Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERTEMUAN TAK TERDUGA
Matahari bersinar terik di atas proyek pembangunan Jembatan Agung Arrinra. Jembatan ini bukan sekadar susunan batu dan beton; ini adalah ambisi terbesar Serena Arrinra untuk menghubungkan pusat ibukota dengan wilayah pinggiran yang selama puluhan tahun terisolasi oleh jurang kemiskinan dan geografi. Kekaisaran Ser yang luasnya mencapai 2.001.103 Km^2 membutuhkan urat nadi transportasi yang kuat, dan jembatan ini adalah simbol dari janji Serena dua tahun lalu.
Serena berdiri di tepi tebing, memandang ke arah konstruksi yang sedang berjalan. Hari ini ia tidak mengenakan pakaian ninja, juga tidak mengenakan jubah kebesaran peraknya. Ia mengenakan seragam inspeksi militer yang lebih praktis, namun tetap memancarkan aura otoritas yang tak terbantahkan. Di sampingnya, Paman Bram sibuk memeriksa cetak biru yang dibawa oleh para arsitek.
"Progresnya luar biasa, Paman," ujar Serena, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi dentuman palu dan teriakan para pekerja di bawah sana. "Jika ini selesai tepat waktu, distribusi pangan ke wilayah selatan akan meningkat tiga kali lipat."
"Betul, Yang Mulia," sahut Bram. "Tapi biaya keamanannya juga meningkat. Saya mencium aroma ketidakpuasan dari para kontraktor lama yang tidak Anda pilih. Mereka merasa jatah mereka direbut oleh sistem lelang transparan yang Anda buat."
Serena tersenyum tipis. "Biarkan mereka merasa direbut. Setidaknya sekarang emas kerajaan benar-benar berubah menjadi beton, bukan permata di leher selir mereka."
Tiba-tiba, mata perak Serena menangkap sosok yang familiar di antara kerumunan kuli yang sedang mengangkut balok kayu raksasa. Seorang pemuda bertelanjang dada, otot-otot lengannya menegang karena beban, dengan peluh yang mengalir membasahi kulitnya yang kecokelatan. Itu adalah Anton. Dia tampak sedang memberikan instruksi kepada rekan-rekannya tentang cara mengikat beban agar tidak tergelincir.
"Paman, aku ingin turun ke lokasi. Aku ingin melihat kualitas pondasinya secara langsung," kata Serena tiba-tiba.
"Yang Mulia, di bawah sana terlalu berisiko. Debu, material jatuh, dan... yah, terlalu banyak rakyat jelata yang tidak terkontrol," cegah Bram.
"Justru itu tujuannya, Paman. Aku ingin mereka melihat bahwa Kaisar mereka tidak takut kotor," balas Serena mantap. Ia melangkah menuruni tangga kayu darurat tanpa menunggu persetujuan Bram.
Di Tengah Debu dan Keringat
Saat Serena sampai di lantai bawah konstruksi, suasana menjadi sedikit kaku. Para pekerja yang menyadari kehadirannya segera berhenti dan hendak bersujud, namun Serena mengangkat tangannya.
"Teruskan pekerjaan kalian! Jangan biarkan kehadiranku memperlambat pembangunan ini!" seru Serena.
Ia berjalan mendekat ke arah kelompok Anton. Anton yang baru saja meletakkan balok kayu raksasa, menyeka keringat di dahinya dengan lengan bajunya yang dekil. Ia terkejut melihat Serena berdiri hanya beberapa meter darinya.
"Yang Mulia!" Anton segera membungkuk hormat, namun gerakannya kikuk karena tubuhnya penuh debu semen. "Maaf, tempat ini sangat kotor. Tidak pantas bagi Anda berada di sini."
Serena menatapnya, matanya sedikit melembut. "Kotoran bisa dicuci, Anton. Tapi ketidakjujuran dalam pembangunan jembatan ini tidak bisa dimaafkan. Bagaimana menurutmu? Apakah material yang datang sesuai dengan standar yang aku tetapkan?"
Anton berdiri tegak, ia menatap Serena dengan kejujuran yang selalu membuat Serena terkesan. "Jujur, Yang Mulia, semen yang datang kemarin agak sedikit lebih encer dari biasanya. Saya sudah melaporkannya pada pengawas, tapi dia bilang itu hanya masalah cuaca."
Serena menyipitkan mata. "Semen encer? Itu adalah awal dari keruntuhan. Paman Bram! Catat nama pemasok semen untuk minggu ini!"
