NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu

Dalam pingsannya yang panjang, waktu terasa berhenti. Tubuh Tio terbaring lemah di bawah pohon beringin, tapi pikirannya melayang ke tempat lain. Ke masa lalu. Ke kehidupan yang dulu ia tinggalkan.

---

Dua tahun lalu.

Jakarta. Sebuah kafe di kawasan Kemang.

Tio duduk di kursi kayu, menghadap dua orang di seberang meja—Bambang dan Hendra. Partner bisnisnya. Sahabatnya sejak kuliah.

Mereka bertiga memulai usaha percetakan digital tiga tahun lalu, dan sekarang perusahaan mereka berkembang pesat. Omzet puluhan juta per bulan. Karyawan belasan orang. Semua terlihat sempurna.

"Tio, ini kontrak baru dari PT Sinar Mas," kata Hendra, menyodorkan setumpuk dokumen.

"Proyek besar, Nih. Cetak brosur, kalender, standing banner buat event mereka akhir tahun. Total deal empat ratus lima puluh juta."

Tio membaca dokumen itu dengan teliti. Matanya yang tajam—kebiasaan lama sejak kuliah—selalu memeriksa setiap detail. Angka-angka, tanggal, ketentuan pembayaran, denda keterlambatan. Semuanya tampak standar.

"Ini uang muka tiga puluh persen," lanjut Bambang, menyodorkan cek. "Seratus tiga puluh lima juta. Udah masuk ke rekening perusahaan kemarin."

Tio mengangguk puas. "Bagus. Kita siapkan produksi mulai minggu depan. Tim percetakan harus lembur, tapi mereka udah biasa."

Mereka bertiga tertawa, bersulang dengan kopi masing-masing. Tio merasa berada di puncak karier. Usia 26 tahun, sudah punya perusahaan sendiri, punya sahabat yang bisa dipercaya, punya masa depan cerah. Orang tuanya di desa bangga—anaknya sukses di kota.

"Tio, lo harus lihat rumah baru gue," kata Hendra, matanya berbinar. "Udah booking di kawasan Bintaro. Dua lantai, kolam renang, taman kecil. Dua tahun lagi lunas."

"Lo juga, Hen," sambung Bambang. "Mobil lo udah ganti? Gue liat lo masih pake Civic tua itu."

"Hemat dulu, Bang. Investasi," jawab Hendra.

Tio tersenyum. Ia sendiri belum membeli apa-apa—masih kontrak apartemen kecil di daerah Pancoran. Uangnya ia putar lagi untuk usaha.

Tapi melihat teman-temannya mulai menikmati hasil jerih payah, ia ikut bahagia.

Siapa sangka, dua bulan kemudian, semuanya hancur.

Proyek PT Sinar Mas berjalan lancar di awal. Tio mengawasi langsung produksi, memastikan kualitas cetak sesuai standar. Tim percetakan bekerja lembur, tapi semangat karena ada bonus besar di ujung jalan.

Hendra mengurus bagian administrasi dan keuangan. Bambang mengurus pemasaran dan hubungan klien. Pembagian kerja yang rapi. Tio percaya penuh pada mereka—mereka sahabatnya, partner bisnisnya. Tidak mungkin mereka berkhianat.

Seminggu sebelum deadline, Tio mendapat telepon dari Hendra.

"Tio, ada masalah," suara Hendra terdengar cemas. "Gue harus ketemu lo sekarang."

Mereka bertemu di kantor. Hendra datang sendirian. Wajahnya pucat, matanya sembab seperti habis menangis.

"Ada apa, Hen? Lo kenapa?"

Hendra menarik napas panjang. "Gue harus ngomong sesuatu. Dan ini berat banget buat gue."

"Apa? Cepet ngomong."

"Bambang... dia... dia kaburin uang proyek."

Tio mengerjap. "Apa maksud lo?"

"Uang muka seratus tiga puluh lima juta. Bambang ngambil. Untuk judi online. Dia bilang buat tambahan modal, tapi kalah terus. Sekarang uangnya habis. Semua."

Dunia Tio berhenti berputar. Ia duduk terpaku, tidak percaya.

"Gimana caranya? Bukannya uang di rekening perusahaan? Kok dia bisa ambil?"

