Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Wajah Shena terlihat lesu dan pasrah. "Baiklah" ucap Shena pada akhirnya. Ia lalu turun dari mobil dan berjalan lemas meninggalkan mobil perlahan menuju Mall.
Jika dengan mobil dapat di tempuh 5 menit lagi, maka kalau berjalan kaki artinya membutuhkan waktu lebih lama lagi. Shena bahkan tak bisa memprediksi. Sopir tadi mengambil jalan pintas sehingga Shena tidak berada di jalan utama. Hal itu membuat ia cukup sulit untuk mendapatkan taksi lagi.
Di sebuah gang yang cukup sepi, Shena cukup ragu untuk lewat. Jujur saja kalau Shena sebenarnya cukup penakut. Ah, tidak. Dia sangat penakut apalagi dengan hal-hal berbau hantu. Namun maps di hp nya menunjukkan kalau jalan ini yang harus di lewati. Ia bingung dan ragu. "Ahh, tuhan. Tolong selamatkan nyawa ku ini" pintanya memelas dengan tangan yang menangkup memohon pada Tuhan.
Shena akhirnya memberanikan diri dan melangkah melewati jalan itu. Semakin ia berjalan jauh ia mendengar suara perkelahian. Kakinya terhenti sejenak. Ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan bahwa suara itu beneran ada dan bukan sekedar halusinasinya. Kakinya melangkah lagi dengan pelan. Semakin dekat, semakin suara itu terdengar jelas.
Ada belokan di depan sana. Suaranya seperti berada di balik gedung besar itu. Shena menelusuri dinding dengan pelan. Ketika sampai di persikuan, Shena menongolkan kepalanya untuk mengintip. Matanya terbelalak terkejut. Itu bukan perkelahian, lebih seperti pengeroyokan. Anak pria yang cukup tampan sedang di tendang dan di injak-injak oleh 4 orang anak laki-laki berseragam SMA.
Shena menarik kepalanya. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya bergerak untuk mengelus dadanya. "Apa yang harus aku lakukan?". Panik Shena. Ia menggelengkan kepalanya. "Abaikan saja dan pulang". Ia berusaha memastikan diri dan mengangguk untuk dirinya sendiri. "Tapi bagaimana bisa aku abaikan, bagaimana jika anak itu mati. Bukankah aku sangat kejam". Ucap dia frustasi.
Shena kembali mengintip beberapa detik dan menarik kepalanya lagi. Ia melihat ke sekitar apakah ada yang bisa dijadikan senjata. Ia melihat batang besi sepanjang tangan tak jauh darinya. Shena buru-buru mengambil besi itu. Ia menarik nafas panjang mempersiapkan diri. Kakinya mengambil ancang-ancang untuk berlari dan ia berlari menerjang ke arah mereka yang sedang mengeroyok anak itu.
"Aaaaaa ........."
Teriak Shena di sepanjang larinya. Ke lima anak tersebut menoleh ke arah Shena. Shena mengibaskan batang besi itu kepada ke empat anak laki-laki yang tadi mengeroyok anak laki-laki lainnya. ""Minggir kalian atau aku akan memukulmu".
"Ahh, sialan. Siapa kau? Apa kau cari mati??". Ucap salah satu dari mereka.
""Dia lumayan cantik. Ayo kita kerjain dia". Ucap pria lain yang paling belakang.
Shena panik, tubuhnya gemetar karena takut. Ia menodongkan batang besi ke arah mereka dan berkata keras. "Aku sudah menelpon polisi. Sebentar lagi mereka datang".
Ke empat anak itu saling lirik. Tak lama terdengar suara sirine polisi. Ke empat anak itu terlihat kesal. Shena tiba-tiba maju untuk menyerang.
"Yaaaa....."
"Gubrak....."
"Akhh......"
Anak laki-laki paling depan menendang perut Shena dengan cukup keras. Shena terjatuh ke belakang dan tubuhnya menghantam beberapa kayu dan barang bekas lain di belakangnya. Pria itu memperingatkan "urusan kita belum selesai". Setelah itu mereka berlari.
