Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Feeling seorang suami
Siang menjelang sore itu, ruang rapat lantai delapan Wiratama Group tengah berlangsung. Layar proyektor sedang menampilkan denah pembangunan perumahan tahap ketiga.
Hendra berdiri di depan, menjelaskan progres proyek, sesekali menunjuk bagian denah yang sedang dibahas.
“Untuk blok C, pembangunan fondasi sudah mencapai delapan puluh persen, Pak,” ujar Hendra sambil mengganti slide. “Kalau cuaca mendukung, akhir bulan ini kita bisa mulai pengerjaan struktur atas.”
Kaivan duduk di kursi utama, tubuhnya sedikit condong ke depan. Tangannya saling bertaut di atas meja, matanya fokus mengikuti penjelasan. Ia mengangguk kecil di beberapa bagian, sesekali mencatat poin penting di tablet di depannya.
“Bagaimana dengan suplai material?” tanya Kaivan singkat.
“Masih aman, Pak. Vendor utama tidak ada kendala sejauh ini,” jawab Hendra.
Rapat berjalan lancar sampai tiba-tiba Kaivan merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dadanya, sisi kiri, terasa nyeri dan sesak. Awalnya samar, lalu makin jelas. Kaivan refleks menghentikan gerakan tangannya dan menekan dada dengan telapak tangan.
Sandy yang duduk di sampingnya langsung menoleh. “Pak, Anda baik-baik saja?” tanyanya cemas.
Beberapa peserta rapat mulai melirik. Hendra langsung menghentikan penjelasannya.
Kaivan menarik napas pendek. “Dada saya tiba-tiba sakit dan sesak. Saya tidak tahu kenapa,” ucapnya jujur.
Ruangan yang tadi dipenuhi suara presentasi mendadak hening. Beberapa karyawan saling berpandangan, jelas khawatir dengan kondisi atasan mereka.
“Pak, sebaiknya kita ke klinik kantor,” ujar Sandy cepat. “Untuk periksa kondisi Anda.”
Kaivan menggeleng pelan. “Tidak usah. Saya istirahat saja di ruangan,” katanya setelah mengatur napas.
Kaivan menoleh ke Sandy. “Kamu wakilkan saya lanjutkan rapat ini. Setelah selesai, laporkan hasilnya ke saya.”
Sandy tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Pak.”
Kaivan berdiri perlahan, mengambil ponsel dan map tipis di mejanya. Beberapa karyawan berdiri setengah badan, seolah ingin memastikan kondisinya.
“Kalian tidak usah khawatir, saya tidak apa-apa. Lanjutkan rapat,” ucap Kaivan sebelum melangkah keluar.
Ia berjalan menuju ruangannya dan menutup pintu pelan. Begitu sampai, Kaivan duduk di kursi kebesarannya dan menyandarkan punggung. Dadanya masih terasa tidak nyaman.
“Ini bukan seperti sakit biasa,” gumamnya pelan.
Seminggu lalu Kaivan sudah melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Hasilnya sangat baik, tidak ada masalah berarti pada tubuhnya. Pikiran itu membuatnya makin bingung.
Kaivan mengambil ponsel dan menelepon Keisha. “Halo, Mah,” ucapnya begitu panggilan tersambung.
“Iya, Kai?” suara Keisha.
“Mamah baik-baik saja, kan?” tanya Kaivan langsung.
Keisha terdiam sesaat. “Mamah baik-baik saja dan sehat walafiat. Kamu kan lihat sendiri tadi pagi sebelum berangkat kerja.”
Kaivan menghembuskan napas lega. “Syukurlah.”
“Kamu kenapa sebenarnya?” tanya Keisha heran.
“Tidak apa-apa, Mah. Mungkin aku cuma kecapean,” jawab Kaivan. “Kai tutup dulu telponnya.”
“Iya. Jaga diri kamu, tenagamu jangan terlalu di forsir,” pesan Keisha sebelum sambungan terputus.
Kaivan menurunkan ponselnya dan menatap langit-langit ruangan. Dadanya masih terasa sesak, meski sedikit berkurang. “Aku kenapa sebenarnya. Kenapa feeling ku rasanya tidak enak begini,” ucapnya lirih.
Tanpa ia sadari, pikirannya melayang ke Ravela. Terakhir kali Kaivan mendengar kabar istri sirinya lewat Ayah mertuanya dan itu sudah satu bulan yang lalu.
“Gimana keadaan kamu di sana. Semoga kamu baik-baik saja,” gumam Kaivan.
Ia kembali menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, berharap rasa tidak nyaman itu segera berlalu.
Pagi datang pelan di pos medis, Ravela masih terbaring di ranjang perawatan, bahu kirinya terbalut perban, infus masih terpasang di lengannya. Napasnya kini lebih teratur dan stabil.
Perlahan, kelopak matanya bergerak, lalu terbuka. Pandangannya sempat kosong beberapa detik sebelum fokus kembali.
