Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
Bruakk ...
Bunyi benturan mobil yang menabrak seorang anak kecil terdengar seperti menggema di sepanjang jalan rumah sakit. Orang-orang yang melakukan perjalanan kaki berbondong-bondong untuk melihat siapa yang menjadi korban kecelakaan.
"Kasian sekali anak itu," bisik seseorang yang melihat korban tabrakan di baris paling depan.
"Aku lihat tadi dia seperti ingin menyelamatkan ibu itu," sahut yang lain sembari menunjuk seorang wanita paruh baya yang masih tergeletak dan syok.
"Ayo, segera panggil petugas medis di sana."
Suara riuh orang-orang yang berkomentar terdengar sampai di telinga Yolanda, wanita tua yang diselamatkan Aqeel.
Mata Yolanda perlahan terbuka lebar saat melihat banyaknya darah segar yang membasahi aspal berwarna hitam.
"Nak bangun, Nak," teriak Yolanda histeris membalikkan tubuh Aqeel yang sudah banyak mengeluarkan darah.
Netra Yolanda yang tadi masih belum begitu jelas melihat siapa anak kecil itu, kini begitu terlihat jelas saat menatap wajah dengan posisi telentang.
"David ...?" Panggil Yolanda tanpa sadar. Wajah itu mirip sekali dengan anaknya. Namun, itu tidak mungkin, David sudah berumur.
Yolanda segara mengabaikan rasa keterkejutannya saat melihat Aqeel. Dengan tergopoh-gopoh ia langsung mengangkat tubuh mungil itu masuk ke dalam rumah sakit.
"Segera selamatkan anak itu," perintah Yolanda tegas. Para petugas rumah sakit yang sudah tahu siapa Yolanda tanpa basa-basi langsung mengerubungi tubuh Aqeel untuk melakukan pertolongan terbaik.
Sementara itu David masih belum melakukan apapun setelah ia meninggalkan Arumi. Ia hanya duduk termenung di kursi kebesarannya. Memikirkan bagaimana cara untuk memberitahu Aqeel jika hasil test DNA itu negatif. Apa Aqeel akan kecewa nantinya, dan meninggalkan dirinya? Memikirkan hal itu membuat tubuh David melemas, dia belum bisa berpisah dengan Aqeel. Meskipun bukan darah dagingnya, hati David tidak bisa menerima akan kenyataan itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya David pada dirinya sendiri sembari meremas rambut hitam miliknya.
Dering line telepon menyadarkan David agar segera mengangkat sambungan itu.
"Ya, hallo," ucap David yang masih malas-malasan.
"Pak David, ibu Yolanda sedang di ruang IGD."
"Apa?" Sebelum mendengar balasan lagi David sudah memutuskan sambungan.
David bergegas menuju lift, dengan gerakan cepat ia menekan tombol turun. Lift itu sama sekali tidak memberikan respon, "Dasar tidak berguna!" Kesal David.
Kaki jenjangnya menuju tangga darurat. Menuruni satu persatu anak tangga itu. Bayangan sang ibu yang kini berada di ruang IGD membuat David kalut. Yolanda satu-satunya orang tua yang ia memiliki sekarang, sejak tujuh tahun yang lalu ayahnya meninggal dunia karena serangan jantung.
Pintu ruang IGD terbuka dengan lebar menampilkan sosok wanita paruh baya, meskipun umurnya yang sudah tidak muda lagi. Namun, wanita itu masih nampak cantik dan elegan, dengan guratan-guratan kulit yang mulai mengendor.
"Apa yang terjadi denganmu?" suara dingin namun penuh kekhawatiran itu masuk kedalam telinga Yolanda.
Yolanda melihatkan tangannya yang sudah diperban oleh perawat. Sembari mengisyaratkan jika ia baik-baik saja.
"Bu, kau membuatku khawatir," ujar David mendekati tubuh Yolanda.
"Jika kau khawatir kenapa kau tidak pulang? Tapi sekarang jangan bahas itu. Ada yang lebih Mengkhawatirkan. Ibu tadi diselamatkan sama anak kecil yang mirip sekali dengan mu saat kecil, Vid."
"Mirip denganku?" Gumam David, seketika dalam benak David muncul bayangan Aqeel. "Dimana dia sekarang Bu?" Imbuh David.
"Sedang ditangani dokter."
"Di ruang mana?"
"Di ruang ...." Yolanda nampak bingung menjawab pertanyaan David, sebab setelah ia berteriak meminta tolong untuk menyelamatkan anak kecil itu, ia langsung dibawa ke IGD untuk mendapatkan perawatan.