Anak laki-laki yang tadinya masih terduduk di tanah segera berdiri dengan susah payah untuk membantu Shena. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya khawatir.
"Auuu.... Sakit..." Ucap Shena sambil memegang pinggangnya untuk berdiri. Tak lama mobil polisi pun tiba mendekat. Pria itu mengambil motornya. "Ayo cepat naik".
"Hah?" Ucap Shena bingung.
"Naik saja cepat" perintahnya tak sabar.
Shena buru-buru naik motor sport pria itu. Mereka melaju dengan kencang meninggalkan lokasi kejadian.
Setelah cukup jauh dari lokasi kejadian, pria itu berhenti di toserba. Shena turun dari motor, begitupun pria itu. Shena tampak memegangi kepala bagian belakangnya. Pria itu melihat Shena seperti kesakitan. Ia bertanya dengan khawatir. "Apa kepalamu sakit?".
"Iya". Jawab Shena lemah. Ia melihat telapak tangan yang memegangi kepala bagian belakangnya. Matanya terbelalak karena terkejut. Pria itu juga tak kalah terkejut. Itu darah yang cukup banyak. Shena panik.
"Darah....."
Mulut Shena terbuka dan menatap pria di depannya. "Ahhh... Aku... Aku akan mati" ucapnya panik.
Pria itu berusaha menenangkan. "Hei, hei. Tenang. Kau tidak akan mati. Kita ke rumah sakit sekarang".
Shena yang panik dan takut melihat darah mulai lemas dan dramatis. "Akhh... Akhh... Sepertinya aku akan pingsan... Aku akan pingsan". Pria itu juga jadi tambah panik dan menangkap tubuh Shena.
"Hei... Hei... Jangan pingsan dulu di sini". Pria itu bahkan masih sempat merengek. Shena akhirnya pingsan di pelukan pria itu. "Hais... Kenapa kau pingsan disini. Tidak bisakah di rumah sakit saja..."
.
.
.
Kelopak mata Shena bergerak perlahan dan akhirnya ia membuka mata sepenuhnya. Cahaya silau dari lampu membuat matanya mengernyit.
Sebuah kepala muncul di hadapannya menutupi cahaya lampu itu. "Kau sudah sadar akhirnya". Ucap pria itu lega.
Shena memandang pria ini beberapa detik karena tak kenal. Ia mencoba mendudukkan tubuhnya. Kepalanya terasa sakit. Tangannya memegang kepalanya. Wajahnya menampilkan ekspresi kesakitan. "Aku di rumah sakit?" Tanya dia pada pria di sampingnya. Wajah pria itu penuh dengan luka memar akibat di pukuli dan ia masih bisa tersenyum.
"Hem, kau di rumah sakit" jawabnya.
Shena memejamkan kepalanya untuk mendapatkan kesadaran sepenuhnya. "Sshh... Ahh.... Kenapa malam ini begitu sial". Ucapnya. Matanya terbuka kembali dan menatap pria di sampingnya. "Kenapa kau masih di sini?".
"Ahh kau ini. Aku manusia yang beradab. Mana mungkin aku meninggalkan penyelamatku yang sedang terluka". Ucapnya.
Shena mengangguk setuju. "Ya, benar juga. Kau harus membayar tagihan rumah sakit".
"Siap" jawab pria itu tegas sambil hormat kepada Shena.
Pria itu mengulurkan tangannya pada Shena. "Nama ku Andrew Kyle. Siapa nama mu?"
Shena balas jabatan tangan itu dan ikut memperkenalkan diri. "Shenina Valerie Arious. Kau bisa panggil aku Shena".
"Shena... Nama yang cantik" ucap Andrew manggut-manggut.
Shena memandang wajah pria itu. "Muka mu terlihat sangat jelek. Bukankah harus di obati?".
Andrew terkekeh dan berkata santai. "Wajah tampanku tak akan hilang dengan memar seperti ini". Shena mencebikkan bibirnya.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