NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Mengeluarkan Barang-barang Masa Depannya

Cahaya lampu petromaks berpendar menerangi wajah Sutrisno.

Laki-laki itu berdiri kaku di ambang pintu, seragam lorengnya tertutup debu jalanan. Tas ransel kanvas dekil masih bertengger di bahunya.

Matanya yang tajam menyapu seluruh isi ruangan. Dari wajah pucat istrinya, mangkuk-mangkuk kotor sisa makanan enak, hingga keempat anaknya yang membeku di tempat.

"Mas Trisno..." Suara Sukma tercekat di tenggorokan. Bukan akting. Memori asli tubuh ini benar-benar bereaksi, menciptakan desiran ngilu yang asing di dadanya.

Sutrisno tak langsung membalas. Pandangannya terpaku pada perban putih bernoda darah kering yang melingkar tebal di dahi istrinya. Rahangnya mengeras.

"Ada apa ini, Sukma?" Suara Sutrisno berat dan serak, menahan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.

"Kenapa dahi sampeyan bisa sampai robek begini?"

Belum sempat Sukma membuka mulut, suara lengkingan dari arah halaman mendahului.

"Sutrisno! Anakku!"

Lasmi menyerbu masuk, menabrak bahu putranya lalu menangis histeris. Ia memeluk lengan Sutrisno erat-erat, wajahnya dibuat sepucat dan sememelas mungkin. Air mata buaya menetes deras.

"Gusti... untung kowe cepet pulang, Le! Kalau ndak, Ibu mati berdiri ngadepin kelakuan bojomu iki!" ratap Lasmi.

Sutrisno mematung, menatap ibunya dengan dahi berkerut. "Ada apa ini, Bu?"

"Bojomu iki, Tris!" Lasmi menuding Sukma dengan telunjuk keriputnya yang gemetar.

"Sukma wes edan! Kemarin dia maksa minta rumah bata ini, ngusir Joko sama Jamilah. Tadi sore, dia maksa Carik Tejo misahin lumbung gabah keluarga. Katanya mau hidup sendiri, misah dari Ibu! Iki lho, gara-gara kepalanya kebentur pohon, otaknya melenceng!"

Sukma hanya diam menyimak pertunjukan murahan itu. Ia tak repot-repot membantah. Sebaliknya, ia melirik Sigit.

Bocah sembilan tahun itu berdiri tegang, matanya menatap tajam ke arah neneknya. Ia tahu kebenarannya. Gito, Sinta, dan Syaiful juga menyimak dengan napas tertahan.

Sutrisno melepaskan pelukan ibunya perlahan. Ia beralih menatap Sukma. "Benar begitu, Sukma?"

Sukma menarik napas panjang. Wajahnya dibuat sepucat mungkin. Ia bangkit dari dipan dengan susah payah, sengaja membiarkan tubuhnya oleng sedikit sebelum berpegangan pada kusen.

"Mas," panggil Sukma lirih.

"Tanya saja sama anak-anakmu. Tanya sama Sigit, gimana ceritanya aku bisa sampai luka parah begini."

Semua mata kini tertuju pada Sigit.

Sigit menelan ludah. Ini momen penentuannya. Di satu sisi, ia membenci ibunya. Di sisi lain, ia muak dengan kelicikan neneknya.

Tapi otak cerdasnya langsung bekerja. Jika ia membela neneknya, ibunya mungkin akan benar-benar diusir, tapi nasib ia dan adik-adiknya akan tetap merana di bawah kendali Lasmi.

Jika ia membela ibunya, setidaknya mereka sudah terbukti bisa makan enak dan tidur di kasur empuk.

"Ibu..." Suara Sigit terdengar serak. "Ibu ditabrak sapinya Pak Kades waktu lagi disuruh Bulik Jamilah ngarit rumput."

Lasmi membelalak horor. "Heh! Bocah cilik ojo ngawur kowe!"

Sigit tak memedulikan gertakan neneknya. Ia menatap lurus ke mata bapaknya.

"Waktu Ibu pingsan berdarah-darah, Nenek ndak mau panggilkan Mantri Haris. Katanya sayang buang uang."

Rahang Sutrisno mengeras seketika. Urat di pelipisnya menonjol.

"Lalu?" desak Sutrisno.

"Terus... Mbah Kakung Purnomo yang bawa Ibu pindah ke rumah ini, dipanggilkan Pak Kades sama Pak Carik buat jadi saksi," lanjut Sigit lancar.

