Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Bayangan di Balik Obsidian dan Tawa di Ambang Kematian
Gema geraman dari kedalaman gua obsidian itu bergetar hebat, merambat melalui lantai batu hitam yang dingin dan menjalar naik hingga ke ujung sepatu bot kelompok Algojo Dimensi. Udara di dalam gua yang tadinya mulai menghangat berkat perapian sihir dan aroma Sup Daging Paus Api, seketika anjlok kembali. Bau busuk yang menyerupai campuran belerang cair dan daging busuk purba menyengat hidung, menekan oksigen keluar dari paru-paru.
Ajil berdiri tegap, meletakkan mangkuk kayunya dengan gerakan yang sangat tenang. Matanya yang kelam menyipit, menembus kegelapan mutlak di lorong gua yang tak terjangkau oleh cahaya api unggun. Setelan Malam Abadi miliknya memancarkan pendaran galaksi tipis, efek samping dari asimilasi energi Dewa Andora yang masih menyesuaikan diri dengan tubuhnya di Level 250.
Di belakangnya, keheningan tegang yang seharusnya menyelimuti kelompok itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara seruputan kuah yang sangat tidak elegan.
Sluuurrrp... Ahhh.
Rino, sang raksasa berzirah baja vulkanik, baru saja menenggak habis sisa kuah kaldu paus apinya langsung dari mangkuk hingga tetes terakhir, lalu mengusap bibirnya dengan punggung lengan zirahnya. Ia menoleh ke arah Richard yang sedang memegang perutnya yang keroncongan.
"Tolong katakan padaku itu suara perutmu yang sedang mencerna daging paus, Rich," bisik Rino dengan wajah kelewat serius, memegang pedang lebarnya yang belum ditarik dari sarungnya. "Karena jika itu monster, aku benar-benar malas berdiri. Otot pahaku masih kram setelah mendaki gletser sialan tadi."
Richard, sang Ksatria Es Abadi yang kini mengenakan Jubah Sisik Leviathan, memutar bola matanya dengan gaya teatrikal. Ia menggunakan gagang tombaknya untuk menopang tubuhnya berdiri. "Perutku tidak berbau seperti ribuan mayat Dwarf yang membusuk di dalam rendaman belerang, Raksasa Bodoh. Lagipula, sejak kita mendapat berkat dari Dewa Andora, kau menjadi semakin banyak makan. Jangan sampai kau mati karena kolesterol sebelum kita bertemu naga es."
Mendengar perdebatan konyol di ambang maut itu, Erina yang berdiri di sebelah Ajil memijat pelipisnya. Urat kekesalan tercetak jelas di dahi pualam sang High Elf.
"Kalian berdua benar-benar dua gumpalan daging tak berguna yang merusak estetika kelompok ini," desis Erina, matanya berkilat hijau menyala menatap kedua pria itu. "Sebuah ancaman primordial sedang berjalan ke arah kita, dan kalian membahas pencernaan?! Jika monster itu tidak memakan kalian, aku sendiri yang akan mengubah kalian menjadi pupuk untuk pohon Mallorn!"
Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti saat pertama kali mereka bertemu Erina, Rino dan Richard hanya saling bertukar pandang lalu tersenyum tipis. Selama beberapa minggu terakhir, mereka telah sangat terbiasa dengan mulut berbisa sang peri dan wajah datar Ajil. Sifat posesif Erina dan ancaman pembunuhannya tak lebih dari sekadar 'sapaan selamat pagi' di telinga mereka.
Rino sedikit menyenggol siku Richard dan berbisik cukup keras hingga Erina bisa mendengarnya, "Kau dengar itu, Rich? Dia tidak mengancam akan mengebiri kita hari ini. Hanya menjadikan kita pupuk. Aku menyebut ini sebuah kemajuan hubungan interpersonal yang luar biasa."
"Sepakat," Richard mengangguk mantap, menepuk bahu Rino. "Nona Peri kita mulai memiliki hati nurani. Mungkin ini efek karena Tuan Ajil sering mendiamkannya akhir-akhir ini."
"APA KALIAN BILANG?!" pekik Erina, wajahnya memerah karena malu dan marah, busur emasnya seketika muncul di tangannya.
"Cukup," potong Ajil.
Suara bariton sang Algojo mengalun sedingin es abadi di luar gua. Tidak ada nada tinggi, tidak ada bentakan, namun frekuensi mutlak dari suaranya membuat Rino, Richard, dan Erina seketika membungkam mulut mereka rapat-rapat. Mereka bisa saja bercanda dengan Erina, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani melintasi garis batas kesabaran Ajil.
