Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Dua tahun telah berlalu sejak deru mesin jet pribadi itu membawa mereka menjauh dari pusaran maut di London. Selandia Baru menyambut mereka dengan kemurnian yang tak tersentuh—puncak-puncak pegunungan Queenstown yang berselimut salju abadi, udara yang beraroma pinus segar, dan ketenangan yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup.
Di sebuah rumah kayu yang hangat dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke Danau Wakatipu, kehidupan "Arlo" dan "Brianna" telah tumbuh subur. Tidak ada lagi setelan jas mewah yang menyesakkan atau gaun desainer yang penuh kepura-puraan. Ezzvaro kini lebih sering mengenakan kemeja flanel tebal, sementara Gabriel tampak lebih segar dengan rambut yang dibiarkan tergerai alami.
Pagi itu, di atas karpet bulu di ruang tengah, seorang malaikat kecil sedang mencoba menantang gravitasi. Zendaya, putri kecil mereka yang berusia empat belas bulan, sedang berusaha melangkahkan kaki mungilnya. Matanya yang bulat dan tajam—persis seperti mata Ezzvaro—berkilat penuh tekad.
"Sedikit lagi, Zen... ayo, Sayang, ke arah Papa," gumam Ezzvaro yang berlutut di ujung karpet, merentangkan tangannya yang kini sudah sembuh total, meski bekas luka tembak itu masih menghiasi lengannya sebagai lencana kesetiaan.
Zendaya tertawa kecil, menampakkan gigi-gigi susunya yang baru tumbuh, lalu terjatuh ke pelukan Ezzvaro dengan ceria. Ezzvaro mengangkat putrinya, mencium pipinya yang gembul dengan penuh kasih. Di dapur, Gabriel tersenyum melihat pemandangan itu sambil meletakkan dua cangkir cokelat panas di atas meja.
Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat televisi di sudut ruangan yang menyiarkan saluran berita internasional mulai menampilkan wajah yang sangat mereka kenal.
"Breaking News dari London: Fank Manafe, pendiri dan pemimpin Manafe Group, dilaporkan tewas dalam sebuah kecelakaan mobil tragis di pinggiran kota..."
Gelas di tangan Gabriel hampir saja terlepas. Ezzvaro membeku, matanya terpaku pada layar televisi yang kini menampilkan rekaman mobil hitam mewah yang hancur tak berbentuk setelah menghantam pembatas jalan dengan kecepatan tinggi.
"Penyebab kecelakaan masih misterius dan dalam penyelidikan kepolisian. Sementara itu, dewan direksi Manafe Group telah menunjuk putra tertua, Tharzeo Manafe, untuk mengambil alih kepemimpinan penuh demi menjaga stabilitas pasar. Perusahaan raksasa itu dipastikan tidak akan bangkrut di bawah kendali sang 'Robot' yang kini resmi menjadi penguasa baru..."
Zendaya yang merasakan ketegangan ayahnya mulai merengek pelan. Ezzvaro menurunkan putrinya ke lantai dengan tangan yang gemetar. Ia berjalan mendekati televisi, menatap wajah ayahnya yang kini dibingkai dalam warna hitam-putih di layar.
Tiba-tiba, kaki Ezzvaro terasa lemas. Ia terduduk di sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangis yang selama dua tahun ini ia pendam—rasa benci, rindu, dendam, dan duka yang tumpang tindih—akhirnya pecah.
"Vavo..." Gabriel segera menghampiri, berlutut di depan suaminya dan menggenggam tangan Ezzvaro yang dingin.
"Dia mati, Gaby... Ayahku mati dengan cara seperti itu," suara Ezzvaro parau, tersumbat oleh tangis yang hebat. "Meskipun dia ingin membunuh kita... meskipun dia menghancurkan hidup kita... dia tetap orang yang mengajariku cara berdiri. Dia tetap pria yang fotonya selalu ingin kubanggakan saat aku kecil."
Gabriel menarik Ezzvaro ke dalam pelukannya, membiarkan kepala pria itu bersandar di bahunya. Ia merasakan kemeja flanel Ezzvaro basah oleh air mata. Gabriel sendiri merasa sesak; ia membenci Fank karena kekejamannya, namun ia tahu betapa hancurnya Ezzvaro kehilangan sosok yang—betapa pun beracunnya—adalah akar dari keberadaannya.
"Tumpahkan semuanya, Vavo. Menangislah," bisik Gabriel lembut sambil mengusap punggung Ezzvaro. "Kau tidak perlu menjadi kuat sekarang. Di sini, kau hanya Arlo, suamiku, dan ayah dari Zendaya. Kau bukan lagi bidak catur Fank Manafe."
Ezzvaro menangis sejadi-jadinya, sebuah tangisan pelepasan atas masa lalu yang kelam. Ia menangis untuk masa kecilnya yang kaku, untuk ibunya yang menderita di bawah bayang-bayang Fank, dan untuk perpisahan tragis yang membuat mereka tidak sempat bertukar kata maaf.
Zendaya, yang tampaknya mengerti kesedihan ayahnya, merangkak mendekat dan menyentuh lutut Ezzvaro. "Pa... Pa?" panggilnya dengan suara cadel yang polos.
Ezzvaro mendongak, matanya merah dan sembap. Ia melihat Zendaya, lalu melihat Gabriel. Di tengah berita duka yang mengguncang dunia bisnis itu, ia menyadari satu hal: Tharzeo berhasil. Kakaknya tidak membiarkan Manafe Group bangkrut. Theo telah mengambil takhta itu untuk melindungi apa yang tersisa, sekaligus mungkin untuk menjaga agar Ezzvaro dan Gabriel tetap aman di tempat persembunyian mereka.
"Tharzeo akan mengurus semuanya, Vavo," ucap Gabriel meyakinkan. "Dia sudah menjadi penguasa sekarang. Manafe Group aman di tangannya. Kita tidak perlu kembali ke neraka itu."
Ezzvaro menghapus air matanya, menarik napas panjang yang bergetar. Ia meraih tangan kecil Zendaya dan menggenggamnya. "Kau benar. Ayah sudah pergi membawa semua dosa dan ambisinya. Dan kita... kita memiliki surga kecil kita di sini."
Matahari mulai meninggi di atas Queenstown, memantulkan cahaya keemasan di permukaan danau yang tenang. Berita kematian Fank Manafe mungkin akan menjadi pembicaraan dunia selama berbulan-bulan, namun di rumah kayu itu, kehidupan terus berjalan.
Ezzvaro mengecup dahi Gabriel dengan lama. "Terima kasih telah menjagaku, Gaby. Dan terima kasih telah memberikan Zendaya padaku. Dia... dia adalah masa depanku yang sebenarnya."
Gabriel tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Ezzvaro. Di kejauhan, mereka tahu Tharzeo sedang berjuang di London untuk menstabilkan kekaisaran mereka, namun di sini, di ujung dunia, yang ada hanyalah aroma cokelat panas, langkah-langkah kecil Zendaya, dan cinta yang akhirnya menemukan kedamaiannya sendiri—bebas dari bayang-bayang seorang Fank Manafe.
🌷🌷🌷