NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - KERABAT JAUH YANG TAHU TERLALU BANYAK

Warung kopi dengan bangku plastik itu tidak berubah. Catnya masih sama, biru pudar yang sudah lama tidak diperbarui. Meja-mejanya masih miring sedikit kalau kamu taruh gelas di ujung. Kipas angin di sudut masih berputar dengan bunyi derik yang sudah jadi bagian dari suasana tempat itu, bukan gangguannya.

Dimas sudah ada di meja yang biasa mereka pakai. Pojok kiri dari pintu masuk, bukan karena ada yang istimewa dari pojok itu, tapi karena dua tahun lalu Lily yang pertama kali duduk di sana dan setelah itu jadi kebiasaan tanpa ada yang pernah mendiskusikannya.

Lily memesan kopi di kasir sebelum mendekat ke mejanya. Bukan karena haus, tapi karena dia butuh dua menit berdiri dan memperhatikan Dimas dari jarak yang cukup sebelum duduk berhadapan dengannya.

Dimas duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangan melingkar di gelas yang sudah hampir kosong. Matanya ke meja, tidak ke pintu. Artinya dia tidak sedang mengawasi siapa yang datang dan pergi, atau dia sedang berpura-pura tidak mengawasi dengan sangat baik.

Jari-jarinya tidak bergerak.

Tidak menggesek sisi jari seperti waktu dia berbohong di teras rumah minggu lalu.

Lily mencatat itu dan berjalan ke mejanya.

Dimas mengangkat kepala waktu Lily duduk. Ada sesuatu di ekspresinya yang tidak langsung Lily bisa baca. Bukan lega seperti waktu di teras rumah, bukan gelisah seperti di warung itu. Lebih seperti orang yang sedang dalam kondisi sudah memutuskan sesuatu dan sekarang harus menjalankan keputusan itu sampai selesai, apapun hasilnya.

"Makasih mau datang," katanya.

"Kamu yang minta ketemu." Lily meletakkan gelasnya. "Jadi bicara."

Dimas menarik napas. "Aku mau tanya dulu, kamu sudah tahu seberapa banyak? Soal ibumu, soal---"

"Dimas."

Dia berhenti.

"Kalau kamu mau ngukur dulu seberapa banyak yang aku tahu sebelum kamu memutuskan apa yang akan kamu ceritakan, aku mau bilang itu bukan cara yang baik untuk memulai percakapan ini." Lily menatapnya langsung. "Bicara atau tidak, keputusan kamu yang pilih."

Tiga detik.

"Aku kenal nama ibumu sebelum aku kenal kamu," kata Dimas akhirnya.

Lily tidak bereaksi di luar.

"Bukan dari Nindi, bukan dari Ibu Sari." Dia memutar gelasnya di meja. Gestur yang sama dengan menggesek jari, tapi versi yang lebih bisa dia kendalikan. "Dari kantor. Ada yang pernah menyebut nama ibumu dalam konteks yang seharusnya tidak ada hubungannya sama aku. Aku penasaran, aku cari tahu sendiri."

"Dan kamu menemukan apa?"

"Bahwa ada saham atas namanya di perusahaan itu. Kecil, tapi ada. Dan bahwa ada upaya dari beberapa pihak untuk membuat saham itu tidak pernah secara resmi berpindah ke ahli warisnya."

"Maksudnya, aku?"

"Iya."

Lily minum kopinya sedikit. Tidak terburu-buru. "Lanjutkan."

Dimas mengangkat matanya dari meja. "Waktu aku tahu itu, aku sudah tahu namamu. Karena namamu ada di dokumen yang sama, sebagai ahli waris yang sah. Dan kemudian aku melihatmu di pasar."

"Kebetulan."

"Bukan." Dia tidak menghindari kata itu. "Aku tahu kamu belanja di pasar itu karena aku pernah lihat kamu sebelumnya dari kejauhan. Waktu aku datang ke daerah sini untuk urusan kantor."

Lily menatapnya.

"Jadi kamu sengaja ada di sana."

"Iya."

"Dengan tujuan apa?"

Dimas diam lebih lama dari yang Lily beri toleransi. Tapi sebelum dia memotong, Dimas bicara lagi: "Awalnya untuk tahu kamu orangnya seperti apa. Bukan untuk apa-apa yang lebih jauh dari itu. Tapi kemudian..." Dia berhenti. "Kemudian tidak sesederhana itu lagi."

"Karena kamu jatuh cinta."

"Karena aku jatuh cinta." Kalimat itu keluar seperti pengakuan yang sudah lama ditahan dan sekarang tidak nyaman di udara. "Dan aku tidak tahu harus memisahkan yang mana dari yang mana."

Lily meletakkan gelasnya.

"Dimas." Suaranya tidak dingin, tapi tidak hangat juga. Datar, seperti tanah yang kering. "Aku tidak di sini untuk mendengarkan kamu cerita soal perasaanmu. Aku di sini karena kamu bilang ada sesuatu yang perlu aku tahu. Apa itu?"