"Siap, Yang Mulia!" teriak Bram dari kejauhan.
"Terima kasih atas laporannya, Anton. Kau menyelamatkan ribuan orang yang nantinya akan melewati jembatan ini," ujar Serena.
Anton tersenyum tipis. "Saya hanya menjalankan tugas saya, Yang Mulia. Lagipula, saya ingin jembatan ini kuat agar anak-anak di seberang jurang bisa bersekolah ke pusat kota dengan aman."
Serangan Hendap yang Mematikan
Kehangatan percakapan itu tiba-tiba pecah oleh firasat buruk yang merayap di tengkuk Serena. Sebagai seorang ninja yang dilatih di Gunung Ijen, instingnya terhadap bahaya sangatlah tajam. Ia merasakan getaran aneh dari arah tebing di atas mereka.
"Anton, merunduk!" teriak Serena.
Secara bersamaan, terdengar suara ledakan kecil dari arah kabel baja yang menahan crane raksasa di atas mereka. Seseorang telah menyabotase baut pengikatnya. Balok besi seberat lima ton mulai meluncur jatuh tepat ke arah di mana Serena dan Anton berdiri.
"Awas!" Anton beraksi lebih cepat dari yang dibayangkan siapapun. Bukannya lari menyelamatkan diri, ia justru menerjang Serena, memeluk pinggang sang kaisar dan menjatuhkan diri mereka ke arah parit fondasi yang belum kering.
BRAAAAKKKKK!
Balok besi itu menghantam tanah dengan kekuatan dahsyat, menciptakan kawah kecil dan debu yang membubung tinggi hingga menutupi pandangan mata. Sorakan ketakutan para pekerja bergema. Paman Bram berteriak histeris memanggil nama Serena.
Di dalam parit, Serena terengah-engah. Ia berada di bawah tubuh Anton. Pemuda itu melindunginya dengan tubuhnya sendiri, kepalanya terbentur pinggiran kayu pondasi hingga mengeluarkan darah.
"Anton... kau tidak apa-apa?" bisik Serena, suaranya gemetar.
Anton membuka matanya perlahan, meringis menahan sakit di kepalanya. "Saya... saya pikir saya baru saja memeluk Kaisar. Apakah saya akan dihukum gantung karena ini?" candanya lirih di tengah rasa sakit.
"Bodoh! Kau baru saja menyelamatkan nyawaku!" Serena membantu Anton duduk.
Namun, bahaya belum berakhir. Di atas tebing, tiga orang mengenakan topeng hitam muncul dengan busur silang di tangan mereka. Mereka melepaskan anak panah beracun ke arah parit.
Syuuuut! Syuuuut!
"Pengkhianat!" raung Serena. Kemarahannya meledak. Ia berdiri, dan kali ini ia tidak menyembunyikan kekuatannya.
Udara di sekitar jembatan tiba-tiba menjadi sangat panas. Langit yang tadinya cerah mendadak mendung dalam hitungan detik. Serena mengangkat tangannya ke langit.
Jurus Petir Langit: Kilat Pembalasan!
Dhuarrrr!
Sebuah petir tunggal menyambar tebing tersebut dengan akurasi yang mengerikan. Ketiga penembak itu terpental jatuh ke jurang di bawahnya sebelum sempat melepaskan tembakan kedua. Tanah berguncang hebat. Seluruh pekerja terdiam, terpaku melihat kekuatan kaisar mereka yang menyerupai dewi perang.
Dialog di Balik Luka
Pasukan pengawal segera mengepung area tersebut. Paman Bram melompat ke parit dengan wajah pucat pasi. "Yang Mulia! Demi Dewa, apakah Anda terluka?"
"Aku baik-baik saja, Paman. Tapi pemuda ini terluka parah di kepalanya," kata Serena sambil menunjuk Anton yang kini mulai kehilangan kesadaran.
"Bawa dia ke tandu kerajaan! Panggil tabib terbaik istana!" perintah Bram pada prajuritnya.
"Tidak, Paman," potong Serena. "Bawa dia ke paviliun pribadi di istana bawah. Aku sendiri yang akan memastikan dia dirawat dengan benar. Dia adalah penyelamat nyawaku hari ini."
Bram tertegun. "Tapi Yang Mulia, membawa rakyat jelata ke paviliun pribadi... itu akan memicu skandal."