"Aku pergu dulu sebentar." Tanpa membuang waktu David langsung keluar dari ruangan Yolanda. Melangkah dengan lebar-lebar, menunjukan betapa dirinya tengah gusar.
Tak selang beberapa lama langkah kaki itu membawa David ke ruang ICU. Dari balik kaca luar mata David terbelalak saat melihat tubuh Aqeel yang sedang terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai macam selang.
Dokter Smith, yang menangani Aqeel baru saja keluar dari ruangan. David segera menghampiri nya.
"Dok, bagaimana dengan kondisi Aqeel?" tanya David mencegeh dokter Smith yang hendak pergi.
Seseorang yang dipanggil David pun menolehkan kepalanya. Ia sedikit terkejut melihat David yang berlari kecil menuju ke arahnya.
"Apa kau kenal dengan anak kecil itu?"
"Ya. Jadi bagaimana kondisinya?"
"Kondisi pasien sedang kritis. Ada sedikit benturan di kepalanya dan trauma di bagian liver. Kami membutuhkan pendonor darah. Karena stok darah anak itu di rumah sakit tidak ada." Jelas dokter Smith.
"Apa golongan darahnya?" tanya David penasaran.
"AB resus negatif, Dok. Golongan darah yang langka di Indonesia ini."
"Ambil darah saya saja, Dok. Kebetulan saja juga AB resus negatif," ujar David tanpa ragu menawarkan diri.
"Benarkah? Kebetulan sekali, kau seperti ayahnya saja." balas Smith tersenyum ceria. Kekhawatiraannya beberapa menit yang lalu kini sirna. Ia pun mengajak David ke ruang.
Di lain sisi, Alena tengah berjalan gontai menuju ruangan David. Sejak mengetahui keberadaan Arumi, Alena kini berpikir untuk merubah sikapnya agar lebih baik lagi dengan David. Ia takut keberadaan Aqeel akan mengancam posisinya mengingat David ingin sekali memiliki keturunan.
Namun, belum ia sampai di ruangan David. Samar-samar ia mendengar beberapa perawat yang tengah membicangkan korban kecelakaan, yang menjadi sorotan bukanlah perkara sikap heroik Aqeel yang menolong seorang wanita tua, melainkan wajah bocah itu yang mirip sekali dengan David.
"Apakah dia anak dokter David?" Ujar sang perawat pada teman sejawatnya.
"Mungkin saja. Wajah mereka mirip sekali dan beberapa hari kemarin aku lihat dokter David juga bersama dengan anak itu."
"Tapi bukankah dokter David belum menikah?"
"Belum menikah bukan berarti tidak memiliki anak. Kau tau dia orang kaya. Tentu saja bisa melakukan apapun yang dia suka," sergah perawat itu.
"Husss. Jangan asal bicara."
"Hei bukan wajah mereka saja yang mirip. Tapi tadi kulihat dokter David juga tampak khawatir."
Dengungan-dengungan tentang David membuat Alena seketika langsung paham dengan situasi. Alena pun segera mencari ruangan di mana Aqeel dirawat untuk memastikan keadaan anak itu dan siapa saja yang berada disana. Namun, hal mengejutkan tidak ada Arumi yang menemaninya disana.
"Apa adikku yang bodoh itu belum tahu jika anaknya kecelakaan?" tanya Alena pada dirinya sendiri.
Sekilas ia melihat ada perawat yang baru saja keluar dari ruangan itu. Ia pun langsung berlari kecil mengejarnya.
"Sus, bagaimana dengan keadaan pasien?"
Tanya Alena memasang wajah sesedih mungkin.
"Kondisinya kritisi, Bu. Namun, Anda tidak perlu khawatir, sebab dokter David dan dokter Smith akan melakukan terbaik untuk anak itu. Ibu keluarga nya?" tanya perawat.
Alena tersenyum saat ditanya seperti itu. Namun, sedikit kemudian ia mengangguk.
"Ibu tenang saja. Anak ibu sudah menyelamatkan ibu dari pemilik rumah sakit ini. Tentu saja kami akan melakukan perawatan sebaik mungkin."
'Apa dia menyelamatkan ibu Yolanda? Makin gawat saja keadaan nya.' batin Alena.
"Terimakasih, sus. Tolong berikan perawatan untuk anak saya." Ujar Alena yang mendapatkan anggukan dari perawat itu.
Alena nampak gusar dengan ribuan pemikiran nya. Tak selang berapa lama senyum licik muncul dari bibir tipisnya.