Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Peluru Dingin Di Malam Hari
"Dokter, ini … ini luka tembak. Kita tidak punya peralatan yang memadai. Kita harus lapor—"
"Jangan ada laporan! Jangan ada polisi!" teriak salah satu pria pengantar, seorang pria dengan bekas luka di alis yang langsung merogoh sesuatu dari balik jaketnya.
KLIK.
Dokter magang itu menjerit tertahan saat sebuah moncong pistol hitam metalik kini tertuju tepat di antara kedua matanya.
"Lakukan tugasmu, Dokter! Selamatkan dia di sini. Jika ada satu pun orang luar yang tahu, atau jika dia tidak selamat, tempat ini akan menjadi liang lahat kalian."
Kayra membeku. Oksigen di sekitarnya seolah lenyap saat telinganya menangkap suara sucking chest wound, udara yang terhisap masuk ke rongga dada melalui lubang peluru, terdengar seperti lonceng kematian yang amat ia kenal.
IGD Puskesmas Elara yang biasanya sunyi mendadak berubah menjadi panggung drama berdarah yang mencekam. Bau tanah basah tertutup aroma karat darah yang amis, sementara lampu neon yang berkedip seolah ikut merekam ketegangan yang nyaris meledak.
Tiba-tiba, dunia di sekitar Kayra memudar. Teriakan para pria itu berubah menjadi dengung jauh yang kabur. Lantai puskesmas yang kusam berganti menjadi ubin marmer ruang operasi yang dingin dan terang benderang. Bau antiseptik tajam menusuk hidung dan di matanya, tangannya kini berlumuran darah yang tak kunjung hilang meski telah dibasuh berulang kali.
Di puncak kepalanya, suara monitor jantung yang berbunyi flat panjang berdentang memekakkan telinga.
"Dokter! Lakukan sesuatu!" bentakan pria beralis luka itu menghancurkan halusinasinya.
Kayra tersentak dengan keringat dingin membanjiri punggung. Tangannya bergetar hebat, sebuah pengkhianatan fisik atas trauma dua tahun yang ia sembunyikan. Di atas brankar, pasien itu mencengkeram jas putihnya, seolah mengunci jiwa Kayra agar tidak menyerah pada ketakutan.
"Dokter Kayra! Tolong katakan sesuatu!" Mia menangis histeris di bawah todongan senjata.
Kayra menunduk, menatap jemarinya yang gemetar. Masa lalu yang ia kubur di Elara kini merayap naik, mencengkeram tenggorokannya hingga ia merasa sesak, seolah dialah yang tertembak di dada.
"Fasilitas kami tidak cukup," bisik Kayra payah. "Dia butuh rumah sakit besar di Kota Odissea. Jika aku membedahnya di sini, risiko kematiannya sembilan puluh persen."
KLIK!
Pria bersenjata itu menekan moncong pistol ke pelipis Kayra. "Maka pastikan kau berada di sepuluh persen itu. Tangani dia, sekarang!"
Kayra memejamkan mata. Pergolakan batin menyiksanya, satu sisi ingin lari dari tanggung jawab mematikan ini, namun sisi lain berteriak bahwa jika ia tidak bertindak dalam lima menit, pria ini akan menjadi mayat.
Kayra menoleh ke resepsionis dengan napas memburu. "Suster Freya, telepon Dokter Gunawan! Katakan ini darurat bedah toraks!"
BRAK!
Sebuah tangan berurat menonjol menghantam meja, memutuskan kabel telepon seketika. Pria beralis luka itu berdiri tegak, memblokade akses keluar.
"Hanya kau," geramnya mematikan. "Tidak boleh ada orang luar yang tahu dia di sini."
"Aku butuh asisten senior! Fasilitas ini terbatas, aku tidak bisa melakukannya sendiri!" seru Kayra putus asa.
Pria itu merangsek maju hingga Kayra bisa mencium bau logam dan tembakau. "Aku tidak butuh dokter yang banyak tanya. Aku butuh orang yang tangannya sedang memegang nyawa bosku. Dan itu adalah kau," desisnya seraya menunjuk bosnya yang masih mencengkeram jas putih Kayra.
"Jika kulihat orang lain masuk ke gerbang puskesmas ini, kau yang pertama menerima peluru!" ancamnya final.
