NovelToon NovelToon
THE FORGOTTEN PAST

THE FORGOTTEN PAST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Dark Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?

Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.

Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.

Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.

*
karya orisinal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang mulai ramai. Karina terduduk di kursi penumpang dengan wajah pucat pasi, jemarinya dingin dan gemetar. Bayangan mengerikan yang baru saja ia saksikan masih berputar di kepalanya, membuat nafasnya tak sepenuhnya teratur.

Di belakang, mobil Hugo terus mengejar tanpa henti. Beberapa kali jarak mereka nyaris terpangkas, seolah satu tikungan lagi Karina akan kembali jatuh ke tangan pria itu. Namun Damon, dengan kemampuan mengemudi di atas rata-rata, terus bermanuver tajam, menghindar, mempercepat laju, dan memanfaatkan setiap celah yang ada.

Hingga akhirnya, saat matahari mulai naik dan cahaya pagi semakin terang, mobil mereka memasuki jalan satu arah yang sunyi. Jalan itu lebih banyak dikelilingi pepohonan tinggi dan rimbun dibandingkan rumah-rumah warga, seakan terpisah dari dunia luar.

Karina menoleh ke belakang, dadanya mengeras. Tidak ada mobil Hugo. Tidak ada kejaran. Apa dia akhirnya menyerah?

Mobil mendadak lambat, lalu berhenti sepenuhnya.

“Kenapa berhenti?” tanya Karina, kembali menatap ke depan dengan nada heran sekaligus waspada.

Damon tidak menjawab. Ia membuka pintu dan keluar dari mobil, lalu berjalan ke kursi belakang. Pintu terbuka, udara pagi yang lembap langsung menyergap.

“Bawa mobilnya,” perintah Damon pada sang sopir yang sejak tadi hanya duduk membeku, menatap lurus ke depan, sama tegangnya dengan Karina.

“B–baik, Tuan,” kata sopir itu, suaranya terdengar cepat dan gugup. Ia segera mengambil alih kemudi, dan mobil pun melaju kembali. Kali ini dengan kecepatan sedang, tak secepat ketika Damon yang mengemudi sebelumnya.

Damon duduk di samping Karina, tetap diam, seakan terbungkus dalam kesunyian.

“Damon,” panggil Karina dengan suara yang agak kaku, seolah takut untuk mengajukan pertanyaan itu. “Kenapa kamu tidak berusaha menolong Ranra? Dan kenapa Ranra rela mengorbankan dirinya untukku?”

Pikiran itu terus mengganggu Karina sejak tadi. Secara logika, tidak ada orang yang mau mengorbankan nyawanya untuk seseorang yang baru ia kenal.

“Tapi kamu juga menyelamatkan Tasya.”

Karina terkejut mendengar suara asing itu lagi, dan secara spontan, ia menoleh ke sekitar. Suara itu bukan miliknya, juga bukan suara Damon.

“Karin, ada apa?” Damon bertanya, tatapannya penuh tanda tanya.

“Eum… nggak apa-apa,” jawab Karina sambil tersenyum kikuk, mencoba menyembunyikan kebingungannya. “Tapi… bagaimana dengan pertanyaanku?”

Damon menatapnya dengan serius, ekspresinya datar. “Lebih baik kamu tidak tahu.”

“Kenapa?” Karina bertanya, perasaan tidak tenang menyelimuti hatinya. Kenapa ia tidak boleh tahu? Kenapa hal ini lebih baik jika tetap menjadi rahasia?

Damon tetap bungkam, dan mobil terus melaju tanpa ada suara selain deru mesin. Tepat ketika matahari mencapai titik tertingginya di langit, sebuah desa kecil mulai terlihat di kejauhan.

Desa itu bernama Desa Murni. Penduduknya sangat sedikit, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan desa-desa lain. Rumah-rumah warga berdiri berjauhan, memberi kesan kesunyian yang damai, tanpa tetangga berisik yang akan mengurusi hidupmu jika tinggal di sana.