Wajah Ajil tetap sekaku pahatan baja. Matanya tak beralih dari kegelapan. "Apapun yang keluar dari lorong itu, jangan gunakan sihir area. Gua obsidian ini rentan terhadap resonansi energi tinggi. Jika langit-langitnya runtuh, kita akan terkubur hidup-hidup di bawah gletser Benua Utara."
Begitu kalimat Ajil selesai, langkah kaki yang sangat berat terdengar menghantam lantai batu. BUM... BUM... BUM...
Dari balik bayang-bayang yang pekat, sesosok bayangan raksasa merangkak keluar menampakkan wujudnya di bawah temaram cahaya api unggun cendana sihir.
Itu bukanlah monster biasa. Makhluk itu memiliki tinggi mencapai empat meter, posturnya bungkuk menyerupai seekor gorila, namun seluruh tubuhnya tersusun dari tulang-belulang raksasa yang tidak berwarna putih, melainkan hitam mengkilap menyerupai kaca obsidian. Di sela-sela tulang rusuknya, jantung magma berwarna biru berdetak memancarkan hawa dingin yang luar biasa pekat. Mulutnya tidak memiliki bibir, hanya deretan taring tajam yang meneteskan cairan korosif pembeku.
[SISTEM: Peringatan Ekstrem! Anomali Primordial Terdeteksi.]
[Nama: Wendigo Tulang Obsidian (Predator Gletser Kuno)]
[Level: 180]
[Kelas: SS+ (Kebal Terhadap Sihir Elemen Dasar)]
[Karakteristik: Zirah Tulang Pemantul Sihir. Memakan *Mana* kehidupan.]
Melihat Level 180 terpampang di udara, Rino dan Richard, yang kini baru mencapai Level 135 dan 133, menelan ludah paksa. Keringat dingin mengucur di dahi mereka. Di benua lain, monster level seratus ke atas sudah dianggap mitos yang bisa meratakan sebuah negara. Namun di Benua Utara, mereka bertemu dengan monster Level 180 yang hanya sedang mencari camilan malam.
"Oke, aku tarik kembali kata-kataku tentang paha yang kram," ucap Rino, wajahnya memucat, namun ia tetap melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Ajil dan Erina. Ia mencabut Pedang Lebar Tulang Naga-nya. Aura api neraka seketika menyelimuti bilah pedangnya. "Richard, kita bertugas melindungi Tuan Ajil dari serangan depan! Ayo kita lihat seberapa keras tulang hitam ini!"
Richard memutar Tombak Kristal Es Kutub-nya, kabut pembeku memancar dari ujung tombaknya. "Sihir elemen dasar tidak berguna, Rino! Gunakan murni energi fisik yang dilapisi mana!"
Kedua mantan elit Valeria itu menerjang maju. Rino melompat dengan kecepatan yang melampaui peluru berkat peningkatan levelnya, mengayunkan pedang raksasanya lurus ke arah tengkorak sang Wendigo.
"HAAA! Tebasan Meteor Vulkanik!" raung Rino.
Wendigo Tulang Obsidian itu hanya mendongak, matanya yang berupa rongga kosong menyala biru. Makhluk itu tidak menghindar. Ia mengangkat satu lengannya yang terbuat dari jalinan tulang hitam tajam, menyambut tebasan Rino.
TRANGGGG!!
Benturan keras terjadi. Percikan api neraka meledak, namun pedang tulang naga milik Rino sama sekali tidak mampu menggores tulang obsidian monster itu. Alih-alih terpotong, tulang lengan monster itu justru menyerap hawa panas dari pedang Rino, lalu mengeluarkan hembusan gas pembeku dari sela-sela jarinya.
"Ugh!" Rino terlempar mundur, lengannya mati rasa akibat gaya tolak yang luar biasa keras.
Di saat yang sama, Richard meluncur dari bawah, menusukkan tombaknya ke arah jantung magma biru di balik rusuk monster itu.
CLANK! Ujung tombak Richard meleset, tertangkis oleh tulang rusuk monster yang mendadak merapat layaknya tirai besi. Monster itu memutar tubuhnya, menghantamkan punggung tangannya ke dada Richard.
BUM! Richard terlempar sejauh sepuluh meter, menabrak dinding gua hingga terbatuk darah, meski Jubah Sisik Leviathan-nya berhasil mencegah tulang rusuknya patah.
Erina menarik tali busurnya, menciptakan tiga anak panah angin suci padat. "Minggir kalian berdua, Serangga Lemah!"
Wussh! Wussh! Wussh!
Anak panah Erina melesat. Namun, Wendigo itu hanya mengibaskan tangannya. Tulang-tulang obsidian di punggungnya memanjang seketika membentuk perisai. Anak panah sihir High Elf Level 220 itu menabrak perisai tulang tersebut, dan secara mengejutkan, anak panah itu terpecah menjadi serpihan cahaya tanpa memberikan daya rusak sedikit pun.
