Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hajatan Sultan dan Skandal Daster Premium
Setelah drama "Sepupu Psikopat" selesai didepak ke balik jeruji besi, Rian bener-bener mau nepatin janjinya. Dia mau bikin pesta syukuran sekaligus perayaan pertunangan mereka yang bisa bikin Jakarta heboh. Tapi masalahnya cuma satu: Nara nggak mau pesta yang kaku, pake jas, pake gaun yang bikin sesek napas, apalagi pake acara salaman yang barisannya kayak antrean sembako.
"Mas, pokoknya saya nggak mau ada acara potong tumpeng yang kaku itu! Saya mau temanya 'Pesta Kebun Santuy'!" seru Nara sambil asyik coret-coret konsep di tabletnya.
Rian yang lagi nyeruput kopi hitam di sampingnya cuma bisa ngerutin dahi. "Pesta kebun? Oke, saya bisa sewa taman hotel bintang lima. Tapi 'santuy' ini maksudnya gimana, Nara? Jangan bilang kamu mau tamu-tamunya pake sandal jepit?"
Nara nyengir nakal, tipe cengiran yang bikin Rian ngerasa saldo rekeningnya bakal dikuras buat hal aneh. "Nggak sandal jepit juga kali, Mas! Tapi saya mau semua tamu wajib pake daster atau baju rumah, tapi versi premium! Kita sebut saja... Homey-Couture Night!"
Rian hampir tersedak kopinya. "Nara... Papa saya itu relasinya menteri sama CEO kelas kakap. Masa kamu mau suruh mereka pake daster ke acara kita?!"
"Tante Shinta aja setuju kok! Katanya dia capek pake korset tiap ada acara formal. Percaya deh sama saya, Mas! Ini bakal jadi tren baru!" Nara meyakinkan dengan mata berbinar-binar.
Seminggu kemudian, undangan dikirim. Isinya bikin geger jagat sosialita Jakarta.
Dress Code: Elegant Lounge Wear (Daster & Pajamas Allowed, No Suits No Ties).
Hari H pun tiba. Lokasinya di halaman belakang rumah mewah keluarga Ardiansyah yang udah disulap jadi kayak festival musik Coachella tapi versi lebih mewah. Ada lampu-lampu gantung yang estetik, bean bag di mana-mana, dan bar malkist serta kopi sachet premium—permintaan khusus Nara.
Nara sendiri tampil memukau. Dia nggak pake daster pasar biasa. Dia pake gaun sutra yang potongannya mirip daster tapi dengan payet mutiara asli yang desainnya... gambar buah naga! Gila emang, tapi di badan Nara, itu kelihatan kayak baju dari Paris Fashion Week.
"Gila, Nara... kamu bener-bener nekat," bisik Rian yang tampil santuy pake setelan piama sutra warna biru gelap yang tetep bikin dia kelihatan kayak pangeran tidur paling tajir sedunia.
"Lihat tuh, Mas! Papa Mas aja enjoy banget!" tunjuk Nara.
Bener aja, Pak Gunawan Ardiansyah lagi asyik ngobrol sama kolega bisnisnya sambil pake baju koko premium dan sarung sutra. Mukanya kelihatan jauh lebih rileks dibanding pas di kantor. "Rian, ini ide pacar kamu emang jenius. Akhirnya saya bisa napas lega pas acara syukuran," seru Pak Gunawan sambil ketawa.
Acara lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba Satya, sang ajudan yang hari itu dandan pake baju ala bodyguard di film-film aksi tapi versi santuy, nyamperin Rian.
"Pak, ada tamu tak diundang di depan gerbang. Dia maksa masuk katanya bawa kado spesial buat Mbak Nara," lapor Satya dengan muka yang tetep lempeng kayak keramik.
Rian langsung siaga. "Siapa? Andra kan udah di dalem sel?"
"Bukan, Pak. Ini... perempuan. Namanya... Sarah?"
Nara yang denger nama itu langsung bingung. "Sarah? Sarah asisten Mas Rian? Bukannya dia udah ada di dalem?"