Mobil itu memasuki gerbang desa, dan kecepatannya melambat secara signifikan. Karina menatap keluar jendela, matanya mengembara pada pemandangan yang membuatnya teringat masa lalu, masa kecil dan remaja yang dulu terasa begitu menyenangkan.

Ya... Semua itu indah, sampai suatu tragedi mengubah segalanya. Tragedi yang membuat Karina enggan kembali ke tempat ini. Ironisnya, kini ia harus kembali, karena mungkin, hanya mungkin, tempat ini bisa memberinya rasa aman.

"Sudah sampai, Tuan," kata sopir itu, menghentikan mobil di halaman rumah yang cukup mewah.

"Rumah siapa ini?" tanya Karina, menatap rumah besar yang tampak asing baginya. Seingatnya, rumah seperti ini tidak ada di sini dulu. Ah, mungkin karena sudah cukup lama pergi, seseorang telah membangunnya.

"Ini rumahku. Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini. Jake akan mengurus semua keperluanmu.” jawab Damon dengan tenang, membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu.

"Jake siapa?" Karina bertanya lagi, sedikit bingung. Ia mengikuti Damon keluar dari mobil.

Dengan sigap, sopir itu menghampirinya. "Saya Jake, Nona."

"Oh..." Karina menatapnya sekilas, lalu kembali memperhatikan rumah itu dengan penuh rasa penasaran. "Jadi, kamu juga akan tinggal di sini?" tanyanya pada Jake.

"Tidak, Nona. Rumah saya ada di dekat sini, tepat di sebelah rumah ini. Jadi, kalau Nona butuh apa-apa, jangan ragu untuk memanggil saya," jawab Jake dengan sopan.

Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah tersebut. Begitu pintu utama terbuka, kesan pertama yang terasa adalah kesederhanaan yang rapi, kebersihan yang terjaga, dan kesunyian yang menyelimuti. Banyak jendela besar yang menghadap ke luar, membuat pencahayaan alami memenuhi setiap sudut ruangan.

"Aku harus pergi sebentar, kamu bisa membiasakan diri," kata Damon, tanpa menunggu jawaban. Sebelum Karina sempat mengeluarkan sepatah kata, Damon sudah pergi meninggalkan mereka.

"Tuan Damon memang sangat sibuk, Nona. Beliau jarang berada di rumah," kata Jake dengan senyum canggung, tampaknya masih merasa canggung dengan keberadaan orang lain selain Damon di rumah ini.

Karina hanya mengangguk, lalu memilih duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga. Tubuhnya terasa sangat lelah, dan ia benar-benar butuh istirahat sejenak.

"Apa Damon dan kamu juga bagian dari Demon Silence?" tanya Karina dengan nada ingin tahu.

"Saya tidak berani menjawab, Nona," jawab Jake hati-hati.

Karina memutar bola matanya dengan sedikit kesal. Membosankan sekali.

"Kalau begitu, bisakah kamu memberitahuku apa hubungan Ranra denganku? Aku ingin tahu," ujar Karina, suara sedikit mendesak.

Jake terdiam cukup lama, seolah mempertimbangkan jawabannya. Akhirnya, dengan suara pelan yang hampir seperti bisikan, ia menjawab, "Ranra itu ibu Anda, Nona Karin."

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Maya Sari
Sangat menarik,seru ceritanya,bikin penasarn.
Maya Sari
Ceritanya seru….apa ada kelanjutan nya kk?
Nda
apakah yg berdiri di seberang jln itu hugo
Nda
makin penasaran thor,jangan sampe karina ketahuan Hugo.
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
Nda
double up donk thor🤭,makin penasaran😩
Nda
duhh.. makin penasaran,apa jgn² benar Hugo itu vampir
Nda
novelmu keren thor
Nda
ditunggu double up-nya thor
Nda
duh,tunggu kelanjutanya thor makin penasaran,apakah itu fto karina🤭
lisa_lalisa
duhh, makin penasaran 😞
Nda
sebenarnya Hugo manusia vampir atau kanibal
di tunggu double up-nya thor
Kevin
Next thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!