Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Menunggu sebenarnya bukan tentang berapa banyak detik yang berdetak di jam dinding, atau seberapa sering matahari terbit dan tenggelam di balik cakrawala. Menunggu adalah tentang seberapa banyak bagian dari diri kita yang luruh setiap kali kesunyian menghantam dinding pikiran. Ada orang yang menunggu agar luka mereka sembuh, ada yang menunggu agar dendam mereka terbalaskan, dan ada yang menunggu hanya untuk menyadari bahwa mereka tidak lagi mengenal orang yang menatap balik dari pantulan cermin. Di Menara Barat Aethelgard, menunggu adalah sebuah proses pengikisan; mengikis rasa takut, mengikis keraguan, dan menyisakan sebuah tekad yang jauh lebih tajam daripada mata pedang mana pun.
Arlo Valerius berdiri diam di tengah ruangan, membiarkan debu-debu halus menari di sekelilingnya dalam sorotan cahaya sore yang masuk melalui celah sempit. Ia tidak lagi bergerak dengan gelisah seperti hari pertama. Tubuhnya kini memiliki ketenangan yang ganjil, ketenangan yang biasanya hanya dimiliki oleh pemangsa sebelum ia melompat. Ia mengenakan kemeja linen yang sudah sangat kusam, kancing atasnya terlepas, memperlihatkan tulang selangkanya yang tampak lebih menonjol.
Tangannya bergerak perlahan, meraba permukaan meja kayu yang kasar. Di sana, peta pelabuhan rahasia dari Cedric masih terbentang. Arlo sudah menghafal setiap lekukan garis pantai, setiap kedalaman teluk, dan setiap posisi pos penjagaan yang tidak resmi. Ia tahu bahwa kebebasan Kalea bergantung pada seberapa baik ia bisa mengalihkan perhatian seluruh kerajaan saat ia keluar dari sini nanti.
Ia mengambil sepotong batu kecil dari lantai, lalu berjalan menuju dinding yang sudah penuh dengan goresan retakan. Arlo menambahkan satu garis pendek lagi. Garis ketujuh. Hari terakhir hukumannya.
Suara langkah kaki di luar pintu besi kembali terdengar. Kali ini tidak ada nada ragu-ragu. Suaranya berat dan bergema, menandakan bahwa sang pembawa berita tidak datang untuk bernegosiasi.
Klek. Klek. Srak.
Pintu besi itu terbuka lebar. Lord Cedric berdiri di sana, dikelilingi oleh empat pengawal berseragam lengkap dengan baju zirah yang berkilau terkena cahaya koridor. Cedric tidak segera masuk. Ia menatap Arlo cukup lama, matanya yang tua menyisir kondisi fisik Arlo yang berantakan namun tetap terlihat berwibawa.
"Hukuman Anda telah berakhir, Yang Mulia," suara Cedric terdengar sedikit bergetar, meskipun ia mencoba menutupinya dengan nada formal. "Raja telah menunggu di aula utama. Begitu juga dengan Putri Helena."
Arlo menurunkan tangannya yang memegang batu kecil. Ia tidak segera menanggapi. Ia berjalan menuju tempat tidur, mengambil jubah beludrunya yang sudah berdebu, lalu menyampirkannya di bahu dengan satu gerakan yang tenang. "Apakah keretanya sudah siap, Cedric?"
"Sudah, Yang Mulia. Perancang busana dari Vandellia juga sudah menunggu di kamar Anda untuk pengukuran akhir gaun dan setelan pernikahan," jawab Cedric sambil membungkuk dalam.
Arlo melangkah keluar dari ruangan yang telah menjadi dunianya selama seminggu terakhir. Saat kakinya menginjak lantai marmer koridor yang lebih halus, ia merasakan sebuah tekanan yang berbeda. Udara di luar menara terasa lebih berat, penuh dengan ekspektasi dan kepalsuan yang menyesakkan. Ia berjalan di tengah barisan pengawal, dagunya terangkat, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Sepanjang perjalanan menuju aula utama, Arlo memperhatikan setiap pelayan yang ia lewati. Mereka semua membungkuk sedalam mungkin, namun Arlo bisa melihat ketakutan di mata mereka. Kabar tentang penyerangan "tukang cat" itu pasti sudah menyebar menjadi mitos yang menakutkan di seluruh istana. Mereka tidak tahu bahwa pangeran mereka justru sedang menyimpan rahasia tentang gadis itu di bawah kemejanya.
Begitu pintu aula utama terbuka, Arlo disambut oleh kemegahan yang menyilaukan. Ratusan lilin menyala di lampu gantung kristal, dan aroma parfum mahal kembali menyerbu indra penciumannya. Di ujung aula, Raja Valerius duduk di tahtanya, dan di sampingnya stands Helena, mengenakan gaun berwarna emas yang begitu berkilau hingga tampak seperti api yang membeku.
