NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Malam yang dinantikan itu akhirnya tiba. Langit Jakarta yang pekat seolah menjadi latar belakang kemegahan apartemen Adrian.

Di dalam kamar utama, Adrian berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah tuksedo hitamnya yang elegan.

Sosoknya tampak begitu berwibawa, namun ada binar kebahagiaan yang berbeda di matanya malam ini—binar yang hanya muncul saat ia menatap wanita yang sedang bersiap di kamar sebelah.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Liana melangkah keluar mengenakan gaun biru gelap pilihan Adrian.

Payet-payet halus di gaun itu berkilau tertimpa lampu ruang tengah, membuatnya tampak seperti dewi malam yang turun ke bumi.

Cincin berlian pemberian Adrian melingkar manis di jari manisnya, memantulkan cahaya yang sama indahnya dengan senyumnya.

Adrian terpaku, lalu melangkah mendekat. Ia meraih tangan Liana dan mengecup punggung tangannya lama.

"Kamu sangat cantik, Liana. Ayo kita berangkat, Sayang. Malam ini adalah malam kita," ucap Adrian lembut.

Liana menganggukkan kepalanya pelan, hatinya dipenuhi bunga-bunga cinta yang ia percayai akan mekar selamanya.

Sesampainya di sebuah rumah makan mewah yang telah dipesan khusus, suasana riuh rendah menyambut mereka.

Sutradara, para kru, dan tim produksi lainnya berdiri serempak, memberikan tepuk tangan meriah saat pasangan utama film "Gema di Lorong Sunyi" itu melangkah masuk.

"Selamat datang, Sang Maestro!" seru sutradara dengan wajah semringah.

"Sebelum kita merayakan kesuksesan proyek film kita, ada satu hal yang jauh lebih penting. Kita akan merayakan ulang tahun produser hebat kita malam ini!"

Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat dan dengan sopan meminta izin untuk menutup mata Adrian dengan sehelai kain sutra hitam.

Adrian terkekeh, melirik Liana sejenak sebelum membiarkan matanya tertutup.

"Kejutan apa lagi ini?" gumamnya jenaka.

Di tengah ruangan, sebuah kotak kado raksasa dengan pita merah besar didorong masuk oleh beberapa staf.

Semua orang menahan napas, kamera ponsel sudah siap merekam momen tersebut.

"Satu... dua... tiga!"

Pita ditarik, dan dinding kotak itu jatuh terbuka.

"Selamat ulang tahun, calon suamiku!!" teriak sebuah suara melengking yang sangat akrab di telinga Adrian.

Arum melompat keluar dari dalam kotak dengan gaun mewah yang tak kalah berkilau.

Adrian tersentak, tangannya segera membuka tali yang menutup matanya.

Begitu kain itu jatuh, dunianya seolah berhenti berputar.

Di depannya berdiri Arum, wanita yang seharusnya masih berada di Paris.

Tanpa memberi ruang untuk bernapas, Arum langsung menghampiri Adrian dan memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat di depan semua tamu undangan.

"Kejutan! Maaf aku tidak memberitahumu kalau aku pulang hari ini. Aku sengaja mempercepat kontrakku demi memberikan surprise party ini untukmu, Sayang!" ucap Arum manja sambil mencium pipi Adrian, tidak menyadari suasana yang mendadak membeku.

Liana berdiri mematung hanya beberapa langkah di belakang mereka.

Senyum manis yang tadi menghiasi bibirnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit paru-parunya.

Air matanya mulai menggenang, mengaburkan pandangannya pada sosok Adrian yang kini didekap erat oleh wanita lain—wanita yang menyebutnya "calon suami".

Cincin di jarinya mendadak terasa sangat berat dan panas.

Ternyata selama ini, semua janji tanggung jawab, pelukan di Puncak, dan bisikan cinta hanyalah sebuah kebohongan besar yang tersusun rapi di atas penderitaannya.

Adrian mencoba melepaskan pelukan Arum, matanya mencari sosok Liana dengan tatapan panik dan penuh rasa bersalah.

"Liana, aku..."

Namun, Liana sudah tidak ingin mendengar apa pun lagi.

Ia menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menjaga sisa-sisa martabatnya di depan kerumunan orang yang kini menatapnya dengan rasa kasihan.

