Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Kotak Kecil
Pagi itu Ishani dan Bu Rina tengah duduk di teras untuk berjemur di bawah sinar matahari. Di depan salah satu rumah, tampak dua ibu sedang menyapu halaman sambil mengobrol.
Ishani sebenarnya tidak terlalu memperhatikan mereka. Namun suara salah satu dari mereka terdengar jelas.
“Itu dia wanita yang tinggal serumah dengan Pak Langit.”
Ishani menunduk sedikit, pura-pura tidak mendengar.
“Hamilnya sudah besar begitu.”
“Katanya itu masih calon istri. Mereka belum menikah.”
Ishani merasakan sesuatu menusuk pelan di dadanya.
“Zaman sekarang ya….”
Kalimat itu tidak selesai, tapi cukup membuat Ishani mengerti maksudnya. Tangannya tanpa sadar memegang perutnya.
“Ayo Bu, kita masuk,” Bu Rina yang juga mendengar ucapan tetangga itu mengangkat lengan Ishani. “Di sini udaranya tidak bagus.”
Ishani diam saja namun membiarkan dirinya dituntun masuk. Ia duduk sebentar di sofa, mencoba menenangkan pikirannya.
Beberapa minggu terakhir hidupnya terasa seperti berjalan di atas permukaan yang es yang tipis. Ia berusaha kuat, tapi kadang-kadang hal kecil seperti bisikan orang asing bisa membuat hatinya terasa berat.
Ia mengelus perutnya pelan. “Maaf ya,” bisiknya hampir tidak terdengar. Seolah-olah bayi di dalam perutnya bisa mendengar semua yang baru saja terjadi.
Sore harinya terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
Ishani mengangkat kepala.
Kak Langit?
Namun suara yang terdengar bukan hanya satu. Ada suara pintu mobil lain dibuka, lalu suara orang berbicara di luar.
Ishani berdiri perlahan dan berjalan menuju pintu depan. Saat ia membuka pintu, sebuah mobil pengiriman kecil sedang berhenti di halaman. Dua orang pria sedang menurunkan kardus besar dari belakang mobil.
Ishani mengerutkan kening.
“Maaf,” ujar salah satu pria tadi. “Ini rumah Pak Langit?”
Ishani mengangguk.
“Ada pengiriman.”
“Pengiriman apa?”
Pria itu melihat kertas di tangannya. “Atas nama Pak Langit.”
Sebelum Ishani sempat berkata apa-apa lagi, pintu mobil Langit memasuki halaman. Langit keluar dengan kemeja abu-abu dan celana hitam seperti biasa. Ia berjalan mendekat dengan langkah tenang.
“Kirimannya sudah datang?” tanyanya.
Kurir itu mengangguk. “Iya, Pak.”
Langit menunjuk ke dalam rumah. “Taruh saja di ruang tamu.”
Ishani masih berdiri di dekat pintu, sedikit bingung.
Kardus yang diturunkan cukup besar. Bahkan ada satu kardus panjang yang hampir setinggi meja.
Setelah para kurir meletakkannya di ruang tamu dan pergi, Ishani menatap tumpukan kardus itu.
“Apa ini?” tanyanya akhirnya.
Langit tidak langsung menjawab. Ia mengambil cutter kecil dari meja, lalu berjongkok di depan kardus terbesar.
“Kamu lihat saja.”
Langit mulai membuka lakban di atas kardus. Ishani duduk di sofa persis di depan Langit. Ia memperhatikan dengan rasa penasaran.
Ketika bagian atas kardus terbuka, Langit mengangkat salah satu potongan kayu kecil dari dalamnya.
Ishani mengerutkan kening.
Langit mengeluarkan beberapa bagian lagi, papan kecil, batang penyangga, dan beberapa kantong baut.
Perlahan-lahan Ishani mulai menyadari bentuknya. Matanya melebar sedikit. “Ini…” suaranya pelan. “Box bayi?”
Langit hanya menjawab singkat, “Iya.”
Ia mengeluarkan semua bagian dari kardus, lalu mengambil buku petunjuk yang terselip di dalamnya. Tanpa banyak bicara, Langit duduk di lantai ruang tamu dan mulai merakitnya.
Ishani memperhatikan Langit yang sedang membaca petunjuk dengan wajah serius.
Beberapa menit kemudian Langit mulai memasang bagian-bagian kayu itu satu per satu. Memasang baut. Mengencangkannya dengan obeng. Menyambungkan sisi-sisinya. Gerakannya tenang dan teliti, seolah-olah ia sedang merakit sesuatu yang sangat penting.
