Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.
Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:
kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 8
Malam tidak langsung membawa tidur bagi Yurie.
Ia berbaring menghadap jendela, memandangi cahaya lampu taman yang temaram. Tangannya masih terasa hangat, seolah sentuhan Kaiden di bangku taman tadi belum sepenuhnya pergi. Ada sesuatu yang berubah—bukan drastis, bukan tiba-tiba, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa asing.
Tidak sesakit dulu.
Ia memejamkan mata, mencoba menata pikirannya. Namun bayangan wajah Kaiden kembali muncul, kali ini dengan sorot mata yang berbeda. Tidak sedingin pertemuan pertama mereka. Tidak sejauh jarak yang dulu.
“Jangan tinggalkan aku dalam gelap.”
Kalimat itu berputar di kepalanya. Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya. Kata-kata itu keluar begitu saja, jujur, tanpa topeng.
Yurie menarik selimut lebih tinggi, lalu membalikkan badan. Di balik keheningan kamar, ia merasa aman—dan perasaan itu justru membuatnya takut. Aman adalah hal yang mudah direnggut.
Ia tertidur dengan pikiran itu.
Pagi datang dengan langkah pelan.
Yurie turun ke lantai bawah dan mendapati rumah sudah cukup ramai. Beberapa staf berlalu-lalang, aroma teh dan roti memenuhi udara. Kaiden belum terlihat. Clara menyapanya dari ruang makan.
“Selamat pagi, Nyonya.”
Yurie tersenyum canggung. “Pagi, Tante Clara.”
“Kau tidak perlu memanggilku begitu,” balas Clara sambil tertawa kecil. “Aku bukan orang tua.”
Yurie tersenyum lebih lebar, lalu duduk. “Kaiden belum bangun?”
“Sudah pergi sejak subuh,” jawab Clara. “Ada urusan mendadak.”
Yurie mengangguk, meski ada sedikit rasa kosong yang muncul tanpa ia sadari.
Saat ia hendak menyentuh cangkir tehnya, ponsel di atas meja bergetar. Nomor tak dikenal.
Ia ragu sejenak sebelum mengangkatnya. “Halo?”
Di seberang, suara perempuan terdengar—dingin dan penuh penekanan. “Yurie Harielyn Nazeeran.”
Jantung Yurie berdetak lebih cepat. “Siapa ini?”
“Kau tidak perlu tahu siapa aku,” jawab suara itu.
“Yang penting, aku tahu siapa dirimu. Dan aku tahu kau sekarang ada di rumah Reynard.”
Yurie menegakkan punggung. “Jika tidak ada urusan penting, aku akan menutup telepon ini.”
Tawa kecil terdengar. “Tenang saja. Aku hanya ingin mengingatkan… jangan terlalu nyaman di tempat yang bukan milikmu.”
Yurie mengepalkan jemarinya. “Apa maksudmu?”
“Beberapa hal seharusnya tetap terkubur. Jika kau terlalu ingin tahu, kau bisa ikut terkubur bersamanya.”
Sambungan terputus.
Yurie menatap layar ponselnya dengan napas tertahan. Tangannya gemetar. Clara memperhatikannya dari jauh, lalu mendekat.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Yurie tersenyum tipis, memaksa. “Iya. Hanya… salah sambung.” Namun hatinya tahu, itu bukan salah sambung.
Kaiden baru kembali menjelang sore. Begitu melangkah masuk, ia langsung menyadari ada yang berbeda. Yurie duduk di sofa, menatap jendela dengan wajah pucat.
“Kau sakit?” tanyanya.
Yurie tersentak, lalu menggeleng. “Tidak. Hanya sedikit pusing.”
Kaiden tidak langsung percaya. Ia duduk di hadapan Yurie. “Kau menerima telepon?”
Yurie terdiam. Ia menatap Kaiden, ragu apakah harus jujur. Namun tatapan itu—tenang, tapi penuh perhatian—membuat pertahanannya runtuh.