"Bukan Sarah asisten saya, Nara. Kayaknya ini Sarah yang lain," ucap Rian sambil jalan ke depan gerbang, diikuti Nara yang udah megang garpu kuenya seolah-olah itu senjata.
Begitu sampai di gerbang, ada seorang cewek yang penampilannya berantakan banget. Mukanya sembab, dan dia bawa sebuah kotak hitam besar. Begitu liat Nara, cewek itu langsung nangis histeris.
"Nara! Tolong... maafin kakak gue!" teriak cewek itu.
Ternyata dia adalah adiknya Kevin, desainer yang kemarin khianatin Nara. "Kak Kevin dapet ancaman di penjara, Nara! Ada orang-orang suruhan Andra yang mau nyakitin dia kalau gue nggak kasih kotak ini ke lo! Tolong, gue nggak tau isinya apa, tapi gue takut banget!"
Rian langsung narik Nara ke belakang punggungnya. "Satya! Periksa kotaknya! Bawa alat detektor!"
Satya dengan sigap bawa kotak itu ke area terbuka. Pas dibuka pake alat khusus, isinya ternyata bukan bom... tapi tumpukan surat kontrak lama milik ayah Nara yang selama ini dicari-cari! Di sana ada bukti kalau ayah Nara sebenernya bukan cuma sopir, tapi dia adalah saksi kunci kasus korupsi yang dulu hampir ngebubarin Ardiansyah Group sebelum Rian lahir.
"Mas... ini apa?" Nara ngelihat kertas-kertas yang udah menguning itu.
Rian ngebaca dokumen itu dengan teliti. "Ini bukti kalau ayah kamu sebenernya memegang saham rahasia sebesar 10 persen di perusahaan saya, Nara. Papa saya kasih itu sebagai bentuk rasa terima kasih karena ayah kamu udah nyelamatin nyawanya, tapi surat ini dicuri sama keluarga Andra buat diperas balik ke Papa saya."
Nara melongo. "Berarti... saya ini..."
"Berarti kamu itu sebenernya salah satu pemilik perusahaan saya, Nara. Secara hukum," ucap Rian sambil natap Nara nggak percaya.
Satu pesta langsung heboh. Kabar itu tersebar cepet banget. Nara yang tadinya cuma desainer freelance dasteran, mendadak jadi pemegang saham miliarder dalam satu malam.
"Waduh Mas! Berarti saya bisa beli pabrik kerupuk se-Indonesia dong?!" seru Nara sambil lompat-lompat kegirangan.
Rian ketawa, dia meluk Nara erat-erat di tengah pesta. "Kamu bisa beli apa aja yang kamu mau, Nara. Tapi yang paling penting, sekarang nggak ada lagi rahasia yang bisa dipake buat ngancem kita. Semuanya udah beres."
Tante Shinta nyamperin mereka sambil bawa gelas es podeng. "Nah, kalo gitu, kapan nikahnya? Mama udah nggak sabar pengen liat cucu Mama pake daster mini buah naga!"
Nara langsung merah padam mukanya. "Tante! Masih jauh itu mah!"
"Nggak jauh kok," sahut Rian sambil nengok ke arah Nara, matanya penuh janji. "Bulan depan kita urus semuanya. Saya mau pesta yang lebih gila dari ini, tapi dasternya harus warna emas semua."
"Mas! Norak ah kalau emas semua!" protes Nara sambil nyubit pinggang Rian.
Malam itu, di bawah taburan bintang dan lampu festival, kisah cinta "Si Kaku" dan "Si Berisik" bener-bener mencapai puncaknya. Nggak ada lagi musuh yang mengintai, nggak ada lagi rahasia masa lalu yang menghantui. Cuma ada dua orang yang beda frekuensi tapi akhirnya nemuin harmoni yang pas.
Satya yang liat mereka dari jauh, akhirnya ngebuka sedikit kacamata hitamnya. Dia ngambil satu cilok dari piring tamu, terus dimakan sambil gumam, "Enak juga ternyata jadi bodyguard orang kasmaran."
(◍•ᴗ•◍)