"Apa?!" Erina membelalakkan matanya. "Tulang obsidian itu menyerap 100% mana elemen luar!"
Monster primordial itu meraung keras, sebuah suara melengking yang membuat gendang telinga Rino dan Richard nyaris pecah. Ia mengangkat kedua lengannya, siap menghancurkan kelompok itu menjadi bubur darah.
Namun, sebelum monster itu mengambil satu langkah pun, sosok bayangan hitam melesat melewatinya.
Ajil tidak berjalan. Ia menggunakan kecepatan gerak murni dari tubuh Level 250 miliknya yang kini telah melampaui batasan ruang konvensional.
Dalam sepersekian detik, Ajil telah berdiri tepat di bawah dagu sang Wendigo, di dalam area titik buta monster raksasa tersebut. Tidak ada Pedang Petir Hijau Abadi yang ditarik. Tidak ada Aura Gravitasi Jiwa yang diaktifkan secara luas karena peringatannya tentang dinding gua tadi.
Ajil menatap jantung magma biru di balik sangkar rusuk obsidian itu dengan wajah yang benar-benar kosong, sedingin dewa maut yang sedang mencabut rumput liar.
Pria berjaket hitam itu hanya menarik tangan kanannya sedikit ke belakang. Ia mengepalkan tangannya. Tinju Petir Ungu diaktifkan, namun kali ini, ia memadukan energi murni dari Berkat Dewa Andora ke dalam kepalan tangannya, menciptakan sebuah pusaran petir berukuran mikroskopis namun memiliki kepadatan massa setara dengan sebuah bintang kerdil putih.
"Kalian terlalu berisik," desis Ajil datar.
BAM!
Ajil menghantamkan tinjunya bukan dengan ayunan penuh, melainkan hanya dengan satu pukulan jarak pendek—sebuah One-Inch Punch murni yang diarahkan tepat ke tulang dada tengah sang Wendigo.
Tidak ada ledakan spektakuler. Tidak ada kilatan petir yang membutakan.
Namun, efek dari hantaman fisik Level 250 yang dipadukan dengan kompresi absolut itu sangat mengerikan. Tulang dada obsidian yang kebal terhadap segala sihir elemen itu retak dalam kesunyian. Retakan itu menyebar dengan kecepatan kilat ke seluruh kerangka monster tersebut, dari ujung tengkorak hingga ke jari kakinya.
KRRRRTTT... KRAAAAK!
Dalam hitungan tiga detik, Wendigo Tulang Obsidian Level 180 itu hancur menjadi debu obsidian hitam yang jatuh luruh ke lantai gua. Jantung magma birunya jatuh terguling ke kaki Ajil, cahayanya memudar hingga akhirnya mati sepenuhnya. Monster primordial yang bisa menghancurkan sebuah kota itu, dieksekusi hanya dengan satu pukulan pendek yang bahkan tidak menghasilkan suara ledakan.
[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Wendigo Tulang Obsidian (Lv.180). EXP Mutlak Ditambahkan!]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 252.]
[Menyerap drop material: 1x Jantung Beku Purba, 50x Pecahan Tulang Obsidian. Disimpan.]
Ajil menarik tangannya kembali ke dalam saku trench coat-nya seolah ia baru saja mengusir lalat. Debu hitam dari mayat monster itu menyapu ujung sepatu botnya, namun tidak ada sehelai pun yang menempel pada Setelan Malam Abadi-nya.
Di belakangnya, Rino dan Richard masih terduduk di tanah dengan mulut menganga lebar. Pedang dan tombak mereka tergeletak tak berdaya. Mereka saling bertukar pandang dengan mata yang seolah akan melompat keluar dari rongganya.
"B-Berapa detik itu tadi?" bisik Rino dengan rahang bawah yang bergetar.
"Dua," jawab Richard menelan ludah paksa. "Dan dia bahkan tidak menarik lengannya lebih dari satu jengkal. Rino... aku merasa kita berdua di sini hanya untuk menjadi pemandu sorak."
Rino menghela napas panjang, bangkit berdiri sambil menepuk debu dari zirah merahnya. "Yah, setidaknya kita adalah pemandu sorak dengan bayaran paling tinggi di dunia. Berapa banyak petualang yang bisa melihat pertunjukan ini setiap hari secara gratis?"
Mendengar ocehan konyol kedua anak buahnya, Erina mendengus pelan, meski ia sendiri masih berusaha menetralkan debar jantungnya karena takjub pada kekuatan Ajil.
"Berhentilah mengoceh dan bersihkan debu kotor dari lantai ini, Pelayan," perintah Erina angkuh, berjalan kembali menuju perapian sihir mereka yang apinya sedikit meredup karena hembusan angin dari serangan tadi.
