NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.Si Kecil Yang Datang Berkunjung

Bel istirahat pertama baru saja menggelegar di seluruh koridor sekolah, memecah ketegangan yang mengendap di ruang kelas 12-A semenjak pelajaran Matematika berakhir. Ren menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang sudah terasa cukup akrab di punggungnya, merasakan sisa rasa manis dari permen gula Ibu Keiko yang masih menetap di pangkal lidahnya. Ia menghela napas panjang, siap memejamkan mata sejenak untuk menyegarkan pikiran sebelum pelajaran selanjutnya – hingga sebuah keributan kecil yang penuh semangat terdengar dari arah pintu koridor.

"Kak Ren! Kakak!"

Suara cempreng namun jelas itu menusuk ke dalam telinga Ren dengan mudah. Ia bahkan tidak perlu membuka mata untuk mengetahui siapa pemiliknya, tapi ia tetap membukanya perlahan saat merasakan bahwa seluruh kelas tiba-tiba menjadi hening dan semua mata menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu kelas yang terbuka lebar, seorang gadis kecil berusia sekitar 12 tahun dengan seragam SD warna putih-merah berdiri dengan dada naik turun karena terengah-engah. Rambut hitamnya yang biasanya dikuncir rapi menjadi dua sekarang tampak berantakan, beberapa helai menutupi dahinya yang penuh dengan keringat, dan wajahnya memerah karena terpapar sengatan matahari yang cukup kuat di Jayapura siang hari.

Tentu saja itu Rin – adik perempuan satu-satunya.

"Rin? Kamu kenapa bisa ada di sini?" Ren langsung berdiri dari kursinya, sama sekali mengabaikan tatapan heran dan sedikit penasaran dari teman-temannya. Ia melangkah cepat menghampiri adiknya yang kini sedang mencoba mengangkat sebuah kotak bekal besar berwarna biru laut dengan kedua tangan kecilnya.

"Ini... Ayah bilang Kakak lupa bawa bekal yang sudah kita siapkan bareng tadi subuh," Rin berkata sambil berusaha mengatur napas yang masih terengah-engah. Ia menyodorkan kotak bekal itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan, namun ekspresinya tetap penuh semangat. "Aku lari dari sekolahku terus ke sini, Kakak. Satpamnya awalnya mau marah karena aku masuk tanpa izin resmi, tapi pas aku bilang aku adiknya Akira Ren, dia langsung mengangguk dan bilang boleh masuk saja."

Ren berjongkok perlahan di depan Rin, sama sekali tidak peduli dengan jarak tinggi badan mereka yang cukup mencolok di tengah koridor yang mulai ramai. Ia merogoh saku jaket seragamnya dan mengeluarkan sapu tangan kain lusuh namun bersih, lalu mulai menyeka keringat di dahi dan pipi adiknya dengan gerakan yang sangat lembut – jauh berbeda dengan sikap dingin yang ia tunjukkan saat menghadapi Ibu Keiko tadi. Jari-jarinya yang kasar menyentuh kulit lembut Rin dengan penuh perhatian, seperti sedang menangani bahan makanan yang mudah rusak.

"Kamu benar-benar lari sejauh itu hanya untuk membawakan bekal ini?" suara Ren terdengar rendah, namun ada nada khawatir yang jelas terselip di dalamnya meskipun wajahnya tetap tampak datar. "Harusnya kamu tidak usah repot. Aku bisa saja makan apa saja di kantin sekolah."

"Tapi Kakak selalu bilang makanan kantin terlalu banyak bumbu atau terlalu sedikit rasa – tidak pernah seimbang seperti masakan Ayah dan yang Kakak buat," protes Rin dengan suara yang sedikit mengambang, sambil mengerucutkan bibirnya yang merah muda. "Dan Ayah juga bilang, bekal ini ada resep baru yang dia modifikasi. Dia mau Kakak coba dan kasih pendapat karena nanti akan jadi menu spesial di restoran."

