Arlan berdiri di balik dinding kaca. Ia tidak bisa mendengar percakapan itu, tapi ia melihat perubahan kecil dalam bahasa tubuh Aira.

Ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang bertahan.

Ia terlihat seperti seseorang yang mengukur.

Siang hari.

Aira masuk lift sendirian.

Pintu hampir tertutup ketika sebuah tangan menahannya.

Arlan masuk tanpa bicara.

Lift bergerak turun.

Beberapa detik berlalu.

“Kau menyembunyikan sesuatu.”

Suara Arlan rendah, tidak menuduh. Menguji.

Aira menatap angka lantai yang berubah.

“Saya hanya belajar berhati-hati.”

“Dari siapa?”

Kali ini ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Dari yang terbaik, Pak.”

Itu bukan sindiran.

Itu pengakuan.

Pintu lift terbuka.

Aira melangkah keluar lebih dulu.

Arlan tetap berdiri sesaat di dalam lift yang kosong.

Untuk pertama kalinya sejak kontrak itu ditandatangani, ia merasa satu hal yang jarang ia rasakan di ruang bisnis maupun perang saham—

Ia tidak sepenuhnya memegang kendali.

Dan perasaan itu…

lebih mengganggu daripada pengkhianatan.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!