Ajil memutar tubuhnya perlahan, melangkah kembali menuju api unggun. Wajahnya tidak memancarkan rasa puas sedikit pun. Pertarungan tadi tidak berarti apa-apa baginya. Ia duduk kembali bersila di depan perapian, mengambil sepotong Roti Gandum Hitam Karbon yang tadi ia letakkan di atas batu bersih, dan mulai mengunyahnya kembali dengan ekspresi yang sama kakunya dengan batu obsidian di dinding gua.
Melihat Ajil yang begitu dingin, Rino dan Richard yang baru saja kembali duduk di dekat perapian saling menyikut pelan. Rino berdehem, mencoba memecahkan suasana kaku yang memancar dari sang pemimpin.
"Ehem... Tuan Ajil," panggil Rino dengan senyum canggung yang dibuat-buat. "Pukulan tadi sungguh sangat... luar biasa. Maksudku, jika Tuan Ajil mau, Tuan bisa saja meninju gunung di luar sana dan membuat jalan pintas untuk kita."
"Benar," timpal Richard dengan nada penuh harap yang konyol. "Atau mungkin meninju badai salju itu agar mereka takut dan pergi? Saya rasa cuaca pun akan menghormati kekuatan Level Demigod Anda, Tuan."
Ajil menghentikan kunyahannya. Ia menatap kedua pria dewasa berotot kekar di depannya itu dengan pandangan yang kosong, namun menembus hingga ke dasar jiwa mereka.
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti gua. Erina menahan senyumnya, tahu betul bahwa kedua manusia bodoh ini akan segera mendapat pelajaran verbal dari sang Algojo.
Ajil meletakkan sisa rotinya. Mata kelamnya memantulkan cahaya api unggun yang menari-nari.
"Baja yang ditajamkan hanya untuk memotong daun, akan patah berkeping-keping saat dipaksa menghantam batu karang," ucap Ajil. Suara baritonnya berat, lambat, dan sarat akan pengalaman berdarah dari kehidupannya yang lalu di Bumi, memotong seluruh sisa kelucuan di udara gua tersebut.
Rino dan Richard seketika menegakkan punggung mereka, senyum mereka luntur, menyadari bahwa Ajil sedang memberikan sebuah Kata Mutiara yang harus mereka ukir di dalam otak mereka.
"Kelucuan dan tawa kalian di ambang kematian mungkin adalah perisai mental yang bagus untuk menjaga kewarasan kalian agar tidak gila di dunia ini," lanjut Ajil dingin, matanya menatap lekat ke arah Rino dan Richard. "Tapi jangan biarkan tawa itu menumpulkan insting membunuh kalian. Karena saat monster merobek tenggorokan kalian, dunia ini tidak akan pernah ikut tertawa. Ia hanya akan mengubur kalian dalam kesunyian yang abadi. Jika kalian terus bersikap lengah karena merasa terlindungi oleh kekuatanku... kalian tidak akan pernah pantas memegang pedang kalian sendiri."
Kata-kata itu menghantam ulu hati Rino dan Richard layaknya pukulan telak. Mereka menyadari kesalahan mereka. Mereka terlalu bergantung pada sosok monster absolut di depan mereka ini, hingga mereka melupakan esensi dari perjuangan seorang petualang. Tawa mereka barusan adalah bentuk pelarian dari rasa tidak berguna mereka.
"K-Kami mengerti, Tuan Ajil," ucap Rino menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasa malu membakar wajahnya. "Kami tidak akan mengulanginya. Kami akan mengasah diri kami hingga pantas berdiri sejajar di medan perang, bukan bersembunyi di belakang punggung Anda."
Richard meninju dada kirinya, memberikan salam hormat militer yang kaku. "Maafkan kebodohan kami, Pemimpin. Mulai besok, kami akan berada di garis depan."
Ajil tidak membalas lagi. Ia kembali memakan rotinya seolah percakapan itu tidak pernah terjadi. Erina menatap Rino dan Richard dengan tatapan yang anehnya sedikit melunak, sebelum akhirnya sang peri abadi itu juga ikut memakan Sup Daging Paus Api miliknya dengan elegan.
Di luar gua, badai salju Benua Utara terus mengamuk dengan buas, lolongannya terdengar seperti raungan naga es yang kelaparan. Suhu udara di luar menyentuh angka minus seratus derajat. Gunung Tempa Abadi masih berdiri kokoh di kejauhan, menanti kedatangan sang anomali pembawa kematian.
Malam itu, kelompok Algojo Dimensi beristirahat di dalam keheningan gua obsidian, dijaga oleh kehangatan api perapian dan kebekuan hati sang Pemimpin. Perjalanan menuju markas ras Dwarf akan kembali dilanjutkan esok pagi, dan mereka semua tahu, rintangan yang sesungguhnya belum menampakkan wajahnya.