"Permisi, saya masih ada urusan yang sangat mendesak," ucap Liana dengan suara bergetar namun tegas.

Tanpa menunggu jawaban, Liana segera berbalik dan berlari keluar dari rumah makan mewah itu.

Ia meninggalkan kemegahan, cincin berlian, dan pria yang baru saja mematahkan hatinya tepat di malam ulang tahunnya.

Lampu-lampu mewah restoran di belakang mereka seolah meredup, tergantikan oleh langit Jakarta yang mendadak tumpah.

Hujan deras turun tanpa ampun, membasahi aspal panas dan menyamarkan air mata yang mengalir deras di pipi Liana.

"Liana! Berhenti! Dengarkan aku dulu!" teriak Adrian, suaranya parau bersaing dengan gemuruh guntur.

Ia berlari mengejar Liana, mengabaikan tuksedo mahalnya yang kini basah kuyup dan Arum yang berteriak memanggil namanya dari pintu restoran.

"Adrian! Kenapa kamu mengejar wanita kumuh itu?!" teriak Arum.

Liana yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya.

Adrian berhasil meraih lengan Liana di pinggir jalan raya yang bising.

"Liana, kumohon. Arum itu masa lalu yang belum sempat kuselesaikan. Aku mencintaimu, kejutan tadi di luar rencanaku!"

Liana menyentak tangannya dengan kekuatan yang lahir dari rasa hancur.

Ia berbalik, menatap Adrian dengan mata yang memerah dan napas yang tersenggal.

Rambutnya lepek menempel di wajah, dan gaun biru indahnya kini terasa berat dan dingin.

"Kamu membohongiku!! Kamu jahat, Adrian!!" teriak Liana histeris, suaranya pecah di tengah deru hujan.

"Semua tarian, semua perasaan yang aku berikan di depan kamera dan di belakang kamera, kamu permainkan semuanya! Dan benar kata Arum kalau aku ini hanya wanita kumuh."

"Tidak, Liana! Kamu bukan wanita kumuh. Perasaanku padamu nyata!" Adrian mencoba maju, tangannya gemetar ingin menyentuh wajah Liana.

"Nyata? Kamu memelukku pagi ini sementara kamu tahu tunanganmu akan datang? Kamu menyematkan cincin ini sementara kamu masih milik wanita lain?" Liana menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar.

"Ini hatiku, Adrian! Ini hatiku, bukan mainanmu! Bukan properti film yang bisa kamu atur sesuka hatimu!"

Sebuah taksi kuning melambat di depan mereka. Tanpa ragu, Liana membuka pintunya.

"Liana, jangan pergi!" Adrian menahan pintu taksi, matanya memohon dengan keputusasaan yang nyata.

"Lepaskan, Pak Adrian. Sandiwaranya sudah selesai. Cut!!" ucap Liana dingin, sebelum membanting pintu taksi dengan keras.

Di dalam taksi yang melaju menjauhi restoran, Liana meringkuk di pojok kursi.

Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena air hujan yang meresap ke kulitnya, tapi karena rasa sakit yang menghantam dadanya begitu hebat.

Ia mencengkeram dadanya, merasa seolah jantungnya diremas hingga hancur berkeping-keping.

Isaknya pecah, memenuhi ruang taksi yang sempit, sementara supir taksi hanya bisa menatap iba dari kaca spion.

Sesampainya di apartemen Adrian, Liana tidak membuang waktu.

Dengan gerakan kasar dan penuh amarah yang bercampur duka, ia mengeluarkan koper besarnya dari bawah ranjang.

Ia memasukkan semua pakaiannya, kerudungnya, dan barang-barangnya dengan berantakan. Ia tidak peduli lagi pada kemewahan tempat ini.

Liana berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya yang hancur di cermin.

Matanya tertuju pada benda yang melingkar di jari manisnya—cincin berlian yang tadi sore ia puja sebagai simbol cinta.

Dengan tangan yang masih basah, ia menarik paksa cincin itu hingga jarinya memerah.

Ia meletakkannya dengan bunyi klunting yang tajam di atas meja rias marmer, tepat di samping botol parfum mahal milik Adrian.

"Selesai," bisik Liana lirih.

Ia menutup kopernya, menyeretnya keluar pintu, dan meninggalkan semua kenangan indah yang ternyata hanya sebuah fatamorgana di tengah hutan Puncak.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!