Helena melangkah maju saat Arlo mendekat. Ia tidak menunggu Arlo berlutut. Ia justru segera memeluk lengan Arlo, jemarinya yang mengenakan sarung tangan renda mencengkeram lengan Arlo dengan kekuatan yang tidak terlihat dari luar.
"Selamat datang kembali, Arlo," bisik Helena, bibirnya tersenyum namun matanya tetap sedingin es. "Kau terlihat lebih... liar. Aku harap Menara Barat sudah mengajarkanmu cara menjinakkan diri sendiri."
Arlo melepaskan tangannya dari genggaman Helena dengan gerakan halus namun tegas. Ia melangkah maju, berlutut di depan ayahnya. "Saya telah menjalani hukuman saya, Yang Mulia."
Raja Valerius menatap putranya dari atas tahta. Pria tua itu tampak puas melihat Arlo yang tidak lagi mendebatnya. "Bagus. Aku harap kau mengerti sekarang bahwa setiap tindakanmu memiliki konsekuensi. Besok adalah hari besar. Aku tidak ingin ada lagi gangguan, sekecil apa pun itu."
"Saya mengerti, Ayah," jawab Arlo pendek.
Arlo berdiri, lalu ia menoleh ke arah Helena. "Putri Helena, saya butuh waktu sebentar untuk membersihkan diri sebelum kita melakukan pengukuran busana. Saya harap Anda tidak keberatan menunggu di taman mawar."
Helena mengernyitkan dahi. Ia merasakan perubahan pada nada bicara Arlo—terlalu tenang, terlalu menurut. Hal itu justru membuatnya merasa curiga. "Aku akan menunggumu di kamar pengantin, Arlo. Ada beberapa hal tentang dekorasi yang ingin kupastikan kau setujui."
Arlo hanya mengangguk kecil, lalu ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya di sayap timur. Begitu ia masuk ke dalam kamarnya, ia segera mengunci pintu. Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa aroma Helena dari paru-parunya.
Di sudut kamar, tiga orang penjahit sudah menunggu dengan kain-kain sutra dan perak. Arlo berdiri di atas podium kecil, membiarkan mereka bekerja di sekelilingnya. Ia tidak lagi protes saat mereka menyematkan jarum atau menarik kain di pinggangnya. Pikirannya sedang melayang pada maklumat kuno yang ia temukan di perpustakaan.
“Tanah di mana keringat pekerja tumpah... tidak boleh dimiliki oleh satu orang pun...”
Arlo menyadari bahwa ia tidak bisa membatalkan pernikahan ini sendirian tanpa memicu perang. Tapi ia bisa mengubah fondasi kekuasaan yang membuat pernikahan ini menjadi mungkin. Jika ia bisa memberikan hak atas tanah istana kepada rakyat jelata—termasuk area pelabuhan rahasia—maka otoritas ayahnya untuk mengontrol pelarian Kalea akan runtuh secara hukum.
Setelah satu jam yang melelahkan, para penjahit itu keluar. Arlo segera berjalan menuju meja kerjanya, mengambil selembar perkamen kosong dan pena bulu. Tangannya bergerak cepat, menuliskan sebuah dekrit kerajaan yang menyamar sebagai "Hadiah Pernikahan untuk Rakyat Aethelgard".
Ia menyusun kata-katanya dengan sangat hati-hati, menggunakan bahasa hukum yang rumit agar tidak segera dicurigai oleh ayahnya. Di dalamnya, ia memasukkan poin bahwa seluruh wilayah Sayap Utara dan pelabuhan sekitarnya akan dijadikan zona perdagangan bebas yang dikelola oleh dewan pekerja, bukan oleh mahkota secara langsung.
Suara ketukan di pintu mengejutkan Arlo. Ia segera melipat perkamen itu dan menyembunyikannya di balik tumpukan buku.
"Arlo? Apakah kau sudah selesai?" itu suara Helena.
Arlo membukakan pintu. Helena masuk dengan langkah angkuh, matanya langsung menyapu seisi kamar Arlo. Ia melihat tumpukan buku sejarah di atas meja dan sedikit debu kapur yang masih tertinggal di kuku Arlo.
"Kau masih menyimpan debu itu," ucap Helena sambil meraih tangan Arlo, menatap kuku pria itu dengan jijik. "Kau benar-benar tidak bisa melepaskannya, ya?"
Arlo menarik tangannya kembali. "Ada beberapa noda yang tidak bisa hilang hanya dengan air, Helena."
Helena duduk di kursi kerja Arlo, membuka-buka buku yang ada di meja dengan jemarinya yang lancang. "Aku sudah menerima laporan dari pelabuhan selatan pagi ini. Ada sebuah kapal kayu tua yang terlihat berlayar menuju Solandis dua hari lalu. Kapal itu sangat mencurigakan, tapi cuaca buruk membuat kapal patroliku tidak bisa mendekat."