"Ibu maksa minta rumah ini karena Nenek ndak pernah bayar uang sewa yang dijanjikan ke Ibu. Terus, Nenek juga nyembunyiin wesel bulanannya Bapak."

"Sigit! Cangkemmu iku lho!" Lasmi nyaris menerjang cucunya kalau saja Sutrisno tak menahan lengannya.

"Cukup, Bu." Suara Sutrisno tak kalah dingin dari es.

Sutrisno melepaskan tangan ibunya perlahan. Tatapannya kini beralih menatap seisi ruangan, menyerap kenyataan pahit yang baru saja disajikan oleh anak sulungnya.

Lasmi mundur selangkah, wajahnya pias. Ia tahu tatapan itu. Itu tatapan komandan yang tak menerima bantahan.

"Joko sama Jamilah... beneran nempatin rumah ini, Bu?" tanya Sutrisno dengan nada rendah namun mematikan.

"Nganu... iku..." Lasmi gelagapan. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya.

"Uang wesel bulananku juga Ibu yang pegang?"

"Tris, Ibu kan cuma-"

"Cukup." Sutrisno memotong tajam. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Malam ini, biarkan Sukma dan anak-anak istirahat. Besok pagi, kita kumpulkan semua keluarga. Ada banyak yang harus diselesaikan."

Tanpa basa-basi lagi, Sutrisno mengambil ranselnya dan melangkah keluar rumah bata, meninggalkan ibunya yang masih mematung ketakutan.

Malam itu, Sukma tak bisa memejamkan mata.

Kepulangan Sutrisno yang tiba-tiba ini benar-benar di luar rencana. Ia harus menyusun strategi baru.

Pagi harinya, suasana rumah utama keluarga Priyanto tegang bukan main.

Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tengah. Lasmi duduk gelisah di kursi kayu jati.

Joko dan Jamilah saling lirik penuh ketakutan. Prapto dan Ningsih berdiri canggung di sudut ruangan. Hanya Wati yang tampak tenang memangku bayinya.

Sutrisno berdiri di tengah ruangan. Wajahnya keras tak terbaca.

Sukma duduk di kursi roda pinjaman dari balai desa, ditemani keempat anaknya yang berdiri merapat di dekatnya.

Wajah Sukma dibuat sepucat mungkin, namun matanya tetap waspada.

"Aku dengar semuanya dari Kades Darman tadi subuh." Sutrisno memulai. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.

Semua orang menahan napas.

Sutrisno menatap ibunya tajam. "Uang bangun rumah yang kuberi, nyatanya tidak dipakai untuk bangun rumah. Malah Ibu pakai buat beli tanah ladang."

Lasmi menelan ludah paksa. "Tris, tanah ladang iku kan investasi..."

"Investasi buat siapa, Bu?" potong Sutrisno tajam.

"Buat Prapto? Buat Joko? Sementara istri dan anak-anakku dibiarkan tidur di kamar berlantai tanah dan atap bocor?"

Prapto dan Joko saling sikut. Jamilah menunduk, tak berani menatap mata kakak iparnya.

"Dan masalah wesel bulananku," lanjut Sutrisno, nadanya makin meninggi.

"Uang itu haknya Sukma dan anak-anak. Kenapa Ibu pegang? Kenapa dipakai buat bayarin keperluan Joko dan Jamilah?"

Ningsih, istri Prapto, sontak melotot ke arah ibu mertuanya. Jadi selama ini...

"Sudah." Sutrisno mengangkat tangan, memotong semua alasan yang siap meluncur dari mulut keluarganya.

"Mulai hari ini, aku minta pemisahan Kartu Keluarga. Sukma dan anak-anak akan kembali ke rumah bata. Dan uang weselku akan langsung kualamatkan ke Sukma."

Keputusan itu jatuh seperti palu hakim. Tak ada yang berani membantah.

Lasmi lemas di kursinya. Kekuasaannya baru saja dicabut paksa oleh anaknya sendiri.

Beberapa hari berlalu sejak ketegangan itu. Suasana rumah bata perlahan membaik.

Sutrisno turun tangan langsung memperbaiki atap yang bocor dan merapikan halaman.

Sore itu, Sukma duduk di teras, memilah-milah daun pandan. Sutrisno duduk di sebelahnya, mengasah parang.

"Mas," panggil Sukma pelan.

Sutrisno menoleh, menghentikan kegiatannya. "Opo, Ma?"

"Aku mau ke kabupaten besok."

Dahi Sutrisno berkerut. "Loh, buat apa? Kepalamu masih perbanan gitu."

