Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sha Nuo Terluka Parah
Hari benar-benar telah berganti. Cahaya pagi yang lembut menembus celah sempit jendela kamar Sha Nuo, menyelinap masuk dalam bentuk garis-garis tipis yang memanjang di atas lantai kayu tua. Debu halus yang melayang di udara tampak berkilau samar, tersentuh cahaya matahari yang hangat.
Tidak ada lagi sisa gemuruh energi yang kemarin mengguncang ruangan ini. Tidak ada kilatan petir yang membelah udara. Tidak ada ledakan qi yang membuat dinding bergetar dan jendela berderak. Kini, yang tersisa hanyalah keheningan. Keheningan panjang yang menekan dada.
Sha Nuo terbaring di atas ranjang kayunya. Tubuhnya dibalut perban dari dada hingga kedua lengan. Olesan ramuan kental berwarna hijau kehitaman melapisi hampir seluruh bagian tubuh yang terluka. Teksturnya lengket, pekat, dan berbau pahit tajam, aroma campuran belasan tanaman obat langka yang hanya diketahui oleh sedikit ahli pengobatan tingkat tinggi.
Ramuan itu adalah racikan Boqin Changing sendiri. Ia mencampurkan Daun Serat Jiwa, Akar Apel Beku, serbuk Bunga Anggrek Batu Ungu, serta beberapa bahan yang bahkan sulit ditemukan di dunia luar. Racikan itu bukan ramuan biasa. Ia dirancang untuk satu tujuan, menstimulasi regenerasi jaringan yang hancur dan mempertahankan sisa vitalitas agar tidak benar-benar padam.
Namun meski sudah diobati sepanjang malam… Sha Nuo masih belum sadar. Wajahnya pucat seperti kertas tipis. Bibirnya kering. Napasnya begitu halus hingga hampir tak terdengar. Dada itu naik turun pelan… sangat pelan… sampai-sampai orang biasa mungkin akan salah mengira bahwa ia telah berhenti bernapas.
Boqin Changing duduk di sisi ranjang, tidak bergerak sejak lama. Ia belum beranjak sedikit pun. Tubuhnya sendiri masih menyisakan kelelahan pasca terobosan besar yang mengguncang fondasi kultivasinya. Meridian-meridiannya baru saja mengalami transformasi luar biasa. Dantiannya masih dalam fase stabilisasi. Namun semua itu ia abaikan sepenuhnya.
Di telapak tangan kanannya, api biru menyala lembut. Tidak liar. Tidak membakar.
Api itu berputar perlahan seperti pusaran kecil yang hidup. Warnanya biru tosca dengan inti putih samar di tengahnya. Setiap denyutnya mengeluarkan kehangatan stabil, menembus lapisan perban dan meresap perlahan ke dalam tubuh Sha Nuo.
Api Phoenix Biru Ektomi. Kemarin, api itu digunakan untuk menahan badai energi yang hampir menghancurkan segalanya. Kini, api itu berfungsi untuk sesuatu yang jauh lebih halus, memperbaiki sisa kehancuran yang tertinggal.
Boqin Changing menundukkan pandangannya. Tatapannya tertuju pada kedua tangan Sha Nuo. Perban yang membungkusnya tebal, dililit berlapis-lapis hingga ke ujung jari. Namun Boqin tidak membutuhkan penglihatan biasa untuk mengetahui apa yang ada di baliknya. Dengan qi-nya, ia bisa merasakan struktur di dalamnya dengan jelas, tulang. Hanya tulang.
Dari siku hingga ujung jari, jaringan otot hampir habis terbakar oleh tekanan energi yang dipaksakan keluar tanpa henti selama berhari-hari. Serat-serat daging itu terkoyak. Pembuluh energi mengering. Meridian di kedua lengan itu rusak parah, beberapa retak, beberapa terdistorsi, dan beberapa… terputus total.
Ia menghela napas pelan.
“…Terlalu parah.”
Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti bisikan yang tertahan di antara dada dan tenggorokan.
