NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai di Paviliun Bintang Jatuh

​Matahari telah sepenuhnya tenggelam di balik cakrawala ketika siluet Li Jian muncul di gerbang Puncak Awan Berkabut. Jubah putihnya bernoda darah kehitaman yang telah mengering, memancarkan bau amis yang tajam. Namun, langkah pemuda itu tetap tenang dan konstan, seolah ia baru saja kembali dari jalan-jalan sore yang menyenangkan.

​Tujuan pertamanya bukanlah kediamannya, melainkan Aula Misi.

​Suasana di aula sudah mulai sepi. Diaken penjaga yang bertugas menukar poin tampak sedang merapikan gulungan-gulungan perkamen, bersiap untuk menutup meja administrasinya. Ketika ia melihat Li Jian melangkah masuk, matanya terbelalak lebar.

​"Kau... kau masih hidup?" seru diaken itu tanpa sadar.

​Li Jian tidak menjawab. Ia berjalan mendekati meja kayu tebal itu dan melemparkan plakat misi berwarna merah yang kini berlumur darah kering.

​DUK!

​Sebuah kantung hijau zamrud seukuran kepala manusia dan sebuah kristal bulat yang memancarkan pendaran kuning buas diletakkan di atas meja. Udara di sekitar meja itu seketika menjadi dingin dan dipenuhi aroma amis yang mencekik.

​"Kantung Racun utuh dan Inti Monster Ular Sisik Besi," ucap Li Jian dengan nada sedatar air danau yang membeku. "Enam ratus poin."

​Diaken itu gemetar. Ia mengambil alat pemeriksa spiritual dan mendekatkannya ke Inti Monster tersebut. Alat itu mendengung keras, memancarkan cahaya merah terang yang memverifikasi bahwa inti tersebut benar-benar berasal dari monster Tingkat Enam puncak yang baru saja dibunuh beberapa jam lalu.

​"L-Luar biasa... Sepuluh tahun terakhir, tidak ada murid baru yang bisa menyelesaikan misi tingkat tinggi ini sendirian," gumam diaken itu dengan suara bergetar. Ia buru-buru mengambil medali giok hijau Li Jian dan mengalirkan enam ratus poin kontribusi ke dalamnya. "Poinmu sudah masuk, Saudara Junior Li. Prestasi ini pasti akan menarik perhatian para Tetua!"

​Li Jian mengambil medalinya kembali tanpa senyum. "Aku tidak butuh perhatian. Aku hanya butuh poin."

​Meninggalkan diaken yang masih terpaku dalam kebodohannya, Li Jian langsung melesat menuju Paviliun Bintang Jatuh.

​Di lantai pertama Paviliun Bintang Jatuh, diaken muda yang arogan kemarin sedang bersandar malas di mejanya. Ketika ia melihat Li Jian masuk, senyum sinis langsung tersungging di bibirnya.

​"Oh? Saudara Junior Li. Matahari baru saja terbenam," ejek diaken muda itu. "Melihat jubahmu yang kotor, kau pasti baru saja lari ketakutan dari monster tingkat rendah. Sudah kubilang, poin kontribusi tidak bisa didapatkan hanya dengan—"

​TAK!

​Li Jian meletakkan medali gioknya ke atas lempengan formasi pembayaran di atas meja. Angka bercahaya hijau melayang di udara, menampilkan saldo poin kontribusi Li Jian: 700 Poin.

​Kalimat diaken muda itu tersangkut di tenggorokannya. Matanya nyaris keluar dari rongganya melihat deretan angka tersebut.

​"Lima ratus poin untuk Batu Es Tak Bernama di rak sudut lantai satu. Potong sekarang," perintah Li Jian, auranya yang dingin tanpa sadar menekan diaken tersebut hingga ia kesulitan bernapas.

​"B-Baik... segera..." Diaken muda itu menelan ludah dengan susah payah. Tangan gemetar memproses transaksi tersebut. Ia buru-buru berlari ke sudut ruangan, mengambil batu abu-abu kusam itu, dan menyerahkannya kepada Li Jian dengan kedua tangan, tak berani menatap mata pemuda itu lagi.

​Begitu Batu Karang Netherworld itu berpindah ke tangan Li Jian, ia bisa merasakan giok hitam di dadanya berdenyut dengan kehangatan yang aneh, seolah ada seseorang yang sedang menari kegirangan di dalamnya.

​"Kerja bagus, bocah," suara Yueyin berbisik lembut, dipenuhi antisipasi yang menggebu-gebu. "Kembali ke pondokmu sekarang. Malam ini, kita merobek batasan langit."

​Sementara itu, di sebuah paviliun mewah di sisi timur Sekte Dalam.

​PRANG! PRANG! PRANG!

​Tiga buah slip jiwa—potongan giok yang terhubung dengan nyawa seseorang—meledak secara berurutan di atas altar kayu cendana.

​Zhao Tian, yang sedang bermeditasi, memuntahkan seteguk darah segar akibat hantaman energi spiritual dari pecahnya slip jiwa tersebut. Ia terhuyung ke depan, menatap pecahan giok di atas altar dengan wajah pucat pasi.

​"Ma Chen... mati? Mereka bertiga mati?!" raung Zhao Tian, matanya merah menyala. "Tidak mungkin! Ma Chen berada di Tingkat Enam awal! Ular Sisik Besi di Lembah Kabut Beracun tidak pernah keluar dari sarangnya kecuali diprovokasi! Bagaimana mereka bisa mati sementara si sampah Li Jian itu..."

​Pintu paviliun tiba-tiba diketuk keras dari luar. Seorang pengikutnya masuk dengan wajah ketakutan.

​"K-Kakak Zhao! Ada kabar dari Aula Misi! Li Jian baru saja kembali. Dia menyerahkan Kantung Racun dan Inti Monster Ular Sisik Besi sendirian, lalu menukarkan poinnya di Paviliun Bintang Jatuh!"

​Zhao Tian jatuh terduduk di kursinya. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena marah, tapi untuk pertama kalinya, karena secercah ketakutan yang dingin merayap di tulang punggungnya.

​Pemuda yang selama lima tahun ia injak-injak seperti semut, kini perlahan berubah menjadi iblis yang mengintai lehernya dalam kegelapan.

​"Kumpulkan semua petarung elit Fraksi Zhao di Sekte Dalam," desis Zhao Tian, mengepalkan tangannya hingga berdarah. "Aku tidak peduli dengan aturan sekte lagi. Sebelum bulan ini berakhir, Li Jian harus musnah dari muka bumi."

​Di saat yang sama, di dalam ruang meditasi kediamannya yang sunyi, Li Jian duduk bersila di bawah cahaya bulan purnama. Batu Karang Netherworld diletakkan di pangkuannya.

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!