Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Aku akan berhenti!
"Aghhh, turunin aku, brengsek!! Turunin aku!!" teriak Aira histeris. Suaranya memecah keheningan koridor yang dilewati, membuat murid-murid yang berpapasan mematung, menatap mereka dengan tatapan tak percaya.
Namun, Leonel sama sekali tidak bergeming. Rahangnya mengeras, matanya tetap lurus ke depan dengan tatapan tajam yang tak terbaca. Dia mengabaikan setiap cacian, setiap pukulan di punggungnya, seolah-olah Aira hanyalah beban yang harus segera disingkirkan dari pandangan orang-orang.
"Leonel, turunin aku, turun!!! Dasar bajingan, kamu pikir kamu ganteng begitu, hah?! Sialan, aku membencimu, Leonel! Aku benci!"
Leonel masih bungkam, namun langkahnya semakin lebar dan cepat, seakan-akan ingin segera mencapai tempat di mana amarah gadis itu tidak lagi menjadi tontonan.
Shhh!
Desis tertahan lolos dari bibir Leonel. Aira, yang sudah benar-benar kalap, menancapkan giginya kuat-kuat di kulit leher Leonel. Rasa perih yang tiba-tiba itu membuat langkah Leonel tersentak, otot lehernya menegang di bawah tekanan gigi Aira yang berusaha menyalurkan seluruh kekesalan dan rasa sakit hatinya melalui satu gigitan itu.
Leonel tidak melepaskannya. Ia justru semakin mengeratkan cengkeramannya pada tubuh Aira, seakan gigitan itu adalah pengingat betapa liarnya gadis yang selama ini ia coba tekan dengan sikap dinginnya.
Langkah Leonel berhenti tepat di depan pintu ruang OSIS. Tanpa mengetuk, tanpa basa-basi, ia menendang pintu itu hingga terbuka lebar dengan suara dentuman keras. Beberapa pengurus OSIS yang sedang sibuk di dalam sontak tersentak, menoleh dengan wajah pucat.
"Keluar!" perintah Leonel. Suaranya datar, namun ada aura intimidasi yang membuat siapa pun tidak berani membantah. Tanpa perlu dikomando dua kali, mereka segera membereskan barang-barang dan berlari keluar, meninggalkan ruangan dalam keheningan yang menyesakkan.
Leonel segera mendudukkan Aira di kursi miliknya. Ia tidak melepaskannya begitu saja, melainkan membiarkan gadis itu di sana, yang kini menatapnya dengan api amarah yang seolah ingin melahapnya hidup-hidup.
Brak!!
Suara kursi yang terdorong kasar ke belakang dan jatuh menghantam lantai menggema di ruangan itu. Aira bangkit berdiri, matanya menyala. Ia mendekat, menerobos ruang personal Leonel hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Aira berkacak pinggang, napasnya memburu di depan wajah Leonel.
"Kamu pikir keren begitu, iya?" tanya Aira, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Kamu pikir bisa mainin aku sesuka hati, lalu nyeret aku ke sini seolah aku ini cuma barang bawaan yang bisa kamu atur-atur sesuka pikiran dangkalmu itu?"
"Kenapa kamu yang marah-marah? Harusnya aku yang marah, Aira. Sepatumu ini sudah lancang mengenai kepalaku. Sakit ini, kau tahu?!" ujar Leonel dengan suara rendah yang mengancam, tangannya menyentuh pelipisnya yang sedikit memerah.
"Shittt, aku tidak peduli!" Aira menyambar cepat, matanya menyala tajam. "Harusnya itu, seharusnya bukan cuma satu, tapi dua sepatu sekaligus yang mengenai kepala kamu itu, brengsek! Awas!"
Aira memutar tubuhnya, bermaksud segera keluar dari ruangan itu. Namun, belum sempat kakinya melangkah, Leonel bergerak lebih cepat. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Aira dengan kasar, menariknya kembali hingga tubuh gadis itu terhuyung dan menabrak dada bidang Leonel.
"Mau ke mana?" tanya Leonel. Suaranya rendah, hampir seperti bisikan, namun ada penekanan kuat yang membuat Aira terpaku di tempatnya.
