Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Siapa Kaisar Darah
Yang jelek dari Kota Yunan sejak dulu memanglah karena kota itu kerap dikaitkan dengan bau arak dan besi.
Huang Shen tiba di sana menjelang sore, masuk dari gerbang selatan bersama rombongan pedagang yang tidak ada hubungannya satu sama lain selain kebetulan berjalan dari arah yang sama. Tidak ada yang memperhatikannya. Seorang pemuda dengan jubah abu-abu biasa, wajah yang tidak tersenyum, mata yang tidak merah karena Gerbang sedang tidak aktif.
Sementara perantaranya sudah menunggu di kedai tahu di ujung Jalan Perunggu. Gulungan kertas berpindah tangan di bawah meja, bersamaan dengan kantong yang berisi cukup keping emas untuk tiga bulan tanpa pekerjaan.
Empat nama. Satu malam.
Pedagang budak itu mati pertama, di gudang tempat dia menyimpan "dagangannya" yang masih bernapas. Huang Shen tidak melihat ke sudut di mana orang-orang yang dikurung itu bersembunyi, bukan karena tidak peduli, tapi karena memandang mereka sambil tangannya masih berlumuran darah pedagang itu terasa seperti penghinaan yang berbeda dari yang sudah cukup banyak ada pada malam ini.
Dua preman di Distrik Barat pun tewas mengenaskan di gang yang sama, satu sebelum yang lain sempat berteriak.
Kultivator yang menyiksa petani itu lebih merepotkan lagi. Level Pembentukan Dasar, cukup untuk membuat pertarungan berlangsung lebih dari satu gerakan. Tapi tidak cukup untuk mengubah hasilnya.
Maka Gerbang menyala empat kali malam itu, menyerap empat aliran darah yang kualitasnya berbeda-beda. Setelah yang keempat, Huang Shen naik ke atap penginapan termurah di Distrik Timur dan duduk di sana dengan kedua tangannya terentang di atas lutut sabil menatap telapaknya.
Darah sudah dibersihkan. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa dibersihkan dengan kain lap sebersih apapun.
Wajah bocah itu muncul di antara kenangan empat eksekusi malam ini, tidak di tempat yang masuk akal, tapi justru di celah-celah. Di sela antara gerakan pertama dan kedua saat melawan kultivator itu. Di detik sebelum pedagang budak itu jatuh. Layaknya bayangan yang memutuskan untuk tidak pergi meski pintunya sudah ditutup.
Senyuman bocah itu. Setiap ucapan polosnya yang kian hari kian menjengkelkan, tapi justru membuat Huang Shen membenci dirinya sendiri.
Pemuda itu pun mengepalkan kedua tangannya.
Di dalam dadanya, ada dorongan yang tidak langsung dia kenali sebagai miliknya. Seperti ada sesuatu yang sudah makan dan sekarang tahu bahwa makan lagi bukan hal yang tidak mungkin. Dorongan untuk turun dari atap ini, kembali ke jalanan, dan mencari yang kelima, keenam, ketujuh. Membantai mereka semua yang memang “layak” untuk dibunuh dengan cara yang paling keji.
Meskipun pada akhirnya dia tidak turun.
Tapi menahan dorongan itu terasa seperti menahan sungai dengan kedua tangan kosong.
"Kau sudah melewati sesuatu, Tuanku." Muncullah suara dari Gerbang. Malam itu, tidak seperti biasanya, suara itu muncul tanpa dipanggil dan tanpa konteks darurat. Lebih seperti seseorang yang sudah menunggu waktu yang tepat untuk duduk dan berbicara. "Bukan hanya bocah itu. Bukan hanya malam ini. Kau sudah melewati garis yang tidak bisa dilewati dua kali."
"Jelaskan padaku."
"Tuanku, kau berada di garis antara seseorang yang membunuh untuk bertahan, dan seseorang yang mulai membutuhkan untuk membunuh. Perbedaannya begitu halus. Tapi aku yang pertama kali merasakannya."
Huang Shen tidak merespon selain terus menatap telapaknya.
"Maka kau perlu tahu lebih banyak tentang aku," lanjut suara itu. "Dewa Iblis yang meninggalkan Gerbang ini mati dalam Perang Para Dewa, enam puluh enam ribu tahun lalu. Dia bukan dewa yang baik atau jahat. Dia hanya dewa yang memutuskan bahwa kekuatan lebih penting dari semua pertanyaan moral yang menyertainya." Ada jeda. "Gerbang ini bisa diaktifkan oleh garis darah tertentu. Darahmu adalah salah satunya. Jadi jangan anggap jika semua ini hanyalah kebetulan."
"Jelaskan padaku tentang berapa banyak tingkatan yang kau miliki."
"Sembilan. Kau sekarang di level satu. Setiap level membuka fungsi yang berbeda." Suara itu mengalun lirih nan berwibawa. "Tapi ada harganya. Semakin tinggi levelmu, semakin besar kehausannya. Dan semakin sulit membedakan mana yang perlu dibunuh dan mana yang tidak."