Devan yang sejak tadi berada di samping ranjang langsung menyadari perubahan itu. Ia langsung mendekat. “Kapten, anda dengar saya?”
Ravela mengangguk pelan. Suaranya masih lemah, tapi jelas. “Dok... bagaimana keadaan Youssef?”
Pertanyaan itu keluar tanpa ragu, seolah hal lain tidak sepenting itu. Padahal yang seharusnya di tanya Ravela sekarang itu keadaannya sendiri bukan orang lain.
Devan tersenyum tipis pada Kapten hebat dan kuat di hadapannya itu. “Youssef baik-baik saja. Sekarang dia bersama ibunya. Tidak ada luka serius,” jawabnya.
Ravela menghela napas lega, bahunya sedikit mengendur. “Syukurlah.”
Devan lalu mulai memeriksa kondisinya. Ia mengecek tekanan darah, melihat monitor, dan membuka sedikit perban di bahu Ravela.
“Tekanan darah anda sudah stabil. Perdarahan sudah berhenti, jahitan rapi. Dibanding kemarin, kondisi anda yang sekarang jauh lebih baik,” katanya sambil mencatat
Devan berdiri tegak, menghela napas pelan, jelas terlihat lebih tenang dan lega. “Anda masih harus istirahat, Kapten.”
Ravela mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
Menjelang siang, suasana di pos medis semakin hidup. Beberapa personel lalu-lalang, sementara dari luar terdengar suara kendaraan patroli. Tirai ruang perawatan terbuka pelan, memperlihatkan Kirana, Dimas, dan Bima yang datang bersama.
Langkah mereka berhenti sejenak saat melihat Ravela sudah duduk bersandar di ranjang. Mereka memberikan hormat pada Ravela lalu melangkah lebih dekat di sisi ranjang sang Kapten.
“Kondisi anda gimana, Komandan?” tanya Dimas terlebih dulu, nadanya masih menyimpan khawatir.
Ravela tersenyum kecil. “Sudah jauh lebih baik.”
Bima mengangguk lega. “Syukurlah. Dari kemarin kami khawatir Komandan belum sadar.”
Kirana berdiri paling dekat dengan Ravela. “Komandan benar-benar sudah lebih baik, kan?” tanyanya. “Jangan ditahan sendiri kalau masih ada yang sakit.”
“Tenang, Kirana. Saya sudah jauh lebih baik dari yang kemarin. Tapi bahu saya masih sedikit nyeri dan itu wajar,” ucap Ravela menenangkan sahabatnya yang terlihat khawatir itu.
“Kami senang mendengarnya, Komandan. Dari awal, memang Anda yang paling tepat memimpin kami,” ucap Dimas dengan nada bangga.
Belum lama mereka berbincang, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah ragu. Wajahnya tampak lelah, jelas bekas malam panjang yang penuh cemas, namun sorot matanya menyimpan rasa lega yang sulit disembunyikan.
“Permisi...” ucapnya pelan dalam bahasa Arab.
Ravela menoleh. “Iya, Bu?”
Wanita itu melangkah lebih dekat. “Nama saya Salma,” katanya lirih. “Saya ibunya Youssef.”
Begitu berada di sisi ranjang, Salma langsung menundukkan kepala cukup dalam. Tangannya bergetar saat menggenggam ujung kerudungnya.
“Kapten... saya yang waktu itu memohon pada Kapten untuk menyelamatkan anak saya. Saya ingat betul wajah Kapten saat berjanji akan membawa Youssef keluar dengan selamat,” ucapnya dengan suara tertahan.
Salma mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Kapten. Kalau bukan karena Kapten, saya benar-benar tidak tahu bagaimana nasib anak saya.”
Ravela tersenyum. “Ibu tidak perlu berterima kasih seperti itu. Itu memang sudah tugas kami. Bagaimana keadaan Youssef sekarang?” tanyanya walaupun pagi tadi ia sudah menanyakannya pada Devan.
Salma mengangguk. “Youssef baik. Saat baru sadar, dia langsung bilang ingin bertemu Kapten. Katanya mau berterima kasih karena Kapten sudah menyelamatkannya.”
“Syukurlah,” jawab Ravela singkat. “Yang penting dia selamat dan bisa kembali ke Ibu.”
Salma menarik napas panjang, seolah beban di dadanya sedikit terangkat. “Sekali lagi, terima kasih, Kapten.” Ia lalu mundur selangkah dan berpamitan dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Kirana, Dimas, dan Bima saling bertukar pandang sejenak. Ada kelegaan yang sama-sama mereka rasakan, lalu Kirana melangkah sedikit ke depan.
“Kalau begitu kami lanjutkan patroli, Komandan. Kami cuma mau memastikan Komandan sudah sadar dan kondisinya stabil,” ucapnya.
Ravela menatap mereka bergantian, lalu mengangguk. “Lanjutkan tugas. Hati-hati di lapangan.”
Ketiganya memberi hormat singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar ruangan, meninggalkan Ravela.