Sukma menarik napas panjang. Ia sudah menyusun rencana ini sejak lama.

"Aku mau jualan di depan balai desa, Mas. Aku butuh tepung terigu sama gula pasir kualitas bagus. Di warung Mbok Nah harganya kemahalan."

Sutrisno menatap istrinya lekat-lekat. Seolah mencari kebohongan di sana. Tapi ia hanya menemukan tekad yang kuat.

"Jualan? Kowe yakin?"

"Yakin, Mas." Sukma mengangguk mantap.

"Aku ndak mau ngandelin uang weselmu tok. Anak-anak makin besar. Butuh biaya sekolah."

Sutrisno terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Yowis. Besok pagi kuantar ke simpang jalan. Titip naik angkot dari sana."

Keesokan paginya, Sukma berangkat ke kabupaten.

Udara pagi masih menggigit saat ia naik ke atas angkot reyot yang bau solar.

Sepanjang perjalanan, otaknya berputar merencanakan apa saja yang harus ia ambil dari ruang spasialnya.

Ia sebenarnya tak butuh ke pasar kabupaten. Ia hanya butuh tempat sepi untuk mengeluarkan barang-barang masa depannya.

Setibanya di pusat kabupaten, Sukma pura-pura berkeliling pasar. Ia membeli beberapa bungkus kerupuk dan jajanan pasar sekadar untuk pantas-pantas.

Setelah dirasa aman, ia menyelinap ke sebuah gang buntu di belakang deretan toko kelontong tua.

Satu kedipan mata, ia sudah berada di gudang spasialnya.

Sukma bergerak cepat. Ia mengambil satu karung kecil tepung terigu protein sedang, beberapa kilogram gula pasir putih bersih, minyak goreng kemasan botol, yang ia buang labelnya, dan bahan-bahan rahasia masa depan yang akan membuat dagangannya tak tertandingi.

Tak lupa, ia mengambil beberapa potong pakaian hangat untuk Sinta dan adik-adiknya. Yang memang sudah ia siapkan karena tahu dari mimpi tentang anak-anak itu.

Selesai mengemasi semuanya ke dalam dua karung goni bekas yang ia temukan di pasar tadi, Sukma kembali ke dunia nyata.

Matahari sudah condong ke barat saat ia kembali ke desa dengan menumpang mobil pick-up sayur.

Sutrisno sudah kembali pergi bertugas.

Di depan rumah bata Wati menarik napas panjang berulang kali. Dada dan perut buncitnya kembang kempis menahan sesak.

Ia memaksakan senyum kaku, melangkah gontai mendekati Sukma.

Kedua perempuan itu saling berpandangan sejenak, lalu serempak mengalihkan tatapan pada dua bocah kurus yang berdiri canggung di ambang pintu.

Napas Wati berat. Menggotong karung-karung itu dengan kondisi hamil besar jelas mustahil.

Sukma tak membuang waktu. Kakinya melangkah cepat ke dapur belakang, menyambar sebilah pisau potong karatan. Tali rafia tebal yang melilit mulut karung goni itu ditebasnya sekali tarikan.

Benda pertama yang ditarik keluar adalah sebuah wajan besi tebal berwarna hitam legam.

Mata Sigit membelalak. Wajan asli peninggalan bapaknya dulu langsung dirampas Lasmi dua hari setelah pernikahan Sukma dengan Ayahnya, diganti dengan kuali bolong yang pinggirannya sudah cuil.

Selama ini ibunya memasak dengan kuali rongsokan itu sambil menggerutu ketakutan tangannya berlubang terkena panas.

Berikutnya, benda-benda aneh mulai bermunculan bak sulap.

Gula batu, daging sapi segar merah merona, tulang iga montok, sikat gigi berbulu halus, sabun mandi wangi, handuk tebal, sepatu karet, seragam sekolah, celana pendek katun, hingga selimut bermotif kotak-kotak.

Sigit dan Gito mondar-mandir bak gasing, memindahkan barang-barang itu dari karung ke tengah ruang tamu.

Dua bocah itu merasa karung goni ibunya ini mirip sumur ajaib yang tak ada habisnya.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
INeeTha: Hehe gini kak, temanya memang cukup sering dipakai di banyak cerita 😄 Di sini aku coba bawain dengan versiku sendiri, terutama dari gaya dan settingnya. Semoga Kakak tetap enjoy bacanya yaa.
total 1 replies
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
INeeTha: My Bad, aku revisi kak Makasih🙏
total 1 replies
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!