Hendra menunduk. "Dia punya akses ke rekening. Kita bertiga kan punya. Gue kira dia pake buat operasional, ternyata..."

"Kok lo tahu sekarang?" suara Tio mulai tinggi.

"Dia ngaku sendiri tadi pagi. Datang ke rumah gue, nangis-nangis, minta maaf. Katanya udah kalah total, udah gila, gue juga baru tahu."

Tio bangkit, berjalan mondar-mandir. Pikirannya kacau. Proyek empat ratus lima puluh juta. Deadline seminggu lagi. Uang muka habis. Bagaimana mereka bisa produksi tanpa uang?

"Terus sekarang Bambang di mana?"

"Gue nggak tahu. Abis ngaku, dia pergi. HP-nya mati."

Dua hari berikutnya adalah neraka. Tio berusaha menghubungi Bambang ribuan kali—tidak pernah nyambung. Ia datang ke rumah kontrakannya, sudah kosong. Pemilik rumah bilang Bambang pergi tanpa pamit, masih berutang listrik dan air tiga bulan.

Tio dan Hendra harus menjelaskan ke klien bahwa mereka tidak bisa memenuhi pesanan. PT Sinar Mas marah besar. Mereka menuntut ganti rugi, memasukkan perusahaan Tio ke daftar hitam. Proyek-proyek lain yang sudah dijanjikan batal satu per satu.

Karyawan mulai protes karena gaji tidak dibayar. Kertas, tinta, bahan baku yang sudah dipesan dengan sistem utang—pemasok menagih, tidak ada uang untuk membayar.

Dalam dua minggu, perusahaan yang mereka bangun selama tiga tahun hancur berantakan. Tio harus memecat semua karyawan, menjual mesin-mesin percetakan dengan harga murah, menutup kantor.

Hendra juga hancur. Uang muka rumah di Bintaro melayang. Istrinya yang sedang hamil stres berat.

"Maafin gue, Tio," kata Hendra di pertemuan terakhir mereka, di kafe yang sama tempat mereka dulu bersulang.

"Gue nggak tahu Bambang bakal kayak gitu. Gue juga kena. Tapi gue nggak bisa bantu banyak. Gue juga harus mikirin keluarga gue."

Tio mengangguk pasrah. "Nggak apa-apa, Hen. Lo juga korban."

"Lo mau ke mana sekarang?"

Tio mengangkat bahu. "Nggak tahu. Pulang kampung kali. Kasih tahu orang tua."

Hendra menepuk bahunya. "Semoga lo cepat bangkit. Gue yakin lo bisa."

Tio tersenyum pahit. Ia tidak yakin.

Tapi Tio tidak pulang kampung. Ia tidak bisa. Bagaimana mungkin ia pulang, menatap wajah ibunya yang selalu bangga, ayahnya yang setiap hari bilang ke tetangga kalau anaknya sukses di Jakarta?

Bagaimana mungkin ia bilang bahwa usahanya bangkrut, bahwa sahabatnya mengkhianatinya, bahwa ia sekarang tidak punya apa-apa lagi?

Rasa malu itu terlalu besar. Lebih besar dari kesedihan, lebih besar dari kemarahan. Ia lebih memilih tinggal di Jakarta, tidur di kontrakan yang belum diusir, mencari pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup.

Ia menjadi kurir. Lalu penjaga toko. Lalu asisten fotografer lepas. Pekerjaan apa saja yang bisa membuatnya bertahan tanpa harus pulang kampung.

Setiap kali ibunya menelepon, ia berbohong.

"Iya, Buk, sibuk banget. Proyek numpuk. Nanti pas libur Lebaran, Insya Allah pulang."

"Sehat, Buk. Alhamdulillah, rezeki lancar."

"Iya, Buk, udah punya pacar. Cantik. Nanti dikenalin pas Lebaran."

Kebohongan demi kebohongan. Ia menumpuknya seperti bata, membangun tembok di antara dirinya dan keluarganya. Ia takut jika tembok itu runtuh, ia akan melihat kekecewaan di mata orang-orang yang paling ia cintai.

Setahun berlalu. Dua tahun. Ia semakin menjauh. Semakin menyendiri. Semakin percaya bahwa satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri. Orang lain—teman, sahabat, partner—pada akhirnya akan mengkhianati.

