Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Sidang Dadakan
"Duduk."
Satu kata itu keluar dari mulut Gavin Ardiman dengan nada yang tidak menerima bantahan. Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa tunggal kulit berwarna cokelat tua, menyilangkan kakinya dengan angkuh, dan meletakkan tongkat golf-nya di samping kaki seolah itu adalah tongkat kerajaan.
Suasana ruang tengah penthouse Alea yang biasanya hangat kini berubah sedingin kutub utara. Dua bodyguard Gavin berdiri tegap di dekat pintu kaca balkon, memblokir satu-satunya jalan keluar selain pintu utama.
Alea duduk di ujung sofa panjang dengan gelisah, meremas ujung piyamanya sampai kusut. Wajahnya pucat, matanya bolak-balik menatap ayahnya dan Rigel.
Rigel duduk di seberang Gavin. Posturnya tenang, punggung tegak, tangan diletakkan sopan di atas paha. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gemetar. Padahal, dia baru saja dituduh sebagai "tikus" oleh salah satu konglomerat paling berpengaruh di Indonesia.
"Namamu Rigel?" tanya Gavin tanpa berbasa-basi. Matanya menatap Rigel tajam, seolah sedang menguliti mangsa.
"Benar, Om. Rigel Kalandra," jawab Rigel sopan.
"Jangan panggil saya Om. Kita tidak sedekat itu," potong Gavin dingin. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit. "Jadi, kamu dokter? Dokter apa? Umum? Atau dokter yang cuma modal tampang buat endorse obat diet di Instagram?"
"Spesialis Bedah Saraf, Pak Gavin," koreksi Rigel tenang.
Gavin mendengus pelan. "Bedah saraf. Terdengar mentereng. Tapi melihat penampilan kamu..."
Mata Gavin melirik sekilas ke arah pintu masuk, tempat sepatu kets butut Rigel tergeletak menyedihkan di sebelah sepatu-sepatu mahal Alea.
"Saya tadi sempat lihat sepatu kamu di depan. Mereknya sudah pudar, solnya sudah tipis, bahkan talinya sudah berjumbai. Maaf kalau saya lancang, tapi bagi saya, sepatu laki-laki itu mencerminkan seberapa kokoh dia berdiri di atas kakinya sendiri."
Alea langsung menyela, tidak terima. "Pa! Itu cuma sepatu! Rigel itu dokter sederhana, dia nggak suka pamer kayak temen-temen Papa yang norak itu! Lagian dia ke sini buat ngerawat Alea, bukan buat fashion show!"
"Diam, Alea!" sentak Gavin tanpa menoleh, tangannya terangkat memberi isyarat agar putrinya diam. Tatapannya tetap terkunci pada Rigel.
"Saya tidak merendahkan profesi kamu, anak muda. Dokter itu pekerjaan mulia. Tapi kamu harus sadar siapa yang sedang kamu dekati," lanjut Gavin, suaranya memberat. "Alea ini putri saya satu-satunya. Dia terbiasa hidup enak sejak lahir. Dia tidak pernah tahu rasanya naik angkot atau makan nasi kemarin sore."
Gavin mengambil gelas kopi yang ada di meja—kopi sisa semalam—lalu meletakkannya kembali dengan bunyi klontang yang keras.
"Mantan pacar Alea yang terakhir, Dion, datang ke saya dengan janji manis. Bilang cinta mati, bilang nggak butuh harta. Tapi ujung-ujungnya? Dia gadaikan nama anak saya buat nutup utang judinya," Gavin menatap Rigel penuh selidik. "Saya nggak mau sejarah berulang. Saya nggak butuh menantu benalu yang cuma mau numpang hidup di ketiak istri."
Ruangan hening sejenak. Tuduhan Gavin sangat jelas dan menusuk.
Rigel menarik napas perlahan. Dia paham kekhawatiran Gavin. Sebagai ayah, Gavin hanya ingin melindungi putrinya. Rigel tidak tersinggung. Justru dia menghargai sikap protektif ini.
"Saya mengerti kekhawatiran Bapak," jawab Rigel, suaranya tetap stabil, tidak naik satu oktaf pun. "Tapi saya pastikan, saya bukan Dion. Saya mendekati Alea bukan karena dia Ratu Saham atau anak Gavin Ardiman. Saya mendekati dia karena dia Alea."
"Klise. Semua laki-laki bilang begitu di awal," cibir Gavin. "Buktikan. Apa yang kamu punya? Rumah? Mobil? Tabungan? Atau kamu masih ngekos dan naik mobil tua yang AC-nya mati?"
Alea menahan napas. Dia ingat betul mobil "Si Putih" milik Rigel. Kalau Papanya tahu Rigel naik mobil rongsokan itu, tamat sudah riwayatnya.
Rigel tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Saya punya pekerjaan tetap, Pak. Saya punya tempat tinggal yang layak. Dan saya pastikan Alea tidak akan kelaparan kalau bersama saya," jawab Rigel diplomatis. Dia sengaja tidak menyebutkan Kalandra Tower atau koleksi supercar-nya. Dia ingin Gavin menilainya sebagai Rigel, bukan sebagai pewaris takhta.
Jawaban itu justru membuat Gavin makin kesal. Terlalu santai. Terlalu percaya diri untuk ukuran dokter biasa dengan sepatu butut. Gavin merasa diremehkan. Biasanya, laki-laki yang dia intimidasi akan gemetar, pamer gaji, atau malah mundur teratur. Tapi Rigel? Dia duduk di sana seolah dia setara dengan Gavin.
"Pekerjaan tetap?" Gavin tertawa sumbang. Dia berdiri, berjalan mendekat ke arah Rigel, lalu menepuk bahu dokter muda itu dengan tekanan yang cukup kuat.
"Dengar baik-baik, Dokter Rigel. Cinta saja tidak bisa dimakan. Realistis saja," bisik Gavin tajam.
Gavin menunjuk Alea yang duduk tegang.
"Lihat anak saya. Perawatannya mahal. Bajunya mahal. Makanannya harus dijaga. Gaya hidupnya tinggi. Itu bukan salah dia, itu standar dia."
Gavin kembali menatap Rigel dengan tatapan mengusir.
"Jauhi putri saya. Gaji dokter kamu itu... maaf ngomong, bahkan nggak akan cukup buat beli skincare dia satu bulan. Jangan mimpi ketinggian, nanti sakit kalau jatuh."
Alea membelalak, mulutnya terbuka hendak memprotes ucapan ayahnya yang kejam. "Pa! Itu keterlaluan!"
Namun, Rigel sudah lebih dulu bereaksi. Dia tidak marah. Dia tidak tersinggung.
Dia justru mendongak, menatap mata Gavin dengan binar jenaka yang tersembunyi. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum misterius yang membuat Gavin mengernyit bingung.
"Terima kasih nasihatnya, Om," ucap Rigel santai, mengubah panggilannya kembali menjadi 'Om' dengan sengaja. "Soal skincare Alea... nanti saya usahakan. Siapa tahu bulan depan gaji saya naik drastis."
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....