Huang Shen menatap tangannya yang sudah bersih itu. "Seperti tadi?"
"Tepat sekali, Tuanku. Dan akan lebih buruk dari yang tadi." Tidak ada upaya untuk menghaluskan kalimat itu. "Tapi ada cara menekannya. Resonansi. Saat kau menggunakan Resonansi untuk menyerap Qi dari lingkungan, itu memberi Gerbang sesuatu untuk dikerjakan selain rasa haus. Keseimbangan, bukan penghapusan. Salah satunya juga yang kau lakukan terhadap wanita itu."
Adapun dari sembilan level itu, Huang Shen hanya tahu satu. Dan satu saja sudah cukup rumit untuk satu malam.
Pasar Kota Yunan di pagi hari punya cara tersendiri dalam menyebarkan informasi.
Manakala Huang Shen berjalan di antara lapak-lapak yang berjejer, dia mendengar percakapan yang tidak ditujukan padanya tapi tidak berusaha menyembunyikan diri darinya.
"Apa kau tahu soal kejadian semalam? Empat orang sekaligus loh. Salah satu korbannya adalah pedagang budak di gudang Jalan Barat, dan dua preman Distrik Barat, lalu kultivator Fang yang suka main tangan ke petani di luar kota."
"Mengerikan sekali ya… apakah itu ulah Kaisar Darah lagi?"
"Siapa lagi? Rekornya tiga tahun tidak pernah gagal. Seratus persen keberhasilan misi." Suara pedagang rempah itu turun menjadi bisikan yang masih cukup keras untuk didengar dua lapak sebelahnya. "Ada yang bilang matanya merah karena dia menyerap darah musuhnya. Karena itu banyak yang bilang jika dia setengah iblis."
"Setengah iblis yang menerima kontrak untuk orang jahat saja," celetuk seseorang dari arah yang berbeda. "Kurasa itu setengah iblis yang lumayan baik."
Tawa kecil pecah di sana sebelum berpindah ke topik lain.
Huang Shen membeli sebungkus permen jahe kering dan sebotol arak murah tanpa menatap siapa pun, lalu berjalan kembali ke penginapan dengan langkah yang tidak berubah dari sebelum mendengar percakapan itu.
Kendati demikian, ada sesuatu yang tersangkut di benaknya. Bukan karena julukan itu, melainkan karena dia mendengar kalimat "tiga tahun tidak pernah gagal" dan yang pertama muncul di kepalanya bukan kebanggaan.
Yang muncul justru wajah bocah itu lagi.
Malam di penginapan, Huang Shen duduk di satu-satunya kursi di kamar sewaan itu dengan botol arak yang belum dibuka di mejanya. Sedangkan di luar sana, suara kota perlahan mereda seiring jam bergerak ke tengah malam.
Alih-alih bisa beristirahat tenang, pintu kamarnya justru terbuka tanpa diketuk. Orang di baliknya sudah jelas tidak terbiasa meminta izin tapi juga tidak datang untuk bermusuhan.
Wanita itu berpakaian hitam dari leher sampai kaki, potongan yang praktis bukan untuk penampilan. Wajahnya tajam dengan tulang pipi yang tinggi dan sepasang mata yang langsung bergerak mencatat setiap detail ruangan sebelum duduk di tepi ranjang tanpa dipersilahkan. Sementara pedang pendek dengan sarung berukir awan tergantung di pinggangnya.
Huang Shen hanya menatapnya tanpa merasa terganggu apalagi takut.
Gerbang di dadanya terdiam pula, yang menandakan bahwa wanita ini bukan ancaman yang perlu direspons dengan kesiagaan penuh, meski bukan berarti tidak perlu diperhatikan.
"Kau yang berjuluk Kaisar Darah?" Suaranya tidak keras. "Aku dikirim untuk menguji seberapa benar rekor itu."
Huang Shen tidak menjawab. Tangannya membuka tutup botol arak, menuangkan sedikit ke cangkir yang ada di mejanya.
Adapun wanita itu tidak beranjak. Matanya mengikuti gerakan tangannya dengan cara seseorang yang menilai, bukan mengancam.
Andaikata dia datang untuk membunuh, Gerbang sudah bereaksi. Andaikata pula dia datang untuk mencuri informasi, ruangan ini tidak punya informasi yang bernilai. Maka Huang Shen membiarkan dirinya mengambil waktu beberapa detik untuk mempertimbangkan kemungkinan ketiga.
"Aku Yue Xin." Wanita itu tersenyum tipis, seperti senyuman seseorang yang sudah memutuskan akan mendapat apa yang dia inginkan dan hanya perlu waktu sebelum yang lain menyadarinya juga. "Jangan khawatir, aku tidak akan merepotkan. Aku hanya ingin melihat sendiri, apakah Kaisar Darah sehebat yang orang-orang ceritakan padaku."