Itulah mengapa ia memilih mendaki sendirian. Gunung tidak mengkhianati. Gunung tidak berbohong. Gunung hanya menantang, dan jika ia kalah, itu karena kesalahannya sendiri. Bukan karena orang lain.

Di bawah pohon beringin, Tio merintih dalam tidurnya. Air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam. Ia bermimpi tentang Bambang, tentang Hendra, tentang ibunya yang menangis di telepon.

Ia bermimpi tentang semua kebohongan yang ia ucapkan. Tentang semua malam ia tidur sendirian di kontrakan sempit. Tentang semua hari ia berpura-pura kuat padahal hancur di dalam.

Maaf, Bu. Maaf, aku belum pulang. Maaf, aku belum jadi anak yang bisa di banggain. Maaf, aku... aku pengecut.

Di luar pingsannya, malam semakin larut. Bayangan-bayangan masih setia menonton. Tapi Tio tidak tahu. Ia tenggelam dalam masa lalunya, dalam semua rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian.

Tapi di dalam mimpinya, ada secercah harapan. Kakek tua itu muncul lagi.

"Nangis, Le. Nangis ora popo. Nanging elingo—kabeh wis liwat. Sing penting saiki kowe isih urip. Isih iso mbalekno."

(Menangislah, Nak. Menangis tidak apa-apa. Tapi ingat—semua sudah lewat. Yang penting sekarang kamu masih hidup. Masih bisa memperbaiki.)

Tio terisak dalam tidurnya. "Opo isih iso, Mbah? Opo isih ono pangapurane?" (Apa masih bisa, Kakek? Apa masih ada maafnya?)

Kakek itu tersenyum. "Pangapurane ora tau ilang, Le. Sing ilang kuwi pengarepanmu. Kudu golek maneh."

(Maafnya tidak pernah hilang, Nak. Yang hilang itu harapanmu. Harus cari lagi.)

Lalu kakek itu menghilang.

Tio terbangun—tidak sadar, tapi terbangun di dalam mimpinya. Ia berdiri di depan rumah orang tuanya di desa. Sederhana, bercat hijau pudar, dengan pohon mangga di halaman depan.

Ia mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi. Pintu terbuka sedikit.

Di balik pintu, ia melihat ibunya. Lebih tua dari ingatannya. Rambutnya semakin putih. Wajahnya keriput.

"Bu..." suara Tio serak.

Ibunya hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu, saat ia masih kecil, saat ia pulang dengan nilai bagus, saat ia lulus kuliah, saat semua masih baik-baik saja.

"Wis bali, Le?" (Sudah pulang, Nak?)

Tio ingin menjawab, ingin berlari memeluk ibunya. Tapi pintu itu tiba-tiba tertutup.

"Bu! BU!"

Tio terbangun.

Ia sadar. Masih di bawah pohon beringin. Masih malam. Masih sendiri. Tapi air matanya basah di pipi.

Ia duduk perlahan, tubuhnya sakit semua. Kepalanya pusing. Kakinya—ia tidak mau memikirkan. Tapi ia sadar, sadar sepenuhnya.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia mengakui pada dirinya sendiri: ia rindu pulang. Ia rindu ibunya. Ia rindu rumah.

Dan mungkin—hanya mungkin—semua perjuangan di gunung ini adalah jalannya untuk pulang. Bukan pulang secara fisik, tapi pulang secara batin. Kembali pada dirinya sendiri. Kembali pada keluarganya. Kembali pada kehidupan yang ia lari darinya.

Tio menarik napas panjang. Langit mulai memutih di ufuk timur. Pagi akan segera tiba.

Besok, pikirnya. Besok aku harus terus berjalan. Aku harus pulang.

Ia meraih tongkat bambunya. Tubuh masih sakit, tapi batinnya sedikit lebih ringan. Seperti beban yang perlahan terangkat.

Di sekelilingnya, bayangan-bayangan mulai menghilang, ditelan cahaya fajar.

Tio masih hidup. Masih di sini. Masih berjuang.

Ia punya alasan yang lebih besar dari sekadar bertahan hidup: ia ingin pulang. Sungguhan pulang. Menatap ibunya, minta maaf, dan memulai lagi dari awal.

Besok. Besok aku akan terus berjalan.

Matahari terbit di ufuk timur. Hari baru dimulai.

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!