Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru
Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.
Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.
Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.
Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?
Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?
Simak kisah mereka dalam cerita ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
"Lihatlah! Mereka terlihat begitu bahagia" ucap salah seorang tamu pada rekannya.
"Benar, aku bisa melihat bagaimana binar bahagia dari Mas Banyu," jawabnya, menanggapi rekannya itu.
Mereka salah satu pegawai restoran milik Banyu.
Seseorang di belakang mereka terlihat begitu sendu. Matanya berkaca-kaca, antara sedih dan bahagia. Ia sedih melihat pria yang ia cintai selama beberapa tahun ini menikah dengan gadis lain. Tapi ia juga bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari pria itu.
"Apa kau benar-benar bahagia, Nyu?" gumamnya lirih.
Celin merasa sedikit menyesal telah menolak lamaran Banyu beberapa waktu yang lalu. Kemarin sebelum ia tahu Banyu akan menikah, ia berbincang dengan ibunya.
Ibunya berkata, bahwa ia ingin Celin menikah. Wanita paruh baya itu berharap bisa melihat putri sulungnya menikah dengan Banyu. Dia juga berkata, bahwa tidak apa-apa jika Celin menikah dan pergi dari rumah. Ia ingin melihat kebahagiaan putrinya. Lagi pula, adiknya juga sudah mulai bekerja. Jadi, masih ada yang membiayai kehidupannya selain putri bungsunya.
Celin 'pun akhirnya menyetujui untuk segera menikah. Ia berencana akan memberitahu Banyu tentang semua itu, dan mengajak pria itu untuk segera merencanakan pernikahan mereka.
Namun semua tidak sesuai rencana. Saat Banyu mengajaknya bertemu, Celin berencana untuk mengutarakan semuanya. Tapi tanpa diduga, Banyu malah memutuskan hubungan mereka dan akan menikah dengan gadis lain.
Celin menyesal telah menolak pria itu berkali-kali. Sekarang terjadi sudah apa yang pernah ia takutkan. Melihat pria yang ia cintai menikah dengan wanita lain.
Celin tersadar dari lamunannya, saat ia merasakan ada seseorang yang menepuk bahunya. Celin tersenyum palsu saat ia menyadari sepasang pengantin itu berdiri dihadapannya.
"Sudah lama?" tanya Banyu basa-basi.
Celin mengangguk, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Matanya terasa memanas, saat cairan bening itu memenuhi kedua matanya.
"Selamat untuk kalian berdua," ucapnya tanpa memandang kedua pengantin tersebut. Wajahnya menunduk, tak berani bersitatap dengan Banyu, mantan kekasihnya. Ia takut akan menangis di depan pria itu. Ia juga merasa sungkan kepada istri Banyu.
Jingga merasa sedikit bersalah dengan Celin. Nalurinya sebagai perempuan tentu tahu apa yang gadis itu tengah rasakan. Hingga Jingga memilih untuk menyingkir sebentar. Memberi mereka berdua ruang untuk berbicara, setelah mengatakan terima kasih telah datang.
"Mas, aku ke sana sebentar ya. Haus." Jingga menunjuk sebuah meja yang berisi beberapa gelas minuman.
Banyu mengangguk.
"Mbak Celin, aku tinggal ya."
Jingga melangkah pergi meninggalkan dua orang itu. Ia mengambil segelas air berwarna merah dan meminumnya. Dari sana ia bisa melihat tubuh Celin bergetar. Wanita itu menangis.
Banyu menenangkan gadis itu dengan mengusap bahunya berkali-kali sembari mengucap kata maaf tiada henti.
Ingin sekali Banyu merengkuh Celin, tapi itu tidak mungkin ia lakukan di tempat yang begitu ramai seperti ini.
Jingga masih memperhatikan dua orang itu, hingga tubuhnya terjingkat saat seseorang menepuk pundaknya. Jingga menoleh. Gadis itu mendapati seorang wanita berambut ikal, yang tak lain sahabat Banyu.
"Hai, kaget ya?"
Jingga menggeleng sambil tersenyum.
"Gue Kikan,"
"Sahabatnya Mas Banyu?" tukas Jingga dan diangguki Kikan. Jingga tersenyum.
"Gue denger lo masih kuliah, bener?" tanya Kikan berbasa-basi. Sebenarnya malas untuk menyapa gadis yang telah menjadi istri sahabatnya, atau bisa dibilang pria yang ia cintai. Tapi tak mungkin juga ia mengabaikan gadis kecil itu. Kikan tak ingin Banyu merasa curiga dengan sikap Kikan pada istrinya.
Jingga mengangguk. "Kampus aku deket sama tempat kerjanya Mas Banyu," jelas Jingga.
Kikan mengerutkan keningnya. Tempat kerja Banyu?, batin Kikan. Kikan tak mengerti maksud gadis ini. Banyu memang membuka kafe tidak jauh dari gedung universitas ternama di kota ini. Tapi, kenapa gadis ini bilang seolah Banyu di sana bekerja dan bukan sebagai owner.