Helena menoleh ke arah Arlo, senyumnya kini terlihat sangat mengerikan. "Kau tahu apa yang aku lakukan? Aku memerintahkan mereka untuk tidak perlu mengejar kapal itu. Aku hanya menyuruh mereka menaruh pelacak api sihir di lambung kapalnya. Ke mana pun kapal itu pergi, aku akan tahu."
Darah Arlo seolah membeku. Pelacak api sihir. Itu adalah teknik kuno yang jarang digunakan karena biayanya yang sangat mahal. Helena benar-benar serius dengan ancamannya.
"Kenapa kau melakukan ini, Helena?" tanya Arlo, suaranya kini terdengar sangat rendah dan bergetar.
Helena berdiri, melangkah mendekati Arlo hingga dada mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap mata Arlo dengan tatapan yang penuh dengan obsesi dan kegilaan yang tersembunyi. "Karena aku benci kehilangan, Arlo. Dan aku benci berbagi. Jika kau ingin memberikan hatimu pada tikus itu, silakan. Tapi aku akan memastikan bahwa setiap kali kau memikirkannya, kau akan teringat bahwa akulah yang memegang tali lehernya."
Helena mengelus pipi Arlo dengan sarung tangan rendanya. "Jangan coba-coba menjadi pahlawan lagi, Arlo. Besok, saat kita berdiri di depan altar, aku ingin kau tersenyum dengan tulus. Jika tidak... aku hanya perlu mengirimkan satu sinyal api, dan kapal itu akan terbakar di tengah laut tanpa ada satu pun saksi mata."
Helena berbalik dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Arlo dalam kehancuran yang total.
Arlo jatuh terduduk di kursi. Napasnya memburu. Ia tidak menyangka Helena akan bertindak sejauh itu. Ia meremas kepalanya dengan kedua tangan. Rencananya dengan dekrit hukum itu tidak akan cukup cepat untuk menyelamatkan Kalea jika Helena bisa meledakkan kapal itu kapan saja.
Ia harus bertindak malam ini. Bukan sebagai pangeran, bukan sebagai penguasa, tapi sebagai pria yang sedang mempertaruhkan nyawanya.
Arlo berjalan menuju lemari senjatanya yang tersembunyi. Ia mengambil sebuah pisau lipat kecil dan sebotol cairan kimia pembersih yang sempat ia curi dari Sayap Utara. Ia tahu di mana Helena menyimpan peralatan sihirnya—di Paviliun Vandellia yang terletak di sayap barat istana.
Istana Aethelgard malam itu tampak sangat sunyi, namun bagi Arlo, setiap bayangan yang jatuh di lantai terasa seperti mata-mata yang mengawasinya. Ia menyelinap keluar melalui jalur rahasia yang biasa ia gunakan. Ia mengenakan pakaian hitam polos, menutupi wajahnya dengan tudung agar tidak dikenali oleh pengawal patroli.
Paviliun Vandellia dijaga oleh dua pengawal pribadi Helena. Mereka tampak waspada, namun Arlo tahu mereka memiliki titik buta di sisi balkon yang menghadap ke laut. Arlo memanjat dinding batu yang kasar, menggunakan keterampilan yang ia pelajari dari memperhatikan Kalea bekerja di perancah. Jemarinya mencengkeram celah-celah batu, otot lengannya menegang saat ia mengangkat beban tubuhnya sendiri.
Begitu sampai di balkon, ia menyelinap masuk melalui jendela yang tidak terkunci. Ruangan itu wangi melati, aroma yang kini membuatnya mual. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar dengan bola kristal besar yang berpijar dengan cahaya merah redup.
Itu adalah pemancar api sihir.
Arlo mendekati meja itu. Ia bisa melihat titik cahaya merah kecil di dalam bola kristal yang terus berkedip—lokasi kapal Kalea. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa menghancurkan bola ini secara paksa, karena ledakannya akan membangunkan seluruh istana. Ia harus menetralkan energinya.
Ia mengeluarkan botol cairan kimia pembersih batu yang ia bawa. Ia tahu cairan ini memiliki sifat asam yang sangat kuat, mampu mengikis partikel energi jika dituangkan dengan dosis yang tepat. Dengan tangan yang gemetar, Arlo menuangkan cairan itu perlahan ke dasar bola kristal.
Suara desis halus terdengar saat cairan itu menyentuh permukaan kristal. Asap putih tipis mulai mengepul. Arlo terus menuangkannya, matanya terpaku pada titik merah di dalam bola. Titik itu mulai meredup, berkedip tidak beraturan, sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Arlo mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Pelacak itu sudah mati. Helena tidak akan bisa lagi melacak keberadaan Kalea.