“Ada seseorang yang mengancam,” katanya pelan. “Aku tidak tahu siapa.”
Wajah Kaiden mengeras. “Apa yang mereka katakan?”
Yurie menceritakan semuanya. Setiap kata membuat rahang Kaiden mengencang.
“Mulai sekarang,” katanya setelah Yurie selesai,
“jangan angkat telepon dari nomor tak dikenal. Dan jangan keluar rumah sendirian.”
“Aku tidak ingin merepotkanmu,” ujar Yurie cepat.
Kaiden menatapnya tajam. “Aku suamimu.
Melindungimu bukan merepotkan.”
Kalimat itu membuat Yurie terdiam.
Kaiden berdiri dan memanggil salah satu staf.
“Perketat keamanan. Aku ingin tahu siapa yang mencoba menghubungi istriku.”
“Baik, Tuan.”
Yurie menatap punggung Kaiden. Ada rasa bersalah, tapi juga rasa hangat yang tidak bisa ia tolak.
......................
Malamnya, Kaiden mengetuk pintu kamar Yurie.
“Masuk,” ucap Yurie.
Kaiden berdiri di ambang pintu. “Aku ingin memastikan kau baik-baik saja.”
Yurie mengangguk. “Aku baik.”
Kaiden melangkah masuk, lalu berhenti beberapa langkah darinya. “Jika kau takut, kau bisa mengatakan itu.”
Yurie menatap lantai. “Aku… sedikit takut.”
Kaiden mendekat, lalu duduk di kursi dekat ranjang. “Kau tidak sendirian.”
Yurie mengangkat wajahnya. “Kenapa kau begitu peduli?”
Kaiden terdiam sejenak. “Karena aku tahu rasanya tidak dipercaya. Tidak dilindungi.”
Yurie menelan ludah. “Tentang Jayden?”
Kaiden mengangguk pelan. “Dan tentang Elif.”
Keheningan kembali hadir, lebih berat dari sebelumnya.
“Aku tidak tahu siapa yang berada di balik semua ini,” lanjut Kaiden. “Tapi aku yakin… ini bukan kebetulan.”
Yurie memeluk lututnya. “Aku merasa semua ini… terhubung dengan keluargaku.”
Kaiden menatapnya. “Keluarga Nazeeran?”
Yurie mengangguk. “Ada terlalu banyak rahasia.
Tentang ibuku. Tentang pernikahan ini.”
Kaiden berdiri. “Jika ada yang berani menyentuhmu, mereka harus berurusan denganku.” Nada suaranya tidak keras, tapi tegas.
Yurie menatapnya lama. “Terima kasih.”
Kaiden mengangguk, lalu berbalik. Namun sebelum keluar, ia berhenti. “Yurie.”
“Ya?”
“Tidurlah. Aku akan ada di dekat sini.”
Pintu tertutup perlahan. Yurie merebahkan diri, jantungnya berdegup pelan. Untuk pertama kalinya, ancaman tidak membuatnya merasa sendirian.
Di tempat lain, di sebuah ruangan gelap, seseorang meletakkan ponsel di atas meja.
“Dia mulai merasa aman,” ucap suara itu.
Seorang pria lain tertawa pelan. “Semakin aman dia merasa, semakin keras jatuhnya nanti.”
“Bagaimana dengan Reynard?”
“Kita biarkan mereka merasa mengendalikan keadaan,” jawab pria itu. “Padahal… semua benang ada di tangan kita.”
Bayangan di dinding bergerak, seolah menyimpan rahasia yang belum siap terungkap.
Di rumah Reynard, Yurie tertidur dengan mimpi yang berbeda malam itu. Tidak ada jeritan. Tidak ada kegelapan.
Namun jauh di dalam mimpinya, sebuah nama kembali muncul—Shella. Dan Yurie tahu, masa lalu tidak akan diam selamanya.