"Tempat kerja Banyu?" ulang Kikan.
Jingga mengangguk sembari meneguk minumannya.
"Lo nggak dikasih tahu kalau itu kafenya Banyu?"
Uhuk... Uhuk...
Jingga tersedak. Ia terkejut mendengar bahwa itu adalah kafe milik Banyu. Bukankah Banyu bilang bahwa ia bekerja sebagai pelayan kafe.
"Eh lo kenapa? Ati-ati!" Kikan mengelus punggung Jingga, karena masih saja terbatuk.
"Bisa gue simpulin kalau dia nggak cerita kalau itu kafenya dia," ujar Kikan setelah merasa Jingga lebih baik.
Jingga mengangguk lagi.
Kikan berdecak. Kebiasaan, batinnya.
"Jadi itu kafenya Mas Banyu?"
"Iya,"
"Hei, lagi ngobrolin apa sih? Seru banget kayaknya." Deva mengambil minuman yang tengah dipegang oleh Kikan.
"Dev, kebiasaan deh lo." Sungut Kikan kesal.
Deva tertawa. Kemudian mengembalikan gelas yang telah ia kosongkan. Matanya beralih pada sosok gadis cantik yang telah menjadi istri sahabatnya.
"Aku nggak nyangka lo, kalau kamu yang jadi istrinya Banyu. Waktu dapet undangan aku pikir cuma namanya aja sama, eh ternyata beneran kamu" ujar Deva. Ia memang sudah mengenal Jingga jauh lebih dulu dari Banyu.
"Kalian kenal dari mana sih?" tanya Kikan penasaran. Melihat kedekatan dan bagaimana cara Jingga berkomunikasi dengan Deva, sepertinya mereka sudah sangat akrab. Bahkan ia sempat melihat Deva bercengkrama dengan ayah Jingga.
"Dia itu adiknya sahabat SMP gue. Tapi, kita udah lama nggak ketemu, karena kita nggak satu sekolah juga waktu SMA. Dulu gue sering banget jalan ama ini bocah." Deva tertawa mengenang masa-masa remajanya dulu.
"Waktu itu kamu kelas berapa Ji?" lanjutnya bertanya.
"Kayaknya sih masih SD, Kak" jawab Jingga. Dulu ia dan Deva memang sangat sering jalan-jalan bersama. Jingga diajak oleh kakaknya dan kakaknya selalu mengajak Deva ini.
"Kakak lo yang cewek itu kan? Kayaknya usia dia dibawah kita deh. Kok lo bisa kenal." Kikan menunjuk Iren yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Bukan Iren lah Ki,"
"Terus, kakaknya yang mana?"
Ketiga orang itu menoleh ke samping, mendengar suara Banyu yang begitu tiba-tiba.
Deva dan Jingga diam. Tak ada yang menjawab.
Banyu bisa melihat sorot mata Jingga berubah sendu, meskipun gadis itu menunduk. Banyu mengalihkan pandangannya pada Deva, mencari jawaban.
Deva berdehem. "Kakaknya meninggal sembilan tahun yang lalu karena kecelakaan."
Banyu terkesiap, ia menoleh pada Jingga. Nampaknya gadis itu akan menangis. Banyu mendekati istrinya. Tangannya mengangkat wajah gadis itu untuk menatapnya, lalu berucap, "Maaf, aku tidak tahu." Banyu memegang bahu Jingga dengan erat.
"Dengarkan aku!, aku yakin kakakmu bahagia di sana. Jangan menangis atau dia juga akan ikut menangis." Banyu mengusap pipi Jingga dengan begitu lembut saat satu tetes air mata keluar dari tempatnya.
Kikan merasakan ada batu besar menghantam dadanya. Ia merasa sesak melihat pemandangan yang sangat tak ingin ia lihat. Meskipun Banyu juga sangat perhatian dengannya, namun ia juga tidak ingin melihat Banyu bersikap seperti itu pada gadis lain. Walaupun itu istrinya. Ia tak sanggup melihat semua itu.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia kacau. Namun tiba-tiba ia merasakan tangannya digenggaman dengan begitu lembut oleh pria yang ada di sampingnya. Kikan menoleh, ia mendapati Deva tersenyum begitu lembut padanya. Mau tak mau ia juga ikut tersenyum.
"Nyu, gue sama Kikan ke sana dulu ya. Biasa mau nyanyi," pamit Deva. Ia melangkah pergi seraya menarik pelan lengan Kikan setelah diiyakan oleh Banyu.
Beberapa saat setelah Deva pergi, mereka masih terdiam. Banyu tak tahu harus mengatakan apa. Ia menyesal telah membuka luka lama istrinya, hingga gadis itu menjadi sedih.
Mereka berdua masih terdiam, sesekali tersenyum pada tamu yang menyapa mereka.
Jingga tersentak saat tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya dengan begitu kasar.
"Kita harus bicara,"
Jangan lupa like dan komen