Dengan tingkat kerusakan seperti ini… bahkan jika Sha Nuo selamat dan sadar kembali, satu kenyataan pahit tetap tak bisa dihindari. Ia mungkin tidak akan pernah lagi menggunakan tangannya seperti dulu.
Mungkin ia masih bisa mengangkatnya sedikit. Mungkin bisa menggenggam sesuatu dengan usaha besar. Namun kekuatan seorang pendekar? Jurus yang membutuhkan aliran qi presisi melalui sepuluh jalur mikro di jari-jari? Itu hampir mustahil.
Dada Boqin terasa sesak. Kemarin… Sha Nuo benar-benar berada di ambang kematian. Kesadarannya hampir padam sepenuhnya. Denyut jantungnya sempat melemah hingga nyaris tak terdeteksi. Jika ia terlambat sedikit saja… jika ia terlalu larut dalam euforia terobosannya sendiri… mungkin sekarang yang terbaring di ranjang ini hanyalah jasad dingin.
Untung saja ia sadar tepat waktu. Ia memutus koneksi energi tanpa ragu. Ia menutup jalur yang terus memaksa api biru mengalir. Ia menstabilkan sisa percikan kesadaran Sha Nuo dengan teknik pemelihara jiwa tingkat tinggi, teknik yang bahkan dalam kehidupan pertamanya jarang ia gunakan karena risikonya sangat besar.
Ia menyuntikkan qi murni secara bertahap. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Setiap dorongan dihitung. Setiap aliran ditimbang. Fase kritis itu… akhirnya berhasil dilewati. Namun harga yang harus dibayar tetaplah mengerikan.
Boqin Changing kembali menatap wajah pria tua itu. Pipi Sha Nuo tampak lebih cekung dari biasanya. Tubuhnya terlihat kurus, seolah vitalitasnya telah terkikis habis.
“Kau ini benar-benar bodoh…” gumam Boqin pelan.
Api biru di tangannya berdenyut mengikuti getaran emosinya.
“Seharusnya kau menghentikannya.”
Suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha keras membuatnya tetap stabil.
“Jika tubuhmu sudah tidak mampu menopang lagi… kau seharusnya menarik apimu. Biarkan aku menanggung sisanya sendiri.”
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh perban di lengan Sha Nuo. Di bawah lapisan kain itu, ia bisa merasakan tulang yang rapuh. Retakan-retakan kecil masih menganga seperti celah tipis pada batu kering.
“Kau seharusnya memikirkan nyawamu sendiri.”
Ruangan tetap sunyi. Hanya suara napas tipis dan denyut lembut api biru yang terdengar. Boqin Changing menunduk. Tatapannya menggelap.
Namun di balik kekesalan itu, ia tahu satu hal yang tak bisa ia bantah. Sha Nuo tidak akan pernah menghentikannya.
Pria tua itu sudah membuat keputusan sejak awal. Sejak hari pertama ia berdiri di belakang Boqin Changing dan berkata bahwa ia akan menopang proses ini sampai akhir.
Sha Nuo bersikeras membantu, bahkan ketika jelas bahwa tubuhnya tidak dirancang untuk menahan tekanan sebesar itu. Ia bahkan sempat berucap, jika proses penyerapan dihentikan di tengah jalan, maka ia tidak akan mau membantu lagi di masa depan. Ancaman yang terdengar keras kepala. Namun di baliknya, tersimpan tekad tanpa syarat.
Boqin Changing terdiam lama. Dalam kehidupan pertamanya, Zhi Shen juga pernah berdiri seperti itu di belakangnya. Tanpa ragu. Tanpa memikirkan untung rugi. Tanpa mempertanyakan apakah pengorbanannya sepadan.
Kini sejarah seperti berulang. Hanya wajahnya yang berbeda.
Boqin Changing mengepalkan tangannya perlahan.
“Aku tidak membutuhkan pengorbanan seperti ini…” bisiknya lirih.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu kenyataan yang tak bisa ia tolak. Ia memang membutuhkannya.
