NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: SKAKMAT DI ATAS PUING-PUING

Lantai marmer lobi Janardana Group terasa bergetar di bawah langkah kaki Sasmita yang terburu-buru. Napasnya pendek, tersengal oleh sisa gas pemadam api yang masih memenuhi paru-parunya. Di tangannya, tas kerja milik Broto didekap erat seolah itu adalah jantungnya sendiri. Bramasta Aditya terus berada di sampingnya, tangan pria itu sesekali menyentuh pinggang Sasmita untuk memastikan wanita itu tidak jatuh tersungkur di tengah kerumunan karyawan yang mulai panik.

"Kita tidak bisa keluar lewat pintu utama, Sasmita! Anak buah Broto pasti sudah memblokade jalan!" teriak Bramasta di telinga Sasmita.

"Lalu ke mana?!" Sasmita menoleh, matanya merah karena iritasi gas.

"Basement 3. Ada akses keluar melalui lorong pembuangan limbah yang langsung menuju stasiun kereta bawah tanah. Itu satu-satunya jalan yang tidak mereka jaga!"

Mereka melompat ke dalam lift barang yang sedang terbuka. Begitu pintu tertutup, Sasmita menyandarkan punggungnya ke dinding besi lift yang dingin. Ia membuka tas kerja Broto dengan tangan gemetar. Di dalamnya, selain amplop cokelat, terdapat sebuah alat perekam suara digital tua. Sasmita menekan tombol play dengan ujung jarinya yang masih berlumuran debu kimia.

"...Ratna terlalu banyak bertanya, Broto. Dia mulai curiga soal aliran dana ke rekening luar negeri itu," suara Rena terdengar di rekaman, suaranya tajam dan penuh kebencian.

"Tenang saja, Rena. Aku sudah menyiapkan 'vitamin' khusus untuknya. Campurkan saja ke tehnya setiap pagi. Dalam satu bulan, jantungnya akan menyerah secara alami. Dokter pribadi yang kusewa akan menuliskan diagnosa gagal jantung bawaan. Tidak akan ada otopsi," sahut suara Broto, tenang dan dingin tanpa beban.

Sasmita memejamkan mata. Air mata jatuh, membasahi amplop cokelat di pangkuannya. Mendengar mereka merencanakan pembunuhan ibunya semudah merencanakan menu makan siang membuat seluruh tubuh Sasmita menggigil hebat.

"Mereka monster, Bram... Mereka benar-benar iblis," bisik Sasmita serak.

Bramasta Aditya menatap layar indikator lift yang turun dengan cepat. "Dan sebentar lagi, dunia akan melihat wajah asli iblis-iblis itu. Tapi kita harus sampai ke stasiun televisi nasional sekarang. Jika kita hanya menyerahkan ini ke polisi lokal, Broto punya koneksi untuk melenyapkan bukti ini di tengah jalan."

Lift berdenting di lantai Basement 3. Pintu terbuka ke sebuah ruangan beton yang gelap dan lembap. Mereka berlari menembus lorong-lorong pipa yang berliku hingga akhirnya keluar di sebuah gang sempit yang terhubung langsung dengan pintu masuk stasiun MRT yang ramai.

Di sana, sebuah mobil van hitam polos sudah menunggu. Seorang pria dengan jaket hoodie gelap membuka pintu. "Masuk! Cepat!"

Sasmita mengenali pria itu sebagai adik sepupu Bramasta yang semalam menyamar menjadi pengacara di mansion. Di dalam van, sudah tersedia perangkat laptop canggih dan koneksi satelit.

"Sasmita, dengar," Bramasta memegang kedua bahu Sasmita, memaksa wanita itu menatap matanya. "Kita punya waktu sepuluh menit sebelum Broto mengeluarkan perintah blokir total. Aku sudah menghubungi produser 'Debat Utama' di TVN. Mereka sedang siaran langsung sekarang. Mereka bersedia memberimu slot interupsi darurat jika kamu berani tampil."

Sasmita menarik napas panjang. Ia mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan jejak jelaga dan air mata. "Aku tidak hanya berani, Bram. Aku haus akan ini."

Sepuluh menit kemudian, van itu berhenti tepat di depan gedung stasiun televisi. Dengan perlindungan dari dua pengawal pribadi yang baru saja datang, Sasmita merangsek masuk ke dalam studio. Kehadirannya yang tiba-tiba, dengan pakaian yang kotor dan wajah yang penuh luka, membuat kru televisi tertegun.

Presenter acara, seorang wanita senior yang dikenal tajam, tampak terkejut saat Sasmita berjalan langsung menuju panggung utama, tepat di tengah-tengah segmen diskusi tentang "Krisis Kepemimpinan di Janardana Group".

"Mohon maaf atas interupsi ini," suara Sasmita bergema di seluruh studio, masuk ke jutaan rumah melalui siaran langsung. "Nama saya Sasmita Janardana. Dan saya di sini untuk mengungkap bahwa ayah dan ibu saya bukan meninggal karena kecelakaan atau sakit. Mereka dibunuh."

Studio mendadak senyap. Jutaan pasang mata di seluruh negeri terpaku pada layar televisi. Sasmita tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk menghentikannya. Ia menyambungkan alat perekam Broto ke sistem audio studio dengan bantuan Bramasta.

Suara percakapan pembunuhan Ratna berkumandang di seluruh negeri.

