Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Aku Bukan Menantu, Aku Pembantu
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Alya sudah berdiri di dapur rumah mertuanya. Tangannya sibuk mencuci beras, sementara pikirannya kembali dihantam rasa lelah yang tak pernah benar-benar pergi. Jam dinding baru menunjukkan pukul lima, namun suara perintah sudah lebih dulu menggema dari ruang tengah.
“Alya! Jangan lupa masak sayur asem, bapakmu suka itu!” teriak Bu Ratna, ibu mertuanya, tanpa sedikit pun menoleh ke arah dapur.
“Iya, Bu,” jawab Alya pelan.
Jawaban itu sudah menjadi kebiasaan. Selalu iya. Selalu patuh. Seolah ia tak punya pilihan lain selain menelan semua perlakuan yang diterimanya sejak hari pertama menikah.
Alya menatap pantulan wajahnya di permukaan panci. Matanya sembab, wajahnya pucat, dan senyum yang dulu sering menghiasi bibirnya kini nyaris tak pernah muncul. Dulu, sebelum menikah dengan Arga, ia adalah perempuan ceria yang percaya bahwa pernikahan akan menjadi tempat paling aman untuk pulang. Nyatanya, rumah yang ia tempati sekarang justru menjadi tempat paling melelahkan dalam hidupnya.
Sejak resmi menjadi istri Arga, Alya tidak pernah diperlakukan sebagai menantu. Ia bangun paling pagi, tidur paling malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dan menjadi orang terakhir yang dipedulikan. Jika ada makanan yang kurang asin, ia yang disalahkan. Jika rumah terlihat sedikit berantakan, ia yang dimarahi. Bahkan ketika tubuhnya demam dan kepalanya pusing, tak satu pun bertanya apakah ia baik-baik saja.
“Namanya juga perempuan miskin, wajar kalau gak tahu diri,” sindir kakak ipar perempuannya, Siska, suatu kali.
Ucapan itu masih terngiang jelas di kepala Alya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Alya tahu, menangis di rumah ini hanya akan membuatnya semakin dianggap lemah. Dan perempuan lemah tak pernah punya tempat terhormat di keluarga suaminya.
Tak lama kemudian, Arga muncul di ambang pintu dapur. Suaminya itu masih mengenakan kaus rumah, rambutnya sedikit berantakan. Alya sempat berharap, meski kecil, bahwa Arga akan menanyakan kabarnya pagi ini.
“Kopi sudah belum?” tanya Arga singkat.
“Sedang aku buat,” jawab Alya.
Arga mengangguk, lalu duduk begitu saja di kursi tanpa berkata apa-apa lagi. Tidak ada “terima kasih”, tidak ada senyum, apalagi perhatian. Alya kembali menunduk, menyiapkan kopi dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dulu Arga bukan seperti ini. Ia pria yang lembut, penuh janji, dan selalu berkata bahwa Alya adalah perempuan yang ingin ia lindungi seumur hidup. Namun setelah menikah dan tinggal serumah dengan orang tuanya, Arga berubah. Ia menjadi penonton. Diam ketika Alya dihina. Membisu ketika keluarganya memperlakukan istrinya seperti pembantu.
“Aku capek, Mas,” pernah Alya katakan dengan suara bergetar.
Namun Arga hanya menjawab, “Sabar saja. Namanya juga orang tua.”
Kalimat itu seperti pisau. Mengiris pelan, tapi dalam.
Pagi itu, meja makan sudah penuh dengan anggota keluarga Arga. Alya berdiri di sudut, memastikan semua hidangan tersedia. Ia baru duduk setelah semua orang selesai mengambil makanan.
“Kamu belum setrika baju Ayah?” tanya Bu Ratna tiba-tiba.
“Belum, Bu. Nanti setelah makan—”
“Dasar pemalas! Kerjaan cuma di rumah saja tidak becus,” potong Bu Ratna dengan suara tinggi.
Alya terdiam. Sendok di tangannya terasa berat. Tak ada satu pun yang membelanya. Bahkan Arga hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya.
Saat itu, sesuatu di hati Alya retak. Bukan karena kata-kata kasar itu baru pertama kali ia dengar, melainkan karena ia sadar satu hal: ia benar-benar sendirian.
Hari demi hari berlalu dengan pola yang sama. Alya bekerja tanpa henti, sementara rasa lelahnya tak pernah dihargai. Hingga suatu sore, ketika tubuhnya benar-benar tak kuat lagi, Alya jatuh pingsan di dapur.
Bukannya panik, Bu Ratna justru menggerutu, “Drama saja. Baru kerja sedikit sudah pingsan.”
Saat Alya sadar, ia terbaring di kamar dengan tubuh dingin dan kepala berat. Arga duduk di kursi, menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu harus kuat,” kata Arga akhirnya. “Jangan bikin masalah.”
Masalah.
Alya tersenyum pahit. Sejak kapan jatuh sakit disebut masalah?
Hari itu menjadi titik awal runtuhnya kesabaran Alya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: sampai kapan ia harus bertahan? Sampai harga dirinya benar-benar habis? Sampai ia lupa bagaimana rasanya dihargai sebagai manusia?
Puncaknya datang ketika sebuah fitnah keji dilontarkan kepadanya. Siska menuduh Alya mencuri perhiasan ibunya. Tanpa bukti, tanpa penyelidikan, semua mata langsung menuduh Alya.
“Kamu memang dasar tidak tahu diri!” bentak Bu Ratna.
Alya menoleh pada Arga, matanya penuh harap. “Mas… aku tidak melakukannya.”
Namun Arga hanya berkata pelan, “Sudahlah, Alya. Akui saja supaya cepat selesai.”
Saat itu, hati Alya benar-benar hancur.
Ia sadar, ia bukan istri di rumah ini. Ia hanyalah pembantu yang kebetulan dinikahi, lalu dibuang saat dianggap tak berguna.
Perceraian datang begitu cepat. Tanpa air mata dari pihak mereka, tanpa penyesalan. Alya pergi hanya dengan satu koper dan luka yang menganga di dada.
Di depan pintu rumah itu, Alya berhenti sejenak. Ia menoleh, bukan untuk meminta kembali, melainkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada perempuan lemah yang dulu ia jadi.
“Aku pergi bukan karena kalah,” bisiknya lirih. “Tapi karena aku berhak bahagia.”
Alya melangkah pergi, tanpa tahu bahwa takdir sedang menyiapkan jalan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan—jalan yang akan mengubah hidupnya, mengangkat derajatnya, dan mempertemukannya dengan seorang pria yang kelak akan memanggilnya ratu.