Tenggorokan Kayra terasa kering bagai pasir. Ia menatap Mia dan Freya yang terisak tanpa suara di pojok ruangan. Pintu pelarian telah tertutup rapat. Elara, yang ia kira tempat persembunyian paling aman, kini berubah menjadi ruang eksekusi.
"Siapkan ruang bedah darurat di belakang. Nyalakan semua lampu yang kita punya. Ambil set torakotomi minor dan semua cairan infus yang tersisa di gudang," Kayra menarik napas panjang, mencoba memaksa tangannya untuk diam.
Mia berlari limbung dan hampir tersandung karena kalut. Sementara itu, Freya terpaku dengan tubuh gemetar hebat hingga suara giginya yang beradu terdengar jelas di ruangan yang mencekam itu.
Kayra melihat ketakutan yang melumpuhkan di mata perawatnya, ketakutan yang sama dengan yang ia rasakan sendiri namun ia tahu dirinya tak punya kemewahan untuk menyerah pada rasa itu sekarang.
"Freya! Bergerak sekarang!" bentak Kayra, suaranya menggelegar di antara deru napas berat pria-pria di sekelilingnya.
Bentakan itu menyentak Freya kembali ke realitas. Dengan langkah terhuyung, ia mengikuti Mia menuju gudang farmasi.
Kayra kembali menatap pasien di hadapannya. Pria itu, sosok yang disebut sebagai bos oleh para pria beringas ini masih mencengkeram jas putihnya. Cengkeramannya semakin lemah, namun tatapannya tetap menghujam, seolah sedang mengikat takdir mereka berdua.
Kayra merasakan tangannya mulai bergetar kembali. Bayangan dua tahun lalu berkelebat seperti film rusak di kepalanya. Suara monitor yang berbunyi flat, wajah dingin dewan etik, dan perasaan hancur saat ia melepas mimpinya menjadi dokter bedah.
‘Jangan sekarang … tolong jangan sekarang!’ batinnya meratap. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba menghentikan getaran yang memalukan itu.
"Dorong dia ke dalam!" perintah pria beralis luka itu, tidak memberi ruang bagi Kayra untuk tenggelam dalam traumanya.
Roda bed berderit nyaring saat mereka mendorongnya menuju ruang operasi kecil di bagian belakang puskesmas. Kayra berjalan di samping bed, matanya tidak lepas dari luka tembak di dada pria itu yang terus mengeluarkan darah segar. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti langkah menuju pengadilan yang telah lama ia hindari.
Begitu sampai di ruang operasi yang remang, Kayra segera mencuci tangannya di wastafel. Air dingin yang mengalir tidak mampu mendinginkan gejolak di dadanya.
Di sampingnya, Mia sedang menyiapkan instrumen bedah dengan tangan yang terus gemetar, hingga bunyi klem yang beradu di atas nampan logam terdengar seperti lonceng kematian.
"Dokter, aku tidak bisa … aku takut," bisik Mia dengan suara tercekik isak tangis.
Kayra menoleh, menatap dokter magang itu tajam. "Dengarkan aku, Mia. Di balik pintu itu ada pistol yang siap meledakkan kepala kita jika pria ini mati. Singkirkan ketakutanmu atau kau akan mati karena ketakutanmu sendiri. Ambilkan klorheksidin, sekarang!"
Kayra memakai sarung tangan lateksnya dengan gerakan cepat. Bunyi karet yang menjepret di pergelangan tangannya seolah menjadi tanda bahwa Kayra Danuarta telah menghilang, digantikan oleh sosok yang dulu pernah menguasai ruang bedah terbaik di kota besar.
Ia mengambil skalpel. Logam tajam itu berkilat di bawah lampu operasi yang sedikit berkedip. Saat ujung pisau itu menyentuh kulit dada sang pasien, Kayra merasakan dunianya berputar. Memori tentang pasien yang gagal ia selamatkan di masa lalu mendadak tumpang tindih dengan pria yang ada di depannya. Napasnya tercekat.
"Dokter? Dokter Kayra?" Suara Freya menyadarkannya.
Kayra memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayang-bayang masa lalu yang mencekiknya. Ia tahu, malam ini bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa seorang mafia tanpa nama, tapi juga tentang menyelamatkan sisa-sisa jiwanya yang telah hancur.
"Pisau," ucap Kayra dingin, matanya kini fokus sepenuhnya pada luka di depan matanya. "Operasi dimulai."