Sasmita kemudian menunjukkan dokumen pengalihan aset ilegal yang ditandatangani oleh Broto dan Rena. "Rumah kami dibagi bukan karena sengketa warisan biasa. Rumah itu dibagi karena di bawah fondasinya, tersimpan bukti pencucian uang yang selama sepuluh tahun ini menghidupi gaya hidup mewah para pengkhianat ini."

Di layar monitor studio, terlihat berita terkini muncul: Kepolisian mengepung Gedung Janardana Group. Broto dan komplotannya mencoba melarikan diri lewat helipad namun berhasil dicegat.

Sasmita merasa sebuah beban berat terangkat dari pundaknya. Keadilan yang ia impikan selama sepuluh tahun akhirnya terwujud dalam hitungan menit. Namun, saat ia menoleh ke arah Bramasta Aditya untuk berbagi kemenangan itu, ia melihat pria itu sedang berdiri di pojok studio, berbicara di telepon dengan ekspresi wajah yang sangat gelap.

Bramasta menutup teleponnya dan mendekati Sasmita. "Kita harus pergi, Sasmita. Sekarang."

"Kenapa? Kita menang, Bram! Polisi sudah menangkap Broto!"

"Belum semua, Sasmita," bisik Bramasta, suaranya bergetar. "Ada satu orang lagi. Orang yang memegang kendali atas dana darurat yang baru saja dipindahkan dari rekening ibumu tepat setelah siaran ini dimulai."

Sasmita mengerutkan kening. "Siapa? Bukankah Broto yang memegang kendalinya?"

Bramasta menatap Sasmita dengan pandangan yang penuh rasa sakit. "Bukan Broto. Broto hanyalah umpan yang lain. Seseorang telah menggunakan namaku dan akses hukumku untuk menguras habis sisa aset Janardana tepat saat perhatian semua orang teralih pada drama televisi ini."

Sasmita merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mundur satu langkah. "Maksudmu... kamu?"

"Bukan aku! Tapi seseorang yang memiliki sidik jari dan kode yang sama denganku," Bramasta Aditya mencengkeram kepalanya sendiri. "Adikku... Aris. Dia tidak benar-benar mati sepuluh tahun lalu, Sasmita. Dia memalsukan kematiannya dan bekerja untuk seseorang yang jauh lebih besar dari Rena atau Broto."

Tiba-tiba, ponsel Sasmita bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Isinya adalah sebuah foto: Garis merah di atas marmer mansion yang kini sudah hangus.

Di bawah foto itu tertulis pesan:

"Rumah yang terbagi sudah runtuh, Sasmita. Terima kasih telah membantu kami membersihkan pion-pion yang tidak berguna seperti Rena dan Broto. Sekarang, aset Janardana sudah berpindah tangan ke 'keluarga' yang sebenarnya. Selamat memulai hidup baru dari nol."

Sasmita merasa kakinya lemas. Ia jatuh terduduk di lantai studio yang dingin. Jadi, selama ini ia hanya digunakan? Balas dendamnya, garis merahnya, perjuangannya semalam di tengah api... itu semua adalah bagian dari rencana besar untuk menyingkirkan Rena dan Broto agar "pemain besar" ini bisa mengambil alih tanpa hambatan?

Ia menoleh ke arah Bramasta. Pria itu berlutut di depannya, mencoba memegang tangan Sasmita, namun Sasmita menepisnya dengan kasar.

"Siapa 'keluarga' yang sebenarnya itu, Bram? Jawab aku!" teriak Sasmita histeris.

Bramasta menunduk, air mata jatuh dari matanya. "Keluarga Waskita. Musuh bebuyutan kakekmu yang dulu dihancurkan oleh ayahmu. Mereka telah menyusup ke dalam hidup kita sejak lama, Sasmita. Bahkan Aris... adik yang ingin kubela selama ini, ternyata adalah bagian dari mereka."

Di tengah sorotan lampu studio yang menyilaukan dan kru yang mulai berbisik-bisik, Sasmita menyadari bahwa ia baru saja memenangkan satu pertempuran kecil hanya untuk menyadari bahwa ia telah kalah dalam perang yang jauh lebih besar.

Rumahnya tidak lagi terbagi. Rumahnya sudah musnah. Dan kini, ia berdiri sendirian di atas abu Janardana, menyadari bahwa pengkhianatan yang paling menyakitkan bukan datang dari ibu tirinya, melainkan dari struktur yang selama ini ia anggap sebagai perlindungan.

Sasmita berdiri pelan. Ia tidak menangis lagi. Matanya berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya, lebih gelap dari malam saat ia pertama kali kembali.

"Bram," suara Sasmita kini terdengar begitu tenang hingga menyeramkan. "Kamu bilang kamu ingin menebus kesalahanmu, kan?"

Bramasta mendongak, menatap Sasmita dengan penuh penyesalan. "Apapun, Sasmita. Apapun."

"Kalau begitu, bantu aku membakar 'keluarga' Waskita itu. Aku tidak peduli jika aku harus kehilangan nyawaku, tapi aku pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang akan tidur nyenyak di atas harta ibuku."

Sasmita berjalan keluar dari studio televisi itu dengan dagu tegak. Di luar, hujan kembali turun, namun kali ini Sasmita tidak butuh payung. Ia telah menjadi badai itu sendiri. Garis merah di rumahnya mungkin sudah hilang, tapi ia baru saja melukis garis merah baru di hatinya—sebuah batas yang tidak akan pernah bisa dilintasi oleh siapapun lagi tanpa konsekuensi mematikan.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!