Serena menatap Bram dengan tatapan yang bisa membekukan api. "Skandal? Nyawaku lebih berharga daripada protokolmu, Paman. Jika bukan karena insting tajam Anton, kau sekarang sedang menyiapkan upacara pemakamanku, bukan upacara penobatan jembatan. Lakukan sekarang!"
Prajurit segera mengusung Anton yang pingsan. Serena mengikuti dari belakang, mengabaikan debu dan semen yang kini mengotori seragam militer mahalnya.
Malam di Paviliun
Malam harinya di Istana Arrinra, suasana sangat sunyi. Serena duduk di samping tempat tidur Anton. Pemuda itu sudah diperban kepalanya dan sedang tidur karena pengaruh obat bius dari tabib. Wajahnya tampak jauh lebih damai saat tidur, menghilangkan kesan kuli bangunan yang kasar.
Paman Bram masuk dengan membawa laporan. "Yang Mulia, kami telah menemukan identitas para penyerang. Mereka adalah tentara bayaran yang disewa oleh mantan kontraktor pembangunan jembatan yang berafiliasi dengan keluarga Jenderal Karsa. Mereka tidak senang dengan audit yang Anda lakukan."
"Sudah kuduga," sahut Serena tanpa mengalihkan pandangan dari Anton. "Tangkap semua kontraktor yang terlibat. Jangan beri ampun. Sita seluruh harta mereka dan gunakan untuk membiayai pengobatan pekerja jembatan yang terluka hari ini."
"Baik, Yang Mulia. Dan... soal pemuda ini?" Bram menunjuk Anton.
"Dia bukan sekadar kuli, Paman. Dia punya insting perlindungan yang tidak dimiliki oleh jenderal-jenderalku yang paling berani sekalipun. Dia melindungiku tanpa memikirkan nyawanya sendiri. Kenapa?"
"Mungkin karena dia mencintai kaisarnya, Yang Mulia. Dalam artian rakyat yang mencintai pemimpinnya," jawab Bram hati-hati.
"Atau mungkin lebih dari itu," gumam Serena pelan, hampir tak terdengar.
Tiba-tiba, Anton mengerang dan membuka matanya. Ia tampak bingung melihat langit-langit paviliun yang dihias dengan ukiran kayu jati dan sutra emas.
"Di mana... di mana saya?" tanya Anton serak.
"Kau di istanaku, Anton," jawab Serena sambil menyodorkan segelas air.
Anton mencoba bangkit namun Serena menahannya. "Jangan bergerak dulu. Luka di kepalamu cukup dalam. Kau butuh istirahat."
"Istana? Tapi... pekerjaan saya... jembatan itu..."
"Jembatan itu aman. Dan pekerjaanmu sekarang adalah sembuh," kata Serena tegas.
Anton menatap Serena, menyadari bahwa wanita di depannya ini sekarang bukan lagi sosok kaisar yang berdiri di atas panggung tinggi, melainkan seorang wanita yang menatapnya dengan rasa khawatir yang tulus.
"Kenapa Anda melakukan ini, Yang Mulia? Saya hanya butiran debu di pembangunan jembatan Anda," tanya Anton lirih.
Serena terdiam sejenak. Ia memegang tangan Anton yang kasar dan penuh bekas luka kerja. "Karena butiran debu itulah yang menyatukan semen jembatan ini, Anton. Dan karena butiran debu inilah yang membuatku merasa seperti manusia biasa kembali, bukan hanya sebagai penguasa dua juta kilometer persegi wilayah yang haus kekuasaan."
Anton tersenyum lemah. "Anda adalah kaisar yang aneh, Serena Arrinra."
"Dan kau adalah kuli yang sangat kurang ajar, Anton Firmansyah," balas Serena dengan tawa kecil yang langka.
Malam itu, di tengah kemewahan istana yang biasanya terasa dingin dan penuh intrik, Serena menemukan sebuah kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh petir atau pedang. Pertemuan tak terduga di bawah reruntuhan besi itu telah mengubah segalanya. Ia tahu, mulai besok, tantangannya bukan lagi hanya melawan pengkhianat politik, tapi melawan hatinya sendiri yang mulai jatuh cinta pada seorang rakyat jelata.
Kekaisaran Ser mungkin luas, namun di ruangan kecil itu, dunia Serena hanya berpusat pada seorang pemuda yang berani melindunginya dari maut. Dan ia tahu, badai politik yang sesungguhnya akan segera datang saat berita ini tersebar ke telinga para bangsawan yang haus akan tradisi kaku.