Dimas mengangguk sekali, menerima bahwa dia tidak akan mendapat lebih dari itu. "Ada perempuan yang sudah lama bekerja sama dengan ayahmu, bukan Ibu Sari. Orang lain. Aku tidak tahu namanya, aku hanya tahu inisialnya dari dokumen internal kantor yang pernah tidak sengaja ada di mejaku."

Lily menunggu.

"S," kata Dimas.

Udara di antara mereka diam.

"Dia yang mengurus pemblokiran akses ke saham ibumu dari sisi hukum perusahaan. Bukan langsung, lewat beberapa perantara. Tapi benangnya bermuara ke dia."

Lily mengingat nomor enam belas digit di balik foto di ruang kerja ayahnya. Satu huruf S di depannya. Perempuan yang datang malam lewat pintu samping dan pergi dengan amplop.

"Kamu tahu nama lengkapnya?"

"Tidak." Dimas menggeleng. "Dan aku tidak berani cari lebih jauh. Tapi kamu perlu tahu dia ada. Karena selama ini kamu mungkin hanya melihat Ibu Sari, tapi ada yang lebih dalam dari itu."

Mereka berpisah setengah jam kemudian.

Tidak dengan baik-baik atau tidak baik ... hanya selesai. Lily membayar kopinya sendiri dan berjalan keluar duluan.

Di trotoar, dia berhenti sebentar dan mengambil ponselnya.

Bukan untuk menghubungi Hendra dulu. Ada satu hal yang ingin dia lakukan sebelum itu.

Dia membuka aplikasi kamera dan memotret sesuatu yang tidak kelihatan dari sudut mana pun, hanya dia yang tahu apa yang baru saja dia rekam di kepalanya dari percakapan tadi.

Dimas tahu soal S. Dimas masih ada di dalam lingkaran kantor itu. Dan Dimas, meski dengan semua yang sudah terjadi, meski dengan semua yang sudah dia lakukan atau biarkan terjadi. Baru saja memberikan informasi yang tidak murah harganya kalau sampai ketahuan orang yang salah.

Apakah itu cukup untuk menjadikannya sekutu?

Belum.

Tapi mungkin cukup untuk menjadikannya sesuatu yang berguna kalau dimainkan dengan cara yang tepat.

Lily naik angkutan pulang dan di perjalanan mengirim pesan singkat ke Hendra. [Ada orang lain selain Tante Sari. Perempuan, inisial S. Terlibat dari sisi hukum perusahaan. Kamu pernah dengar?]

Hendra membalas dalam sepuluh menit. [Belum. Tapi ini penting, biar aku coba cari tahu dari Pak Syarif.]

Lily menyimpan ponselnya dan menatap keluar jendela angkutan.

Kompleks rumah sudah kelihatan dari kejauhan... pagar tinggi, pohon-pohon yang terpangkas rapi, tampilan luar yang tidak pernah memberi tanda ke orang yang lewat bahwa di dalamnya ada hal-hal yang sudah lama berjalan di bawah permukaan.

Dia turun di ujung jalan dan berjalan ke rumah dengan langkah yang biasa.

Di gerbang, ada mobil yang tidak dia kenal parkir di depan. Bukan sedan abu-abu Hendra, bukan mobil keluarga Dimas yang sudah Lily hafal. Ini berbeda. Lebih besar, warnanya hitam, platnya luar kota.

Lily berjalan masuk ke halaman.

Di teras depan, ayahnya berdiri bersama seseorang yang membelakangi Lily ... laki-laki, usia yang susah ditebak dari belakang, berdiri dengan cara yang membuat ruang sekitarnya terasa lebih kecil.

Lalu orang itu berbalik.

Dan Lily mengenali wajah itu, bukan karena pernah bertemu langsung. Tapi karena wajah itu pernah muncul di cermin ruang rahasia, dua minggu lalu, di gambar yang waktu itu Lily tidak mengerti konteksnya.

Laki-laki itu melihat Lily.

Senyumnya muncul, bukan senyum ramah, bukan senyum mengancam. Senyum orang yang sedang melakukan kalkulasi dan merasa hasilnya ada di pihaknya.

"Ini pasti Lily," katanya. Ke ayah Lily, tapi matanya ke Lily. "Mirip sekali dengan ibunya."

Ayah Lily tidak menjawab. Ekspresinya untuk pertama kali sejak semua ini dimulai adalah ekspresi yang Lily tidak pernah lihat di wajahnya.

Takut.

1
sunaryati jarum
Ayah pengecut membiarkan putri kandung jadi pembantu untuk ibu tiri dan adik tiri di rumah peninggalan neneknya
sunaryati jarum
Semoga semua yang menjadi hakmu kembali
sunaryati jarum
Berarti ayahmu,Sari,Nindi dan Wulan tidak punya hak atas rumah peninggalan nenekmu.Benar- benar ayah tidak tahu diri
sunaryati jarum
Emak bingung terlambat dua puluh tahun, maksudnya
Erchapram: Maksudnya terlambat mengakui selama 20 tahun lamanya
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!