NovelToon NovelToon
SETELAH KAMU MENJADI ASING

SETELAH KAMU MENJADI ASING

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Diam-Diam Cinta / Mantan / Balas Dendam
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pengadilan di Ruang Kaca

Gedung pencakar langit Dirgantara Group tampak seperti menara gading yang angkuh di tengah kabut pagi Jakarta. Di lantai paling atas, di ruang rapat dewan komisaris yang dikelilingi dinding kaca, suasana terasa sangat tegang. Para pemegang saham sudah duduk dengan rapi, menunggu prosesi pengukuhan Hendra Dirgantara sebagai Komisaris Utama.

Hendra berdiri di depan ruangan, menyesuaikan dasi sutranya sambil tersenyum puas. Baginya, hari ini adalah puncak dari segala pengorbanan—dan kejahatan—yang telah ia lakukan.

"Terima kasih atas kehadiran kalian semua," Hendra memulai pidatonya dengan suara yang berwibawa. "Setelah kepergian mendiang kakak saya, Arlan memang berusaha memimpin. Namun, kita semua tahu bahwa kestabilan perusahaan membutuhkan tangan yang lebih berpengalaman—"

Brak!

Pintu ganda ruang rapat terbuka lebar. Arlan melangkah masuk dengan langkah yang begitu tegas hingga gema sepatunya mendominasi ruangan. Ia tidak lagi memakai baju santai atau jaket rumah sakit. Arlan mengenakan setelan jas hitam bespoke yang membuatnya tampak seperti singa yang kembali ke wilayah kekuasaannya.

Di sampingnya, Maya berdiri dengan anggun. Ia memakai blazer formal berwarna putih tulang, rambutnya diikat rapi, dan matanya memancarkan keberanian yang tak tergoyahkan. Di tangannya, ia memegang sebuah tas kulit berisi dokumen-dokumen dari brankas tua itu.

"Arlan? Apa-apaan ini? Kamu tidak diundang dalam sesi ini!" Hendra membentak, wajahnya yang tadinya tenang mulai menunjukkan retakan.

"Ini bukan sesi pengukuhan, Paman," sahut Arlan dingin. Ia berjalan menuju ujung meja panjang dan meletakkan sebuah flashdisk di sana. "Ini adalah sesi pertanggungjawaban."

"Jangan konyol! Penjaga, bawa mereka keluar!" seru Hendra panik.

Namun, tidak ada satu pun penjaga yang bergerak. Arlan sudah mengambil alih kendali keamanan gedung sejak subuh tadi.

"Silakan duduk, Paman. Kamu tidak mau melewatkan tayangan perdana ini," ucap Arlan sambil menekan tombol di layar kendali.

Layar proyektor besar di belakang Hendra menyala. Bukan laporan keuangan yang muncul, melainkan rekaman percakapan suara yang sangat jernih. Suara Hendra lima tahun lalu, saat ia memerintahkan sabotase pada pesawat ayah Arlan.

"Pastikan mesinnya bermasalah setelah lepas landas. Jangan ada saksi hidup. Kakakku terlalu banyak bicara soal transparansi."

Seluruh ruangan mendadak senyap. Para pemegang saham saling berbisik dengan wajah pucat. Hendra gemetar, tangannya memegang pinggiran meja hingga buku-bukunya memutih.

"Itu palsu! Itu AI! Arlan, kamu berani memfitnah pamanmu sendiri?!" teriak Hendra histeris.

Maya melangkah maju. Ia mengeluarkan tumpukan dokumen asli yang ditandatangani oleh Hendra dan bukti transfer dana ilegal ke yayasan yang dikelola Sandra. "Tanda tangan ini tidak bisa dipalsukan, Pak Hendra. Dan dokumen asuransi yang Anda klaim secara ilegal setelah kematian Ayah Arlan... semua ada di sini."

Maya menatap Hendra tepat di matanya. "Anda menghancurkan keluarga saya, memenjarakan ayah saya, dan membuat saya menjadi orang asing di tanah kelahiran saya sendiri. Semua itu hanya untuk sebuah kursi yang bahkan tidak layak Anda duduki."

Arlan mendekat ke arah Hendra, suaranya kini merendah, penuh ancaman yang mematikan. "Aku membiarkanmu hidup dalam kebohongan selama lima tahun karena aku belum punya bukti. Tapi sekarang, Paman... aku bukan lagi anak kecil yang bisa kamu tipu dengan dongeng kecelakaan pesawat."

Tepat saat itu, pintu terbuka lagi. Kali ini, beberapa petugas kepolisian dari unit tindak pidana korupsi dan pembunuhan masuk ke dalam ruangan.

"Hendra Dirgantara, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana, penggelapan dana, dan pemalsuan dokumen," ucap petugas kepolisian sambil memborgol tangan Hendra.

Hendra terjatuh lemas ke kursi. Kekuasaan yang ia bangun dengan darah dan air mata runtuh dalam hitungan menit di depan matanya sendiri. Saat ia digiring keluar, ia sempat melirik Arlan dan Maya.

"Kalian tidak akan pernah bahagia!" kutuk Hendra dengan sisa kekuatannya. "Cinta kalian dibangun di atas kuburan orang tua kalian!"

Arlan tidak membalas. Ia justru meraih tangan Maya dan menggenggamnya erat di depan semua orang.

"Cinta kami dibangun di atas kebenaran, Paman. Sesuatu yang tidak akan pernah kamu pahami," sahut Arlan tenang.

Setelah ruangan dikosongkan, Arlan dan Maya berdiri berdua di depan dinding kaca, menatap pemandangan Jakarta yang mulai cerah karena matahari menembus kabut. Arlan menarik napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban seberat gunung dari pundaknya.

"Selesai, May. Semuanya benar-benar selesai," bisik Arlan.

Maya menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Kita bukan lagi orang asing yang melarikan diri, Lan."

"Nggak akan pernah lagi," Arlan mencium pelipis Maya. "Setelah ini, kita bangun kembali rumah Dago. Bukan sebagai monumen masa lalu, tapi sebagai rumah untuk masa depan kita. Tanpa rahasia."

Maya tersenyum, merasakan ketenangan yang sesungguhnya untuk pertama kali dalam lima tahun. Mereka memang pernah menjadi asing, mereka pernah saling menghancurkan, tapi pada akhirnya, mereka menemukan bahwa rumah yang paling nyata adalah satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!