Namun, tepat saat ia hendak berbalik untuk keluar, sebuah lampu minyak dinyalakan di sudut ruangan.
"Aku sudah menduga kau akan datang ke sini, Arlo."
Helena berdiri di ambang pintu kamar tidurnya, mengenakan jubah tidur sutra berwarna merah. Ia tidak tampak terkejut. Ia justru tersenyum, sebuah senyum yang sangat tenang namun sarat dengan kengerian.
"Kau benar-benar mencintainya sampai rela merangkak di dinding seperti pencuri," Helena melangkah masuk, matanya menatap bola kristal yang kini sudah retak dan berasap. "Kau pikir kau sudah menyelamatkannya? Kau pikir dengan menghancurkan pelacak ini, semuanya berakhir?"
Arlo berdiri tegak, pisau lipatnya masih tergenggam di tangan. "Kau tidak akan bisa menyentuhnya lagi, Helena."
"Mungkin tidak lewat sihir," Helena mengangkat sebuah lonceng perak kecil di tangannya. "Tapi aku hanya perlu membunyikan lonceng ini sekali, dan pengawal akan masuk. Mereka akan menemukan Putra Mahkota di kamar calon istrinya dengan senjata di tangan dan merusak peralatan sihir milik kerajaan sekutu. Kau tahu apa hukumannya, Arlo? Penghianatan terhadap aliansi."
"Lakukan saja," tantang Arlo. "Bunyikan lonceng itu. Aku akan menceritakan pada seluruh dunia mengapa aku di sini. Aku akan menceritakan tentang percobaan pembunuhan yang kau rencanakan terhadap rakyat Aethelgard. Mari kita lihat siapa yang akan lebih hancur."
Helena terdiam. Ia menatap Arlo dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara benci, iri, dan kekaguman yang ganjil. "Kau rela menghancurkan namamu sendiri demi dia?"
"Aku tidak pernah peduli dengan namaku, Helena. Aku hanya peduli pada apa yang nyata. Dan kau... kau hanyalah bayangan yang terbuat dari emas dan kebohongan," Arlo melangkah menuju jendela balkon.
Sebelum ia melompat, ia menoleh sekali lagi ke arah Helena. "Pernikahan besok akan tetap berjalan. Aku akan berdiri di sana. Tapi jangan pernah berharap kau akan memiliki sedetik pun dari jiwaku. Karena jiwaku sudah pergi bersama kapal itu, jauh sebelum kau sempat memasang rantaimu."
Arlo melompat turun ke kegelapan, menghilang di antara semak-semak taman.
Helena berdiri mematung di tengah ruangannya yang berasap. Ia menatap bola kristalnya yang hancur. Tangannya yang memegang lonceng perak gemetar hebat. Ia tidak membunyikannya. Bukan karena ia takut pada ancaman Arlo, tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa sangat kalah. Ia memiliki segalanya—kecantikan, kekayaan, dan tahta—namun ia tidak bisa memiliki satu hal yang paling diinginkan oleh setiap manusia: perhatian yang jujur dari seseorang.
Di dalam kamarnya, Arlo segera membersihkan tangannya dari sisa cairan kimia. Ia mengganti pakaiannya, menyembunyikan pakaian hitamnya di bawah tumpukan kayu bakar di perapian. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap.
Hanya ada satu hari lagi. Satu hari menuju skenario akhir yang sudah ia siapkan.
Ia meraba saku bantalnya, mencari koin perunggu pemberian Kalea. Ia menggenggam koin itu erat-erat. "Tinggal sedikit lagi, Kalea," bisiknya.
Tidur Arlo malam itu sangat nyenyak, meskipun esok hari ia harus menghadapi altar yang terasa seperti tiang gantungan. Karena ia tahu, di tengah lautan yang luas, sebuah kapal sedang berlayar tanpa ada bayangan merah yang mengikutinya. Dan baginya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat setiap menit sandiwaranya di istana ini menjadi berarti.
Matahari mulai naik di ufuk timur Aethelgard, menandakan dimulainya hari pernikahan agung yang akan dicatat dalam sejarah. Namun tidak ada yang tahu, bahwa di balik tirai kemegahan itu, seorang pangeran sedang bersiap untuk melakukan retakan terakhir yang akan meruntuhkan seluruh gedung kerajaan yang ia pimpin.
Arlo berdiri di depan jendela, melihat persiapan pesta di bawah sana. Ia menarik napas panjang. Panggung sudah siap. Para aktor sudah berada di tempatnya. Dan hari ini, Arlo Valerius akan memastikan bahwa penonton akan mengingat namanya bukan sebagai raja yang patuh, melainkan sebagai pria yang menghancurkan mahkota demi sebuah kejujuran.
Retakan itu kini sudah mencapai puncak fondasi. Dan Arlo siap untuk melihat semuanya runtuh dalam damai.