"Langit adalah kertas, darah adalah tinta, dan kehendakku adalah kuasnya."
Yuen Guiren hanyalah seorang pemuda buta dari desa kecil, tak berarti bagaikan semut di mata para kultivator abadi. Namun, ketika tragedi merenggut segalanya dan memaksanya untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa yaitu adiknya, semut itu berubah menjadi monster pembasmi kemungkaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kehidupan di Gubuk Bambu
Angin di Puncak Terasing tidak membawa kehangatan, hanya sisa-sisa dingin yang membusuk dari pepohonan mati di sekitarnya. Di sinilah jalan setapak itu berakhir, pada sebuah gubuk bambu yang berdiri miring, seolah-olah hanya doa yang menopangnya agar tidak runtuh. Atap jeraminya sudah menghitam, dan dinding bambunya memiliki celah cukup lebar bagi kabut untuk menyusup masuk.
Inilah fasilitas bagi mereka yang berada di dasar hierarki Sekte Mo-Yun. Sebuah isolasi yang dibungkus dengan alasan kemandirian.
Guiren meletakkan tongkat kayunya di ambang pintu. Visi peraknya menangkap struktur bangunan itu sebagai kerangka yang rapuh, bergetar setiap kali angin kencang berhembus. Namun, baginya, ini bukan sekadar gubuk. Ini adalah pertama kalinya sejak pelarian dari desa mereka, ia memiliki atap yang tidak mengharuskannya waspada terhadap langkah kaki orang asing di koridor penginapan.
"Setidaknya, atapnya tidak bocor terlalu parah," suara Xiaolian memecah kesunyian.
Gadis itu tidak menunggu perintah. Ia segera meletakkan bungkusan kain mereka di sudut ruangan yang paling kering. Xiaolian menyingsingkan lengan bajunya, mengambil sapu lidi tua yang tersandar di dinding, dan mulai menyapu debu tebal yang menutupi lantai bambu. Gerakannya efisien, tidak ada keraguan seorang gadis yang takut kotor. Ia bergerak dengan ketenangan seorang perempuan yang tahu bahwa hidup tidak akan memberi mereka apa pun jika tidak dijemput dengan kerja keras, persis seperti yang ibu mereka ajarkan.
"Lian-er, istirahatlah sebentar," ucap Guiren sambil meraba dinding bambu yang kasar.
"Debu tidak akan hilang dengan istirahat, Kak," sahut Xiaolian tanpa menghentikan gerakannya. "Jika kita ingin tidur tanpa bersin malam ini, tempat ini harus bersih sekarang. Kakak urus saja 'pagar' kita. Aku yang mengurus bagian dalam."
Guiren tersenyum tipis, sebuah garis halus yang jarang muncul di wajahnya yang kaku. Ia menyadari Xiaolian bukan lagi beban yang harus dipanggul, ia telah menjadi pilar yang ikut menopang punggungnya.
Guiren melangkah ke luar, menuju empat sudut gubuk tersebut. Ia mengeluarkan sisa tinta hitam dari botol kecilnya dan sebuah kuas pendek yang bulunya sudah sedikit mengeras. Dengan napas yang diatur, ia mulai memanggil Qi dari wadah tintanya yang kini stabil di tingkat kelima.
Bukan lukisan megah yang ia buat. Ia hanya menorehkan karakter-karakter sederhana, simbol-simbol kuno yang melambangkan Keheningan dan Penolakan. Ia melukisnya di atas empat tonggak bambu utama gubuk itu. Setiap goresan kuasnya terasa berat, menyedot Qi dari meridiannya dan menguncinya di dalam serat kayu.
Ini adalah jimat pelindung sederhana. Bukan untuk menahan serangan kultivator hebat, melainkan untuk memberikan peringatan jika ada niat buruk yang mendekat dan untuk menghalau hawa dingin yang terlalu tajam. Di dunia di mana status mereka lebih rendah daripada sampah, keamanan dasar adalah kemewahan yang harus diciptakan sendiri.
Selesai dengan jimatnya, Guiren kembali masuk. Bau debu telah digantikan oleh aroma tanah kering dan sedikit wangi samar dari api kecil yang dinyalakan Xiaolian di tungku batu di tengah ruangan. Di atas tungku itu, sebuah periuk tanah liat tua berisi air mulai beruap.
"Aku menemukan sedikit beras sisa di kantong kita, dan ada akar tanaman hutan yang bisa dimakan di belakang gubuk," ucap Xiaolian, duduk berjongkok di depan api. Cahaya jingga dari tungku menyinari wajahnya, memperlihatkan garis kedewasaan yang semakin tegas di matanya. "Mungkin rasanya akan hambar, tapi setidaknya hangat."
Guiren duduk di sampingnya, menghangatkan tangannya yang kaku karena kedinginan. "Penatua Han bilang, hidup di sini adalah tentang siapa yang paling tahan dihina."
Xiaolian menyerahkan mangkuk kayu berisi bubur encer yang mengepul. "Mereka bisa menghina kita sesuka hati, Kak. Tapi mereka tidak bisa mengambil rasa hangat dari bubur ini, atau kenyataan bahwa kita masih bernapas."
Guiren menerima mangkuk itu, merasakan panasnya merembes ke telapak tangannya. Keheningan di Puncak Terasing terasa sangat berat, namun di dalam gubuk bambu yang reyot ini, ada sejenis kedamaian yang terasa sangat nyata meskipun rapuh. Status murid luar adalah sebuah jebakan sosial, sebuah posisi di mana mereka akan diperas dan diabaikan. Namun bagi Guiren, isolasi ini adalah anugerah. Di sinilah, di antara debu dan bambu tua, ia bisa menanam benih kekuatannya tanpa terlihat.
Malam jatuh di atas Puncak Terasing. Jimat yang dilukis Guiren mulai berdenyut lembut, sebuah cahaya hitam yang tak kasat mata membungkus gubuk itu dari kegelapan hutan yang menekan.
Di dalam, di bawah selimut kain yang tipis, Guiren mendengar napas teratur Xiaolian yang tertidur karena kelelahan. Ia sendiri masih terjaga, meraba lempengan kayu murid luar di samping tempat tidurnya. Hidup baru telah dimulai. Bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai bayangan di pinggiran sekte yang megah.
Guiren tahu, ketenangan ini hanyalah tarikan napas sebelum badai. Namun untuk malam ini, suara api yang meredup di tungku sudah cukup menjadi alasan baginya untuk tetap percaya pada garis lurus yang ia lukis.