Ishani tidak mengatakan apa pun. Matanya hanya mengikuti setiap gerakan Langit.
Di lantai ruang tamu, potongan-potongan kayu itu perlahan berubah bentuk. Menjadi pagar kecil. Menjadi rangka tempat tidur bayi.
Sesekali Langit mengerutkan kening ketika membaca ulang buku petunjuk.
Ishani hampir tersenyum kecil melihatnya.
Langit biasanya terlihat begitu yakin dengan semua hal. Namun sekarang ia terlihat sedikit kebingungan menghadapi gambar-gambar kecil di buku petunjuk itu.
“Sulit?” tanya Ishani pelan.
Langit tidak menoleh. “Tidak juga.”
Namun beberapa detik kemudian ia memutar ulang salah satu papan.
Ishani menahan tawa kecil.
Beberapa menit berlalu. Lalu rangka box bayi itu akhirnya berdiri. Langit mengetuk sisi kayunya pelan, memastikan semuanya terpasang dengan kuat.
“Kita tinggal beli kasurnya,” katanya sambil berdiri.
Ishani menunduk sedikit. Tangannya memegang ujung dress yang ia kenakan.
Suara Langit tadi terdengar sangat sederhana. Namun entah kenapa kalimat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.
“Aku…” suaranya hampir tidak terdengar. “Aku bahkan belum menyiapkan apa pun untuk bayi ini.”
Langit menoleh sebentar ke arahnya. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. “Sekarang sudah ada,” jawab Langit tenang.
Kalimat itu membuat mata Ishani tiba-tiba terasa panas. Ia menunduk cepat, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Selama beberapa minggu terakhir hidupnya terasa begitu kacau. Kematian Biru. Kontraksi dini. Tatapan kerabat dan orang-orang. Ia bahkan tidak sempat memikirkan hal-hal kecil seperti tempat tidur bayi.
Namun sekarang… di ruang tamu rumah ini berdiri sebuah box bayi kecil. Nyata.
Langit berjalan kembali ke kardus kedua.
Ia membuka kardus itu dan mengeluarkan sebuah lemari kecil berwarna putih.
“Ada lagi?” tanya Ishani pelan.
“Iya.”
Langit kembali duduk di lantai dan mulai merakit lemari kecil itu. Kali ini Ishani turun dari sofa dan duduk lebih dekat ke arah Langit. Ia memperhatikan tangan Langit yang memasang baut satu per satu.
Beberapa menit kemudian lemari kecil itu berdiri di samping box bayi.
Langit membersihkan tangannya sebentar. Lalu ia mengambil sebuah kantong kertas dari dalam kardus. Ia meletakkannya di atas meja.
“Apa itu?” tanya Ishani.
“Buka saja.”
Ishani mendekat dan membuka kantong itu perlahan. Di dalamnya ada beberapa pakaian bayi kecil. Sangat kecil. Ia mengangkat salah satunya dengan hati-hati.
Baju kecil berwarna krem dengan kancing mungil di depan. Matanya langsung berkaca-kaca lagi. “Kecil sekali…” bisiknya.
Ia tidak tahu kenapa melihat pakaian sekecil itu membuat hatinya terasa sesak. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi terjadi, bayi dalam perutnya terasa benar-benar nyata.
Langit berdiri di samping meja.
“Masih banyak yang harus kita beli,” katanya. “Kamu yang pilih.”
Langit memberikan ponselnya, dan membuka aplikasi online shop. “Aku sudah isi saldonya. Jadi nanti kamu bisa langsung check out saja.”
Kali ini, Ishani tidak bisa menahan air matanya. Bulir-bulir bening itu mengalir deras di pipinya. “Terima kasih, Kak…” isaknya.
Langit tersenyum tipis, mengangkat tangannya hendak mengacak rambut Ishani tapi tidak jadi. “Baru kali ini ada wanita yang disuruh belanja malah nangis,” candanya.
Ia melirik sekilas ke arah perut Ishani. Seolah-olah memastikan sesuatu.
Di dalam perut Ishani, bayi itu tiba-tiba bergerak kecil. Ishani terkejut sedikit. Tangannya refleks menahan perutnya. “Dia bergerak,” katanya pelan.
Langit menatap perut itu sebentar.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Di ruang tamu kecil itu, box bayi baru berdiri. Lemari kecil sudah terpasang. Dan pakaian bayi mungil tergeletak di atas meja. Seolah-olah sebuah kehidupan baru sedang dipersiapkan. Tanpa banyak kata.
Tanpa perayaan. Namun dengan perhatian yang tidak pernah Ishani bayangkan sebelumnya.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!