"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Aku melangkah meninggalkan bangku taman itu. Botol air mineral dari Bintang masih berdiri kaku di sana, sedingin hatiku yang mendadak membeku. Aku bahkan tidak sanggup menoleh untuk melihat punggung Bintang, satu-satunya orang yang tidak memberiku duri hari ini.
"Aku mau pulang, Bin," suaraku serak, nyaris hilang tertelan angin sore.
Bintang bangkit, langkahnya terburu-buru. "Aku antar, Fis. Kamu gemetar. Jangan paksa jalan sendiri."
Aku menggeleng tanpa menatapnya. Jika aku menatap matanya yang penuh rasa kasihan itu, pertahananku akan luruh. Dan aku benci terlihat menyedihkan. "Jangan paksa aku, Bin. Tolong... biarkan aku sendiri."
Aku berjalan menjauh. Setiap langkah terasa seperti menyeret beban berton-ton. Kepalaku bising dengan tawa Guntur dan senyum kemenangan Fita. Dunia rasanya sedang menertawakanku, si gadis bodoh yang mengira dirinya adalah tokoh utama, padahal hanya badat di panggung sandiwara orang lain.
Begitu sampai di kamar, aku tidak menyalakan lampu. Aku mengunci pintu dan merosot di baliknya. Dinginnya lantai merambat ke kulitku, tapi sesak di dadaku jauh lebih membakar. Topeng "kuat" yang kupasang di depan Bintang tadi retak sepenuhnya.
Aku memeluk lutut, menyembunyikan wajah di sana. Isak tangis yang kupendam pecah dalam keheningan. Tidak ada teriakan, hanya bahu yang berguncang hebat. Di kamar ini, aku tidak perlu berpura-pura. Di sini, aku bebas mengakui bahwa aku hancur selebur-leburnya oleh dua orang yang paling kupercaya.
Malam semakin larut. Perutku perih, bukan karena lapar, tapi karena stres yang menggerogoti. Aku keluar rumah hanya untuk mencari oksigen dan sebungkus roti di toko kelontong. Namun, takdir sepertinya belum puas mengulitiku.
Di depan pagar, dua bayangan berdiri di bawah lampu jalan yang kuning pucat. Kaila dan Alif.
"Fis! Akhirnya kamu keluar..." Kaila menghambur, tangannya hendak meraih lenganku.
Aku menghindar. Gerakanku cepat, seolah sentuhannya adalah api yang akan membakarku. "Jangan sentuh aku, Kai."
"Fis, dengerin dulu. Kita mau jelasin soal Guntur dan Fita. Ini nggak seperti yang kamu lihat," timpal Alif dengan raut penuh rasa bersalah.
Aku tertawa. Sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Nggak seperti yang aku lihat? Jadi, mata aku salah lihat saat mereka tertawa di kosan itu? Telinga aku salah dengar saat Fita selalu sinis setiap aku bahas Guntur?"
"Fis, Guntur itu sebenarnya—"
"Cukup, Alif!" potongku tajam. Mataku menatap mereka bergantian dengan tatapan kosong. "Kalian berdua tahu, kan? Selama ini kalian menontonku seperti menonton sirkus gratis. Kalian melihat aku dibodohi, kalian melihat aku dijadikan lelucon, tapi kalian diam."
Kaila mulai terisak. "Kita nggak bermaksud nutupin, kita cuma bingung gimana cara ngomongnya..."
"Bingung?" Aku melangkah maju, menatap Kaila tepat di matanya. "Bingung melihat sepupumu sendiri dihancurkan perlahan-lahan? Bagiku, kalian sama saja dengan mereka. Diam kalian adalah pengkhianatan paling nyata."
Aku membalikkan badan, memunggungi mereka yang mematung dalam penyesalan. "Jangan cari aku lagi. Aku nggak butuh dongeng atau pembelaan. Aku cuma mau beli makan, bukan mau dengar skenario karangan kalian."
Aku berjalan menjauh. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku sadar satu hal: Malam ini, aku tidak hanya kehilangan cinta, tapi aku juga kehilangan kepercayaan pada dunia.
Toko kelontong itu hanya berjarak beberapa ratus meter, namun rasanya seperti berjalan di atas hamparan duri yang tak berujung. Aku bisa merasakan tatapan Kaila dan Alif masih menusuk punggungku, namun aku menolak untuk goyah.
Saat aku sampai di depan etalase kaca toko yang berdebu, aku tertegun melihat pantulan diriku sendiri. Mataku merah, bengkak, dan wajahku pucat pasi. Inikah Afisa yang mereka hancurkan? Inikah gadis yang selama ini sibuk mencari perhatian laki-laki sedingin kutub, sampai lupa cara mencintai dirinya sendiri?
Aku menyambar sebungkus roti dan air mineral dengan gerakan kasar. Saat hendak membayar, tanganku merogoh saku rok dan mendapati sebuah benda kecil di sana.
Gantungan kunci bola.
Itu adalah benda yang rencananya akan aku berikan pada Guntur besok. Aku menatap benda itu dengan rasa muak yang membuncah. Dengan tangan gemetar, aku tidak memasukkannya kembali ke saku. Aku menjatuhkannya begitu saja ke dalam tempat sampah plastik di pojok toko. Suara jatuhnya pelan, tapi bagiku itu terdengar seperti suara lonceng kematian bagi perasaanku yang bodoh.
Aku berjalan pulang dengan langkah yang lebih cepat. Kaila dan Alif sudah tidak ada di depan pagar, meninggalkan kesunyian yang mencekam. Begitu masuk ke kamar, aku langsung meraih ponselku yang sejak sore sengaja kumatikan.
Begitu layar menyala, puluhan notifikasi masuk. Namun, mataku hanya tertuju pada satu nama: Bintang.
"Fis, aku tahu kamu butuh waktu. Tapi tolong, jangan biarkan diri kamu larut dalam kegelapan terlalu lama. Kamu jauh lebih berharga daripada semua rasa sakit ini. Besok, aku akan menunggumu di gerbang sekolah. Apapun yang terjadi, kamu tidak sendirian."
Aku menatap pesan itu lama. Air mataku kembali menetes, namun kali ini bukan karena Guntur. Ada rasa hangat yang asing menjalar di dadaku. Di tengah badai pengkhianatan ini, ternyata masih ada satu orang yang tetap menjadi mercusuar bagiku.
Aku menarik napas panjang, lalu jemariku bergerak dengan mantap di atas layar.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2