Tepat saat itu, langkah kaki yang tenang namun jelas terdengar dari arah ujung koridor. Seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang lurus sempurna seperti dibuat oleh profesional muncul dari balik sudut koridor. Ia mengenakan seragam kelas 11 yang terlihat sangat rapi – lipatan bajunya tepat di tempatnya, dasi tidak sedikitpun kusut, dan sepatunya bersih tanpa noda sedikitpun. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat pandangannya jatuh pada kelompok kecil yang terbentuk di depan kelas 12-A.

Mata cokelat gelap gadis itu tiba-tiba membelalak lebar saat melihat sosok Ren yang sedang berjongkok lembut di depan seorang anak kecil. Ekspresi wajahnya yang biasanya tenang dan terkontrol mulai berubah, seolah melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga akan lihat lagi.

"Rin? Itu benar-benarmu, kan?" suara gadis itu terdengar lembut, namun jelas bergetar karena emosi yang sedang ia coba tahan dengan segala kekuatannya.

Ren dan Rin menoleh bersamaan ke arah suara itu. Rin adalah yang pertama bereaksi – matanya yang tadinya sedikit lesu tiba-tiba berbinar dengan kebahagiaan, dan senyum lebar yang menunjukkan semua giginya tumbuh di wajahnya. "Kak Yuki! Wah, Kak Yuki kembali! Aku sudah nungguin kamu sejak Ayah bilang kamu mau balik!"

Gadis itu – Saiba Yuki, teman masa kecil Ren dan Rin yang sudah pergi selama lima tahun – melangkah mendekat dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, seolah takut pemandangan di depannya akan lenyap begitu saja seperti ilusi pagi. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, melihat sekeliling dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu. Ia masih ingat dengan jelas betapa ramai dan hangatnya koridor sekolah ini dulu, namun sekarang rasanya seperti datang ke tempat yang baru meskipun semua fasilitas terlihat sama. Kenangan terakhirnya tentang keluarga Akira adalah aroma tepung terigu dan gula yang selalu memenuhi dapur restoran Kudo, serta tawa mereka yang riang saat sedang berebut membuat kue.

"Lama sekali tidak jumpa, Yuki," sapa Ren dengan nada yang singkat namun hangat, berbeda dengan cara ia menyapa orang lain di sekolah. Ia berdiri perlahan, namun tetap meletakkan salah satu tangannya di bahu Rin dengan lembut – sebuah gerakan yang sudah menjadi kebiasaan sebagai bentuk perlindungan yang alami.

Yuki berdiri terpaku di tempatnya, mata tak bisa lepas dari wajah Ren yang sudah jauh berbeda dari yang ia ingat. Ren yang dulu selalu penuh dengan tawa dan selalu belepotan tepung di wajah dan baju kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampak lebih dewasa, dengan tatapan mata yang jauh lebih dalam dan terkadang terasa dingin. Namun di balik semua itu, ia masih bisa merasakan aura yang sama – sesuatu yang membuatnya merasa aman dan nyaman seperti pulang ke rumah.

"Ren... kamu sudah tumbuh sangat tinggi sekarang," bisik Yuki dengan suara yang sedikit terengah-engah. Ia mencoba mengeluarkan senyumnya yang khas, meskipun matanya sudah mulai sedikit berkaca-kaca karena rasa rindu yang muncul dengan kuat. "Aku dengar dari Pak Kudo kalau kalian masih tetap mengelola restoran Kudo dengan baik. Maaf ya aku baru bisa menyapa sekarang – aku baru saja pindah ke sini minggu lalu, dan masih sibuk dengan administrasi sekolah."

"Kak Yuki harus mampir ke rumah kita ya! Boleh banget!" seru Rin sambil menarik ujung seragam putih Yuki dengan tangan kecilnya yang penuh semangat. "Kak Ren sekarang sudah jadi koki yang sangat hebat, lho! Masakannya bahkan lebih enak dari Ayah – banyak pelanggan yang datang khusus hanya untuk makan masakan Kak Ren!"