Tanpa api biru Sha Nuo yang stabil selama berhari-hari itu, proses penyerapan Batu Pelangi Surga mungkin akan berakhir dengan kehancuran total. Meridian-nya bisa pecah. Dantiannya bisa retak. Bahkan jiwanya mungkin akan tercerai-berai tanpa fondasi yang cukup kuat.
Ia memang berhasil menembus Ranah Pendekar Langit. Namun keberhasilan itu tidak berdiri sendiri. Itu berdiri di atas pengorbanan seseorang.
Boqin Changing mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi. Api biru di telapaknya membesar tipis, lalu menyusup lebih dalam ke jaringan tangan Sha Nuo. Ia memfokuskan kesadarannya pada penyusunan ulang meridian yang terputus.
Proses itu sangat lambat. Ia harus membentuk jalur energi baru, menenunnya dengan presisi, seperti menjahit kain yang telah robek parah menjadi satu kembali. Setiap simpul energi harus tepat. Setiap sambungan harus stabil. Sedikit saja terlalu kuat… tulang yang sudah rapuh itu bisa hancur sepenuhnya.
“Kau keras kepala,” lanjutnya pelan. “Tapi… kau bukan satu-satunya yang keras kepala di ruangan ini.”
Tatapannya berubah tegas.
“Aku sudah menembus Ranah Pendekar Langit. Jangan kira aku akan membiarkan tanganmu hancur begitu saja.”
Di dalam benaknya, ratusan kemungkinan berputar cepat. Ramuan tambahan. Teknik pemurnian tulang. Metode ekstrem seperti menumbuhkan ulang jaringan dengan inti api kehidupan.
Semua opsi itu berisiko. Beberapa bahkan bisa memperparah kondisi jika gagal. Namun ia tidak gentar.
Ia sudah pernah kehilangan orang-orang penting di kehidupan pertamanya karena terlambat menyadari nilai mereka. Ia sudah pernah berdiri sendirian di antara puing-puing, menyadari bahwa kekuatan sebesar apa pun tidak bisa mengembalikan yang telah tiada.
Kali ini tidak. Boqin Changing mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke ranjang.
“Dengar baik-baik, Paman,” ucapnya pelan, suaranya kini jauh lebih lembut. “Jika kau bersikeras mempertaruhkan nyawamu untukku… maka aku juga akan bersikeras menyelamatkanmu.”
Api biru berdenyut hangat. Di bawah perban, jari Sha Nuo yang tak bergerak itu… seolah bergetar sangat tipis. Begitu tipis hingga hampir tak terlihat.
Boqin Changing membeku. Napasnya tertahan di dada. Indera qi-nya langsung memusat pada titik itu. Namun getaran tersebut tidak berlanjut. Ia hanya refleks kecil akibat aliran energi baru yang ia suntikkan. Bukan kesadaran. Bukan respons sadar. Meski begitu, tatapannya tidak lagi segelap sebelumnya.
“Baik,” bisiknya pelan. “Setidaknya kau masih bertahan.”
Ia kembali memusatkan konsentrasinya. Api biru mengalir lebih stabil, lebih terkontrol. Setiap denyutnya teratur seperti detak jantung kedua yang mendampingi jantung Sha Nuo sendiri.
Cahaya lembut memenuhi ruangan. Bayangan hangat menari di dinding kayu. Aroma pahit ramuan bercampur dengan wangi tipis energi murni. Waktu berlalu perlahan, ditandai oleh pergeseran cahaya matahari yang semakin tinggi di langit.
Di luar, dunia terus berjalan. Namun di dalam kamar yang sunyi itu, seorang pendekar yang baru saja menembus Ranah Pendekar Langit duduk tanpa bergerak. Ia tidak memikirkan reputasi. Tidak memikirkan kekuatan barunya. Tidak memikirkan ancaman yang mungkin datang setelah terobosannya mengguncang banyak pihak.
Ia hanya memikirkan satu hal. Menjaga nyawa yang hampir padam. Karena kali ini… ia tidak akan membiarkan sejarah mengambil sesuatu darinya lagi.