*
*
*
Leonel menunduk, mengunci tatapan Aira dengan mata gelapnya yang dingin. "Belum selesai urusan kita, Aira. Selain soal sepatu itu, aku ingin menegaskan satu hal, jauhi anak baru itu!" ujarnya penuh penekanan.
Aira terkekeh rendah, suara yang terdengar lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. "Menjauhi Aldaren? Atas hak apa kamu memintaku begitu, hah? Mau aku dekat sama Daren atau siapapun, itu bukan urusanmu, bajingan! Sama sekali bukan!"
Aira menarik tangannya dengan sentakan kasar, matanya berkilat penuh luka yang dipaksakan untuk terlihat dingin. "Jangan berpikir aku akan terus mengejarmu. Kamu besar kepala, Leonel. Dengar ini! Aku memang cewek yang dianggap tidak punya harga diri, tapi aku punya perasaan. Aku tidak suka diatur, camkan itu!"
Napas Aira tersengal, namun ia tetap berdiri tegak. "Kau risih denganku, bukan? Baiklah, mulai hari ini aku berhenti. Aku akan berusaha—berusaha untuk mengubur semuanya. Kamu senang? Harus-nya. Terima kasih sudah membuatku jatuh cinta sekaligus hancur sehancur-hancurnya. Selamat atas hubungan kamu dengan Cleo, permisi!"
Tukas Aira dingin. Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, meninggalkan Leonel yang terpaku di tengah ruangan.
Belum sempat Leonel mencerna segalanya, pikirannya sudah dipenuhi tanda tanya. Kenapa Aira semarah itu pagi ini? Alasan datang bulan rasanya tidak cukup untuk menjelaskan letusan emosi yang begitu hebat. Dan soal sepatu itu, seharusnya Leonel yang marah karena kepalanya baru saja dihantam, tapi mengapa justru Aira yang menuntut seolah-olah dirinyalah yang paling tersakiti?
"Selamat untuk hubungan kamu dan Cleo."
Kalimat itu terngiang-ngiang, membuat dahi Leonel berkerut dalam. Apa maksudnya? Hubungan apa yang dibicarakan Aira? Tidak ada apa-apa antara dirinya dan Cleo, lalu dari mana kesimpulan aneh itu muncul?
Tepat saat kesadarannya kembali, suara pintu ruang OSIS yang dibanting kasar oleh Aira menggema di seluruh ruangan. Leonel tersentak, ia segera melangkah cepat menuju pintu, berniat mengejar gadis itu. Namun, langkahnya tertahan tepat di ambang pintu.
Cleo berdiri di sana, menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"El..." panggilnya lembut.
Di saat yang bersamaan, Aira yang baru saja berpapasan dengan Cleo di koridor, berhenti sejenak. Ia tidak lagi marah, tidak lagi meledak-ledak. Gadis itu hanya memberikan sebuah senyum, senyum pahit yang jauh lebih menyakitkan daripada cacian apa pun yang ia lontarkan tadi. Aira kemudian melenggang pergi, meninggalkan Leonel yang terpaku di depan Cleo, terjebak dalam kebingungan yang menyesakkan.
Leonel tidak menjawab. Kali ini ia mengalihkan perhatian ke ponselnya, jemarinya bergerak cepat membuka aplikasi media sosial yang selama ini hanya menjadi pajangan. Ia tidak pernah benar-benar membuka akun itu, lebih memilih membaca pesan absurd dari Aira yang menarik dari pada apapun. Namun, hari ini, rasa penasaran yang terpaksa memaksanya menyelami dunia maya tersebut.
Matanya membulat sempurna saat sebuah unggahan muncul di beranda, menyajikan bukti visual yang membuat darahnya mendidih.
"Shitt! Pantas saja dia marah!" umpat Leonel penuh penekanan.
Ia menatap tajam ke arah layar, lalu mengalihkan pandangannya pada Cleo yang masih berdiri di depannya. Wajah Leonel kini segelap malam, menyimpan murka yang siap meledak kapan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...