Yuki melirik ke arah Ren dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, dan ada kilatan kompetitif yang muncul sebentar di balik matanya yang ekspresif. "Benarkah itu? Padahal dulu kamu selalu kalah dariku saat kita berlomba membuat pancake saat libur musim panas. Kamu selalu terlalu banyak memasukkan gula atau terlalu sedikit telur."

Ren mendengus kecil, dan sebuah tawa sarkastik yang nyaris tak terdengar keluar dari mulutnya. Ia mengangkat bahu dengan gaya yang santai. "Itu sudah sepuluh tahun yang lalu, Yuki. Banyak hal yang berubah selama itu – termasuk lidah orang untuk merasakan rasa yang pas."

Suasana di koridor itu tiba-tiba terasa berbeda. Kehadiran Yuki seolah membawa kembali udara hangat dari masa lalu, mencairkan suasana sekolah yang biasanya terasa kaku dan tidak ramah. Hana, yang sejak tadi berdiri diam di balik pintu kelas dan mengamati semua kejadian dengan cermat, merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya – sebuah perasaan yang tidak ia kenali dengan jelas saat melihat kedekatan alami yang terlihat antara Ren, Rin, dan gadis baru yang tiba-tiba muncul itu. Ia mengerutkan dahi sejenak sebelum menyadari bahwa dirinya sedang menatap mereka terlalu lama.

Yuki melihat ke arah kotak bekal yang masih berada di tangan Ren. "Itu masakan yang Ayah kamu buat?"

"Masakan dasar dibuat Ayah. Aku hanya membantu menyusun dan memastikan tekstur bahan tidak berubah saat disimpan dalam kotak ini," jawab Ren dengan jujur, sambil sedikit menggeser kotak agar tidak terjatuh.

Yuki melangkah selangkah lebih dekat, menghirup udara dengan perlahan. Aroma yang keluar dari dalam kotak bekal itu langsung masuk ke hidungnya yang sensitif. "Ada aroma pala dan lada putih yang kuat... ini pasti resep semur daging khas keluarga kalian yang aku ingat, kan? Tapi ada sedikit sentuhan aroma cengkeh yang berbeda – tidak terlalu banyak, tapi cukup untuk membuat perbedaan."

Ren sedikit tertegun. Ia tidak menyangka bahwa kemampuan sensorik Yuki masih tetap tajam setelah sekian lama tidak bertemu. Ia bisa merasakan bahwa Yuki benar-benar mengerti tentang rasa dan aroma, bukan hanya sekadar menebak.

"Kamu masih punya hidung yang tajam seperti dulu," gumam Ren dengan nada yang penuh rasa hormat.

"Tentu saja aku punya," jawab Yuki dengan sedikit tersenyum. Ia melihat langsung ke mata Ren, dan ekspresinya menjadi lebih serius. "Aku tidak hanya kembali untuk sekolah, Ren. Aku kembali karena ingin mengambil posisiku di dapur restoran Kudo – seperti yang kita janjikan dulu saat masih kecil."

Rin tertawa riang mendengar itu, lalu menarik tangan Ren dan Yuki dengan kuat hingga kedua orang dewasa itu harus sedikit mendekat dan membentuk lingkaran kecil di tengah koridor. "Kalau begitu, ayo kita makan bersama aja sekarang! Kak Yuki harus coba bekal ini juga – pasti sangat enak!"

Ren melihat ke arah adiknya yang penuh semangat, lalu kembali melihat ke wajah Yuki yang penuh dengan tekad. Ia merasakan bagaimana suasana yang tadinya tenang dan biasa-biasa saja di sekolah mulai berubah. Mungkin kedamaian yang ia cari di antara dinding sekolah ini tidak akan datang sesederhana yang ia bayangkan – tapi setidaknya, sekarang ada sesuatu yang membuat hidupnya di sekolah menjadi jauh lebih menarik.

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!